
"Aku tidak mau, pakai saja sendiri," tolak Ravella.
"Ya sudah, saya tidak jadi pakai kaca mata," ujar Alarick pura-pura akan menjalankan motornya.
"Tunggu dulu, kenapa kamu selalu bersikap kekanak-kanakan?" ketus Ravella. Ia pun turun dari motor dan menghampiri Alarick.
"Dimana kaca matamu?"
"Disini, silakan ambil, Bu," tunjuk Alarick ke dalam tas pinggang yang dipakainya.
Ravella terlihat ragu-ragu. Jika ia memenuhi permintaan Alarick artinya dia akan mendekat dan meraba tubuh pria itu. Bisa jadi Alarick akan menggunakan kesempatan ini untuk mempermainkannya.
"Ibu ingin disini seterusnya dengan saya? Atau kita bolos kerja sekalian untuk mempersiapkan pernikahan?" tanya Alarick melihat Ravella masih tak bergeming.
Tanpa menjawab, Ravella pun bergerak. Dengan gerakan cepat, ia membuka ritsleting tas Alarick lalu mengambil kaca mata milik lelaki itu.
"Tundukkan kepalamu," perintah Ravella. Pasalnya Alarick tetap terlalu tinggi untuknya meskipun dalam posisi duduk di atas motor.
"Baru kali ini ada wanita yang galak pada calon suaminya. Bisa tidak manis sedikit?" gumam Alarick menundukkan kepalanya.
"Tidak bisa. Itu karena ada yang menyamakan aku dengan macan," sindir Ravella. Meskipun jengkel, ia memakaikan kaca mata Alarick dengan hati-hati. Sedangkan Alarick tampak menikmati pelayanan yang diberikan Ravella. Ia berpikir bila mereka telah menikah, ia akan bermanja-manja setiap hari kepada Ravella.
"Kalau begitu saya akan mengganti julukannya sebagai kucing kecil yang manis supaya dia selalu menurut dan tidak bisa jauh-jauh dari saya," celetuk Alarick.
Ravella tidak merespon. Ia buru-buru menyingkir dan naik ke atas motor. Tidak ada gunanya ia melanjutkan perdebatan dengan Alarick, karena hal itu hanya akan merugikan dirinya sendiri.
...****************...
"Ini adalah produk mop terbaru kami. Daya serapnya lebih maksimal untuk menyerap air dan membersihkan kotoran yang lengket di lantai. Dan yang ini super clean brush, untuk menyikat dinding keramik. Sikatnya lembut, anti gores, tapi bisa membersihkan dengan cepat dan tuntas," jelas Alarick kepada Bu Jenny.
Ravella memantau interaksi yang terjalin antara dua orang itu dari kursinya. Bu Jenny menyimak penjelasan Alarick dengan seksama, tapi terlihat bahwa sesekali ia melirik pria itu. Bu Jenny juga sengaja duduk dengan menyilangkan kaki sehingga pahanya yang mulus terpampang di hadapan Alarick.
"Kebetulan kami juga memberikan diskon khusus untuk pelanggan lama. Jika Ibu memesan minimal dua paket, kami akan langsung memberikan diskon dua puluh persen dan bonus cairan pembersih kaca."
__ADS_1
"Apakah produk ini tahan lama, Pak Alarick?" tanya Bu Jenny dengan suaranya yang mendayu-dayu.
"Tentu saja, Bu. Kami menggunakan bahan yang diimport langsung dari Cina. Ibu bisa menghemat pengeluaran hotel karena tidak perlu sering-sering membeli alat kebersihan."
"Tapi tongkat mop ini apa tidak terlalu panjang?" tanya Bu Jenny sambil menunjuk katalog yang dibawa Alarick.
"Gagang tongkat bisa disetel menyesuaikan dengan kebutuhan. Bisa dipanjangkan atau dipendekkan, jadi yang memakainya tidak akan kesulitan, Bu."
"Bapak bisa menjamin hasilnya akan memuaskan?" tanya Bu Jenny mencodongkan tubuhnya ke depan.
"Tentu saja, Bu, sangat memuaskan," jawab Alarick tersenyum lebar.
"Kalau memang memuaskan dan tahan lama, saya akan membeli dua paket, Pak. Yang warna biru dan merah," tunjuk Bu Jenny. Tangannya menyentuh lembut tangan Alarick yang masih memegangi katalog.
"Baik, Bu Jenny."
Telinga Ravella semakin memanas mendengar obrolan Alarick dan Bu Jenny. Ia merasa arah pembicaraan mereka sudah melantur kemana-mana. Bu Jenny nampaknya tidak membahas soal produk yang ditawarkan Alarick, tapi melenceng ke arah yang lain. Lebih mengesalkan lagi, Alarick pura-pura polos dan membiarkan wanita itu menggodanya.
"Bu Ravella," panggil Bu Jenny mengejutkan Ravella.
"Saya sudah deal dengan Pak Alarick untuk membeli dua paket. Ini semua berkat penjelasan Pak Alarick yang sangat detail. Tolong pesanan sy langsung diantar. Nanti akan saya transfer begitu barang sudah datang."
"Baik, Bu, saya akan segera mengatur pengirimannya lewat kurir kami," jawab Ravella mempertahankan sikap profesional. Baru sekarang Bu Jenny menyapanya setelah tadi ia tak diacuhkan sama sekali.
"Bu Jenny, terima kasih sudah membeli produk kami," ucap Alarick bangkit berdiri sambil berjabat tangan dengan wanita blasteran Jerman itu.
"You're welcome Pak Alarick. Oh ya, besok ada event Saturday Night di bar hotel kami. Apa Pak Alarick bisa datang? Kalau iya, saya juga akan memberikan voucher menginap gratis," tawar Bu Jenny.
Wajah Ravella berubah masam. Jika Alarick menerima undangan itu, kemungkinan besar pernikahan mereka akan dibatalkan. Bahkan di benak Ravella sudah terbayang apa yang akan terjadi antara Alarick dengan Bu Jenny saat mereka berduaan. Tanpa sadar ia meremas jari jemarinya sendiri.
"Terima kasih atas undangannya, Bu. Sebenarnya saya ingin datang tapi saya terlanjur punya janji penting dengan calon istri saya."
Bola mata Bu Jenny membesar seperti kelereng. Ia tidak menyangka pria muda yang ditaksirnya ini sudah memiliki pujaan hati.
__ADS_1
"Pak Alarick bisa mengajak calon istri sekalian ke acara itu," jawab Bu Jenny menyembunyikan rasa kecewanya.
"Saya juga inginnya begitu. Sayangnya calon istri saya sangat pemalu."
"Bu Jenny, maaf kami harus kembali ke kantor sekarang. Kami mohon diri," potong Ravella. Ia tidak nyaman dengan perbincangan basa-basi ini.
"Baik, silakan."
Ravella berjalan lebih dulu meninggalkan Alarick di belakangnya. Ketika sampai di lobi, Alarick menarik tangan Ravella dan membawanya ke sudut yang sepi.
"Ibu marah pada saya? Apa saya berbuat kesalahan?"
"Tidak, justru aku salut pada prestasimu yang berhasil membuat Bu Jenny membeli produk kita. Selamat ya."
Alarick menaikkan dagu Ravella agar wanita itu menatap matanya.
"Mengucapkan selamat dengan wajah kesal begini. Cemburu?"
"Siapa yang cemburu? Kamu kan suka tebar pesona dengan semua orang, apalagi dengan wanita cantik yang pakaiannya minim seperti Bu Jenny. Seharusnya kamu juga menerima undangannya. Masalahku tidak perlu kamu pikirkan lagi. Aku akan mencari jalan keluar yang lain untuk mempertahankan hak asuh Marco dan Mirel."
Alarick tidak menjawab namun jari telunjuknya tiba-tiba menempel di bibir Ravella.
"Sssttt, sudah selesai bicaranya? Sekarang giliran saya. Saya bukannya tebar pesona, tapi orang-orang yang terpesona oleh saya."
"Soal Bu Jenny, bukannya saya sudah menuruti permintaan Ibu untuk memakai kaca mata? Saya bersikap ramah padanya supaya dia mau membeli produk kita. Dan perlu Ibu tahu meskipun ada seribu wanita agresif yang menggoda saya, saya tetap memilih satu orang wanita untuk dijadikan ratu di hati saya," lanjut Alarick dengan tatapan dalam.
Kaki Ravella melemah seketika. Entah mengapa hatinya berdesir hebat mendengar pernyataan Alarick. Seolah ada gelombang pasang surut yang tak henti melanda perasaannya. Padahal belum tentu juga ratu yang dimaksud oleh Alarick adalah dirinya.
Dalam kondisi canggung itu, mendadak ponsel Ravella berbunyi. Alarick segera menjauhkan dirinya agar Ravella bisa menerima panggilan tersebut.
"Selamat sore, dengan siapa ini?" tanya Ravella yang tidak mengenali nomer si penelpon.
"Sore, Ravella, aku Tantri, ibunya Steven dan oma kandung Marco dan Mirel. Aku datang ke Bogor untuk bicara empat mata denganmu. Temui aku sekarang di resto Taman Asri," ucap wanita paruh baya itu.
__ADS_1
**Bersambung
Like, komen, vote**