
Sebelum Ravella menyapa, pria itu lebih dulu mengangkat kepalanya. Dari sorot matanya terpancar keterkejutan yang sama. Pria itu mengamati Ravella seolah ingin memastikan sesuatu sebelum dia bertindak lebih lanjut. Setelah cukup yakin, pria itu beranjak dan mengulurkan tangan kepada Ravella.
"Selamat sore, Ravella. Perkenalkan aku Steven," sapa Steven lebih dulu.
Ravella terlihat ragu-ragu namun pada akhirnya ia menerima uluran tangan Steven. Ia harus bertahan sekeras batu karang dalam menghadapi pria ini.
"Sore, Tuan Steven. Dari mana Anda mengetahui nama saya dan alamat kantor saya? Apa Anda yang kemarin mengirimkan orang untuk membuntuti saya?" tanya Ravella to the point. Ia merasa tidak perlu berbasa-basi dengan pria ini. Lagipula jelas sudah hanya Steven yang memiliki motif untuk berbuat hal rendah semacam itu.
Steven hanya tersenyum tipis mendengar pertanyaan Ravella. Adik Raisa ini walaupun memiliki kemiripan dengan kakaknya, tapi perangai mereka jauh berbeda. Raisa adalah wanita yang lemah lembut sedangkan Ravella terlihat lebih galak dan tangguh. Pantas saja dia mampu membesarkan kedua anak kembarnya sendirian.
"Ravella, aku rasa kamu sudah mengetahui jawabannya tanpa perlu mendengarkan penjelasanku. Kedatanganku kesini untuk membicarakan hal yang sangat penting."
Ravella segera memutus perkataan Steven. Dia tidak ingin ada teman sekantornya yang sampai mendengar perbincangan rahasia mereka.
"Tuan Steven sebaiknya jangan membicarakan urusan pribadi di kantor saya."
Ravella terus membalas perkataan Steven dengan bahasa yang formal. Toh mereka tidak saling mengenal sebelumnya.
"Kalau begitu ingin bicara dimana, Ravella?"
"Di kafe One Day, tidak jauh dari kantor ini. Silakan ikuti motor saya, Tuan."
Ravella mendahului Steven keluar dari lobi untuk mengambil motornya. Namun ia berhenti karena berpapasan dengan Alarick di depan pintu.
"Bu, ini kunci motornya. Ibu mau pergi lagi?" tanya Alarick mengerutkan dahi.
"Iya, terima kasih, Rick."
Alarick keheranan melihat Ravella tergesa-gesa seperti dikejar hantu. Sedangkan di belakangnya ada seorang pria yang penampilannya mirip eksekutif. Alarick sempat bersitatap sejenak dengan pria itu sebelum ia berlalu.
"Siapa pria itu? Mustahil dia mencari Ravella untuk urusan kantor. Apa jangan-jangan dia pacar atau mantan suaminya Ravella?"
pikir Alarick menebak-nebak.
__ADS_1
...****************...
Ravella segera mengendarai motornya diikuti oleh mobil Steven. Tak berselang lama mereka pun sampai di kafe One Day. Ravella sengaja memesan meja paling belakang agar percakapan mereka tidak terganggu oleh pengunjung kafe yang lain.
"Tuan, Nyonya, mau pesan apa?" tanya pelayan kafe dengan ramah.
"Mocchacino satu," jawab Steven.
"Saya hot chocolate." Ravella memang selalu minum cokelat panas setiap kali dia merasa risau seperti ini.
Usai pelayan kafe pergi, Steven langsung menyatakan tujuannya menemui Ravella.
"Ravella, aku akan langsung pada intinya."
"Silakan, Tuan, saya juga tidak punya banyak waktu," balas Ravella dingin. Dia berusaha terlihat tegas di depan Steven agar pria itu tidak meremehkannya. Padahal sesungguhnya ia sangat takut kehilangan Marco dan Mirel.
"Ini adalah kali pertama kita mengobrol, tapi kamu pasti sudah mengetahui siapa aku. Aku adalah kekasih Raisa sekaligus...."
Steven terkejut mendengar makian dari Ravella. Namun ia tidak dapat menyangkal karena semua itu benar adanya.
"Ravella, soal Raisa, aku minta maaf. Waktu itu aku tiba-tiba dijodohkan oleh orang tuaku dengan gadis lain dan aku tidak berdaya menolaknya. Tapi sebenarnya aku sangat mencintai Raisa," jawab Steven penuh penyesalan.
Alih-alih tersentuh, Ravella justru makin muak. Ia menganggap Steven sedang bersandiwara layaknya adegan dalam drama picisan.
"Cinta?! Orang yang mencintai tidak akan menelantarkan dan meninggalkan kekasihnya dalam keadaan hamil, Tuan. Jadi jangan berharap saya akan mempercayai ucapan Anda. Permintaan maaf Anda sudah tidak ada gunanya sekarang. Seharusnya Anda malu dengan perbuatan Anda sendiri," tegas Ravella meluapkan amarah yang terpendam selama bertahun-tahun.
"Aku memang melakukan kesalahan yang fatal pada Raisa. Karena itu aku ingin memperbaikinya dengan cara merawat anak-anak kami. Aku akan menjadi ayah yang baik untuk Marco dan Mirel."
Otot-otot leher Ravella menegang. Ia tidak menyangka Steven dengan gampangnya mengutarakan keinginannya untuk merawat Marco dan Mirel. Padahal ia tidak sekali pun muncul untuk mencari atau mengunjungi anak kembarnya semenjak mereka dilahirkan ke dunia.
"Lalu kemana Anda selama ini, Tuan? Kenapa baru mengakui Marco dan Mirel sebagai anak Anda setelah hampir delapan tahun berlalu?" cecar Ravella.
"Itu karena...aku sudah memiliki istri. Aku harus menjaga perasaannya. Tapi sekarang istriku sudah setuju karena kami belum memiliki anak," jawab Steven.
__ADS_1
"Dengar, Tuan, apapun alasannya Anda tetaplah ayah yang tidak bertanggung jawab. Karena itu, Anda tidak punya hak atas Marco dan Mirel. Mereka sudah bahagia bersama saya," sanggah Ravella.
"Marco dan Mirel akan hidup lebih nyaman jika mereka tinggal denganku. Aku bisa menyediakan semua fasilitas yang mereka butuhkan. Rumah dan mobil, sekolah berkualitas, koleksi mainan, liburan ke luar negri. Semuanya akan mereka dapatkan."
"Yang dibutuhkan Marco dan Mirel adalah kasih sayang, Tuan, bukan sekedar harta. Dan perlu saya tegaskan bahwa saya adalah ibu mereka secara hukum. Hak asuh untuk anak di bawah umur berada di tangan ibunya," bantah Ravella.
Karena perdebatan berjalan sengit, Steven akhirnya memberikan penawaran untuk Ravella.
"Begini saja, izinkan aku membawa Marco dan Mirel ke Jakarta. Dan aku akan memberikan untukmu kompensasi yang pantas senilai lima ratus juta. Aku menghargai jasa-jasamu dalam membesarkan Marco dan Mirel."
Sontak Ravella meradang. Hatinya sakit karena kasihnya yang tulus sebagai ibu dinilai oleh Steven dengan sejumlah uang.
"Saya tidak butuh uang Anda! Sampai kapanpun Marco dan Mirel akan tinggal dalam asuhan saya sesuai amanat terakhir Kak Raisa. Saya tidak akan membiarkan Anda mengambil mereka."
Melihat Ravella bersikukuh, Steven mulai kesal. Ia pun mengeluarkan jurus terakhirnya untuk menekan Ravella.
"Ternyata kamu susah diajak bicara. Kalau begitu kita akan bertemu di pengadilan. Aku akan mengajukan hak asuh atas kedua anakku dengan dilengkapi tes DNA."
"Silakan, Tuan. Saya yakin pengadilan akan menolak permintaan Anda."
"Jangan terlalu percaya diri, Ravella. Aku punya istri dan keluarga besar Pamungkas yang siap mengasuh Marco dan Mirel. Sedangkan kamu adalah wanita yang belum menikah. Wanita lajang yang tidak berkeluarga akan diragukan kemampuannya dalam merawat anak-anak. Karena itu peluangku memenangkan hak asuh akan lebih besar darimu."
Steven menyeruput kopinya lalu menatap Ravella.
"Aku memberimu waktu tiga hari untuk berpikir. Jika kamu bersedia menyerahkan mereka secara suka rela, aku akan memberimu imbalan. Sebaliknya bila kamu menolak, aku akan melayangkan tuntutan hak asuh ke pengadilan. Renungkan dan pikirkan itu baik-baik, Ravella. Selamat malam."
Ravella hanya bisa termenung selepas kepergian Steven. Marco dan Mirel adalah penyemangat hidupnya sekaligus peninggalan terakhir kakaknya yang paling berharga. Dia tidak akan merelakan kedua anak kembarnya diambil begitu saja oleh Steven. Namun Ravella cemas bila kasus ini sampai berlanjut ke ranah hukum.
"Haruskah aku menikah dan punya suami supaya bisa mempertahankan hak asuh Marco dan Mirel?"
gumam Ravella mencari jawaban.
Bersambung
__ADS_1