CEO Magang Dan Mama Perawan

CEO Magang Dan Mama Perawan
Bab 54 Bagaimana Cara Membalas Budi (Part 2)


__ADS_3

"Sudah sampai, Non. Kenapa Non tidak turun-turun?" tanya Pak Yanto bingung. Pasalnya Aura masih tetap berdiam di dalam mobil. Gadis itu menggenggam erat map di tangannya, seolah-olah takut kehilangan benda yang paling berharga.


"Non, nanti saya dimarahi Tuan Almero," desak Pak Yanto. Ia takut dianggap tidak becus dalam bekerja oleh sang majikan.


"Iya, Pak, sebentar saya turun," jawab Aura. Ia masih coba merangkai kalimat terbaik yang akan diucapkannya kepada Almero.


Aura terkejut saat jendela mobilnya diketuk dari luar. Ia melihat wajah Noval yang tengah memanggilnya.


"Nona Aura, mari ikut saya ke restoran di rooftop. Tuan Almero menunggu disana."


Dengan terpaksa, Aura memenuhi ajakan Noval. Tidak mungkin juga ia terus-terusan bersembunyi di dalam mobil. Aura pun mengekor di belakang dan mengikuti Noval ke dalam lift. Saat melihat angka di lift semakin bertambah, Aura menahan napas. Rasanya ia ingin menghilang saja detik ini atau berubah menjadi serangga kecil agar tidak terlihat oleh Almero.


"Nona, Tuan Almero ada di meja nomor tujuh yang di sebelah kanan. Saya permisi dulu, Nona."


"Tuan mau kemana?" tanya Aura cemas. Ia mengira Noval akan ikut makan bersama mereka. Jika demikian, maka paling tidak ada orang lain di antara dirinya dan Almero. Namun pria ini malah akan pergi meninggalkannya.


"Saya harus kembali ke kantor bersama Pak Yanto. Nanti Nona akan diantar Tuan Almero."


Makan malam berdua saja dengan Almero? Oh, membayangkannya saja terasa begitu menyeramkan apalagi harus menjalaninya. Haruskah dia berlutut dan memohon kepada Noval supaya pria itu tidak pergi?


"Apa Tuan tidak makan malam sekalian? Sekarang sudah hampir jam tujuh malam," tanya Aura berharap Noval akan berubah pikiran.


"Saya akan makan malam di rumah saja, Nona. Maaf, saya harus pergi sekarang."


Aura hanya bisa terpaku melihat siluet tubuh Noval yang semakin menjauh. Kini hanya tersisa dia dan Almero Adhiyaksa.


Suasana restoran di atas ketinggian ini sebenarnya cocok untuk makan malam romantis. Dari atas terlihat gedung-gedung pencakar langit dan kerlap-kerlip lampu ibu kota yang memanjakan mata. Namun sayang restoran ini tampak sepi. Dari tempatnya berdiri, Aura hanya melihat Almero yang tengah sibuk dengan ponselnya.


Ingin sekali Aura mengambil langkah seribu untuk meninggalkan hotel. Namun ibarat orang berlayar, ia telah sampai di tengah lautan. Jika terus maju bisa jadi ada badai di depan sana, namun bila kembali sekarang sudah dipastikan Almero akan membuatnya kehilangan pekerjaan.


"Lama sekali kamu kesini. Apa Pak Yanto terlambat menjemputmu?" tanya Almero tidak sabar.


"Bukan, Tuan, Pak Yanto sedari tadi menunggu saya."


"Dengan kata lain kamu yang lamban. Cepat pesan makanan dan laporkan hasil pekerjaanmu," ucap Almero seolah memberikan perintah kepada bawahannya. Ia menyodorkan buku menu kepada Aura agar gadis itu tidak membuang waktunya.


"Saya pesan steak ayam dan jus apel, Tuan," jawab Aura enggan menerima buku menu. Tangannya masih setia memegangi map hijau dari Bu Feni. Padahal tubuhnya mulai menggigil kedinginan karena hembusan angin malam.

__ADS_1


Almero pun memanggil pelayan dan memesankan makanan untuk Aura dan dirinya. Ia memperhatikan bibir Aura yang pucat dan tubuhnya yang gemetar. Tanpa bertanya Almero beranjak dari kursinya. Ia melepaskan jasnya lalu mengenakannya ke tubuh Aura.


"Tuan, kenapa memakaikan jas Anda kepada saya?" tanya Aura terperanjat. Pipinya yang semula pucat menjadi bersemu karena mendapat perlakuan manis dari Almero.


"Karena aku kasihan melihat gadis kecil yang kedinginan di malam hari," jawab Almero kembali duduk ke kursinya.


"Map apa yang kamu bawa? Apa itu data pasien yang diberikan Bu Feni?" tunjuk Almero.


"Ini...."


"Berapa nilai pelajaran bahasamu? Kamu selalu bicara sepatah-patah. Pakailah kalimat yang lengkap saat menjawab pertanyaanku," tukas Almero.


Aura tidak punya pilihan kali ini. Mau tak mau ia harus memberikan data dirinya kepada Almero.


"Berikan mapnya padaku," titah Almero.


Di saat yang bersamaan, ponsel Aura berbunyi. Gadis itu terkejut karena melihat nama tantenya muncul di layar ponsel.


"Sebentar saya angkat telpon dari tante saya, Tuan. Halo, Tante," jawab Aura.


"Aura, kenapa kamu belum pulang sampai jam segini? Pak Jarot juga mengatakan kamu tidak ada di kantor. Dimana kamu sekarang? Tahu begini Tante tidak akan mengizinkanmu pergi," cerocos Diva. Ia sangat khawatir dengan kesehatan Aura sehingga terbawa emosi.


"Tuan...." tegur Aura secara refleks.


"Tuan siapa yang kamu maksud, Aura? Kamu sedang bersama laki-laki?" tanya Diva dari seberang telpon.


Sementara Almero sudah membuka isi map di tangannya. Fokusnya langsung tertuju pada judul yang tercetak dengan huruf tebal, "Laporan Penerima Donor Jantung Marion". Dengan perasaan yang bergejolak, Almero segera membaca tulisan di bawahnya.


[Pendonor : Marion Imelda


Usia : 26 tahun


Operasi transplantasi :


Tempat : Rumah Sakit Permata


Tanggal : 28 Maret

__ADS_1


Pasien penerima : Aura Melivia Subrata


Usia : 19 tahun]


Mata Almero langsung terbelalak lebar. Apakah ini sebuah lelucon yang dibuat Aura? Tidak mungkin Aura adalah pasien yang dicarinya selama ini. Namun bila dilihat dari cetakan kop surat Yayasan Peduli Jantung, sepertinya laporan ini asli dan bukanlah sebuah rekayasa.


"Aura, kenapa kamu tidak menjawab pertanyaan Tante? Kamu bersama seorang pria? Dan dimana kamu?"


"I...iya, Tante. Aku ada di restoran rooftop di hotel Heritage."


"Hotel?! Siapa pria itu? Tante mau bicara padanya," tegas Diva semakin geram.


"Tidak usah, Tante. Aku sedang makan malam dengan Tuan Almero, pengusaha yang aku wawancarai tadi siang. Setelah itu kami akan pulang."


"Berikan telpon ini padanya! Tante harus memintanya untuk mengantarmu pulang. Kalau kamu tidak menuruti perkataan Tante, sekarang juga Tante akan menyusulmu ke hotel itu," ancam Diva. Dia sungguh takut akan terjadi hal yang buruk pada Aura. Apalagi keponakannya yang lugu ini belum pernah berhubungan dengan seorang pria.


"Jangan, Tante. Aku akan memberikan telpon ini kepada Tuan Almero," jawab Aura patuh.


Almero yang masih terpaku pada kertas di tangannya spontan menatap Aura. Mendengar suara cemas gadis ini, dia menebak jika Aura sedang dimarahi oleh orang tuanya.


"Ada apa?"


"Tuan, maaf, Tante saya ingin bicara pada Anda," ucap Aura menyerahkan ponselnya.


"Halo, selamat malam, saya Almero," jawab Almero setenang mungkin.


"Tuan Almero, saya Diva, tantenya Aura. Tolong antarkan keponakan saya sekarang untuk pulang ke rumah. Dia tidak boleh terlalu lelah karena baru menjalani operasi transplantasi jantung. Kalau tenaganya terkuras, kondisi kesehatannya bisa menurun."


Hati Almero berdesir ketika mendengar ucapan Diva. Aura menjalani operasi transplantasi jantung? Ini artinya laporan yang dibawa Aura adalah asli. Akhirnya setelah sekian lama, dia berhasil menemukan bagian yang masih hidup dari wanita yang dicintainya. Pantas saja setiap kali melihat Aura dia seperti melihat Marion dalam bentuk yang berbeda.


"Tuan Almero, kenapa Anda diam? Jika Aura sampai kenapa-kenapa, Anda harus bertanggung jawab," cecar Diva.


"Saya akan mengantar Aura, Nyonya, tapi setelah dia selesai makan. Saya pasti bertanggung jawab. Bila perlu, saya akan menikahi Aura besok," kata Almero tanpa keraguan.


**Bersambung


Wah benarkah Almero akan meminang Aura secara dadakan? Akankah mereka menikah bersamaan dengan Alarick dan Ravella 🤭

__ADS_1


Yuk simak part berikutnya!


Ditunggu like, komen, dan votenya kakak-kakak cantik**


__ADS_2