
"Hmmmph, ahhh...." lenguhan terdengar dari bibir mungil Ivyna tanpa bisa ditahan lagi. Apalagi ia bisa merasakan pergerakan pria ini semakin liar tak terkendali. Namun untuk sesaat Ivyna mengejang. Terasa ada sesuatu yang sakit di inti tubuhnya hingga tanpa terasa air matanya mengalir keluar.
"Hentikan, ini sakit," keluhnya.
Keano yang melihat itu menghentikan aksinya. Senyuman mengembang di wajahnya tatkala mengetahui bahwa ia adalah pria pertama bagi Ivyna. Ia tidak menyangka wanita modern dan kaya seperti Ivyna masih bersikap konservatif dalam menjaga kesucian. Barangkali ini tak terlepas dari pendidikan moral yang diajarkan oleh keluarga Adhiyaksa.
"Sakitnya hanya sebentar, setelah ini kamu akan merasakan nikmat," bisik Keano dengan suara parau.
Melihat Ivyna sudah tenang, Keano kembali melanjutkan penyatuan mereka. Ivyna pun terlihat memasrahkan diri sepenuhnya hingga membuat Keano semakin menggila. Kali ini ia bermaksud akan membuat Ivyna mengandung anaknya sehingga wanita ini tidak bisa bersikap sombong lagi.
Keano terus memompa diri untuk melepaskan benih cintanya. Dengan peluh yang bercucuran keduanya pun berhasil meraih puncak bersama-sama. Sambil mengatur napasnya yang masih terengah-engah, Keano merebahkan tubuhnya di samping Ivyna. Ia tidak menyangka pergumulan pertamanya dengan Ivyna akan berlangsung panas dan membara.
"Kamu sudah menjadi milikku sekarang. Aku akan mengikatmu selamanya sampai kamu tidak bisa pergi kemanapun,"
gumam Keano seraya mengecup tengkuk istrinya.
...****************...
Seberkas cahaya fajar dari sela tirai, membuat Ivyna tersadar. Ia menggeliat pelan sambil mengerjapkan matanya. Entah kenapa seluruh tubuhnya terasa pegal seperti habis berlari puluhan kilometer. Apakah ini karena efek dari mimpinya semalam?
Ivyna meraup wajahnya sendiri saat mengingat mimpinya secara detail. Mungkin ini terdengar memalukan, namun dia sungguh menikmati saat dicumbu oleh seorang pria. Bahkan mimpinya terasa sangat nyata. Tidak bisa dipungkiri bahwa mimpi panasnya itu begitu indah untuk dilupakan.
Perlahan Ivyna menyibak selimutnya. Namun jantungnya hampir melompat keluar saat dia melihat tubuhnya yang dalam keadaan polos tanpa sehelai benang pun. Dengan mata terbelalak, Ivyna mengedarkan pandangan ke sekelilingnya. Dia baru menyadari bahwa ia masih berada di dalam kamar Alexa. Sedangkan gaun tidurnya sudah tidak ada lagi, melainkan berganti dengan sepasang baju kasual yang diletakkan seseorang di atas sofa.
Masih dalam keadaan bingung, Ivyna melihat jam di ponselnya.
"Astaga, sudah hampir jam sembilan pagi. Kenapa aku tidur lama sekali? Bagaimana jika semalam Keano tahu aku ada disini? Dan lagi hari ini aku harus merias Clara jam sebelas."
Dengan panik, Ivyna turun dari kasur. Tapi ia berhenti tatkala merasakan nyeri di antara pangkal pahanya. Ivyna pun menghadap ke cermin untuk memeriksa dirinya. Kembali ia dibuat syok saat mengetahui ada bekas mirip darah yang mengering pada area sensitifnya.
"Ya ampun, apa ini? Apa yang semalam itu bukan mimpi? Lalu siapa yang telah melakukan ini padaku? Jangan-jangan...."
Ivyna membungkam mulutnya sendiri karena nyaris berteriak. Mungkinkah ia sudah menyerahkan diri kepada Keano secara suka rela? Ataukah pria itu yang telah memanfaatkan kesempatan di dalam kesempitan? Ah, bodoh betapa bodohnya dia. Bagaimanapun dia harus bertanya langsung pada pria kurang ajar itu.
Saking frustasinya, Ivyna nyaris keluar dari kamar untuk melabrak Keano. Untung saja dia ingat bahwa kondisinya masih berantakan dan belum memakai baju. Ivyna pun memutuskan untuk membersihkan diri guna meluruhkan semua jejak percintaannya.
Sambil menggosok-gosok kulitnya di bawah shower, Ivyna berpikir keras. Jika benar mereka telah menyatu semalam kenapa Keano tidak terlihat di kamar. Apakah pria itu sengaja menghilang lalu melarikan diri ke kantor? Iya, pasti saat ini Keano merasa menang telak dan menertawakannya habis-habisan.
__ADS_1
Ivyna menarik rambutnya sendiri saking kesalnya. Dia tidak menyangka akan berbuat seceroboh ini hanya karena tergoda oleh gairah sesaat.
"Kalau aku memarahi Keano, bisa jadi aku malah akan dipermalukan olehnya. Lebih baik aku pura-pura lupa saja dengan kejadian semalam. Anggap saja tidak pernah terjadi apapun. Sekarang aku akan pergi ke salon,"
pikir Ivyna mengambil keputusan.
Usai mandi, Ivyna kembali ke kamar Eleanor untuk merias wajahnya. Ia melihat gadis kecil itu sedang mengerjakan soal matematika ditemani Dina, pengasuhnya.
"El sudah sarapan, Mbak Dina?" tanya Ivyna sambil mengecup pipi Eleanor.
"Sudah, Nyonya. Satu jam lagi gurunya akan datang."
"Belajar yang rajin ya, El. Mommy akan ke salon dulu lalu mengurus persiapan pesta ulang tahunmu," kata Ivyna berpamitan.
Eleanor memeluk Ivyna sambil mengangguk. Setelahnya Ivyna turun ke bawah untuk sarapan. Ia sengaja berjalan lebih lambat karena masih merasa perih di bagian bawah tubuhnya. Ivyna pun melihat ke kiri dan ke kanan untuk memastikan Keano sudah tidak ada di rumah.
"Nyonya, mencari Tuan?"
"Bi Nur? Untung saya tidak punya penyakit jantung," ucap Ivyna terlonjak kaget.
"Bagus kalau begitu," jawab Ivyna seraya menghabiskan air lemon.
"Maaf, Nyonya, bisa kembalikan kunci kamar Nyonya Alexa? Semalam saya sudah mengaku pada Tuan kalau saya meminjamkannya kepada Nyonya."
Ivyna nyaris tersedak mendengar perkataan Bi Nur. Ternyata memang benar bahwa Keano memergoki perbuatannya yang menyelinap diam-diam ke kamar Alexa.
"Lalu dia memarahi Bi Nur?"
"Tidak, Nyonya, semalam Tuan langsung ke atas. Saya kira Tuan...memarahi Nyonya," ucap Bi Nur merasa bersalah.
"Tenang, Bi, Keano tidak memarahiku, malah aku tidak tahu dia pulang jam berapa."
"Oh begitu, pantas Tuan berangkat dengan wajah segar. Sepertinya suasana hati Tuan sangat baik."
Wajah Ivyna memanas. Ia tahu betul apa penyebab Keano sebahagia itu. Tapi ia bertekad tidak akan membiarkan Keano mempermainkan perasaannya lebih dalam.
"Bi, aku pergi dulu. Aku akan pulang agak malam sekitar jam delapan," ucap Ivyna beranjak pergi. Ia bertekad akan segera menemui Alexa setelah ini.
__ADS_1
...****************...
Aura datang ke kantor majalah Daily Inspiration dengan diantarkan Viona, sahabatnya.
"Aura, kamu kenalan sendiri ya dengan para staf. Aku mau langsung jalan ke kampus."
"Iya, Vio, Thanks," ucap Aura sebelum melangkah masuk.
Di dalam kantor, Aura menyapa para rekan kerjanya kemudian berjalan menuju ruang kepala redaksi.
"Selamat pagi, Pak," sapa Aura. Ia melihat Pak Dika, sang kepala redaksi, tengah berdiskusi serius dengan seorang wanita.
"Pagi, silakan gabung, Aura. Oh ya, kamu belum berkenalan dengan Simena. Dia juga mulai bekerja hari ini di majalah kita. Simena ini adalah jurnalis senior yang bertugas di USA selama dua tahun terakhir."
Aura mengulurkan tangannya yang disambut dengan senyuman oleh Simena.
"Perkenalkan saya, Aura."
"Halo, Aura. Aku Simena. Kamu baru lulus SMA ya?" tanya Simena mengamati wajah gadis itu.
"Iya, Mbak. Saya baru saja mendaftar kuliah di jurusan jurnalistik."
"Nah, Simena, Aura ini akan saya percayakan kepadamu. Dia akan mendampingimu sebagai partner untuk proses wawancara dengan narasumber kita. Bimbinglah dia."
"Baik, Pak," jawab Simena setengah hati. Ia tidak mengerti mengapa harus dipasangkan dengan gadis yang tidak berpengalaman sama sekali. Tentu saja Aura hanya akan merepotkannya saja.
"Kita lanjutkan diskusi yang tadi, Mena. Jadi kamu mengusulkan CEO Adhiyaksa Group untuk wawancara eksklusif kita berikutnya."
"Iya, benar, Pak. Saya rasa Almero Adhiyaksa sangat cocok dengan tema kita untuk edisi bulan depan," jawab Simena penuh keyakinan.
**Bersambung.
Like, Comment, Vote
Happy Weekend All
Update lagi Senin**
__ADS_1