
"Tuan Almero, apa Anda sedang bercanda dengan saya?" sentak Diva. Ia tidak mengira pria yang bersama Aura ini malah berani menantangnya balik. Sementara Aura yang duduk di seberang meja sangat terkejut. Ia mengira Almero mengatakan itu untuk memperolok dirinya. Mustahil bila lelaki dewasa yang tampan dan bergelimang harta ini berniat untuk menikahi gadis penyakitan seperti dirinya.
"Saya serius dengan setiap ucapan saya, Nyonya. Saya pasti akan mengantarkan Aura sampai ke rumah paling lambat jam sembilan malam. Jika tidak, Anda bisa datang ke kantor Adhiyaksa Group untuk menuntut saya," tegas Almero.
Mendengar janji yang diucapkan Almero, Diva mencoba untuk percaya. Percuma saja ia berdebat panjang lebar dengan pria ini. Yang terpenting baginya adalah Aura kembali ke rumah dengan selamat.
"Baik, saya pegang janji Anda, Tuan Almero. Saya tunggu kedatangan Anda di rumah."
"Terima kasih atas kepercayaan Anda, Nyonya," jawab Almero menutup panggilan Diva.
"Tuan, apa tujuan Anda bicara seperti itu pada Tante saya?" tanya Aura. Entah mengapa keberaniannya mendadak muncul begitu saja.
"Bicara yang mana maksudmu?" tanya Almero dengan santai. Ia meniru gaya Aura yang suka berbicara sepotong-sepotong. Terlebih lagi, ia ingin memberikan pelajaran pada gadis ini karena telah menyembunyikan identitasnya. Bila tadi siang Aura langsung mengaku, maka ia tidak perlu panik memikirkan cara pergi ke yayasan.
"Jangan pura-pura, Tuan," ketus Aura.
"Aku benar-benar tidak tahu. Kalau kamu tidak mau menjelaskan, maka jangan berharap kamu akan mendapat jawaban."
Aura meremas jemarinya sendiri. Ia tidak mengerti mengapa Almero berubah jadi sangat menyebalkan. Bagaimanapun dia harus menuntut penjelasan dari pria ini supaya tantenya tidak salah paham.
"Kenapa Anda mengatakan...mau menikahi saya?" tanya Aura gugup.
Almero hanya tersenyum miring seraya mengembalikan dokumen yang dipegangnya kepada Aura.
"Ingin aku menjawabnya sekarang?"
Aura langsung berhenti bicara karena pelayan sudah datang membawa makanan yang mereka pesan. Tanpa rasa bersalah, Almero menyantap hidangannya. Ia membiarkan Aura yang terus gelisah karena belum mendapatkan kepastian.
Di kursinya, Aura hanya memandangi makanannya tanpa minat. Hatinya masih tidak tenang setiap kali mengingat ucapan Almero yang ambigu. Ia takut tantenya akan berprasangka buruk mengenai keberadaannya di hotel ini. Lebih parahnya lagi bila tante dan papanya sampai memaksanya menikah dengan Almero hanya karena salah paham.
__ADS_1
"Kenapa kamu tidak makan? Atau kamu sengaja ingin jatuh sakit supaya aku bisa segera menikahimu?" tanya Almero melihat Aura yang tidak menyentuh makanannya.
"Tuan, jangan bicara sembarangan. Siapa yang mau menikah dengan Anda? Saya masih ingin kuliah dan bekerja sebagai jurnalis," jawab Aura. Melihat Aura berubah menjadi lebih galak, Almero justru semakin bersemangat menggoda gadis itu. Ia menyukai pipi Aura yang selalu merona saat malu.
"Kalau begitu habiskan makananmu. Setelah itu kita pulang."
Akhirnya Aura memilih bungkam sambil menyantap makanannya. Aura masih terus memikirkan bagaimana cara menjelaskan kepada tantenya mengenai makan malamnya dengan Almero.
"Aku harus minta tolong pada Tuan Almero supaya meralat ucapannya tadi,"
pikir Aura setelah mereka berdua di dalam mobil.
"Tuan, saya mau minta tolong. Nanti jelaskan pada Tante saya kalau Tuan tadi salah bicara. Kita ke hotel hanya untuk makan malam, tidak lebih. Dan bahwa kita berdua tidak punya hubungan apa-apa."
Almero memalingkan wajahnya kepada Aura.
"Apa kamu sungguh tidak merasakan apapun saat dekat denganku? Di dalam dirimu ada bagian dari tubuh kekasihku. Dan aku yakin cinta Marion untukku masih tersimpan di dalamnya."
"Tuan, saya...." ujar Aura dengan mata berkaca-kaca. Untuk kesekian kalinya, perkataan Almero bak anak panah yang melesak hingga ke dasar kalbunya.
"Aku sangat ingin bertemu denganmu tapi kamu sengaja mengulur-ulur waktu. Kamu tidak mau mengaku kepadaku bahwa kamu adalah pasien yang menerima jantung Marion. Apa kamu sangat suka melihatku tersiksa?"
"Anda salah paham, Tuan. Saya tidak bermaksud menyakiti Anda. Saya hanya...belum siap."
Cairan bening kini mengalir turun dari sudut mata Aura.
"Kenapa belum siap?"
"Saya takut Anda tidak percaya. Selain itu, saya...belum menemukan cara untuk membalas budi baik calon istri Anda."
__ADS_1
Tiba-tiba saja, Almero mengangkat tangan kanan Aura dan menempelkan di da-danya. Aura terkesiap saat merasakan debaran jantung Almero yang terasa hangat di telapak tangannya.
"Sejak Marion pergi, setiap hari aku bertahan hidup dengan kenangannya. Aku tidak bisa berhenti mencintainya meskipun dia sudah tiada. Entah sampai kapan aku begini. Aku ingin Marion kembali, tapi yang ditinggalkannya untukku hanyalah jantung dan sekarang kamu mengambilnya."
Derai air mata Aura semakin deras. Bahunya naik-turun menahan rasa bersalah yang besar.
"Maafkan saya, Tuan. Saya tidak berniat merampas kebahagiaan Anda. Katakan apa yang harus saya lakukan supaya Tuan tidak bersedih lagi," ucap Aura tersedu.
Bola mata Almero menggelap. Di dalam dirinya ada sebuah dorongan kuat untuk mengikat Aura agar tetap berada di sisinya. Almero sendiri belum paham apa yang dirasakannya terhadap Aura. Namun satu hal yang jelas, dia tidak ingin kehilangan bagian diri Marion untuk kedua kalinya.
"Yang aku mau kamu selalu dekat denganku, supaya aku bisa merasakan kehadiran Marion. Ucapanku kepada tantemu tadi bukan main-main. Aku ingin kamu menjadi istriku. Menikahlah denganku, Aura. Hanya itu yang bisa kamu lakukan untuk membalas kebaikan Marion dan mengurangi kesedihanku."
Tubuh Aura bagaikan tersengat listrik mendengar lamaran dari Almero yang tiba-tiba. Terpikir pun tidak pernah jika ia harus menikah di usia muda. Seperti gadis pada umumnya, dia masih ingin kuliah demi meraih cita-cita. Bila dia menerima pinangan Almero, maka semua impiannya tidak akan terlaksana. Namun bila menolak, ia takut akan membuat hati Almero semakin hancur.
"Tapi saya masih...."
"Aku tahu kamu masih ingin melanjutkan pendidikan dan meniti karier. Aku pun belum bisa menggantikan Marion dengan wanita lain. Karena itu, hubungan pernikahan kita nanti tidak akan seperti suami istri pada umumnya. Aku tidak akan menyentuhmu. Dan pernikahan kita cukup diketahui oleh pihak keluarga saja. Setelah kamu lulus, baru kita pikirkan langkah selanjutnya."
Aura sangat lega mendengar janji yang diucapkan Almero. Namun terbersit rasa kecewa dalam hatinya. Dari perkataan Almero, sudah jelas bahwa ia hanya akan dijadikan istri pengganti oleh lelaki itu. Alasan Almero menikahinya bukan karena cinta, melainkan semata-mata karena jantung Marion yang ada dalam tubuhnya.
"Kamu bersedia menikah denganku, Aura?" tanya Almero meminta kepastian.
Sambil menggigit bibirnya, Aura menganggukkan kepala.
"Iya, Tuan, saya bersedia."
**Bersambung
Setelah ini part Alarick dan Ravella, lalu lanjut dengan part gabungan ketiga pasangan. Jangan sampai ketinggalan ya**.
__ADS_1