
Ivyna sudah selesai memasukkan gaun-gaun pengantin dan aksesoris yang akan dibawanya ke mobil. Ia menyuruh dua asistennya ikut bersama supir menuju ke hotel. Sedangkan dia memilih tinggal di salon untuk menyelesaikan gaun pengantin model bohemian yang belum selesai. Gaun ini adalah rancangan favoritnya yang akan diikutsertakan dalam ajang wedding expo.
"Bu, kami berangkat ya. Ibu yakin tidak apa-apa kami tinggal?" tanya Arum sedikit cemas.
"Iya, aku justru lebih mudah berkonsentrasi saat bekerja sendirian."
"Tapi bagaimana jika orang-orang yang kemarin itu datang, Bu?" tanya Arum.
"Tidak mungkin mereka tahu aku ada disini. Sudah pergi saja sekarang. Besok pagi aku akan menyusul kalian."
Setelah para pegawainya datang, Ivyna bergegas masuk dan mengunci pintu. Ia tidak menyadari jika ada seseorang yang mengintainya dari dalam mobil.
Ivyna melangkah ke ruang kerjanya, menyiapkan segala peralatan lalu duduk menghadap pada gaun rancangannya. Tangannya yang terampil bergerak dengan lincah untuk menambahkan payet di beberapa bagian.
Kurang lebih satu jam, Ivyna berkutat dengan gaun itu. Namun suara bel pintu memecah perhatiannya. Ivyna mencoba mengabaikan suara itu. Tetapi sang tamu terus membunyikan bel sehingga Ivyna terpaksa mengentikan aktivitasnya.
"Siapa yang bertamu di saat salon tutup? Apa dia tidak bisa membaca tulisan di depan pintu? Aku harus menegurnya,"
gumam Ivyna.
Karena kesal, ia lupa memeriksa dulu siapa tamu yang berkunjung ke salonnya.
Ivyna pun membuka pintu, bersiap hendak memperingatkan orang tersebut. Namun sebelum bertindak, ia justru terkejut melihat seorang lelaki berperawakan tegap berdiri di depannya. Lelaki itu membuka kacamata hitamnya tatkala melihat Ivyna.
Dalam hitungan detik, mereka saling beradu pandang. Sejenak Ivyna terkesiap menatap paras pria ini. Bisa dikatakan ketampanannya hampir sebanding dengan kedua adik laki-lakinya, Almero dan Alarick. Hanya saja pria ini lebih dewasa dan ekspresinya begitu dingin, seolah tidak tersentuh oleh manusia lain. Manik hitam pekat yang dimiliki pria ini ibarat lubang hitam yang mampu menyesatkan siapa saja yang tertarik ke dalamnya.
"Apa kamu akan terus mematung disitu, Nona? Tidak ingin mempersilakan calon klienmu masuk?" tanya pria itu dengan nada angkuh.
"Maaf, Tuan, disini ada tulisan "Closed", artinya salon sedang tutup. Kalau Tuan ingin melihat baju pengantin Tuan bisa kembali hari Senin. Dan saya sarankan Tuan juga membawa calon istri Tuan," ucap Ivyna sinis.
Meskipun wajahnya rupawan, Ivyna tidak menyukai ekspresi dan bahasa tubuh pria ini. Instingnya mengatakan bahwa pria ini mungkin orang yang berbahaya. Terlebih Ivyna tidak yakin apakah maksud kedatangannya benar-benar untuk memesan gaun pengantin.
"Bukankah Nona adalah Ivyna, pemilik salon dan bridal ini? Kalau pemiliknya ada, artinya aku boleh masuk," ucap pria itu dengan santai.
Ivyna sengaja berdiri di ambang pintu untuk menghalangi pria itu. Mengingat ia hanya seorang diri, Ivyna memutuskan untuk berpura-pura agar tamu tak diundang ini segera pergi.
"Saya bukan Ivyna, Tuan. Saya hanya karyawan yang ditugaskan oleh bos saya untuk menjaga salon di akhir pekan. Saya tidak diperkenankan menerima sembarang orang masuk ke dalam salon."
Sudut bibir pria itu terangkat ke atas membentuk seringai yang misterius.
"Berapa gajimu sebagai pegawai salon, Nona? Apa sampai puluhan juta? Kaos dan celana jeans yang kamu pakai ini harganya sangat mahal. Gajimu sebulan bisa langsung habis saat membelinya," tunjuknya ke baju Ivyna.
__ADS_1
Selanjutnya tanpa permisi, pria itu menggeser tubuh ramping Ivyna ke samping lalu menerobos masuk. Ivyna yang diperlakukan seperti itu terkejut bukan main. Segenap tenaga ia berusaha mencegahnya, tapi kekuatan pria ini tidak sebanding dengannya.
"Tuan, tunggu! Apa mau Anda sebenarnya?" seru Ivyna mengejar pria itu.
Pria itu menoleh seraya mengangkat kedua alisnya.
"Pertanyaanmu konyol sekali. Tentu saja aku disini untuk mencari jas dan gaun pengantin untukku dan calon istriku. Aku akan menikah besok pagi."
Ivyna kembali dibuat terkejut. Tampaknya sang tamu kali ini bukanlah orang yang normal atau mungkin saja pikirannya sedang terganggu. Karena itu, ia harus meningkatkan kewaspadaan dan berjaga-jaga demi keselamatannya.
"Maaf, Tuan, kami tidak menerima pesanan gaun secara mendadak. Tuan harus memesan minimal sebulan sebelum hari H. Begitu pula dengan jasa make up pengantin."
"Tapi disini ada banyak gaun pengantin dan tuxedo yang tersedia. Harusnya tidak masalah untukmu menerima pesananku."
Pria itu berhenti bicara saat melihat foto Ivyna yang terpajang di salah satu dinding salon. Sesaat kemudian ia tersenyum tipis sembari melayangkan tatapan tajam ke arah Ivyna. Entah mengapa Ivyna malah merasa senyuman pria ini sangat menawan.
"Aku sudah gila. Aku tidak boleh terpengaruh oleh pria misterius ini,"
batin Ivyna menggelengkan kepalanya.
"Bukankah itu fotomu? Aku baru tahu kalau foto seorang karyawan boleh dipajang di salon ini, Nona... Ivyna Adhiyaksa," ucap pria itu penuh penekanan.
Wajah Ivyna memerah karena pria ini berhasil membongkar kebohongannya dalam sekejap. Untung saja pria itu berbalik tanpa memandangnya lagi. Kemudian ia berjalan seenaknya menjelajahi setiap sudut salon, bersikap seolah-olah dia adalah pemiliknya.
"Menurutmu aku lebih bagus memakai jas yang hitam atau yang abu-abu?" tanya pria itu memegang dua buah jas pengantin di tangannya.
"Tuan, Anda harus fitting dulu untuk mengetahui pas atau tidaknya di tubuh Anda. Tapi karena salon sedang tutup, sebaiknya Anda pulang sekarang dan kembali lagi besok Senin," usir Ivyna secara halus.
"Aku pilih yang abu-abu. Aku akan memakainya besok," ucap pria itu melemparkan jas pilihannya ke tangan Ivyna. Berikutnya pria itu beralih ke bagian display gaun pengantin.
Ivyna menggertakkan gigi karena menahan marah. Ia tidak akan membiarkan pria ini berada lebih lama lagi di salonnya. Jika tidak, tekanan darahnya bisa naik.
"Aku rasa gaun-gaun koleksimu kurang bagus. Apa kamu tidak bisa merancang gaun yang lebih berkelas?" gumam pria itu seraya menyibak satu demi satu gaun rancangan Ivyna.
Mendengar hinaan terhadap hasil karyanya, Ivyna semakin tersulut emosi. Ia pun menarik lengan kekar pria itu untuk mengusirnya.
"Sudah saya katakan sejak awal, Tuan harus membawa calon istri Tuan kesini supaya dia bisa memilih. Dan jika Tuan memang tidak menyukai gaun rancangan saya, silakan pulang saja. Tuan bisa mencari di tempat lain."
"Namaku Keano. Dan aku tidak perlu membawa calon istri karena dia sudah ada disini," kata pria itu acuh tak acuh. Seakan menganggap omongan Ivyna adalah angin lalu, pria itu terus berjalan ke ruangan yang ditujunya.
"Dia pikir aku peduli dengan namanya?"
__ADS_1
batin Ivyna kesal.
Ivyna mengikuti dari belakang sambil mengepalkan tangan. Ingin sekali ia melayangkan tinju ke wajah pria bernama Keano ini. Gara-gara ulahnya, ia jadi naik darah dan pekerjaannya pun terganggu. Tapi jika diamati dari gerak-geriknya, bisa jadi Keano sedang mengalami stress atau depresi berat. Buktinya ia berkhayal tentang calon istrinya yang ada di sampingnya. Padahal sudah jelas di salon ini hanya ada mereka berdua.
Ivyna pun memutar otak bagaimana caranya bisa mengusir pria stress ini. Namun Keano malah terus menjelajah hingga memasuki ruang kerja pribadinya.
"Stop!!! Jangan berani berjalan sejengkal pun!" ancam Ivyna. Cukup sudah ia bersikap sopan terhadap pria ini. Kini saatnya ia harus mengambil tindakan tegas tanpa basa-basi lagi.
Keano bersedekap sambil memandang Ivyna dengan remeh.
"Kalau aku tidak mau, bagaimana?" tantang Keano.
"Aku akan melapor ke polisi sekarang juga. Cepat keluar dari salonku!" gertak Ivyna.
"Coba saja kalau bisa."
Melihat Keano bergerak mendekatinya, Ivyna bergegas mundur. Ia hendak berlari dari ruangan itu namun kalah cepat dari Keano. Pria itu langsung mengunci pintu dan menghalanginya.
"Jangan berani macam-macam atau kamu akan menyesal! Kamu belum tahu siapa aku," seru Ivyna dengan berani.
Bukannya mundur, Keano malah merengkuh pinggang Ivyna dengan sekali sentakan. Ia mendekatkan wajahnya sehingga membuat Ivyna ketakutan.
"Lepas!" teriak Ivyna berusaha memberontak.
"Teriaklah sepuasmu karena tidak akan ada yang mendengarnya. Aku sangat mengenal siapa kamu dan keluargamu. Kamu adalah putrinya Raja Adhiyaksa, dan kakak perempuan Almero Adhiyaksa, CEO Adhiyaksa Group. Dan kamu punya satu orang adik laki-laki lagi bernama Alarick Adhiyaksa."
"Apa kamu seorang penguntit? Kenapa bisa mengetahui tentang keluargaku?" tanya Ivyna semakin ketakutan.
"Kamu yang belum mengenal siapa aku. Aku adalah Keano Atmaja, pemilik perusahaan Geneva Corp."
Ivyna tersentak seketika. Ia tidak menyangka pria gila di hadapannya ini adalah Keano Atmaja. Ia pernah mendengar tentang pria ini dari percakapan Raja dan Almero. Keano Atmaja adalah putra tunggal keluarga Atmaja yang angkuh dan disegani di dunia bisnis properti. Ia juga terkenal bertangan dingin dan tidak berbelas kasihan terhadap lawan bisnisnya. Bahkan ada selentingan yang mengatakan bahwa Keano memiliki anak buah semacam mafia hingga membuatnya semakin ditakuti.
"Lepaskan aku! Keluarga Adhiyaksa tidak pernah berhubungan bisnis denganmu. Kenapa kamu mau menculikku?" tanya Ivyna meronta.
"Menculikmu? Seharusnya kamu berterima kasih padaku karena sebentar lagi aku akan mengakhiri statusmu sebagai perawan tua," sindir Keano dengan suara dingin.
"Apa maksudmu?" tanya Ivyna tersinggung. Ia bersumpah akan memukul pria kurang ajar ini begitu ada kesempatan. Beraninya dia mengatainya sebagai perawan tua.
"Beberapa hari lalu kamu sudah membantu calon istriku kabur. Sekarang kamu harus bertanggung-jawab menggantikannya. Menikahlah denganku," jawab Keano berbisik di telinga Ivyna.
**Bersambung
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan komen, like, dan votenya ya**