CEO Magang Dan Mama Perawan

CEO Magang Dan Mama Perawan
Bab 25 Mencemaskan Dirinya


__ADS_3

Ravella memejamkan mata sambil menahan napas. Ia merasakan motor yang dinaikinya berbelok tajam. Ravella sudah pasrah bila hari ini ia harus kehilangan nyawa. Salahnya sendiri telah mengizinkan Alarick mengendarai motornya.


Sembari menghitung mundur, Ravella membuka matanya perlahan. Ia langsung memanjatkan rasa syukur saat mengetahui Alarick berhasil melewati truk itu dengan selamat.


"Rick, apa kamu sudah gila? Kita hampir saja celaka karena kenekatanmu," teriak Ravella dari belakang.


"Ibu tidak perlu khawatir, saya sudah berpengalaman dalam hal begini," sanggah Alarick menurunkan kecepatannya.


Jawaban Alarick membuat Ravella geram. Bisa-bisanya Alarick bersikap sesantai ini di kala ia hampir terkena serangan jantung. Entah karena pria ini terlalu polos atau sekedar ingin memamerkan keahliannya di jalan.


Alarick terus melaju seraya menatap lewat kaca spion. Ia tersenyum puas karena mobil hitam tadi tidak lagi mengikutinya. Nanti ia akan mencari tahu siapa yang mengutus penguntit itu. Apakah dia berniat untuk memata-matai dirinya atau Ravella.


Sekitar sepuluh menit kemudian, mereka sudah tiba di kantor. Alarick memarkirkan motor lalu menyerahkan kuncinya kepada Ravella.


"Bu, terima kasih sudah meminjamkan motornya kepada saya."


"Kamu masih berhutang penjelasan padaku," kata Ravella. Ia berjalan mendahului Alarick ke lift.


Suasana kantor mulai sepi karena sebagian karyawan telah pulang. Ketika sampai di ruang marketing, hanya tersisa dua orang staf dan Pak Tian yang masih ada disana.


Melihat kedatangan Ravella dan Alarick, Pak Tian langsung memanggil mereka. Ravella keheranan karena Pak Tian bersikap sangat ramah kepada Alarick, seakan pria ini adalah seseorang yang sangat istimewa.


"Alarick, bagaimana hari pertamamu bekerja?"


"Menyenangkan, Pak. Bu Ravella banyak mengajari saya tentang produk."


"Bagus, kalau ada kesulitan jangan sungkan bertanya kepada saya atau Ravella."


"Baik, Pak," jawab Alarick mantap.


Pak Tian berganti menatap Ravella dengan ekspresi serius.


"Vel, besok ajak Alarick ke outlet kita di Sentul. Lalu kenalkan dia dengan Pak Handika dari Fresh Mart. Nanti Alarick akan bertugas disana menggantikan Iksan."


"Iya, Pak."


"Oke, kalian boleh pulang, keburu hujan deras di luar."


Pak Tian membereskan mejanya begitu Ravella dan Alarick keluar dari ruangan. Kemudian ia berpamitan sebelum meninggalkan ruang divisi marketing.


"Saya duluan ya."


"Iya, Pak," jawab Ravella.

__ADS_1


"Rick, jangan pulang dulu. Kita perlu bicara sebentar."


"Siap, Bu," jawab Alarick duduk di kursinya. Ia juga penasaran apakah Ravella bermasalah dengan orang lain sampai ada yang membuntuti mereka. Jika benar itu terjadi, dia tidak ingin terlibat lebih jauh dalam urusan atasannya.


Ravella menunggu hingga ruang kerjanya benar-benar kosong. Kemudian ia duduk di depan meja Alarick.


"Rick, tolong jelaskan kenapa kamu ngebut dan melakukan hal yang berbahaya di jalan raya?"


"Karena ada mobil yang terus mengikuti kita, Bu. Pengemudinya seorang pria berjaket hitam dan gerak-geriknya mencurigakan. Dia membuntuti kita sejak dari outlet."


Kelopak mata Ravella melebar mendengar penjelasan Alarick.


"Siapa pria itu dan apa tujuannya mengikuti kita?"


"Mana saya tahu. Saya tidak mengenalnya."


Alarick mencodongkan badannya sembari memicingkan mata.


"Maaf jika saya menanyakan hal yang bersifat pribadi. Tapi ini penting karena saya akan sering bertugas bersama Ibu. Jika Ibu punya masalah dengan orang lain, saya bisa terkena dampaknya."


"Apa maksudmu?" tanya Ravella tidak mengerti.


Tanpa berbasa-basi lagi, Alarick melontarkan pertanyaannya. Mungkin ini akan menyinggung Ravella tapi ia harus mengetahui kebenarannya.


"Apakah Ibu memiliki musuh, mungkin mantan suami Ibu? Atau Ibu berhutang pada rentenir dan belum melunasinya? Dia tidak mungkin mengikuti saya karena saya baru tiba di kota ini," pungkas Alarick penuh percaya diri.


"Dengar ya, aku tidak punya musuh apalagi berhutang pada lintah darat."


Alarick menarik napas karena tidak mempercayai ucapan Ravella.


"Bu, saya bisa memaklumi kondisi seorang wanita yang menjadi single parent. Ibu jujur saja jika ada masalah. Saya berjanji akan menjaga rahasia Ibu dengan baik. Bila perlu saya akan menolong semampu saya."


"Sudah kubilang, aku tidak punya masalah. Jangan sok tahu kalau kamu tidak mengenalku!"


Dengan marah, Ravella meninggalkan Alarick dan berjalan menuju pintu. Sengaja ia mengeluarkan kunci untuk menakut-nakuti Alarick.


"Ibu mau mengunci saya di ruangan ini?"


"Iya, kalau kamu tidak cepat pulang," ketus Ravella.


"Hanya ditanya begitu sudah marah-marah. Wanita labil,"


batin Alarick berjalan keluar. Ia berlalu menuju lift tanpa menunggu Ravella selesai mengunci ruangan.

__ADS_1


Ravella mengunci pintu dengan menahan rasa kesal. Pria ini memang tidak punya rasa empati. Andai Alarick bukan bawahannya, ia pasti tidak akan bicara lagi dengan pria itu. Selesai mengunci pintu, Ravella menyusul ke lift. Karena Alarick lebih dulu turun, ia harus menunggu sampai lift kembali ke lantai tiga.


Di lobi, Ravella melihat Alarick masuk ke dalam taksi. Tidak mau ambil pusing, Ravella bergegas menuju area parkir motor. Melihat langit yang semakin gelap, Ravella mempercepat laju motornya. Namun ia justru terjebak kemacetan di jalan.


Di tengah kemacetan itu, tampak sebuah mobil hitam di belakangnya. Mendadak Ravella teringat ucapan Alarick tentang penguntit. Tatkala kemacetan mulai terurai, Ravella bergegas melaju. Ia ingin mengetes apakah mobil tersebut benar mengikutinya atau tidak. Dan ternyata apa yang ditakutinya menjadi kenyataan.


Melalui spion, ia melihat mobil itu masih saja membuntuti dari belakang meskipun menjaga jarak. Sontak Ravella menjadi kalut. Apalagi hujan mulai turun dengan deras membasahi jalan raya.


"Ternyata Alarick tidak bohong. Lalu aku harus bagaimana sekarang? Apa aku berteduh saja di minimarket sambil bersembunyi?"


Ravella memutuskan untuk berhenti dan memarkirkan motornya di depan minimarket. Sambil menunggu hujan reda, ia berbelanja biskuit dan yoghurt untuk kedua anaknya. Namun saat berbelanja, Ravella melihat seorang pria berjaket hitam masuk ke minimarket. Pria itu terlihat mencurigakan. Ia menuju ke bagian minuman bersoda, namun sesekali mencuri pandang ke arahnya.


Dalam keadaan begini, Ravella semakin ketakutan. Dia harus mencari tahu apakah pria yang dilihatnya ini memiliki ciri-ciri yang sama dengan si penguntit.


...****************...


Di kos, Alarick baru selesai mandi. Ia membuka foto-foto pernikahan Ivyna yang dikirimkan oleh Cleantha. Titik perhatian Alarick jatuh pada sosok pria yang menikahi Ivyna.


Alarick memperbesar foto Keano untuk mengamati kakak iparnya itu. Wajahnya cukup tampan dan sepertinya dia pria yang cerdas. Namun belum tentu kepribadiannya sebagus penampilan luarnya.


Untuk menghilangkan keraguannya, Alarick memutuskan untuk menelpon Ivyna dan bertanya langsung padanya. Namun rencananya gagal karena layar ponselnya berkedip. Yang lebih mengejutkan nama yang muncul di layarnya adalah nama Ravella.


"Kenapa wanita ini menelponku? Bukannya dia marah padaku?"


gumam Alarick menggeser tombol hijau ke atas.


Belum juga Alarick menyapa, Ravella sudah memberondongnya dengan pertanyaan.


"Rick, apa mobil yang mengikuti kita warnanya hitam dan berplat 2035? Lalu apa pengemudinya pria berjaket hitam, berkacamata hitam dan berambut cepak?"


"Iya, dari mana Ibu tahu?" tanya Alarick menaikkan alisnya.


"Karena...dia ada di minimarket Damai bersamaku. Aku takut, Rick," ucap Ravella dengan suara bergetar.


"Ibu belum sampai di rumah?"


"Belum, aku berteduh disini. Tapi orang itu ikut masuk ke minimarket."


"Share lokasi Ibu sekarang. Saya akan menjemput Ibu dengan taksi. Jangan keluar dari minimarket sebelum saya datang."


Alarick mematikan panggilan dari Ravella lalu menunggu wanita itu mengirimkan lokasinya.


Beberapa menit kemudian, taksi online yang dipesan Alarick datang. Alarick bergegas naik untuk menyusul Ravella. Ketika taksi yang dinaikinya sudah setengah jalan, Alarick baru menyadari bahwa ia lupa menggunakan kacamata.

__ADS_1


"Kenapa aku seceroboh ini? Aku mencemaskan Ravella sampai lupa dengan penyamaranku."


Bersambung


__ADS_2