
Seorang lelaki sedang membelai rambut gadis kecil yang terlelap dalam tidurnya. Gadis itu memeluk boneka Barbie kesayangannya. Saat ia bergerak sedikit, pria itu langsung menepuk punggungnya.
Suara dering ponsel membuat pria rupawan itu beranjak. Ia menerima telpon dengan ekspresi datar.
"Ada apa? Kalian sudah menemukan jejak Nadine?"
"Belum, Tuan Keano. Tapi kami berhasil menemukan salon tempat Nona Nadine terakhir kali terlihat. Salon ini milik Ivyna Adhiyaksa."
"Ivyna Adhiyaksa? Apa dia putri pemilik Adhiyaksa Group?"
"Sepertinya iya, Tuan. Menurut asistennya, Nona Ivyna sendiri yang merias Nona Nadine."
Keano mencengkeram ponselnya hingga buku jarinya memutih.
"Jadi Ivyna yang membantu Nadine. Wanita itu harus bertanggung-jawab padaku. Kapan dia berada di salonnya?"
"Besok jam sepuluh pagi, Tuan."
"Awasi gerak-geriknya. Karena dia anggota keluarga Adhiyaksa, aku tidak bisa bertindak gegabah. Aku akan mencari waktu yang tepat untuk menangkapnya."
"Baik, Tuan."
Keano mengakhiri panggilan itu lalu meletakkan ponselnya di atas nakas. Sambil meredam emosinya, ia duduk di tepi tempat tidur. Memandangi putri kecilnya yang damai dalam tidur.
"El, Papa berjanji akan membawakan mama untukmu sebelum hari ulang tahunmu tiba. Dan Papa pasti akan menepati janji itu bagaimanapun caranya," gumam Keano menatap sayang kepada Eleanor, putri tunggalnya.
...****************...
Pagi-pagi sekali Cleantha sudah bangun untuk menyiapkan sarapan. Ia terkejut ketika merasakan sebuah tangan melingkar di pinggangnya. Cleantha pun menoleh dan bersitatap dengan Raja.
"Sayang, kenapa sudah bangun sepagi ini? Biarkan pelayan yang mengerjakan semuanya."
"Aku rindu menyiapkan sarapan untuk anak-anak. Lalu kamu sendiri kenapa ikut bangun?" tanya Cleantha.
"Aku tidak bisa tidur tanpamu."
"Kembalilah tidur, Sayang. Bukankah hari ini kamu berencana akan ke Bogor untuk menemui Tuan Devano?"
"Iya, apa kamu mau ikut, Clea? Sekalian kamu bisa melihat lingkungan tempat kerja Alarick nanti."
Cleantha berpikir sebentar lalu mengangguk.
"Boleh. Aku ingin memastikan Alarick nyaman selama dia hidup jauh dari kita."
"Bagus, Sayang. Nanti aku juga akan mengajakmu jalan-jalan berdua."
Raja mengecup pipi Cleantha lalu berjalan kembali ke kamarnya. Di ruang tengah, ia berpapasan dengan Alarick dan Almero yang akan pergi berolah raga.
"Rick, kamu mau ikut Daddy dan Mommy ke Bogor?" tanya Raja.
"Tidak, Dad. Kalau aku muncul disana sebelum bekerja, mereka akan mengenaliku. Hari ini aku akan ke kantor Adhiyaksa bersama Kak Almero," jawab Alarick.
Dari meja makan, Cleantha keheranan melihat Ivyna tergesa-gesa turun dari lantai dua. Tidak biasanya putrinya itu berangkat sebelum jam delapan pagi.
__ADS_1
"Ivy, kamu mau ke salon sekarang?"
"Iya, Mom. Hari ini aku ada urusan penting. Aku akan menghabiskan sarapanku di salon. Bye," ucap Ivyna melambaikan tangan.
Ivyna segera mengemudikan mobilnya menuju ke salon. Hari ini dia berencana datang lebih awal lalu meninggalkan salon sebelum jam sepuluh. Dia ingin pergi ke ballroom Hotel Quality untuk mengecek persiapan acara wedding expo, sekaligus menghindari orang-orang aneh yang sedang mencarinya.
"Arum, cepat siapkan alat-alat make up dan kebaya milik Jenny. Lalu suruh Pak Imran dan Siska mengantarnya dengan mobil ke alamat yang kuberikan. Aku akan merias Jenny di rumahnya jam dua siang."
"Kenapa tidak di salon, Bu?" tanya Arum bingung.
"Aku tidak mau bertemu para pria yang mencariku kemarin. Aku yakin mereka bermaksud buruk. Urusan salon sementara kuserahkan kepadamu," ucap Ivyna meraih tasnya.
"Bu Ivy mau kemana sekarang? Saya harus bilang apa kalau orang-orang itu datang lagi?" tanya Arum bingung.
"Aku mau ke hotel untuk melihat persiapan wedding expo. Katakan saja kepada mereka aku ada pekerjaan di luar kota. Tolong jaga salon baik-baik, Arum."
Setelah berpamitan, Ivyna mempercepat langkahnya. Selang beberapa detik, mobilnya sudah melaju di jalan raya. Tanpa disadarinya, seorang pria dengan mobil silver mengikutinya sejak tadi. Pria itu sengaja menjaga jarak agar tidak ketahuan oleh Ivyna.
"*I*vyna Adhiyaksa, kamu pikir bisa lolos dengan mudah setelah kamu membantu pelarian Nadine? Aku tidak akan melepaskanmu sampai kamu membayar lunas kesalahanmu itu,"
gumam pria itu dengan tatapan tajam.
...****************...
Marco dan Mirel langsung menghambur ke pelukan Ravella. Mereka saling melepas rindu setelah terpisah selama beberapa hari. Mereka bertiga memang tidak mampu berjauhan dalam waktu lama.
"Mirel, kamu tidak bermimpi buruk lagi kan?" tanya Ravella pada putrinya.
"Aku tidak akan bermimpi buruk kalau Mama ada di rumah."
Senyum merekah di wajah Ravella. Ia segera menyodorkan bungkusan plastik besar ke tangan Mirel.
"Wow, boneka Unicorn!" seru Mirel menimang boneka pemberian Ravella. Sudah lama ia menginginkan boneka ini dan akhirnya mendapatkannya juga.
Marco merengut tak senang karena belum menerima hadiah dari mamanya.
"Marco, jangan cemberut. Ini lego yang kamu mau," ujar Ravella mengetahui kecemburuan Marco. Raut wajah anak laki-laki itu langsung berubah senang.
Sepasang anak kembar itu menarik tangan Ravella untuk diajak bermain bersama.
"Ayo, Ma, kita main sekarang."
Ravella mengelus pipi Marco dan Mirel secara bergantian.
"Maaf, Sayang, Mama tidak bisa. Setelah ini Mama harus berangkat ke kantor untuk memberikan laporan kepada bos Mama."
"Kenapa tidak libur saja, Ma? Mama kan baru pulang dari Bogor," protes Marco.
"Tidak bisa, Sayang, nanti bos Mama marah. Mama usahakan pulang jam lima sore ya."
"Ma, kapan kami punya Papa? Teman-teman Mirel semua ada papanya. Jadi kalau mamanya sibuk, masih ada papanya yang bisa diajak main," keluh Mirel tiba-tiba.
"Iya, aku juga mau punya Papa yang bisa menemaniku bermain game dan lego," sahut Marco.
__ADS_1
Sontak pertanyaan kedua anak kecil itu membuat Ravella terkesiap. Entah jawaban apa yang harus diberikannya. Hingga saat ini dia tidak memiliki kekasih karena terlalu sibuk dengan pekerjaan dan kewajibannya sebagai ibu. Ia tidak pernah terpikir untuk menikah. Lagipula mana ada pria yang mau mendekati wanita yang sudah memiliki anak kembar seperti dirinya. Para pria itu bahkan akan meragukan statusnya sebagai wanita yang masih virgin.
Marco dan Mirel mengguncang lengan Ravella sambil merajuk.
"Ayolah, Ma, berikan Papa untuk kami."
"Mama harus menikah dulu dengan seorang pria dewasa baru kalian akan memiliki Papa," jelas Ravella berusaha memakai kalimat yang sederhana.
Mirel memutar bola matanya sedangkan Marco memiringkan bibir. Keduanya tampak berpikir keras.
"Baiklah, kami akan membantu mencarikan pria dewasa yang cocok untuk Mama dan sayang kepada kami. Lalu Mama harus menikah dengannya," ucap Mirel menyanggupi.
"Aku akan mencari di internet," sambung Marco.
Ravella terkekeh mendengar perkataan kedua anaknya yang masih polos itu. Dengan gemas, ia mencubit ujung hidung mereka.
"Tugas kalian adalah belajar, bukan mengurusi orang dewasa. Nah sekarang kalian main saja bersama Mbak Sari. Mama pergi dulu," ucap Ravella mengecup pipi Marco dan Mirel.
...****************...
Almero masih membubuhkan tanda tangan di atas sejumlah dokumen, sementara Alarick sedang berkutat dengan laptopnya. Kedua kakak beradik itu berada di ruangan yang sama namun sibuk dengan urusannya masing-masing.
Sambil mempelajari laporan keuangan, Alarick mengecek siapa nama perwakilan PT. Cemerlang yang tempo hari mengunjungi Adhiyaksa Group.
"Ravella, supervisor marketing. Usianya 26 tahun, satu tahun lebih tua dariku. Kalau aku bekerja sebagai marketing, artinya dia akan menjadi atasanku,"
gumam Alarick.
"Kenapa Rick?" tanya Almero menghentikan kegiatannya.
"Supervisor PT. Cemerlang adalah seorang wanita muda. Nanti kalau aku diterima sebagai staf marketing, aku akan menjadi bawahannya. Aku paling tidak suka dipimpin oleh wanita yang masih ingusan," gerutu Alarick.
"Rick, jangan meremehkan wanita. Justru banyak wanita tangguh yang berhasil memimpin dan memajukan perusahaan. Buktinya dia mampu meyakinkan Pak Surya untuk membeli produknya."
"Tapi itu tidak berlaku untukku," bantah Alarick.
"Kak, bagaimana kalau kita makan siang sekarang? Aku sudah kelaparan."
"Boleh, tapi aku akan menelpon Marion dulu. Dari pagi dia belum mengabariku."
Almero meraih ponselnya lalu menekan nomer Marion. Namun lagi-lagi nomer calon istrinya itu berada di luar jangkauan. Sambil menarik napas kasar, Almero meletakkan kembali ponselnya.
"Marion masih tidak bisa dihubungi?" tanya Alarick.
"Iya, aku tidak tahu apa yang terjadi dengannya. Apa dia sangat sibuk sampai melupakan aku. Setelah makan siang, aku akan menelpon orang tuanya Marion."
**Bersambung
Yuk mampir juga ke novel author untuk konflik rumah tangga, "ATM Suamiku Hilang"
Dijamin tidak kalah seru.
Thanks for Like, Comment and Vote**
__ADS_1