
Ravella mendorong tubuh Alarick agar menjauh darinya namun pria itu tidak bergeming. Sebaliknya Alarick malah tersenyum miring. Dari gerak-gerik wanita ini dan wajahnya yang merah padam karena malu, tampaknya Ravella belum pernah bermesraan dengan seorang pria.
"Jangan kurang ajar, Rick!" tukas Ravella berlagak berani. Padahal di dalam hati ia takut setengah mati. Alarick bertubuh tinggi, tegap, dan otot tubuhnya terbentuk dengan sempurna. Sekali rengkuh saja tubuh mungilnya tidak akan mampu berkutik. Apalagi di luar hujan deras dan mereka hanya berduaan saja di dalam kamar ini. Dalam posisi tubuh yang hampir menempel, bisa jadi ada setan lewat yang membuat mereka bertindak melewati batas.
Melihat Ravella gemetaran, Alarick menjadi tidak tega. Ia pun melepaskan lengannya yang semula melingkar erat di pinggang Ravella.
"Saya hanya mempraktekkan salah satu gaya yang akan kita pakai untuk berakting sebagai suami istri."
Ravella langsung berjalan menuju lemari pakaian sambil mengatur napas. Jangan sampai Alarick tahu bahwa jantungnya memompa lebih cepat akibat bedekatan dengan pria itu. Untuk saat ini, ia juga enggan merespon pernyataan Alarick yang bersedia menjadi suami bayarannya.
Tanpa berkomentar apapun, Ravella mengeluarkan kunci dari sakunya. Ia memasukkan kunci itu lalu membuka lemari bajunya dengan cepat. Ravella mengambil asal kemeja dan blazer yang letaknya paling dekat dari jangkauannya. Yang diinginkan Ravella hanyalah segera kabur dari kamar ini.
Sementara di belakang Ravella, Alarick terus memantau tindakan wanita itu sambil bersedekap. Alhasil ketika berbalik, Ravella tanpa sengaja menabrak Alarick. Bibirnya juga pas sekali menempel di bagian bahu pria itu.
"Ckckck, saya heran kenapa Ibu suka sekali membentur tubuh saya. Apa ini sudah menjadi salah satu kebiasaan Ibu?" seloroh Alarick. Ia puas membuat wajah Ravella merona seperti buah tomat. Siapa suruh wanita ini selalu sok bermain rahasia dengannya.
"Enak saja, kamu yang berdiri diam-diam di belakangku. Dan kenapa kamu tidak segera pakai baju?" tanya Ravella mengusap bibirnya.
"Untuk apa pakai baju kalau nanti dilepas lagi," jawab Alarick menatap Ravella lekat-lekat.
"Ya terserah kamu. Tolong minggir, aku mau kembali ke kamar."
"Eits, tunggu! Saya tadi sudah menyanggupi untuk menjadi suami pura-pura Ibu. Kenapa Ibu tidak menanggapi? Kalau saya tidak mendapatkan jawaban malam ini, saya akan membatalkan keputusan saya," ancam Alarick seraya menaikkan alisnya.
Ravella terkesiap. Jika menjawab iya, Alarick akan semakin gencar menggodanya. Namun jika bilang tidak, maka ia akan kehilangan kesempatan untuk mendapatkan suami kontrak. Dan itu artinya Steven akan dengan mudah memenangkan hak asuh atas Marco dan Mirel.
__ADS_1
"Iya, aku setuju, tapi kamu harus memenuhi persyaratanku."
Alarick terkekeh lantas meraih bajunya dari tempat tidur. Dengan sekali gerakan, ia mengenakan baju itu lalu duduk dengan santai. Alarick menaikkan sebelah kakinya seperti seorang bos besar yang akan memberikan keputusan tentang nasib anak buahnya.
"Lucu sekali. Ibu yang membutuhkan bantuan saya, tapi Ibu yang mengajukan syarat. Saya tidak setuju. Dalam hal ini, saya yang akan membuat surat perjanjian pernikahan kita, termasuk semua persyaratan yang harus Ibu patuhi."
Mata Ravella terbelalak. Baru kali ini ada pria yang berani mengatur dirinya secara terang-terangan. Sungguh dia menyesal telah memilih Alarick sebagai calon suami. Dia telah tertipu oleh penampilan polos pria ini di awal pertemuan mereka. Ternyata dia adalah serigala berbulu domba.
"Aku tidak mau memenuhi syaratmu kalau hanya merugikan aku. Lagipula aku akan membayarmu dengan nominal yang pantas."
Alarick menatap tajam kepada Ravella hingga membuat bulu kuduk wanita itu meremang.
"Ibu pikir saya pria panggilan yang bisa dibayar dengan sejumlah uang? Saya tidak memerlukan uang, yang saya butuhkan adalah tinggal di rumah ini selama saya menjadi suami Ibu."
"Tepat sekali. Bukankah orang yang sudah menikah harus tinggal seatap? Kalau tidak bagaimana orang bisa percaya jika kita suami istri sungguhan?"
Tenggorokan Ravella terasa kering mendengar istilah "suami istri." Kemampuannya dalam bernegosiasi seakan lenyap begitu saja saat berhadapan dengan Alarick.
Alarick membenahi posisi duduknya lalu berdehem.
"Syarat dari saya tidak akan memberatkan Ibu. Saya hanya mengajukan tujuh persyaratan, dengarkan baik-baik."
Alarick mulai menjelaskan secara rinci apa saja yang menjadi keinginannya.
"Pertama, saya harus tinggal disini selama masa pernikahan berlangsung. Kedua, Ibu harus menjawab dengan jujur dan lengkap semua pertanyaan yang saya ajukan. Ketiga, pernikahan kita harus dirahasiakan dari orang kantor dan keluarga saya. Ibu tidak boleh bertanya apalagi mencari tahu siapa keluarga saya karena itu bagian dari privasi saya."
__ADS_1
Alarick merasa harus menekankan ini karena tidak ingin keputusan gilanya diketahui oleh Raja dan Cleantha. Bagi Alarick menjadi suami Ravella adalah tantangan yang menyenangkan di sela-sela kesibukannya mencari pengalaman kerja. Toh ini hanya akan menjadi bagian dari petualangannya sebagai lelaki muda. Alarick hanya akan memberitahu Almero untuk meminta tolong kakaknya itu mengurus berkas dan surat perjanjian pra nikah dengan pengacara.
"Keempat, hormati dan perlakukan saya selayaknya suami jika di rumah. Kelima, jangan pernah berhubungan dengan pria lain selama masih menjadi istri saya. Keenam, setelah pernikahan selesai tidak ada tuntutan hak dan kewajiban di antara kita menyangkut aset dan harta pribadi. Dan ketujuh atau terakhir, jangan menyentuh atau mendekati saya tanpa izin dari saya," lanjut Alarick penuh percaya diri.
Telinga Ravella memanas mendengar persyaratan terakhir dari Alarick. Bisa-bisanya lelaki ini melarangnya untuk menyentuh, padahal seharusnya dia sebagai wanita yang mengajukan syarat itu. Terlebih Alarick-lah yang selama ini kerap kali mencari kesempatan di balik kesempitan. Bila tidak ingat bahwa dia membutuhkan Alarick, sudah pasti ia akan menendang lelaki ini keluar dari rumahnya.
"Kenapa diam saja, Bu? Kalau Ibu keberatan, saya tidak akan memaksa," tanya Alarick berdiri menghampiri Ravella.
Ravella memundurkan tubuhnya hingga membentur daun pintu. Ia tidak mau berdekatan lagi dengan Alarick karena itu tidak baik bagi kesehatan jantungnya. Tanpa pikir panjang, ia pun menyetujui persyaratan dari Alarick.
"Aku setuju. Sekarang aku mau tidur. Besok bersiaplah sebelum jam tujuh, kita harus berangkat ke kantor lebih pagi."
"Siap, Ibu, silakan keluar," kata Alarick melambaikan tangannya.
Ravella buru-buru keluar dari kamarnya sendiri sambil menghirup napas panjang.
"Sabar, Ravella. Bertahanlah menghadapi Alarick demi anak-anakmu,"
gumam Ravella menyemangati dirinya.
Ravella teringat akan permintaan Alarick untuk tidak mengusik soal keluarganya. Entah apa alasannya lelaki itu berkata demikian. Yang jelas Ravella juga tidak berminat mengenal keluarga besar Alarick karena pernikahan mereka nanti hanyalah sebatas sandiwara.
**Bersambung
Hari ini double update. Selanjutnya adalah part Ivyna-Keano dan Almero-Aura, yang pasti tidak kalah seru. Stay tune ya**
__ADS_1