
Raja dan Cleantha tiba di PT. Cemerlang sekitar pukul dua belas siang. Raja naik sendiri ke lantai atas untuk menemui Devano. Sementara Cleantha memilih menunggu di lobi. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling gedung. Perusahaan ini cukup bagus walaupun tidak sebesar Adhiyaksa Group. Cleantha cukup yakin Alarick akan betah bekerja di tempat ini.
Daripada bosan menunggu, Cleantha berjalan keluar dari lobi. Ia melihat ada sebuah kafetaria kecil di seberang kantor. Cleantha pun berjalan kesana untuk membeli minuman. Namun rumah makan itu penuh dengan karyawan yang sedang mengantri untuk makan siang. Karena terlalu ramai Cleantha memutuskan untuk pergi. Namun ketika hendak keluar, terdengar suara seseorang menyapanya.
"Tante, mau memesan makanan?"
Cleantha menoleh dan melihat seorang wanita muda yang berparas cantik tersenyum kepadanya.
"Tante cuma mau beli minum, tapi antriannya terlalu panjang," jawab Cleantha membalas senyuman gadis itu.
"Biar saya yang pesankan, Tante. Kebetulan saya juga akan memesan makan siang. Tante duduk saja di meja."
"Tidak usah. Nanti kamu repot."
"Sama sekali tidak, Tante. Tante mau minum apa? Teh, es jeruk atau jus?" tanya gadis itu lagi.
"Jeruk panas saja."
"Baik, Tante, tunggu ya."
Melihat niat tulus gadis itu, Cleantha pun menurut. Ia duduk di meja seraya memandang ke arah antrian. Kalau tidak salah menebak, usia gadis ini hampir sebaya dengan Alarick. Selain berwajah cantik, dia juga sangat ramah dan suka menolong.
""Ini Tante, silakan diminum."
"Terima kasih. Oh ya, siapa namamu?"
"Saya Ravella, Tante," ucap gadis itu mengulurkan tangan.
"Apa kamu bekerja di PT. Cemerlang?"
"Iya, Tante, di bagian marketing."
Mendengar jawaban gadis ini, Cleantha teringat pada Alarick. Jika gadis ini bekerja di divisi marketing artinya dia akan menjadi rekan kerja putranya.
"Tante sedang berkunjung ke PT. Cemerlang atau rumah Tante ada di dekat sini?" tanya Ravella. Entah mengapa melihat Cleantha rasanya seperti bertemu dengan ibu kandungnya yang telah tiada.
Belum sempat Cleantha menjawab, Raja sudah lebih dahulu menelponnya.
"Clea, kamu dimana? Aku mencarimu di lobi tapi kamu tidak ada. Devano mengajak kita makan bersama," ucap Raja dari balik telpon.
"Aku sedang di kafetaria depan kantor. Aku akan kembali kesana sekarang."
__ADS_1
Cleantha beralih menatap Ravella yang baru mulai menyantap makan siangnya.
"Ravella, maaf, Tante harus pergi sekarang. Sekali lagi terima kasih," ucap Cleantha beranjak dari kursinya.
"Tante, tapi minumannya...."
"Untukmu saja. Semoga kita bisa bertemu lagi lain kali," ucap Cleantha tergesa-gesa.
Ravella hanya bisa tercengang melihat kepergian Cleantha. Pertemuan mereka sangat singkat namun cukup berkesan. Sayang sekali ia lupa menanyakan siapa nama wanita paruh baya yang masih tampak cantik itu. Ia hanya berharap apa yang dikatakan wanita itu bisa menjadi kenyataan.
...****************...
Hingga pukul lima sore, Almero belum juga mendapat kabar dari Marion. Hal ini membuatnya sangat gelisah. Ia sampai kesulitan berkonsentrasi pada pekerjaannya. Almero sudah mencoba menghubungi kedua orang tua Marion, namun mereka juga belum menerima kabar dari putrinya itu.
Melihat kecemasan Almero, Alarick mencoba memberikan jalan keluar.
"Bagaimana kalau Kakak menelpon ke Yayasan Peduli Jantung? Mungkin mereka bisa melacak keberadaan Marion."
"Iya, kamu benar."
Almero bergegas memutar nomer telpon yayasan tersebut. Namun sebelum panggilannya tersambung, ponselnya lebih dahulu berbunyi nyaring.
"Kak, ini dari Ny. Indira, mamanya Marion," ucap Alarick.
"Halo, Tante. Sudah mendapatkan kabar dari Marion?"
"Al, Marion...." ucap Ny. Indira terbata-bata. Suaranya terdengar parau dan lemah.
Firasat buruk mendadak melingkupi hati Almero.
"Kenapa dengan Marion, Tante?"
Hening, tidak ada respon dari sang calon ibu mertua. Almero semakin dilanda kekhawatiran. Apalagi saat ia mendengar isak tangis dan bunyi langkah kaki yang berlalu lalang dari seberang telpon.
"Tante, apa Tante masih mendengar saya? Tolong jawab saya, Tante," desak Almero.
Tak berapa lama terdengar suara seorang pria yang menggantikan Ny. Indira. Dan Almero mengenali suara itu sebagai Tuan Peter, ayahnya Marion.
"Al," ujarnya dengan suara berat.
"Om, apa yang sebenarnya terjadi dengan Marion?"
__ADS_1
"Marion...mengalami musibah, Al. Dia...kecelakaan di ruas jalan tol dalam perjalanan kembali ke Jakarta."
"Kecelakaan? Lalu dimana Marion sekarang? Apa dia dilarikan ke rumah sakit?" cecar Almero.
Alarick yang ikut mendengarkan dari tempat duduknya sangat terkejut. Ia bisa melihat wajah kakaknya yang berubah menjadi pucat.
"Marion ada di Rumah Sakit Permata."
"Baik, saya kesana sekarang, Om. Saya harus memastikan kondisi Marion baik-baik saja," jawab Almero berusaha mengatasi kepanikannya.
"Tapi, Al, kamu harus tabah. Marion sudah...meninggal dunia dalam perjalanan ke rumah sakit."
Sontak, dunia Almero hancur berkeping-keping. Ia tidak percaya bila wanita yang dicintainya dan sebentar lagi akan menjadi pendamping hidupnya tiba-tiba pergi begitu saja. Padahal pernikahan mereka tinggal menghitung hari. Mungkinkah takdir tega mempermainkannya sekejam ini?
Sudut mata Almero tergenang oleh air mata. Langit seakan runtuh menimpa kepalanya. Pijakannya juga terasa goyah hingga ia harus berpegangan pada tepi meja. Bahkan ponsel yang dipegangnya hampir saja terjatuh ke lantai.
"Kakak kenapa?" tanya Alarick memegangi bahu Almero.
"Marion, Rick. Marion...meninggalkan aku untuk selamanya."
Alarick segera memeluk kakaknya itu. Belum pernah ia menyaksikan Almero serapuh ini. Kini ia baru percaya bahwa cinta bisa menyebabkan seseorang menjadi tidak berdaya dalam sekejap.
Sementara hati Almero terasa nyeri bak dihantam oleh palu gada. Ia tidak sanggup berpikir jernih lagi. Bagaikan orang tidak waras, Almero melepaskan pelukan Alarick lalu berlari keluar dari ruang kerjanya. Ia bahkan tidak mempedulikan tatapan keheranan para karyawan.
"Kak, tunggu aku!" seru Alarick mengejar Almero. Ia takut jika kakaknya ini akan berbuat nekat karena tidak bisa menerima kepergian calon istrinya.
...****************...
Aura sedang menuliskan cerita pendek di buku hariannya. Akhir-akhir ini ia memutuskan untuk mengisi waktunya dengan menulis. Berharap jika ia meninggal dunia nanti, paling tidak ada sesuatu yang bisa dikenang darinya. Meskipun karyanya ini tidak seberapa, namun ia bisa mencurahkan segala kegundahannya melalui tulisan.
Terus terang, harapannya telah sirna. Bisa dibilang ia sudah pasrah pada kehendak Sang Pencipta. Aura bisa merasakan hari demi hari kondisi jantungnya kian memburuk. Bahkan sekedar berjalan pun ia sudah tidak sanggup. Namun ia tidak akan gentar. Bila waktu kematiannya telah tiba, ia bertekad untuk menyambutnya dengan senyuman. Tidak ada yang perlu ditakutkan karena ia akan bertemu mamanya di atas sana.
Derit pintu yang terbuka, membuat Aura menoleh. Ia terkejut melihat papa dan tantenya datang bersamaan. Gurat kebahagiaan tampak jelas di wajah mereka.
"Aura, akhirnya Tuhan menjawab doa kita," ujar Tuan Dewa memeluk putrinya.
"Benar, Sayang. Ini sebuah keajaiban. Kamu akan sembuh sebentar lagi," sambung Diva membelai rambut Aura.
"Keajaiban apa yang Tante maksud?" lirih Aura tidak mengerti.
"Barusan pihak Rumah Sakit Permata menelpon Papa. Mereka mengatakan ada donor jantung untukmu dari seorang wanita muda yang meninggal karena kecelakaan."
__ADS_1
Lidah Aura terasa kelu. Ia kehilangan kata-kata untuk diucapkan. Saat ini ia tidak tahu apakah harus sedih atau bahagia mendengar berita ini.
BERSAMBUNG