
Ivyna mengusap kepalanya yang berat akibat mabuk semalam. Tahu begini dia tidak akan nekat menyentuh minuman beralkohol hanya demi menumpahkan rasa frustasi. Ivyna pun mencoba untuk bergerak, namun ia merasakan ada sesuatu membebani perutnya.
Ketika membuka mata, Ivyna terkejut saat melihat lengan kekar yang memeluknya. Paras tampan pria itu juga berada tepat di sampingnya, dengan mata yang masih terkatup rapat.
"Keano? Jadi semalam aku tidak berhalusinasi? Aku dan dia...."
Wajah Ivyna memerah tatkala mengingat kejadian semalam. Saat dia mabuk, entah apa saja yang telah diucapkannya. Namun yang paling terpatri di benaknya adalah ungkapan cinta dari Keano. Kalimat indah itulah yang mampu meluruhkan semua kesedihannya dalam sekejap mata. Membuat dirinya serasa berada di hamparan taman penuh bunga warna-warni.
Setelah terbuka satu sama lain, mereka saling menautkan rasa itu dalam lautan asmara yang tak bertepi. Sentuhan demi sentuhan yang diberikan Keano telah mencairkan hatinya yang membeku. Ivyna tidak menyangka bahwa Keano yang sedingin gunung es ternyata memiliki kasih sayang yang besar.
Ivyna tersenyum sendiri. Ia menyentuh lembut wajah Keano dengan jemarinya.
"Kalau dia tidur begini terlihat semakin tampan,"
batin Ivyna semakin mengagumi suaminya.
"Hmmm," lenguh Keano.
Ivyna buru-buru memejamkan mata agar tidak ketahuan oleh Keano. Sesudah pria itu kembali tenang, Ivyna menyingkirkan lengan Keano perlahan-lahan. Namun ketika hendak beringsut dari tempat tidur, tubuh Ivyna mendadak ditarik ke bawah.
"Mau kemana, Sayang? Tidur lagi," ucap Keano mengukung Ivyna dengan tubuh kekarnya. Pipi Ivyna bersemu mendengar Keano mengubah panggilannya menjadi "Sayang."
"Ini sudah pagi, kita harus kembali ke rumah. Kamu bersiap ke kantor dan aku ke butik. Eleanor juga pasti mencari kita."
"Tidak ada yang bekerja di antara kita hari ini. Kita akan berbulan madu sekalian mengajak Eleanor," jawab Keano menatap lekat istrinya.
"Bulan madu?" tanya Ivyna terkejut.
"Kenapa? Kamu keberatan?"
"Tidak, aku suka. Tapi bukankah pekerjaanmu di kantor sangat banyak? Aku juga ada janji bertemu calon pengantin yang akan memesan gaun dan tuxedo."
"Aku adalah bos di kantorku. Aku bisa menunda pekerjaanku kapanpun aku mau. Kamu juga pemilik salon. Minta saja kepada para asisten untuk menggantikanmu."
Melihat kesungguhan Keano, Ivyna tidak kuasa untuk menolak.
"Baiklah, aku setuju. Kalau begitu aku mandi dulu, tubuhku pasti berbau alkohol."
"Tidak usah mandi, aku suka dengan wangimu. Morning Kiss," ucap Keano menaikkan alisnya. Pandangan matanya tertuju ke belahan menggiurkan milik Ivyna yang tersibak dari selimut. Entah mengapa ia sekarang mudah sekali tergoda, meskipun semalaman sudah menggempur wanita cantik ini.
__ADS_1
Ivyna bergegas menaikkan selimutnya karena malu. Apalagi di balik selimut itu, ia masih polos layaknya seorang bayi.
"Bagaimana kalau kita sarapan dulu? Kamu pasti lapar," bujuk Ivyna. Ia menjadi salah tingkah karena mengetahui maksud Keano.
"Aku tidak lapar, karena sarapan pagiku sudah ada di depan mata."
Dengan nakal, jemari dan bibir Keano mulai menjelajah kemana-mana hingga membuat Ivyna terpekik.
"Lagipula aku punya sebuah tanggung jawab yang harus aku penuhi padamu," ucap Keano berhenti sebentar.
"Tanggung jawab apa?" tanya Ivyna dengan susah payah. Pasalnya ia sudah kesulitan menahan serangan maut dari Keano di bagian atas dan bawah.
"Aku pernah mengatakan pada orang tuamu kalau kamu sedang mengandung anakku. Dan sekarang saatnya aku akan mewujudkan itu. Aku akan berusaha membuatmu hamil secepat mungkin."
"Bagaimana kalau aku tidak mau?" tanya Ivyna menantang Keano.
"Maka aku akan memaksamu. Setahuku kamu paling suka dipaksa."
"Kamu mesum sekali, Sayang," ucap Ivyna mencubit pinggang Keano.
"Aku mesum hanya padamu saja. Mau aku buktikan?"
...****************...
"Al, kamu sudah rapi pagi-pagi begini? Apa ada meeting penting dengan klien?" tanya Cleantha. Tidak biasanya Almero pergi ke kantor sebelum jam tujuh pagi. Apalagi ia terlihat sangat tampan dengan setelan jas berwarna merah maroon dipadukan kemeja hitam. Almero juga membawa satu tas yang berisi jas cadangan.
"Aku ada wawancara hari ini dengan Simena, Mom, untuk majalah Daily Inspiration."
"Berarti kamu akan masuk majalah, Al?" tanya Cleantha bangga.
"Almero sangat cocok menjadi cover majalah. Dia juga akan membuat nama Adhiyaksa Group makin dikenal publik," timpal Raja yang baru saja kembali dari jogging.
"Dad, aku bukan aktor, mana mungkin wajahku cocok menjadi model majalah. Sebenarnya Alarick yang lebih pantas untuk hal semacam ini."
"Tapi adikmu sedang dalam penyamaran. Kalau dia muncul di majalah, sandiwaranya akan terbongkar," kekeh Cleantha.
"Mom, Dad, aku berangkat dulu. Mungkin aku akan pulang agak larut."
"Iya, tapi jangan terlambat makan, Al. Dan nanti beritahu Mommy kapan wawancaramu akan dimuat di majalah."
__ADS_1
"Pasti, Mom."
Seperti biasa, Almero mencium pipi Cleantha dan memeluk Raja sebelum dia berangkat. Tapi tujuannya kali ini bukan langsung ke kantor. Ia menuju ke toko bunga dan membeli buket mawar yang berukuran besar. Almero menyimpan bunga itu di mobil kemudian menuju ke tempat yang sangat dirindukannya, apalagi kalau bukan pusara Marion.
Di depan makam Marion, Almero meletakkan buket mawar yang dipegangnya lalu bersimpuh dalam keheningan. Hanya matanya yang berair menunjukkan betapa ia masih sangat kehilangan sang kekasih.
"Marion, aku rindu kamu, sangat rindu. Hari ini aku akan mencari tahu siapa wanita yang menerima jantungmu. Doakan aku dari atas sana, supaya wawancaraku berjalan lancar dan wanita itu bersedia membuka identitasnya."
Almero mengusap pusara Marion sambil mencurahkan isi hatinya.
"Sayang, jika aku berhasil menemukan wanita itu aku tidak akan melepaskannya. Dia memiliki jantungmu, maka aku akan menjaganya seumur hidup seperti aku menjagamu. Jika dia lebih tua dariku, aku akan menganggapnya sebagai kakak atau ibu. Sebaliknya bila dia seusia denganmu atau lebih muda, mungkin aku akan..."
Almero menghentikan ucapannya. Ia tidak mengerti mengapa tiba-tiba muncul pikiran gila itu di dalam kepalanya.
...****************...
Aura memutar dirinya di depan cermin beberapa kali. Baju-baju tampak berserakan di sekitaran tempat tidurnya. Aura bingung menentukan pakaian mana yang akan dikenakannya untuk wawancara bersama Simena.
Pertama, Aura mengenakan celana panjang dan kemeja pink. Kedua ia menggantinya dengan rok hitam dan kemeja lengan panjang. Namun sekarang ia memilih dress selutut yang dipadu blazer berwarna putih.
"Aura, kenapa kamu tidak sarapan? Ini sudah jam sembilan," tanya Diva masuk ke kamar keponakannya. Ia terkejut melihat Aura mengeluarkan setengah baju dari lemarinya.
"Tante, apa bajuku ini pantas dipakai oleh seorang jurnalis?"
"Tentu saja pantas. Penampilanmu sempurna dan kamu sangat cantik, seperti akan bertemu dengan pria tampan dari negri seberang," goda Diva.
Diva melipat tangannya sambil tersenyum.
"Boleh Tante tahu siapa nama orang yang akan kamu wawancarai?"
Aura terdiam sejenak. Wajah pria di restoran itu kembali memenuhi pikirannya.
"Aura kok bengong? Siapa namanya?"
"Eh, dia...seorang CEO, Tante. Namanya...Almero Adhiyaksa," jawab Aura ragu-ragu.
**Bersambung
Like, Comment, Vote**
__ADS_1