CEO Magang Dan Mama Perawan

CEO Magang Dan Mama Perawan
Bab 59 Aku ada di Sisinya


__ADS_3

"Baik, Nyonya, saya akan sampai kesana sekitar tiga puluh menit lagi."


"Aku menunggu kedatanganmu di meja nomer sebelas," ujar Ny. Tantri lantas menutup panggilannya. Melihat wajah Ravella yang pucat, Alarick menebak bahwa telpon tersebut ada kaitannya dengan masalah hak asuh Marco dan Mirel.


"Apa pria itu mengancam Ibu lagi?" tanya Alarick memegang tangan Ravella. Entah mengapa ia merasa geram saat melihat Ravella tersakiti.


"Bukan Steven yang menelponku, tapi seorang wanita yang mengaku sebagai omanya Marco dan Mirel. Dia memintaku datang ke resto Taman Asri."


"Lalu Ibu mau menemui dia? Bisa saja dia seorang penipu," ujar Alarick memperingatkan Ravella.


"Aku harus menemuinya supaya tahu apa yang dia inginkan. Tolong antarkan aku ke resto itu, Rick," pinta Ravella.


"Baiklah, saya akan mengantar Ibu. Tapi jika wanita itu berbuat macam-macam, kita langsung pulang."


Alarick tidak melepaskan genggaman tangannya pada Ravella hingga mereka sampai di tempat parkir. Ia tahu Ravella sedang membutuhkan perlindungan dan kekuatan untuk menghadapi situasi sulit ini.


Ravella tidak bicara sepanjang perjalanan. Hatinya gelisah memikirkan pertemuannya dengan Ny. Tantri. Ia yakin kedatangan wanita kaya itu memiliki maksud dan tujuan yang sama dengan Steven. Namun tidak tertutup kemungkinan Ny. Tantri akan melancarkan strategi baru untuk merebut kedua cucunya.


"Bu, kita sudah sampai. Mau saya temani ke dalam?" tanya Alarick mengarahkan motornya ke restoran berkonsep taman itu.


"Tidak usah, biar aku sendiri saja," jawab Ravella. Ia tidak mau terlalu melibatkan Alarick dalam pusaran masalah pribadinya.


Sambil menghela napas, Ravella berjalan ke dalam restoran. Kedatangannya disambut oleh dua pelayan wanita yang memakai baju adat.


"Sore, Ibu, mau pesan meja untuk berapa orang?"


"Saya sedang ditunggu oleh Nyonya Tantri di meja sebelas," kata Ravella.


"Oh, mari saya antar, Bu."


Ravella mengikuti pelayan itu melewati jalan setapak menuju ke sebuah gubug kecil. Dari jarak pandangnya, ia bisa melihat seorang wanita berusia enam puluh tahunan sedang duduk seorang diri. Wanita itu memakai seperangkat perhiasan dan model rambutnya disasak tinggi ke atas. Tampilannya sangat mirip dengan gambaran ibu mertua arogan dalam serial drama rumah tangga.


"Terima kasih, Mbak," ujar Ravella kepada pelayan yang mengantarnya.


"Sore, Nyonya."


Ny. Tantri langsung menatap Ravella tanpa berkedip.


"Kamu Ravella kan? Duduklah, kita harus bicara," ucapnya tanpa membalas salam dari Ravella. Kalung dan cincin berlian yang dipakai Ny. Tantri nampak berkilauan terkena sinar lampu.

__ADS_1


"Aku sudah mendengar dari Steven bahwa kamu menolak untuk menyerahkan Marco dan Mirel. Kamu lebih memilih bertarung dengan kami di pengadilan daripada memberikan kedua cucuku secara suka rela. Sebenarnya apa tujuanmu, Ravella?"


"Saya tidak memiliki tujuan apapun kecuali membahagiakan kedua anak saya. Kakak saya telah menunjuk saya sebagai wali untuk anak-anaknya. Dan saya berjanji akan selalu menjalankan amanatnya."


"Apa kamu punya bukti rekaman suara kakakmu? Bisa saja kamu hanya mengarang cerita itu untuk menarik simpati orang lain. Atau mungkin kamu menolak permintaan Steven karena ingin mendapatkan uang yang lebih besar? Kamu dan kakakmu, Raisa, sama saja, sebelas dua belas. Bermimpi menjadi orang kaya lalu menghalalkan segala cara. Salah satunya adalah dengan menjual diri."


Ravella meradang mendengar perkataan Ny. Tantri yang terang-terangan menghinanya dan Raisa. Sekarang ia tahu mengapa Steven memiliki kelakuan buruk. Ternyata sifat itu diturunkan dari ibunya.


"Maaf, Nyonya, saya bukan pembohong seperti putra Anda. Meskipun saya dan kakak saya berasal dari keluarga biasa, tapi kami dididik dengan baik oleh orang tua kami. Bagi kami uang bukanlah segalanya. Beda dengan keluarga kaya yang gagal mendidik anaknya sehingga menjadi pengecut, penipu, dan lari dari tanggung-jawab."


"Beraninya kamu!! Kakakmu yang sudah menjebak Steven. Raisa itu wanita yang tidak punya harga diri," bentak Ny. Tantri menggebrak meja.


"Saya memang tidak punya bukti siapa yang bersalah. Tapi apa Anda sadar mengapa Tuan Steven sampai sekarang tidak memiliki anak? Itu akibat hukum karma yang harus ditanggungnya karena menyakiti seorang wanita."


"Cukup!! Kamu tahu siapa yang sedang kamu lawan? Kami keluarga Pamungkas, salah satu pemilik perusahaan transportasi terkenal di Jakarta. Sedangkan kamu hanyalah wanita yatim piatu, tanpa orang tua, dan tanpa suami. Aku rasa tidak ada pria yang mau menikahimu! Jadi serahkan cucuku sebelum kamu kalah telak di pengadilan."


"Nyonya tahu apa tentang saya? Ketika melihat Nyonya tadi, saya berpikir untuk memperkenalkan Nyonya kepada Marco dan Mirel sebagai omanya. Tapi setelah mengetahui karakter Anda, saya jadi ragu untuk melakukan itu."


Wajah Ny. Tantri merah padam karena menahan marah. Dia mengangkat tangan untuk menampar Ravella. Namun di saat yang bersamaan, Alarick muncul dan menahan lengan Ny. Tantri.


"Sabar, Nyonya, tidak baik jika Anda marah-marah di usia Anda saat ini. Apalagi kalau Anda sampai melakukan kekerasan fisik terhadap orang lain. Apa Anda mau berurusan dengan hukum karena tuduhan penganiayaan?" tegur Alarick berusaha tetap sopan.


"Siapa kamu? Kenapa ikut campur dengan urusanku?" hardik Ny. Tantri.


Ny. Tantri sangat terkejut mendengar perkataan Alarick.


"Calon istri? Maksudmu wanita ini calon istrimu?"


"Benar, Nyonya. Kami akan menikah tidak lama lagi."


"Mustahil, ini pasti akal-akalan kalian. Ravella, apa kamu membayar pria ini supaya bisa membohongi pengadilan?" tanya Ny. Tantri sambil menatap sengit pada Ravella.


"Jangan menuduh sembarangan, Nyonya. Anda bisa dikenakan pasal pencemaran nama baik," jawab Alarick dengan santai.


"Kamu sama kurang ajarnya dengan Ravella!"


"Kalau begitu daripada kami membuat Anda marah-marah, kami berdua mohon diri."


Alarick segera merengkuh Ravella untuk mengajaknya keluar dari restoran. Namun di tengah jalan, mereka berpapasan dengan Steven. Ternyata pria itu datang di restoran yang sama untuk mendampingi ibunya.

__ADS_1


"Ravella, kenapa kamu pergi duluan? Apa kamu menolak permintaan mamaku?"


"Tuan, kami berdua sedang buru-buru dan tidak punya waktu untuk bicara dengan Anda," ucap Alarick mewakili Ravella.


"Siapa kamu?" tanya Steven memicingkan matanya.


"Saya Alarick, calon suami Ravella."


Steven tidak mempercayai ucapan Alarick. Ia malah mengalihkan pandangannya kepada Ravella.


"Ravella, meskipun kamu menikah dengan pria ini, kamu tidak akan memenangkan hak asuh Marco dan Mirel. Kecuali kamu menikahi pria yang lebih kaya daripada keluarga Pamungkas," ejek Steven.


Melihat Steven mengintimidasi Ravella, Alarick tidak tinggal diam. Ia merasa harus turun tangan untuk menghentikan kesombongan Steven.


"Sayang, pergilah dulu ke parkiran dan tunggu aku," bisik Alarick.


"Tapi, Rick, aku...."


Ravella sangat tersentuh dengan tindakan Alarick yang bersedia membelanya. Namun ia tidak mau Alarick sampai terlibat konflik dengan keluarga Pamungkas.


"Turuti saja perkataanku, Sayang. Aku mau bicara sebentar dengan Tuan Steven."


Alarick menunggu hingga Ravella berlalu dari pandangannya. Kemudian Alarick menatap Steven dengan tajam.


"Anda putra dari keluarga Pamungkas?" tanya Alarick.


"Iya. Apa kamu takut kepadaku lalu ingin membatalkan pernikahanmu dengan Ravella?"


Alarick tersenyum miring. Ia tahu bahwa Helmi Pamungkas, ayah Steven, adalah mantan relasi bisnis Raja. Namun perusahaan mereka yang berskala menengah tentu tidak bisa dibandingkan dengan Adhiyaksa Group.


"Saya tidak pernah takut pada siapapun. Dan saya peringatkan kepada Anda, Tuan Steven. Seberapa banyak harta yang Anda dimiliki, ingatlah di atas langit masih ada langit."


Steven terkejut dengan perkataan Alarick yang terkesan mengancamnya. Ia mengamati sejenak wajah pria ini yang tampak familiar. Ya, jika diperhatikan lebih dekat Alarick memiliki kemiripan dengan Almero Adhiyaksa, CEO Adhiyaksa Group. Tapi apa mungkin mereka bersaudara?


"Siapa kamu sebenarnya? Apa kamu memiliki hubungan dengan keluarga Adhiyaksa?"


Alarick menyunggingkan senyum penuh misteri.


"Sebaiknya Anda mencari tahu sendiri jawabannya, Tuan Steven. Mulai sekarang Ravella tidak sendirian karena ada saya di sisinya," ucap Alarick melangkah pergi.

__ADS_1


**Bersambung


Author mau nanya nih, siapa karakter laki-laki favorit kalian dan apa alasannya. Pilihannya : Alarick, Almero atau Keano? Ketiganya juga boleh loh he3**.


__ADS_2