
"Maaf, Bu Ivyna, saya belum bisa memastikan kapan Alexa pulang ke Jakarta," balas suara kemayu seorang pria paruh baya dari balik telpon. Pria itu adalah Jefry, manajer dari agensi model tempat Alexa bernaung.
Ivyna meluruhkan bahunya yang terasa pegal di sandaran kursi. Ia kesal mengapa pria feminim ini tidak bersedia memberikan nomer ponsel Alexa.
"Pak Jefry, saya serius ingin menjadikan Alexa sebagai model utama saya untuk fashion show bulan Desember nanti. Itu adalah pagelaran akbar untuk memperingati sepuluh tahun karier saya sebagai desainer baju pengantin," jelas Ivyna berusaha meyakinkan Pak Jefry.
"Hmmm, bagaimana ya? Alexa tidak mau diganggu selama dia liburan keliling Asia. Dan lagi Alexa tidak mengizinkan saya memberikan nomer ponselnya kepada orang yang belum dia kenal."
"Apa nama saya sebagai desainer tidak dikenal oleh para model? Kalau begitu saya batalkan saja kontrak dengan lima model Bapak yang lain," tukas Ivyna merasa tersinggung.
"Bukan begitu, Bu Ivy. Tentu saja nama Anda sangat dikenal. Anda adalah perancang gaun pengantin dari kalangan artis dan konglomerat. Jadi tolong jangan batalkan kontrak kita."
Ivyna merasa senang karena berhasil mengintimidasi Jefry.
"Bagus, kalau begitu berikan nomer ponsel Alexa."
"Saya berikan nomer kontak Nanda saja. Dia itu asisten pribadinya Alexa."
"Ya sudah kirimkan sekarang, Pak," ucap Ivyna memutus panggilannya.
Kurang dari dua menit, Jefry sudah mengirimkan nomer Nanda ke ponsel Ivyna. Sambil tersenyum puas, ia segera menghubungi asisten Alexa itu.
"Halo, selamat sore, ini dengan siapa?" Lagi-lagi Ivyna mendengar suara gemulai seorang pria. Padahal tadinya ia mengira Nanda adalah wanita.
__ADS_1
"Sore, ini aku, Ivyna Adhiyaksa, desainer gaun pengantin merk Ivy."
"Oh, Ibu Ivyna, aku Nanda, asisten Alexa. Apa Ibu ingin meminta Alexa menjadi model gaun pengantin? Maaf kalau soal itu, Alexa tidak bisa. Dia akan menandatangani kontrak eksklusif dengan brand make up ternama dari Amerika."
"Aku menelpon bukan untuk meminta Alexa jadi modelku. Aku ingin bicara langsung dengannya."
"Tapi Alexa tidak ada disini, Bu."
"Dengar, Nanda, ini menyangkut anaknya Alexa, Eleanor. Dua hari lagi Eleanor akan berulang tahun dan dia membutuhkan ibu kandungnya. Perayaan ulang tahun El akan dilaksanakan di rumah Keano Atmaja pukul empat sore. Jika Alexa masih peduli pada putrinya, dia harus datang," jelas Ivyna.
"Tunggu, Anda...tahu dari mana soal Eleanor dan Tuan Keano?" tanya pria gemulai itu. Suaranya menyiratkan keterkejutan yang luar biasa.
"Tentu saja aku tahu, karena aku sekarang menjadi ibu sambungnya Eleanor. Itu saja yang ingin aku sampaikan kepada Alexa. Terima kasih."
Hari ini Ivyna memang lelah sekali tapi hatinya sangat gembira. Pertama ia sudah menyelesaikan semua persiapan ulang tahun Eleanor, dan kedua ia berhasil menghubungi Alexa lewat asistennya. Ivyna berharap Alexa benar-benar akan menghadiri ulang tahun Eleanor sehingga dapat rujuk dengan Keano. Rujuk? Ah kenapa hatinya terusik dengan istilah itu. Bukankah ini yang dia inginkan agar Keano melepaskannya dan kembali pada istrinya?
"Bu, Pak Rahmat sudah menjemput Anda," seru Arum dari balik pintu.
Ivyna buru-buru keluar dari ruangannya sambil berdecih kesal.
"Kenapa Pak Rahmat kesini? Ini baru jam lima, Pak," sembur Ivyna.
"Maaf, Nyonya, tapi Tuan Keano baru saja memerintahkan saya untuk menjemput Nyonya. Tuan bilang akan mengajak Nyonya ke acara makan malam amal di hotel Greenite."
__ADS_1
"Makan malam? Tapi Keano tidak memberitahuku sebelumnya. Sekarang dia malah memerintahku seenaknya. Apa dia tidak tahu pekerjaanku masih banyak?"
"Soal itu saya juga tidak tahu, Nyonya," jawab Pak Rahmat ketakutan. Ia tidak menyangka akan menjadi sasaran kemarahan dari istri bosnya.
"Sorry, Pak, aku tidak bermaksud memarahi Pak Rahmat. Aku akan bertanya langsung pada Keano," ucap Ivyna meraih ponselnya. Namun dalam sekejap, ia berubah pikiran dan meletakkan benda pipih itu.
"Kalau aku menghubunginya dulu, Keano pasti akan besar kepala. Dia yang mengajakku seharusnya dia yang menelponku. Atau jangan-jangan Keano sedang merencanakan sesuatu? Apa ini ada kaitannya dengan kejadian semalam?"
Tiba-tiba saja Ivyna merasa sangat cemas. Ia yakin Keano memiliki rencana terselubung di balik acara makan malam ini. Tidak biasanya pria angkuh sepertinya bersedia menghadiri acara amal. Namun di sisi lain, Ivyna penasaran dengan apa yang akan dilakukan Keano di acara tersebut. Lagipula ini justru menjadi kesempatan baginya untuk menunjukkan bahwa kebersamaan mereka tidak membekas sama sekali di ingatannya.
"Baik, Pak, ayo kita pulang," ucap Ivyna melangkah keluar dari salon.
...****************...
Ivyna mematut diri di depan cermin. Ia sengaja memilih gaun malam model bodycon yang membungkus setiap lekuk tubuhnya. Gaun hitam mengkilap itu juga berpotongan rendah di bagian punggung. Sebenarnya mengenakan pakaian yang ketat seperti ini tidaklah nyaman. Apalagi bagian inti tubuhnya terkadang masih nyeri. Namun Ivyna menahan semua itu demi tampil percaya diri di hadapan Keano.
Sebagai sentuhan akhir, Ivyna menyanggul rambutnya ke atas. Memperlihatkan leher jenjangnya yang putih mulus tanpa cela. Ivyna yakin akan banyak pengusaha muda yang meliriknya sepanjang acara itu. Dan dia akan menunjukkan pada Keano bahwa ia tidak bisa dimiliki oleh lelaki manapun.
"Kamu pikir dengan meniduriku satu kali kamu bisa menguasai aku? Tidak akan, Tuan Keano. Mari kita buktikan siapa yang menguasai siapa,"
gumam Ivyna.
Bersambung
__ADS_1