CEO Magang Dan Mama Perawan

CEO Magang Dan Mama Perawan
Bab 64 Meyakinkan Diri


__ADS_3

Alarick buru-buru membuka pintu saat mendengar suara ketukan di kamarnya.


"Pak Sam, ini...."


Alarick menghentikan kalimatnya. Pasalnya yang dilihatnya saat ini bukanlah Pak Sam melainkan kakaknya, Almero. Dan di sebelah Almero ada ibu kos genit yang selalu membuat kepalanya pusing tujuh keliling.


"Kenapa Kakak ada disini?" tanya Alarick keheranan.


"Tentu saja untuk menjemputmu. Aku menggantikan Pak Sam karena ada hal penting yang mau aku bicarakan."


Alarick segera mengeluarkan kopernya dibantu oleh Almero. Kemudian ia bergegas menyerahkan kunci kamarnya kepada Tante Lina.


"Tante, ini kuncinya saya kembalikan. Terima kasih karena saya pernah diizinkan tinggal di kos ini," ucap Alarick berpamitan.


Tante Lina mengerucutkan bibirnya. Ia merasa sangat sedih karena akan kehilangan anak kos kesayangan yang telah membuat dirinya jatuh hati.


"Dih, jangan ngomong begitu, Rick. Tante jadi pengen nangis."


"Jangan nangis, Tante. Nanti ada kerutan lho di matanya."


"Kamu bisa saja. Oh ya, siapa nama kakakmu?" tanya Tante Lina melirik manja kepada Almero.


"Nama saya Almero, Bu."


"Nama yang bagus, cocok untuk orang ganteng," colek Tante Lina di lengan Almero.


Alarick menahan senyum melihat ekspresi Almero yang nampak risih dan geli. Ia senang karena kakaknya turut merasakan penderitaan yang sama dengannya.


Tante Lina menggandeng tangan Alarick dan mengantarnya sampai ke depan pagar.


"Rick, kapan-kapan mampir dong ke kos. Nanti Tante masakin yang enak-enak deh buat kamu. Apa makanan kesukaanmu?"


"Oh, makanan kesukaan saya agak susah dicari, Tante."


"Apa itu? Tante pasti berusaha untuk memasaknya," bujuk Tante Lina.


"Saya suka belalang goreng dan keripik kumbang, Tante."


Tante Lina membelalakkan matanya lebar-lebar. Membayangkan serangga saja sudah membuatnya ketakutan, apalagi harus memasaknya. Bisa-bisa dia mati berdiri.


Sementara Almero yang berdiri di samping Alarick mati-matian menahan tawanya. Ia tahu sang adik sedang mengerjai tante-tante genit ini supaya kapok untuk mendekatinya.


"Kamu ganteng-ganteng kok makanannya ngeri sih, Rick."


"Memangnya tante belum tahu? Makan serangga itu banyak manfaatnya, Tante. Kita bisa lebih langsing dan awet muda, stamina tubuh meningkat, juga meningkatkan kecerdasan otak. Tante harus mencobanya," goda Alarick.


"Ih, Tante mending puasa makan daripada disuruh mencicipi serangga."


"Kalau kamu suka apa, Tuan Almero?" tanya Tante Lina berpindah kepada Almero.

__ADS_1


Almero yang semula ingin tertawa lantas berubah memasang ekspresi serius.


"Saya lebih suka makan ulat sutra goreng. Saya pernah membelinya sewaktu liburan di Bangkok dan ternyata rasanya sangat gurih."


Tante Lina langsung mengernyitkan hidung karena jijik. Mungkinkah rahasia ketampanan kakak beradik ini adalah karena mengkonsumsi serangga setiap hari? Jika iya, maka dia akan berusaha untuk menirunya.


Melihat Tante Lina bengong, Alarick dan Almero segera memakai kesempatan itu untuk masuk ke mobil.


"Tante, kita pergi sekarang ya. Sampai jumpa dan terima kasih," ucap Alarick melambaikan tangan lewat jendela.


"Eh, Tante belum selesai bicara, kenapa kalian malah pergi? Tante tunggu kedatangan kalian ya!" seru Tante Lina sembari menyesali kepergian para berondong ganteng idolanya.


...****************...


Sesudah puas menertawakan kekonyolan mereka, Almero mengajak Alarick mampir ke restoran cepat saji.


"Sebenarnya apa yang ingin Kakak bicarakan sampai datang menjemputku ke Bogor?" tanya Alarick penasaran.


"Rick, semalaman aku berpikir mengenai rencanamu yang akan menikah kontrak secara diam-diam. Aku rasa keputusanmu ini kurang tepat. Sebaiknya kamu bicara terus terang kepada Mommy dan Daddy. Apalagi pernikahan adalah sesuatu yang sakral dan membutuhkan restu dari orang tua."


Alarick merenung sebentar sebelum menanggapi perkataan Almero.


"Kak, sebenarnya aku belum siap untuk menikah. Usiaku masih muda dan aku ingin melakukan banyak hal. Aku menikahi Ravella demi membantunya mempertahankan hak asuh kedua keponakannya."


"Pernikahan tidak akan menghambat cita-citamu selama kamu bisa membagi waktu. Aura, gadis yang akan kunikahi malah lebih muda darimu. Usianya baru sembilan belas tahun."


Alarick membelalakkan matanya.


"Dia sudah masuk kuliah, Rick. Aku berjanji akan tetap memperbolehkan dia kuliah dan bekerja setelah kami menikah."


"Kakak mencintai Aura?" tanya Alarick.


"Aku juga ingin menanyakan hal yang sama. Apa kamu mencintai Ravella?"


Alarick dan Almero sama-sama terdiam. Mereka mencoba menelusuri perasaan masing-masing terhadap calon istri mereka.


"Coba Kakak ceritakan dulu bagaimana pertemuan Kakak dengan Aura. Setelah itu giliranku menceritakan hubunganku dengan Ravella."


"Baiklah, aku setuju."


Kedua kakak beradik itu saling menjelaskan bagaimana mereka bertemu dengan wanitanya sampai memutuskan untuk menikah. Usai bertukar cerita, mereka kembali diam selama beberapa menit.


Alarick yang lebih dulu membuka pembicaraan.


"Kakak jatuh cinta pada Aura."


"Dari mana kamu tahu?" tanya Almero.


"Selama bercerita wajah Kakak berseri-seri dan mata Kakak berbinar. Apalagi pertemuan kalian sangat romantis. Kalian memang cocok satu sama lain dan ditakdirkan untuk menikah."

__ADS_1


"Gayamu sudah seperti konsultan cinta, Rick," kekeh Almero.


"Lalu bagaimana denganku, Kak?" tanya Alarick meminta pendapat Almero.


"99 persen kamu mencintai Ravella. Kalau tidak mana mungkin kamu mau menikah kontrak dengannya. Dan lagi kamu terlihat sangat peduli kepada Ravella sampai rela melawan Steven Pamungkas."


"Kakak kenal dia?"


"Iya, dia pernah meeting dua kali denganku."


"Putuskan saja kerja sama kita dengan keluarga itu, Kak. Steven Pamungkas sangat sombong dan menjengkelkan."


"Nanti akan kupertimbangkan, Rick."


Almero mencodongkan bahunya ke depan.


"Sekarang dengarkan nasehatku. Lebih baik kamu menikah resmi dengan Ravella. Ajak dia ikut bersama kita ke Jakarta lalu perkenalkan pada Mommy dan Daddy. Malam ini, aku akan mengajak Mommy dan Daddy untuk melamar Aura secara resmi. Jadi besok kita berdua bisa menikah di waktu dan tempat yang sama."


"Aku butuh waktu untuk meyakinkan diriku, Kak. Lagipula Ravella belum mengetahui identitasku yang sebenarnya. Dia masih berpikir bahwa aku adalah pria biasa yang menjadi bawahannya di kantor. Jika dia tahu aku putra pemilik Adhiyaksa Group, dia mungkin akan marah dan menganggapku sebagai pembohong."


"Lebih baik kamu jujur sekarang, Rick. Kalau Ravella memang mencintaimu, dia pasti akan menerimamu apa adanya," jawab Almero dengan bijak.


...****************...


Ravella sedang duduk di bangku taman seorang diri. Ia menunggu Marco dan Mirel yang asyik berlatih sepatu roda dengan anak-anak seusianya. Melihat keceriaan mereka, Ravella merasa bahagia.


"Sedang apa, Bu?"


Ravella tersentak karena seperti mendengar suara Alarick. Dia pun menengok ke kanan dan ke kiri tapi tidak ada sosok Alarick di sana.


"Alarick sedang pulang ke rumah orang tuanya, mana mungkin ada di taman ini. Aku mulai berhalusinasi,"


pikir Ravella menggelengkan kepalanya.


Ravella kembali melayangkan pandangan ke pohon hijau yang ada di sekitaran taman. Namun tiba-tiba ponselnya bergetar-getar. Ravella terkejut karena nama Alarick muncul di layar.


"Halo, Rick, ada apa?"


"Kamu ada dimana, Sayang?"


Ravella terkesiap. Entah mengapa Alarick tiba-tiba mengubah panggilannya. Ia juga tidak berbicara dengan bahasa formal seperti biasa.


"Aku ada di Taman Kencana, sedang menemani Marco dan Mirel bermain sepatu roda."


"Baiklah, tunggu saja disitu. Aku akan segera menjemputmu."


"Menjemputku? Bukannya kamu sedang ke luar kota?"


"Tidak, Sayang, aku sekarang ada di depan rumahmu," jawab Alarick dari balik telpon.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2