
Alarick melebarkan kelopak matanya. Ia sampai memajukan wajah karena takut salah mendengar ucapan Ravella.
"Maksudnya Ibu mau nikah kontrak dengan seorang pria?"
"Iya, betul," jawab Ravella tanpa ragu.
"Tapi kenapa Ibu tidak menikah sungguhan? Apa Ibu trauma dengan pernikahan Ibu sebelumnya?" tanya Alarick ingin tahu.
Ravella tidak lantas menjawab. Ia berpikir percuma saja menjelaskan pada Alarick jika ia belum pernah menikah. Berpacaran pun ia enggan karena baginya para lelaki hanya suka mencari keuntungan dari wanita.
"Sebentar, Bu, bolehkah saya tahu siapa pria yang kemarin bersama Ibu?"
"Dia ayahnya Marco dan Mirel," jawab Ravella singkat.
"Jadi pria itu benar mantan suaminya. Kelihatannya dia pria yang mapan. Kenapa mereka tidak rujuk saja?"
pikir Alarick berpikir sejenak.
"Bagaimana, kamu ingin mundur? Tidak jadi menolongku?" tantang Ravella. Ibarat orang menyeberang sungai, ia sudah berada di tengah-tengah. Karena itu sekalian saja ia memaksa Alarick untuk menolongnya.
"Bukan, terus terang saya tidak mengerti mengapa Ibu mencari suami kontrak. Apa Ibu ingin balas dendam kepada mantan suami Ibu itu?"
"Kamu tidak perlu bertanya. Bantu saja aku mencari suami dalam waktu dua hari ini."
Alarick kembali dibuat tersentak dengan ucapan Ravella. Ya, wanita ini nampaknya mengalami depresi berat sehingga meminta hal yang di luar nalar. Alarick sendiri tidak yakin apakah ada di antara temannya yang bersedia menjadi suami kontrak Ravella. Pasalnya mereka semua anak dari keluarga terpandang. Mereka tidak membutuhkan uang dan bisa memiliki wanita mana saja yang mereka inginkan.
"Bu, kalau dua hari saya tidak bisa janji. Jika mau cepat, Ibu bisa mencari pasangan di aplikasi dating. Tapi menurut saya itu terlalu beresiko. Bisa jadi pria yang datang malah penipu atau penjahat."
Belum sempat Ravella menanggapi, layar ponselnya kembali berkelap-kelip. Namun kali ini bukan pesan masuk melainkan panggilan dari Steven. Wajah Ravella langsung pucat pasi. Ia menggeser tombol hijau di ponselnya dengan tangan gemetar.
"Halo, Ravella, karena kamu tidak membalas pesanku aku terpaksa menelponmu. Aku tahu kamu masih punya sisa waktu dua hari untuk berpikir. Tapi aku rasa lebih cepat lebih baik. Karena itu, aku memutuskan untuk menjemput kedua anakku besok sore. Tolong siapkan baju-baju dan buku mereka," ucap Steven panjang lebar.
"Aku tidak akan membiarkanmu melakukannya!" hardik Ravella.
__ADS_1
"Kenapa harus keras kepala, Ravella? Aku sudah menyiapkan cek yang aku janjikan. Kamu bisa langsung mencairkannya setelah Marco dan Mirel aku bawa ke Jakarta."
"Dengar, Steven, aku tidak butuh uangmu! Jika kamu berani mendekati anakku sejengkal saja, aku akan melaporkanmu pada polisi!" bentak Ravella murka. Alarick yang ada di hadapannya sampai terkejut mendengar teriakan Ravella. Belum pernah ia melihat Ravella semarah ini.
"Rupanya kamu lebih memilih bertarung denganku di meja hijau daripada menyerahkan anakku dengan suka rela?" balas Steven tidak kalah sengit.
"Iya, itu pilihanku. Aku tidak takut padamu."
"Okey, kalau itu maumu. Tunggu saja panggilan dari pengadilan!"
Steven langsung memutus panggilan telponnya tanpa basa-basi. Sementara Ravella terduduk lemas di kursi. Matanya yang semula dipenuhi amarah berubah sendu. Ravella tidak mampu menangis lagi, hanya hatinya yang serasa diremas-remas. Begitu nyeri dan membuatnya merasakan putus asa yang dalam.
Melihat Ravella yang terlihat syok, Alarick memegang tangan wanita itu untuk memberi dukungan. Ia takut Ravella akan jatuh pingsan di hadapannya.
"Tenang, Bu, ambil napas dan hembuskan."
"Aku tidak bisa," jawab Ravella dengan suara parau.
Untuk kesekian kalinya Ravella tidak menjawab. Sorot matanya hampa seperti orang yang kehilangan arah dan tujuan hidup. Melihat itu, Alarick menjadi cemas. Ia merasa harus melakukan sesuatu untuk menyadarkan Ravella. Alarick pun berdiri dan menarik Ravella dari kursinya. Ia merengkuh tubuh Ravella yang dingin lalu memeluknya dengan erat.
Ravella terkesiap dengan tindakan Alarick yang tiba-tiba. Ia ingin berontak dan melepaskan diri, namun tenaganya seakan melemah. Tak bisa dipungkiri bahwa ia sedang membutuhkan perlindungan dari seseorang. Ia memerlukan bahu kokoh sebagai tempatnya bersandar dan mencurahkan semua isi hatinya. Dan entah mengapa ia merasa hanya Alarick yang bisa memberikan semua itu.
Tanpa sadar, Ravella masuk ke dalam dekapan Alarick. Ia terisak pelan seraya melingkarkan lengannya di pinggang lelaki itu. Yang diinginkan Ravella hanyalah menumpahkan segala kesedihan yang menyesakkan kalbunya.
"Menangislah jika ingin menangis. Jangan ada yang ditahan. Terkadang dengan menangis beban di hati kita akan berkurang," ucap Alarick lembut. Ia mengusap pelan punggung Ravella untuk membuat wanita itu nyaman. Baru kali ini Alarick sangat perhatian dan sabar terhadap seorang wanita. Biasanya ia selalu cuek dan malas menghadapi drama yang dibuat oleh para mantan kekasihnya.
Cukup lama mereka tak bergeming dalam posisi itu. Bahkan bagian depan kemeja Alarick sudah basah oleh air mata Ravella. Setelah Ravella cukup tenang, barulah Alarick melerai pelukannya. Ia hendak bergerak ke meja untuk mengambil tissue namun Ravella menahan lengannya.
"Rick, boleh aku memohon sesuatu padamu?" tanya Ravella dengan mata sembap.
"Apa itu, Bu?"
Entah mengapa firasat Alarick menjadi tidak enak. Mungkinkah Ravella akan memintanya untuk....Ah, jika tebakannya benar bagaimana dia harus memberikan jawaban nanti?
__ADS_1
"Aku sudah mengatakan sebelumnya kalau aku butuh suami kontrak. Tapi aku tidak mungkin menemukannya dalam waktu singkat. Apalagi aku sudah terdesak."
"Lalu maksud Ibu?" tanya Alarick menaikkan alisnya.
Ravella sudah tidak peduli lagi dengan martabat maupun harga dirinya sebagai wanita. Apapun rela dia korbankan demi Marco dan Mirel. Terlebih hanya Alarick-lah pria yang terlanjur mengetahui masalah pelik dalam kehidupannya.
"Kumohon, Rick, jadilah suami kontrakku. Aku membutuhkan suami supaya kedua anakku tidak diambil oleh ayahnya. Jika kamu bersedia, aku akan membayarmu hari ini juga," ucap Ravella pilu.
Lidah Alarick menjadi kelu. Tenggorokannya kering kerontang seperti musafir yang mengembara di padang gurun. Permintaan macam apa ini? Alarick Adhiyaksa, pewaris Adhiyaksa Group, diminta menjadi suami kontrak? Bahkan akan dibayar dengan sejumlah uang oleh seorang wanita? Jika keluarga besarnya mengetahui hal ini, mereka bisa terkena serangan jantung. Dan lagi harus ditaruh dimana mukanya bila sampai ada karyawan atau dewan direksi yang memergokinya menjadi suami bayaran?
"Rick, kenapa diam saja? Uangku memang tidak banyak. Aku hanya punya lima puluh jutaan dari warisan kedua orang tuaku. Tapi aku bersedia memberikan tiga puluh juta untukmu. Sisanya akan kupakai untuk membayar pengacara," tanya Ravella menggoyangkan tangan Alarick.
Mendengar ucapan Ravella Alarick ingin tertawa sambil menangis. Alarick Adhiyaksa hanya dihargai senilai tiga puluh juta? Ini sungguh gila. Bahkan sepatunya saja ada yang harganya lebih dari itu.
Dalam suasana serba ambigu itu, gerimis tiba-tiba turun membasahi kepala Alarick dan Ravella. Alarick buru-buru menggandeng tangan Ravella lalu mengajaknya berteduh di dalam restoran.
"Aduh, aku tidak membawa jas hujan. Bagaimana kita pulang nanti?" keluh Alarick.
"Kita tunggu sampai hujannya reda," jawab Ravella singkat.
Kurang lebih tiga puluh menit mereka menunggu, namun hujan malah makin deras disertai angin kencang. Alarick melirik sebentar kepada Ravella yang menggigil kedinginan. Wanita itu terlihat begitu rapuh dan tidak berdaya, sehingga membuat Alarick tergerak untuk melindunginya.
"Bu, kenapa suami Ibu ingin merebut Marco dan Mirel? Bukankah secara hukum anak yang masih di bawah umur seharusnya berada dalam pengasuhan ibu kandungnya?" tanya Alarick memastikan.
Ravella hanya menjawab lirih tanpa memandang wajah Alarick.
"Itu karena...aku bukan ibu kandung mereka."
**Bersambung
Hi readers novel ini sementara hanya upload 2-3x seminggu. Semoga kalian selalu sabar menunggu
Terima kasih atas dukungannya**.
__ADS_1