CEO Magang Dan Mama Perawan

CEO Magang Dan Mama Perawan
Bab 13 Pemuda Kutu Buku


__ADS_3

Ivyna kembali dengan membawa dua buah kotak di tangannya.


"Ivy, apa ini? Jangan bilang kamu akan mendandani aku seperti wanita," tolak Alarick.


"Tenang dulu. Lihat saja apa isinya."


Ivyna membuka kotak pertama dan mengeluarkan sebuah peralatan untuk membentuk alis.


"Aku akan mengubah sedikit bentuk alismu supaya tidak terlalu tebal. Alis tebal itu salah satu ciri khas pria tampan. Sekarang duduk diam, jangan bergerak," ucap Ivyna memberi perintah.


"Eitss, tunggu dulu. Jangan hilangkan alisku nanti aku melihat hantu," tolak Alarick cemas.


Ekspresi Alarick yang ketakutan membuat Almero tersenyum. Paling tidak kehadiran kedua saudaranya ini bisa sedikit menghibur lara di hatinya.


"Percaya saja padaku, jangan memberontak."


"Ivy sudah berpengalaman. Dia tidak akan mengecewakanmu, Rick," timpal Almero.


Alarick akhirnya pasrah saja ketika Ivyna mulai menunjukkan keahliannya. Dengan ketrampilan yang dimilikinya, Ivyna tidak butuh waktu lama untuk membuat alis yang baru bagi adiknya.


"Selesai," ucap Ivyna menyodorkan cermin ke tangan Alarick.


Sambil was-was, Alarick memandang dirinya sendiri. Ia menghembuskan napas lega ketika melihat alisnya masih ada walaupun lebih tipis dari biasanya.


"Bagaimana hasilnya?" tanya Ivyna.


Alarick mengamati dirinya dengan seksama.


"Lumayan, penampilanku sedikit berubah. Apa cukup begini?"


"Tentu saja belum."


Ivyna mengambil gel rambut pria dan sisir lalu mulai menata rambut Alarick.


"Apa yang mau kamu lakukan pada rambutku, Ivy?" tanya Alarick bingung.


"Perhatikan baik-baik caraku menyisir rambutmu. Ini akan menjadi gaya rambutmu yang baru selama kamu melakukan penyamaran. Kamu harus menirunya selama kamu bekerja di kantor itu."


Dengan cekatan, Ivyna mengoleskan gel di beberapa bagian rambut Alarick. Kemudian ia membuat belahan samping pada rambut adiknya itu. Dan saat Alarick menatap dirinya di cermin, ia terkesiap melihat penampilannya sendiri. Kini wajahnya tampak lebih lugu dengan model rambut yang dibuat oleh Ivyna.


"Ternyata gaya rambut berperan penting dalam menentukan penampilanku," ujar Alarick keheranan.


"Nah, tinggal satu hal lagi yang harus dilakukan."


Ivyna segera membuka kotak kedua yang dibawanya. Ia mengambil sebuah kacamata dan memasangkannya pada Alarick.

__ADS_1


"Ivy, mataku masih normal. Kenapa harus memakai kacamata minus? Lagipula kacamata ini besar sekali," protes Alarick.


"Ini bukan kacamata minus sungguhan, Rick. Bentuknya saja mirip. Kamu harus memakai kacamata yang jelek supaya penyamaranmu semakin sempurna."


"Sekarang tanyakan pada Almero seperti apa penampilanmu sekarang," tanya Ivyna bangga dengan hasil karyanya.


Dari tempatnya duduk, Almero terkesima melihat perubahan pada diri adiknya. Alarick yang biasanya memiliki ketampanan di atas rata-rata, kini lebih terlihat seperti seorang pria kutu buku.


"Rick, kamu terlihat sangat lugu jika begini. Mungkin Mommy dan Daddy akan kaget melihatmu," puji Almero kagum.


"Lebih tepatnya aku mirip seperti laki-laki culun yang menjadi bahan olok-olokan teman-temannya semasa sekolah," balas Alarick merasa jengah.


Ivyna membulatkan bolat matanya sambil terkekeh.


"Mau bagaimana lagi? Kamu harus dibuat seperti ini supaya orang lain tidak mengenalimu. Dan lagi caraku mudah ditiru. Kamu bisa melakukannya sendiri nanti. Tapi kalau kamu tidak setuju, aku akan mengganti dengan gaya yang lain," ucap Ivyna memberikan pilihan.


"Jangan, Ivy. Ini sudah cukup."


Alarick kembali menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Sungguh wajahnya terlihat seperti kutu buku yang sangat naif.


"Kalau aku tiap hari begini, mungkin tidak ada wanita yang mau mendekatiku," gerutu Alarick. Ivyna kembali terkekeh mendengar keluhan Alarick. Sebaliknya Almero malah memberi dukungan pada adiknya itu.


"Semangatlah, Rick. Bukankah kamu ingin fokus mencari pengalaman kerja? Dengan penampilan ini, tujuanmu akan tercapai. Tidak ada wanita yang akan mengejarmu seperti biasanya. Setelah kamu kembali ke Adhiyaksa Group, kamu bisa menjadi idola kaum wanita lagi."


"Dan satu lagi jangan memakai kemeja yang bermerk. Pakai baju yang sederhana saja," tambah Ivyna.


Ivyna dan Almero kembali tersenyum melihat kekesalan di raut wajah Alarick.


"Aku minta tolong, Kak, jangan beritahukan ini kepada Mommy dan Daddy. Mereka pasti akan memarahiku," pinta Alarick.


Ivyna merentangkan tangannya untuk memeluk kedua adik laki-lakinya.


"Tentu saja ini akan menjadi rahasia kita bertiga."


...****************...


"Sayang, aku sangat mencintaimu," ucap seorang lelaki tampan yang membelai rambut seorang wanita.


"Aku juga mencintaimu."


Lelaki dan wanita itu berpelukan erat. Sang wanita melambaikan tangan kemudian masuk ke dalam sebuah mobil. Mobil itu pun melaju dengan kencang di jalan. Hingga tiba-tiba dari belakang terdengar suara tabrakan yang dahsyat.


"Tidak!!!" jerit Aura terbangun. Aura memegangi bagian dadanya yang berdegup dengan kencang. Keringat membasahi keningnya. Napasnya tidak beraturan seperti habis berlari puluhan kilometer.


"Aura, kamu kenapa, Sayang? Tante akan panggil dokter," tanya Diva khawatir.

__ADS_1


"Tidak usah, Tante. Tolong ambilkan aku minum," lirih Aura.


Diva bergegas memberikan segelas air minum kepada keponakannya itu.


"Aura, apa jantungmu nyeri?"


"Tidak, Tante. Aku hanya bermimpi buruk," ucap Aura mengusap keringat di dahinya.


"Mimpi apa, Sayang?"


"Lelaki itu dan kecelakaan mobil. Aku sudah memimpikan hal yang sama dua hari berturut-turut," jelas Aura menarik napas dalam-dalam.


"Aku yakin mimpi ini ada kaitannya dengan Nona Marion yang sudah mendonorkan jantungnya untukku. Sayang sekali aku tidak bisa melihat wajah lelaki itu dengan jelas, Tante."


"Mimpi itu hanya bunga tidur, Aura. Kamu tidak perlu memikirkannya. Sekarang berbaringlah lagi, sebentar lagi dokter akan datang memeriksamu."


Diva membantu Aura berbaring di tempat tidur. Sekitar dua puluh menit kemudian, dokter dan perawat masuk untuk melakukan pemeriksaan rutin terhadap Aura. Sementara itu Tuan Dewa mengikuti dari belakang.


"Dokter, bagaimana kondisi anak saya?" tanya Tuan Dewa kepada dokter.


"Sejauh ini baik. Jika dalam dua hari ke depan kondisinya stabil, ia boleh pulang ke rumah. Tapi Aura perlu melakukan kontrol secara rutin."


"Baik, Dok, saya mengerti, terima kasih."


Wajah Aura langsung berubah ceria ketika mendengar kabar baik ini.


"Pa, kalau aku sudah diizinkan pulang, aku akan mendaftarkan diri di jurusan jurnalistik. Kumohon."


"Kalau kamu sudah benar-benar sehat, kamu boleh kuliah, Sayang," jawab Tuan Dewa membelai rambut Aura.


"Aura kamu istirahat ya. Tante mau beli minum sebentar."


Diva menggandeng tangan kakaknya dan mengajaknya keluar dari kamar Aura.


"Ada apa, Diva?" tanya Tuan Dewa khawatir.


"Kak, Aura baru saja bermimpi tentang seorang laki-laki. Aku yakin laki-laki itu adalah kekasihnya Marion. Aku takut dia akan mengganggu Aura."


"Lalu kita harus bagaimana? Aku bahkan sudah memindahkan Aura."


"Kakak harus minta tolong pada kedua orang tua Marion untuk merahasiakan identitas Aura. Ini demi kebaikan Aura, Kak. Sekarang dia baru mulai punya semangat hidup lagi."


Tuan Dewa mendesah pelan sambil mengangguk.


"Iya, kamu benar. Aku akan menghubungi mereka."

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2