CEO Magang Dan Mama Perawan

CEO Magang Dan Mama Perawan
Bab 39 Butuh Suami Secepatnya


__ADS_3

Alarick tertegun mendengar permintaan Ravella. Walaupun belum mengetahui apa maksud wanita ini, Alarick mencoba menenangkan Ravella, paling tidak sampai pekerjaan mereka selesai.


"Saya pasti akan menolong Ibu semampu saya. Tapi sekarang Ibu tenang dulu. Hapus air mata Ibu lalu kita temui Pak Sahrul. Setelah itu kita akan bicara," ucap Alarick memegang tangan Ravella.


Ravella mengangguk tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ia mengeluarkan tissue dari sakunya untuk menghapus air matanya yang terlanjur berderai.


Sambil berjalan ke ruangan Pak Sahrul, Ravella merasa malu dengan dirinya sendiri. Ia tidak habis mengerti mengapa harus bersikap secengeng itu di hadapan Alarick. Seharusnya ia bisa mengontrol diri dan tidak mengumbar persoalan pribadinya kepada orang lain.


"Pasti ini terjadi karena aku terlalu stres. Aku tidak boleh mengulanginya lagi,"


pikir Ravella menyesal.


Ia sadar bahwa ia tidak memiliki siapapun untuk berbagi cerita. Karenanya ia harus menjadi lebih kuat agar sanggup mempertahankan Marco dan Mirel.


"Selamat sore, Bu Ravella," sapa Pak Sahrul mengulurkan tangan.


"Sore, Pak, maaf saya sedikit terlambat," ujar Ravella mengeluarkan katalog yang dibawanya.


"Tidak apa-apa, mari silakan duduk."


Ravella pun berusaha melupakan masalahnya selama melakukan meeting dengan Pak Sahrul. Alarick yang mendampingi Ravella turut merasa lega karena atasannya telah kembali seperti semula.


Usai melakukan meeting sekitar satu setengah jam, Ravella dan Alarick meninggalkan kantor Pak Sahrul. Sebelum naik ke atas motor, Ravella sempat mengecek ponselnya dengan hati berdebar-debar. Ia takut Steven akan mengirimkan ancaman lagi. Terlebih dia belum juga membalas pesan dari pria tidak tahu diri itu.


"Rick, kita mau kemana?" tanya Ravella bingung. Ia baru sadar bahwa mereka tidak menuju ke arah kantor.


"Ke suatu tempat yang cocok untuk ngobrol, Bu," jawab Alarick dari balik helmnya.


"Aku mau kembali ke kantor untuk mengambil motorku," sergah Ravella. Ia tidak mau berduaan dengan Alarick di luar jam kantor. Bisa jadi ia akan kelepasan bicara dan mengutarakan rahasia pribadinya kepada lelaki itu.


"Soal motor itu urusan gampang, Bu. Lagipula ada security yang berjaga 24 jam di kantor. Motor Ibu tidak akan hilang."


"Rick, tolong balik arah. Aku ingin segera pulang ke rumah."


Alarick tidak menghiraukan permintaan Ravella. Ia terus saja melajukan motor hingga sampai di sebuah kafe bernuansa alam. Alarick memang tertarik ingin mengunjungi kafe ini setelah melihat keindahannya di media sosial. Dan karena belum memiliki teman dekat di kota Bogor, ia memutuskan untuk mengajak Ravella.


"Untuk apa kita kesini, Rick?"

__ADS_1


"Untuk ngobrol, Bu, masa untuk menjual sapu," seloroh Alarick berjalan mendahului Ravella.


Ketika mereka masuk, barulah terlihat suasana kafe yang sangat asri. Dimana-mana terdapat pohon rindang dan tanaman. Bahkan di bagian belakang kafe, dibuat hutan kecil yang mirip dengan hutan pinus sungguhan.


"Pak, mau pesan meja untuk berapa orang?" tanya pelayan kafe yang menyambut kedatangan Alarick.


"Dua orang. Saya mau yang di sebelah sana, yang masuk ke area hutan," jawab Alarick seraya menunjuk dengan jarinya.


"Baik, mari ikut saya, Pak."


Diam-diam Ravella takut bila harus makan di tempat yang sepi apalagi berdua saja dengan Alarick. Stafnya ini memang terlihat polos dan tidak mungkin berbuat macam-macam, tapi tetap saja Ravella merasa canggung. Namun karena terlanjur berada di kafe ini, mustahil ia bisa menolak atau melarikan diri.


"Silakan dipilih menunya, Pak," ucap pelayan kafe.


"Ibu mau pesan apa?" tanya Alarick membuka buku menunya.


"Tidak usah, kamu saja yang makan. Aku belum lapar," tolak Ravella.


"Saya paling tidak suka makan sendirian, Bu. Kalau Ibu tidak mau memilih, saya yang akan memesankan makanan untuk Ibu," ucap Alarick. Ia merasa harus bersikap tegas pada wanita ini supaya tidak membuang-buang waktunya.


Tanpa persetujuan Ravella, Alarick memilih menu yang menurut pelayan kafe paling diminati oleh pengunjung. Usai pelayan kafe meninggalkan mereka, Alarick segera mengorek keterangan dari Ravella.


"Ehmm, aku tidak punya masalah apapun. Mungkin kamu salah mengartikan ucapanku tadi," jawab Ravella berbohong.


Alarick mencodongkan bahunya ke depan sambil menatap tajam Ravella. Bila mereka sedekat ini, Alarick nampak sangat berbeda bagi Ravella. Ia bukan lagi pria kutu buku yang polos, melainkan terlihat sebagai pria maskulin dengan pesona yang berbahaya.


"Ibu pikir saya anak kecil yang mudah dibohongi? Ibu sendiri yang minta tolong pada saya supaya tidak kehilangan kedua anak Ibu."


"Itu...aku hanya terbawa perasaan."


"Tidak mungkin! Ibu terlanjur melibatkan saya dalam persoalan Ibu. Jadi wajar saja bila saya meminta penjelasan."


"Maaf, Rick, aku tidak bermaksud merepotkanmu. Lupakan saja ucapanku tadi. Kita bicarakan saja tentang pekerjaan," jawab Ravella mengelak.


"Tidak apa-apa jika Ibu tidak mau mengaku. Tapi kita akan tetap berada di kafe ini sampai tengah malam."


"Rick, kenapa kamu memaksaku? Kita ini hanya rekan kerja. Tidak sepantasnya membicarakan hal di luar urusan kantor."

__ADS_1


"Justru saya perlu mengetahui masalah Ibu supaya tidak mengganggu pekerjaan saya. Kalau tiap hari Ibu melamun, menangis lalu hilang fokus, bagaimana bisa mengajari saya?" tekan Alarick. Nada suaranya kian meninggi karena kesal dengan sikap Ravella yang kekanakan.


Ravella menundukkan kepala. Mendengar Alarick memarahinya, entah mengapa ia malah ingin menangis. Tidak ada satu orang pun yang bisa memahami perasaannya. Semua pria memang sama saja. Bisanya hanya membuat hati wanita berdenyut nyeri, termasuk pria di hadapannya ini.


"Kalau aku menceritakan masalahku, kamu bisa membantu apa?" tantang Ravella.


"Saya harus menganalisa dulu seberapa berat masalah Ibu, baru saya akan memutuskan bagaimana cara mengatasinya," jawab Alarick enteng.


"Oh, kamu benar ingin tahu. Okey, aku akan mengatakannya padamu."


Ravella berhenti sebentar untuk menjeda kalimatnya sambil menghembuskan napas panjang.


"Aku butuh suami! Dan aku butuh menikah secepatnya!"


Alarick terkesiap mendengar jawaban yang diberikan Ravella. Entah dia yang salah dengar atau wanita ini benar-benar serius dengan ucapannya.


Setahunya Ravella adalah wanita yang dingin terhadap pria, lalu mengapa tiba-tiba dia ingin menikah? Mungkinkah wanita ini sedang kesepian, haus belaian, atau mengalami masalah hormonal yang serius? Ah, pantas saja Ravella seringkali melamun tidak jelas. Jangan-jangan janda cantik ini juga kerap mengkhayalkan dirinya.


Alarick menyunggingkan senyuman tipis. Apabila wanita ini butuh kehangatan darinya, sebenarnya dia bisa memberikan. Hanya saja dia enggan terlibat skandal percintaan di awal masa kerjanya.


Anehnya bila mengingat perkataan Ravella di depan lift, jelas ia menyebut tentang kehilangan anak. Lalu apa hubungan antara bersuami dengan kehilangan anak? Sungguh wanita yang satu ini hidupnya penuh dengan teka-teki.


"Ibu butuh suami? Saya akan coba membantu Ibu karena kebetulan saya punya banyak teman. Hanya saja Ibu perlu berkenalan dan pendekatan dulu dengan mereka sebelum memutuskan untuk menikah. Tidak ada pernikahan yang instan. Nah, kriteria laki-laki seperti apa yang Ibu inginkan?"


Ravella memicingkan matanya seolah bersiap hendak menerkam Alarick.


"Kriteriaku adalah pria yang lugu, tidak suka menyentuh wanita, tidak terbawa perasaan cinta, berpenampilan biasa saja dan berasal dari keluarga sederhana."


Lagi-lagi Alarick dibuat keheranan dengan permintaan Ravella. Mana ada wanita yang meminta suami dengan kriteria seganjil ini. Alarick semakin yakin bila Ravella mengalami gangguan psikis sehingga kepribadiannya berubah-ubah dalam sekejap.


"Ibu yakin?" tanya Alarick menaikkan alisnya.


"Yakin sekali. Dan aku punya satu kriteria tambahan yang paling penting."


"Apa itu, Bu?"


"Dia harus mau menikah kontrak denganku sampai batas waktu yang aku tentukan. Dan sebagai imbalannya aku akan membayarnya dengan sejumlah uang," ucap Ravella dingin.

__ADS_1


Bersambung


Kembali


__ADS_2