
Ravella masih menyibukkan diri dengan berbelanja makanan kaleng. Sambil harap-harap cemas, Ravella menanti kemunculan Alarick. Dia sendiri tidak tahu mengapa ia menghubungi bawahannya itu. Mungkin karena Alarick yang mengetahui tentang si penguntit, maka ia merasa membutuhkan pertolongannya.
Ravella melirik kepada pria berjaket hitam yang sedang membayar di kasir. Hatinya lega karena pria itu akhirnya meninggalkan minimarket. Namun Ravella belum yakin apakah ia benar-benar telah pergi.
"Kenapa Alarick belum datang juga?"
pikir Ravella cemas.
Baru saja ia memikirkan Alarick, muncul seorang pria yang membuka pintu minimarket. Postur tubuhnya sangat mirip dengan Alarick, namun Ravella ragu karena penampilannya terlihat berbeda. Pria itu tidak mengenakan kacamata tetapi menggunakan masker yang menutupi setengah wajahnya.
Pria itu mengedarkan pandangan ke kiri dan ke kanan seperti sedang mencari seseorang. Ravella bingung pria itu Alarick atau bukan.
Tidak berselang lama, pria itu berjalan maju menghampirinya.
"Bu, apa Anda baik-baik saja?"
Ravella tersentak kaget mendengar suara yang dikenalnya. Ternyata pria bermasker ini memang Alarick. Untuk sesaat mereka saling bersitatap. Ravella baru menyadari bahwa Alarick memiliki mata yang indah jika dilihat tanpa kacamata.
"Bu, kenapa diam saja? Apa Ibu mengalami trauma?" tanya Alarick menjetikkan jarinya.
Ravella tersentak dari lamunannya. Ia merasa malu karena sudah terpesona pada mata Alarick. Untung saja pria ini tidak menyadarinya.
"A...aku tidak apa-apa," jawab Ravella tergagap.
"Dimana penguntit itu, Bu? Biar saya menangkapnya. Saya akan menanyakan apa maunya sebenarnya."
"Dia baru saja keluar dari minimarket ini."
Alarick mengepalkan tangannya pertanda ia ingin menghajar seseorang.
"Kalau begitu saya akan mengejarnya," ucap Alarick hendak berjalan pergi. Namun Ravella segera menahan lengannya.
"Jangan, Rick. Tidak usah dikejar, biarkan saja dia pergi."
"Tapi, Bu...."
"Aku tidak mau kamu terluka karena menolongku," kata Ravella cemas. Tanpa sadar ia memegangi lengan Alarick dengan erat.
"Sebaiknya kamu pulang saja. Maaf aku sudah merepotkanmu."
"Tapi bagaimana saya bisa pulang kalau Ibu masih menahan lengan saya?" tanya Alarick menunjuk dengan tangan kirinya.
"Oh, maaf. Aku...akan membayar ke kasir dulu."
Ravella melepaskan pegangannya lalu bergegas menuju kasir. Ia merasakan pipinya memanas akibat rasa malu yang luar biasa. Setakut apapun, tidak sepantasnya menyentuh bagian tubuh Alarick dengan sembarangan.
Alarick hanya tersenyum sambil memperhatikan Ravella dari belakang. Baru begini saja Ravella sudah salah tingkah, apalagi jika melihat wajahnya secara keseluruhan. Untung saja dia menyempatkan diri membeli masker sebelum tiba di minimarket ini.
__ADS_1
"Rick, kenapa belum pulang?" tanya Ravella usai menyelesaikan pembayaran di kasir.
"Setelah saya pikir-pikir, saya tidak bisa meninggalkan Ibu sendirian. Bisa jadi pria itu akan mengikuti Ibu lagi. Jadi saya akan mengantar Ibu sampai rumah."
"Tapi aku tidak membawa helm cadangan untukmu."
"Begini saja, saya akan naik motor dan Ibu naik taksi. Setibanya di rumah Ibu, saya akan mengembalikan motor lalu pulang dengan taksi. Bagaimana?"
Ravella berpikir sejenak sebelum menyetujui usulan Alarick. Terus terang ia khawatir jika penguntit itu mengikutinya lagi hingga ke rumah, lalu menculik anak-anaknya. Karena itu ia menuruti saran Alarick.
"Iya, aku setuju."
"Sekarang berikan alamat rumah Ibu kepada saya. Kemudian Ibu pesan taksi online."
Ravella menuliskan alamat rumahnya di ponsel kemudian mengirimkannya kepada Alarick. Mereka menunggu berdua di depan minimarket hingga taksi yang dipesan Ravella datang.
"Bu, saya berangkat sekarang," ucap Alarick sebelum Ravella membuka pintu taksi.
"Terima kasih, Rick," balas Ravella. Tak bisa dipungkiri bahwa ia lebih tenang ketika Alarick berada di sampingnya.
Sesudah taksi yang dinaiki Ravella pergi, Alarick pun menyusul dengan motornya. Dalam situasi mendesak begini ingin rasanya Alarick membawa serta mobil mewahnya. Jika ada mobil niscaya ia tidak akan kesulitan mengantarkan Ravella.
...****************...
Aura mengarahkan pandangannya lewat jendela mobil. Ia merasa segar dan bersemangat karena sore ini diizinkan keluar dari rumah sakit. Terlebih setelah mendapat donor jantung dari Marion, ia laksana mendapatkan kehidupan yang baru.
"Tante tidak tahu soal itu. Papamu juga tidak terlalu mengenal keluarga Marion."
"Tapi kita bisa bertanya pada orang tua Marion."
"Kata papamu, orang tua Marion pergi ke luar negri."
"Bagaimana kalau kita bertanya pada kekasihnya Marion? Dia pasti tahu."
"Dari mana kamu tahu Marion punya kekasih?" tanya Diva terkejut.
"Dari mimpi, Tante. Selalu ada pria yang sama muncul dalam mimpiku. Meskipun wajahnya tidak jelas, aku yakin itu kekasih Marion."
"Sudahlah, Aura. Kapan-kapan saja kita mencari makam Marion. Sekarang fokus dulu pada pemulihan kesehatanmu."
"Aku sudah sehat, Tante. Besok aku akan mengurus pendaftaran diriku ke universitas."
"Jangan terlalu cepat kuliah. Kamu masih perlu istirahat."
"Tante, aku sudah bosan tinggal di rumah. Kalau Papa dan Tante belum memperbolehkan aku kuliah, aku akan bekerja paruh waktu di majalah Daily Inspiration. Majalah itu milik ayahnya Viona, sahabatku."
Diva menghela napas panjang melihat sifat Aura yang keras kepala. Minat Aura untuk menjadi jurnalis memang sangat tinggi dan ia tidak tega untuk menghalanginya.
__ADS_1
"Nanti kita bicarakan lagi dengan papamu."
"Tante, Daily Inspiration itu majalah yang selalu menampilkan sosok inspiratif, seperti guru, pekerja sosial, sampai pengusaha yang sukses di usia muda. Aku ingin mendapat kesempatan untuk mewawancarai mereka secara langsung. Aku pasti bisa belajar banyak dari mereka," kata Aura bersemangat.
Ketika mobil mereka melewati restoran Italia, Aura tiba-tiba menyuruh supirnya menghentikan mobil.
"Pak, aku mau mampir ke restoran itu."
Diva mengerutkan dahinya dalam-dalam mendengar permintaan Aura.
"Aura, kamu belum boleh makan sembarangan."
"Please, Tante, aku ingin makan pasta. Sudah beberapa hari ini aku makan makanan rumah sakit yang hambar."
Melihat wajah memohon Aura, Diva akhirnya menuruti permintaannya.
"Iya, tapi jangan terlalu banyak."
"Makasih, Tante," ujar Aura memeluk Diva.
Aura turun dari mobil lalu masuk ke dalam restoran. Ternyata restoran itu sangat ramai karena hampir menjelang jam makan malam. Bahkan terlihat sejumlah pebisnis yang melakukan meeting di restoran Italia tersebut.
"Apa masih ada meja untuk kami?" tanya Diva kepada pelayan restoran.
"Untuk berapa orang, Nyonya?"
"Dua orang saja."
"Ada, mari silakan ikut saya."
Pelayan itu mengajak Aura dan Diva ke sebuah meja kecil untuk dua orang. Meja itu terletak tepat di samping lima pria dewasa yang mengenakan setelan jas kantoran. Mereka tengah asyik berbincang dan saling bertukar pikiran tentang pekerjaan mereka. Aura jadi merasa kurang nyaman berada di dekat para pria itu.
"Mbak, apa tidak ada meja lain?" tanya Aura.
"Maaf, tinggal meja ini yang tersisa."
Karena tidak ada pilihan, Aura dan Diva pun duduk di meja itu. Anehnya saat melewati meja para pebisnis, Aura merasakan jantungnya berdebar lebih cepat. Ada dorongan dari dirinya untuk menoleh ke arah meja tersebut.
Ia pun menengok dan bertemu pandang dengan seorang pria tampan.
"Pria ini? Kenapa aku seperti mengenalnya?"
gumam Aura seolah tersihir.
**Bersambung
Like, Komen, Vote**
__ADS_1