CEO Magang Dan Mama Perawan

CEO Magang Dan Mama Perawan
Bab 41 Mengujimu


__ADS_3

Alarick mengernyitkan dahinya. Ia mengulangi pernyataan Ravella untuk memastikan telinganya tidak salah mendengar.


"Ibu bukan ibu kandung Marco dan Mirel? Lalu mereka anak siapa?" tanya Alarick semakin penasaran.


"Mereka keponakanku tapi sejak bayi sudah menjadi anakku," sahut Ravella singkat.


"Jadi Ibu tante mereka? Sebenarnya Ibu sudah pernah menikah atau belum?"


Ravella kembali membisu sehingga Alarick jadi kesal sendiri. Ia tidak mengerti kenapa Ravella sangat pelit bicara padahal wanita itu sudah meminta pertolongan dirinya. Seharusnya ia berhak mengorek informasi yang dia butuhkan sedetail mungkin.


Hujan masih turun di luar walaupun tidak sederas tadi. Ravella terlihat gelisah. Ia yakin anak-anaknya pasti khawatir karena dia belum pulang ke rumah. Dan tepat seperti dugaan Ravella, Marco menghubungi ponselnya.


"Mama, dimana? Kenapa belum pulang? Disini hujan petir, Ma," tanya Marco. Suaranya terdengar putus-putus karena sinyal yang tidak stabil.


"Marco, Mama masih di kafe. Mama belum bisa pulang karena Om Alarick tidak membawa jas hujan di motornya."


"Mama pergi bersama Om Alarick?" tanya Marco penuh selidik.


"Iya, seperti biasa untuk tugas kantor."


"Kak!" terdengar pekik ketakutan dari Mirel.


Ravella pun terkejut dan mengira terjadi sesuatu yang buruk pada Mirel.


"Marco, ada apa dengan adikmu?"


"Ini, Ma, listriknya tiba-tiba mati. Mirel ketakutan. Mama cepat pulang ya."


"Cepat panggil Mbak Sari untuk menyalakan lilin. Jangan takut ya, Mama usahakan pulang sekarang," ucap Ravella mematikan telpon.


"Mirel kenapa, Bu?" tanya Alarick mendengarkan pembicaraan mereka.


"Listrik di rumahku mati. Mereka takut dan memintaku pulang."


"Kalau begitu kita pulang sekarang. Ibu bisa memakai jaket saya," ucap Alarick menawarkan jalan keluar.


"Lalu kamu bagaimana, Rick? Kamu bisa basah kuyup tanpa jaket dan jas hujan.


"Ini tinggal gerimis tipis-tipis. Paling saya hanya basah sedikit. Untuk laki-laki hal seperti ini sudah biasa."


Alarick berjalan lebih dulu ke kasir untuk membayar tagihannya. Kemudian ia meminjam payung kepada pelayan kafe.


Dengan hati-hati, Alarick memayungi Ravella hingga mereka sampai di parkiran.


"Ibu pakai jaket saya," ucap Alarick mengambil jaketnya dari bagasi motor.


"Kamu yakin tidak apa-apa?"


"Kalau Ibu terus bertanya saya justru akan semakin kebasahan. Cepat naik!" tukas Alarick.

__ADS_1


Ravella akhirnya mengikuti kemauan Alarick tanpa bertanya lagi. Ia terpaksa memeluk Alarick sepanjang perjalanan karena lelaki itu melesatkan motor dengan kecepatan tinggi. Mungkin Alarick ingin cepat sampai di tujuan agar tidak diterpa oleh rintik hujan.


...****************...


Ravella merasa lega tatkala mereka sampai di depan pagar rumahnya. Situasi di rumahnya gelap gulita, begitu pula dengan jalanan di sekitarnya. Pastilah ini karena pemadaman listrik yang terjadi di area tersebut.


Ravella turun dari motor lalu meraba tasnya untuk mengeluarkan kunci. Awalnya, ia mengira Alarick akan langsung pergi. Namun lelaki itu malah turun dari motor dan mendekatinya.


"Rick, kamu tidak langsung pulang?" tanya Ravella berusaha menemukan kunci rumah yang disimpannya.


"Tadinya mau begitu. Tapi saya tidak tega melihat wanita sendirian di tempat gelap begini. Apalagi dia kesulitan mencari kunci," ujar Alarick lantas menyalakan senter dari ponselnya.


Berkat penerangan dari Alarick, Ravella berhasil menemukan kunci dan membuka pagar rumahnya. Melihat Alarick selalu membantunya, Ravella jadi tak enak hati. Ia pun menawarkan kepada Alarick untuk mampir ke rumahnya guna meminjamkan jas hujan.


"Rick, masuklah dulu. Aku akan meminjamkan jas hujanku untukmu."


"Sesuai perintah Ibu," ucap Alarick mengikuti langkah Ravella.


Ravella masuk lebih dulu ke rumahnya yang gelap, sedangkan Alarick memarkirkan motornya di halaman rumah.


"Marco, Mirel!" panggil Ravella seraya menyalakan ponsel untuk menerangi jalannya. Hening, tidak ada sahutan.


"Mbak Sari!" panggil Ravella.


Tetap tidak ada jawaban. Ravella tidak mengerti kemana semua orang sehingga tidak ada yang menyahut panggilannya. Di ruang tamu juga tidak dipasang lilin sama sekali.


Ravella terkejut karena suara guntur yang dahsyat tiba-tiba memecah kesunyian. Ia sampai menutup telinga karena suara itu begitu nyaring dan disusul hujan yang sangat deras. Belum hilang rasa terkejutnya, seseorang tiba-tiba menabrak punggung Ravella dari belakang. Secara refleks, Ravella pun menoleh. Matanya bertatapan langsung dengan sepasang mata indah yang balas memandangnya dalam keremangan cahaya.


"Maaf, Bu, saya terpaksa masuk sendiri karena di luar hujannya tambah deras. Boleh tidak saya menunggu disini?" tanya Alarick. Bukannya menjawab, Ravella malah mengajukan pertanyaan absurd.


"Kaca matamu...dimana?"


"Di dalam tas. Saya melepasnya karena basah. Ibu belum menjawab pertanyaan saya tadi. Boleh tidak saya menunggu di rumah Ibu sampai hujannya agak reda?"


"Bo...leh, duduklah. Aku mau ke kamar Marco dan Mirel."


Ravella buru-buru berjalan ke kamar Marco dan Mirel. Entah ada apa dengan dirinya. Setiap kali melihat netra Alarick yang tanpa kaca mata, jantungnya pasti berdebar tak karuan. Mungkin ia perlu menampar diri sendiri supaya sadar dari kegilaannya.


Ketika tiba di kamar, Ravella lega karena mendapati Marco dan Mirel sudah tidur ditemani dua batang lilin. Sedangkan Mbak Sari tengah terlelap bersama kedua bocah kembar itu.


"Mbak Sari, bangun, Mbak! Aku sudah pulang," ucap Ravella menggoyangkan tubuh asisten rumah tangganya itu.


Mbak Sari menggeliat lalu mengucek matanya yang masih mengantuk. Melihat wajah Ravella, ia bergegas bangkit dari tempat tidur.


"Bu, kapan Ibu pulang? Maaf, saya tidak mendengar kedatangan Ibu. Saya tadi disuruh Marco dan Mirel menemani mereka sampai Ibu datang. Eh saya malah ikut ketiduran."


"Tidak apa-apa, Mbak."


"Ibu sudah makan?"

__ADS_1


"Sudah, Mbak. Oh ya, tolong buatkan teh hangat dulu untuk Alarick. Dia ada di ruang tamu menunggu hujan reda. Setelah itu Mbak Sari boleh tidur."


"Baik, Bu."


Usai Mbak Sari pergi, Ravella menghampiri kedua buah hatinya. Ia membelai lembut wajah mereka lalu memberikan kecupan di dahi. Sungguh ia tidak mau berpisah dari kedua malaikat kecilnya. Bila perlu ia akan menikah dengan lelaki manapun yang bersedia menjadi suami bayarannya demi mempertahankan mereka.


Cukup lama Ravella menatap anak-anaknya. Tak ingin membangunkan Marco dan Mirel, Ravella merapikan selimut yang membungkus tubuh mereka lalu menutup pintu kamar.


"Bu, saya sudah membuatkan teh untuk Pak Alarick."


"Terima kasih, Mbak," ujar Ravella menuju ke rak tempatnya menyimpan jas hujan.


"Bu, hujannya tambah deras padahal ini sudah malam banget. Mendingan Ibu mengizinkan Pak Alarick menginap disini. Kasihan Bu kalau dia hujan-hujanan di jalan. Lagipula saya lihat tadi baju dan celana Pak Alarick basah. Pasti dia kedinginan," ucap Mbak Sari memberikan saran.


"Nanti saya pikirkan dulu, Mbak."


"Saya permisi ke kamar ya, Bu," pamit Mbak Sari.


Ravella menenteng jas hujan miliknya seraya melangkah ke ruang tamu. Ia melihat Alarick sedang menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya. Teh di gelas pun sudah habis diminum. Nampaknya apa yang dikatakan Mbak Sari memang benar. Tapi haruskah ia mengajak Alarick menginap di rumahnya sementara mereka tidak memiliki ikatan apapun?


"Bu, kenapa bengong disitu?" tanya Alarick menyadari Ravella yang berdiri mematung di depannya.


"Ini...aku mau memberikan jas hujanku," jawab Ravella canggung.


"Terima kasih, Bu, tapi saya belum bisa pulang. Hujannya seperti badai."


"Hmmm, bagaimana kalau...kamu menginap saja di rumahku? Kamu bisa tidur di kamarku, aku akan tidur bersama Marco dan Mirel," tanya Ravella memberanikan diri. Ia tidak tega membiarkan Alarick pulang dalam kondisi cuaca buruk seperti ini.


Mata Alarick langsung berbinar mendengar tawaran Ravella.


"Saya boleh menginap disini?"


"Iya, untuk malam ini saja," tekan Ravella.


"Bagaimana ya? Tapi baju saya basah, Bu, saya perlu mandi dan ganti baju. Apa Ibu punya baju laki-laki?" pancing Alarick.


"Ada, aku akan mengambilnya."


Ravella berbalik pergi untuk mengambilkan baju milik mendiang ayahnya. Meskipun sudah lama meninggal, ia masih menyimpan sebagian baju tersebut di lemari untuk kenang-kenangan. Dan ia tidak menyangka kali ini baju tersebut akan berguna untuk Alarick.


Sementara Alarick merasa kecewa mendengar jawaban Ravella. Bila wanita itu memiliki baju pria, pastilah itu milik mantan suami atau kekasihnya. Artinya Ravella sudah pernah menikah.


"Ravella, aku akan mengujimu lagi nanti dengan melihat isi kamarmu. Kalau terbukti kamu belum tersentuh lelaki lain, mungkin aku akan mempertimbangkan tawaranmu untuk menjadi suami kontrak,"


pikir Alarick tersenyum tipis.


**Bersambung


like, comment, vote**

__ADS_1


__ADS_2