CEO Magang Dan Mama Perawan

CEO Magang Dan Mama Perawan
Bab 38 Tolong Aku


__ADS_3

"Lalu apakah kamu sudah menghubungi Tuan Almero?" tanya Pak Dika memastikan.


"Sudah, Pak, kebetulan saya mengenal Tuan Almero. Saya membuat janji dengannya hari Jumat besok."


"Bagus kalau begitu. Kamu bisa mengajak Aura supaya dia bisa membantumu."


"Pak, apa tidak lebih baik jika saya mengajak Krisna saja sebagai fotografer? Untuk wawancara bisa saya handle sendiri," jawab Simena berusaha mengubah pikiran Pak Dika. Bagi Simena keberadaan Aura nanti hanya akan mengganggu kedekatannya dengan Almero.


"Krisna memang akan ikut dengan kalian, tapi Aura tetap harus kamu ajak. Aura sudah saya tetapkan menjadi asistenmu."


Karena atasannya terlanjur mengambil keputusan, Simena terpaksa mematuhinya. Namun besok ia akan mencari cara untuk menyingkirkan Aura selama sesi wawancara.


"Mena, tolong siapkan bahan dan konsep wawancara untuk Tuan Almero. Nanti setelah makan siang serahkan kepada saya."


"Baik, Pak. Saya permisi," ucap Simena beranjak dari kursi.


Aura masih setia duduk di tempatnya. Ia bingung antara mengikuti Simena atau tetap berada di ruangan Pak Dika. Untung saja Pak Dika memahami kegalauan gadis itu.


"Aura, kamu akan menjalani masa magang disini sebagai asisten Simena. Jadi kamu harus selalu mengikutinya sekaligus membantunya mengerjakan tugas liputan."


"Iya, Pak, saya mengerti. Terima kasih atas kesempatan yang Bapak berikan untuk saya."


Aura pun lantas pergi dari ruangan Pak Dika. Ia duduk di meja yang bersebelahan dengan Simena. Dari situ ia bisa mendengar Simena tengah berbicara lewat sambungan telpon dengan seseorang.


"Aku akan datang ke kantormu besok jam empat sore, Al. Biasanya wawancara berlangsung maksimal dua jam," ucap Simena. Dari gaya bicaranya, tampak bahwa Simena sudah sangat akrab dengan lawan bicaranya. Bahkan nadanya pun terdengar sedikit manja.


"Apa yang ditelpon Mbak Mena itu CEO Adhiyaksa Group?"


batin Aura menerka-nerka.


"Okey, sampai jumpa besok, Al," kata Simena mengakhiri panggilannya.


Usai meletakkan gagang telpon, Simena menengok ke arah Aura.

__ADS_1


"Kenapa bengong? Sekarang bantu aku membuat laporan."


"I...iya, Mbak. Saya sedang menunggu perintah dari Mbak Mena," jawab Aura sedikit gelagapan.


"Lain kali coba kamu berinisiatif. Jangan hanya menungguku saja, okey," jawab Simena membuka laptopnya.


Simena memberikan instruksi agar Aura menggeser kursi sehingga bisa menatap layar laptop miliknya.


"Sebelum wawancara, kita harus mempelajari secara detail profil dari narasumber kita. Besok kita akan mewawancarai Almero Adhiyaksa. Jadi kita harus menuliskan dulu data dirinya, apa saja kegiatannya, pencapaiannya, termasuk keluarga dan pasangannya. Lihat baik-baik."


Aura mencermati dengan seksama apa yang dijelaskan Simena. Ia baru mengetahui bahwa Almero adalah putra pertama dari keluarga konglomerat Adhiyaksa. Usianya tiga puluh tahun dan lulusan dari universitas ternama di Inggris. Almero juga memiliki sederet prestasi sejak muda. Antara lain ia pernah menjadi juara fotografi tingkat nasional dan juara kompetisi piano klasik. Sungguh profil lelaki ini sangat luar biasa. Namun yang paling mengherankan bagi Aura, lelaki ini masih lajang alias belum menikah.


"Oh ya, kamu sudah pernah melihat foto Almero?" tanya Simena tiba-tiba.


"Belum, Mbak."


"Sebentar aku tunjukkan fotonya supaya kamu nanti mengenalinya saat wawancara."


Simena segera mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan foto Almero yang disimpannya di dalam galeri.


Degup jantung Aura pun bertambah cepat saat memandang foto lelaki tampan di ponsel Simena. Sampai kapanpun dia tidak akan melupakan wajah lelaki yang bertemu dengannya di restoran Italia itu. Bahkan sejak pertemuan tersebut, seringkali dia terbayang wajah lelaki itu tanpa tahu apa penyebabnya.


"Dia ini...Almero Adhiyaksa? Jadi aku akan mewawancarai dia besok,"


pikir Aura seraya menggigit bibir bawahnya.


...****************...


Ravella hampir tidak bisa berkonsentrasi pada pekerjaannya hari ini. Ia sampai harus ke toilet beberapa kali untuk mencuci wajah. Pikiran buruk selalu menghantuinya setelah pertemuan dengan Steven tempo hari. Hal ini terus terjadi hingga ia melakukan kunjungan ke supermarket bersama Alarick.


Kerisauannya makin bertambah saat ia menerima pesan masuk dari Steven.


"Siang, Ravella. Apakah kamu sudah mengambil keputusan? Waktumu hanya tersisa dua hari. Dan perlu kamu tahu, pengacaraku sudah menyiapkan surat gugatan hak asuh. Aku tinggal memasukkannya saja ke pengadilan."

__ADS_1


Selang beberapa detik, Steven mengirimkan sebuah foto ke ponselnya. Apalagi kalau bukan surat yang sangat ditakuti Ravella.


"Bu, hari ini naik motor saya saja," ucap Alarick mendahului Ravella ke tempat parkir. Sementara Ravella masih terpaku seraya menatap layar ponselnya. Ia bahkan tidak menggubris apa yang diucapkan Alarick.


"Bu, sampai kapan Ibu mau berdiri disitu? Nanti kita terlambat menemui Pak Sahrul, Bu," ucap Alarick mengeraskan suaranya.


Karena wanita itu masih saja melamun, terpaksa Alarick menarik lengan Ravella dan menggandengnya sampai ke motor.


"Rick, apa-apaan ini? Lepaskan tanganku!" ucap Ravella terkejut.


"Saya melakukan ini supaya Ibu sadar. Karena saya perhatikan sejak pagi Ibu tidak fokus pada pekerjaan. Apa Ibu diganggu penguntit lagi? Kalau iya saya akan mengantar Ibu ke kantor polisi," tegas Alarick. Ia tidak mau pekerjaannya terganggu akibat masalah pribadi Ravella yang tiada habisnya.


"Tidak ada penguntit yang menggangguku."


"Lalu apa Ibu punya masalah baru? Misalnya dengan pacar Ibu atau dengan mantan suami? Maaf kalau saya lancang, tapi kemarin saya melihat Ibu pergi dengan seorang lelaki. Dan pagi ini Ibu langsung melamun."


Ravella tidak menjawab pertanyaan Alarick. Ia hanya memakai helm lalu bersiap membonceng lelaki itu. Melihat sikap ganjil Ravella, Alarick menghela napas panjang. Ia merasa harus memiliki stok kesabaran yang berlebih dalam menghadapi wanita ini.


Daripada memikirkan Ravella, Alarick bergegas melesatkan motornya ke tempat tujuan mereka. Ia berencana akan mengajak Ravella ke kafe setelah tugas mereka selesai. Dia akan membuat wanita ini mengaku masalah apa yang sedang disembunyikannya.


Ketika mereka berkendara di jalan, Ravella baru menyadari bila Alarick memiliki motor baru. Motornya ini sangatlah keren dan pasti harganya juga selangit.


"Alarick baru masuk kerja tapi bisa membeli motor sebagus ini. Apa dia anak orang kaya?"


pikir Ravella keheranan.


Perjalanan itu tidak memakan waktu lama. Sekitar dua puluh menit, mereka sudah tiba di kantor Pak Sahrul. Namun tak disangka Ravella kembali mendapat pesan dari Steven.


"Ravella kenapa tidak membalas pesanku? Kalau kamu tidak menjawabnya, aku anggap kamu setuju untuk menyerahkan Marco dan Mirel. Besok sore aku akan menjemput mereka."


Ravella tersentak membaca pesan itu. Lututnya mendadak gemetaran sehingga ia harus berpegangan pada dinding di samping lift. Sudut matanya juga mulai tergenang air mata.


"Ibu kenapa?" tanya Alarick terkejut.

__ADS_1


"A...aku tidak mau kehilangan anak-anakku. Rick, tolong aku," ucap Ravella hampir menangis.


Bersambung


__ADS_2