
Ucapan Keano benar-benar memerahkan telinga. Pria ini telah berulang kali merendahkan martabatnya sebagai wanita. Dan Iyna memutuskan untuk membalas pria tidak tahu malu ini dengan cara yang elegan. Sekarang gilirannya yang akan mempermainkan Keano.
Ivyna pun mendekat dan mengalungkan kedua lengannya di leher Keano. Tindakan berani Ivyna membuat Keano terkejut. Mungkinkah wanita yang memiliki harga diri tinggi seperti Ivyna akan menyerahkan dirinya semudah ini?
"Idemu itu bagus sekali. Aku memang harus hamil dan memberikan cucu pertama untuk keluarga Adhiyaksa."
Ivyna melepaskan tangannya lalu memandang Keano dengan tatapan menggoda. Dengan gerakan lembut, ia menyapukan jari telunjuknya di bibir Keano.
"Aku menginginkan ayah yang sempurna untuk calon bayiku. Bukan hanya dari segi fisik, tapi ia harus lembut, pengertian, dan pandai mengambil hatiku. Sayangnya semua karakter itu tidak ada pada dirimu. Dengan kata lain, aku tidak akan mau mengandung anakmu, Tuan Keano."
Setelah berkata begitu, Ivyna menjauh dari suaminya itu. Ia mengambil salah satu setelan baju dan berlalu ke kamar mandi. Meninggalkan Keano yang masih terpaku di tempatnya.
Keano tersenyum tipis ketika mendengar Ivyna bergegas mengunci pintu.
"Pura-pura menggodaku tapi sebenarnya takut bila aku menyentuhnya. Akan kulihat sampai berapa lama dia bisa bertahan dengan kesombongannya."
Di dalam kamar mandi, Ivyna sengaja berlama-lama untuk menghindari Keano. Sebelum keluar, ia mencoba mendengarkan pergerakan pria itu. Tidak ada suara yang terdengar dari luar.
Merasa aman, Ivyna membuka pintu perlahan-lahan. Ia menarik napas lega ketika Keano tidak ada di kamar. Terlebih ponsel miliknya juga ditinggalkan di atas meja. Ini adalah kesempatan emas baginya untuk memantau pagelaran wedding expo yang sedang berlangsung. Jujur, ia cemas acara itu akan kacau balau karena ia tidak bisa hadir disana.
Tanpa membuang waktu, Ivyna menyalakan ponselnya. Ia berdesah saat melihat baterai ponselnya hanya tersisa lima belas persen. Ada lebih dari sepuluh panggilan tak terjawab serta pesan masuk dari Winda dan Arum, asistennya. Ivyna pun buru-buru menghubungi Winda.
"Win, bagaimana keadaan disana? Maaf, aku baru bisa menelponmu. Aku terkena masalah yang membuatku tidak bisa datang ke hotel," jelas Ivyna. Ia mendengar suara riuh musik dan pengeras suara di belakang Winda.
"Ibu ada dimana sekarang? Salon kita sudah mendapat dua kali giliran tampil. Nanti jam lima sore, model kita akan memperagakan gaun pengantin bohemian. Tapi Arum dan Pak Imran tidak menemukan gaun itu di salon. Kata mereka Ibu juga tidak ada. Mereka terpaksa membuka salon dengan kunci cadangan.
"Iya, sekarang aku ada di rumah orang gila dan gaunku juga ada disini," sahut Ivyna putus asa.
Suara Winda berubah panik.
"Hah, Ibu diculik orang gila? Share lokasinya Bu, saya akan segera menghubungi polisi."
"Bukan, itu maksudku, Win. Aku tidak bisa menjelaskannya lewat telpon. Begini saja, akan kuusahakan untuk datang ke hotel. Telponlah Arum dan katakan padanya untuk membawa gaun kode C70. Suruh model kita memakainya sebagai pengganti gaun...." Belum selesai Ivyna berbicara, ponselnya sudah keburu mati.
Ivyna menguar rambutnya karena merasa frustasi. Semua yang direncanakannya berantakan akibat ulah Keano. Semestinya ia pergi ke hotel sekarang juga. Tapi bagaimana caranya? Ia tidak membawa mobil dan ponselnya juga mati. Lagipula di depan rumah ini ada anak buah Keano yang berjaga-jaga.
Setelah menimbang-nimbang, Ivyna memutuskan untuk keluar dengan mengendap-endap. Ia melihat ke kiri dan ke kanan sebelum menuruni anak tangga. Namun tiba-tiba sebuah tangan memegang pinggangnya dari belakang.
__ADS_1
"Mau kemana? Ingin kabur dari sini?" tanya Keano membalikkan tubuh Ivyna.
"A...aku cuma ingin ke kamar Eleanor," jawab Ivyna berusaha mengatasi rasa gugupnya.
"Kamar putriku ada di sebelah kanan. Lalu kenapa menuju ke tangga?"
"Aku bukan tawananmu. Tolong biarkan aku pergi karena aku harus mengatur acara yang penting."
"Apa acara itu adalah wedding expo di hotel Quality?"
"Dari mana kamu tahu? Apa kamu selalu menguntitku?" tanya Ivyna menarik kerah kemeja Keano. Lama-lama ia kehilangan sabar menghadapi pria ini.
"Aku mengetahui semua kegiatanmu, jadi jangan coba-coba membohongiku. Apalagi sekarang kamu menyandang status sebagai istriku. Kamu harus menjaga nama baik keluarga Atmaja."
Ivyna menaikkan alisnya sambil tertawa.
"Nama baik?! Aku rasa namamu sudah buruk di mata semua orang. Lagipula kamu sendiri yang mengatakan bahwa pernikahan kita hanya di atas kertas. Lalu untuk apa menahanku?"
"Aku menahanmu karena membutuhkan ibu untuk Eleanor. Sabtu nanti dia akan berulang tahun dan dia minta ditemani oleh seorang ibu sebagai hadiahnya," tegas Keano.
"Kalau itu alasanmu, kamu bisa mencari ibu pengganti selain aku."
"Dengar, waktu yang dimiliki Eleanor tidak lama lagi. Eleanor menderita kelainan usher syndrome sejak lahir, sehingga dia mengalami gangguan pendengaran. Kondisinya akan memburuk seiring bertambahnya usia. Dan dokter mengatakan dia mulai mengalami gejala gangguan penglihatan. Karena itu, aku ingin membuatnya bahagia sebelum dia kehilangan pendengaran dan penglihatannya."
Ivyna melihat perubahan pada sorot mata Keano saat menjelaskan kondisi putrinya. Nada suaranya juga bergetar, seolah menahan kesedihan yang mendalam.
Ivyna memilih diam. Dia belum pernah mendengar tentang kelainan usher syndrome. Namun dari penjelasan Keano, jelas sudah bahwa kelainan tersebut sangat berbahaya. Ia pun tidak tega membayangkan Eleanor yang masih kecil harus mengalami penderitaan seberat itu.
"Aku hanya minta satu hal padamu. Berperanlah sebagai ibu yang menyayangi Eleanor. Aku tidak akan melarangmu melakukan kegiatan yang berhubungan dengan profesimu, selama itu atas izin dariku. Dan tetap prioritaskan Eleanor."
Ivyna mengulurkan tangannya untuk membuat kesepakatan.
"Deal, aku setuju. Tapi aku juga minta satu syarat. Kita harus menjaga jarak karena kita berdua bukan suami istri sungguhan. Jarak antara kita minimal satu meter. Dan selama aku tinggal disini, aku akan tidur di kamar Eleanor."
Keano membalas uluran tangan Ivyna tanpa ragu.
"Baiklah, kalau itu maumu."
__ADS_1
"Jadi apa boleh aku pergi sekarang? Aku akan pulang sebelum jam tujuh."
"Boleh, asalkan kamu diantar oleh supir pribadiku dan ajaklah Eleanor. Jaga El baik-baik."
"Tentu saja, jangan khawatir."
Ivyna bergegas melangkah menuju kamar Eleanor. Sempat terpikir olehnya untuk bertanya dimana keberadaan ibu kandung Eleanor. Apakah wanita itu sudah meninggal dunia atau masih hidup. Tapi Ivyna mengurungkan niatnya karena khawatir pertanyaannya akan menyinggung perasaan Keano.
...****************...
Usai melihat-lihat semua produk yang ada di outlet, Ravella mengajak Alarick untuk mengunjungi supermarket yang menjadi partner mereka. Tanpa disadari Ravella, ada sebuah mobil yang mengikuti motornya dari belakang.
Mereka pun masuk ke supermarket untuk mengecek produk yang terjual. Sekaligus Ravella memperkenalkan Alarick pada supervisor yang menangani bagian produk kebersihan. Mereka mengobrol sambil berkeliling.
Tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul lima sore. Ravella mengajak Alarick kembali ke kantor untuk melakukan absensi pulang.
"Bu, bagaimana kalau saya yang mengendarai motor supaya lebih cepat? Saya sudah hapal jalannya. Lagipula langit mulai mendung, pasti sebentar lagi hujan."
"Iya," jawab Ravella setuju. Ia pun naik ke atas motor tanpa berpegangan pada Alarick. Setelah Ravella siap, Alarick mengarahkan motornya ke jalan raya.
Ketika berhenti di lampu merah, Alarick menyadari ada mobil silver yang mengikuti mereka sejak tadi. Dari kaca spion, ia mengamati mobil itu yang hanya berjarak satu baris darinya. Pengendaranya seorang pria dengan jaket kulit dan kacamata hitam. Gelagat pria itu sangat mencurigakan. Bisa jadi ia memiliki maksud yang jahat.
Alarick menoleh untuk berbicara dengan Ravella.
"Bu, saya akan ngebut setelah ini."
"Ngebut? Memangnya kenapa?" tanya Ravella membuka sedikit kaca helmnya.
"Nanti saya jelaskan."
Alarick kembali fokus ke jalan. Setelah lampu hijau menyala, ia langsung melesatkan motornya. Ravella yang terkejut spontan memeluk pinggang Alarick dari belakang. Jika tidak ia pasti akan jatuh terpental dari atas motor.
Dengan kelincahannya, Alarick mengendarai motor bak seorang pembalap profesional. Tentu saja ini tidak sulit baginya karena dia pernah mengikuti kursus di sekolah balap. Ia akan membuat mobil si penguntit kehilangan jejak.
Kemampuan Alarick membuat Ravella terheran-heran. Namun ketika pria itu hendak melewati truk yang melintas di depannya, Ravella jadi ketakutan. Ia tidak mau mati konyol sebelum anak-anaknya tumbuh dewasa.
"Awas, Rick!" jerit Ravella sambil memeluk erat tubuh Alarick.
__ADS_1
Bersambung