CEO Magang Dan Mama Perawan

CEO Magang Dan Mama Perawan
Bab 35 Wawancara Penting


__ADS_3

Usai makan malam, Simena mengajak Almero ke taman untuk berbicara. Ia ingin mengambil hati Almero dengan cara menjadi sahabat sekaligus pendengar yang baik.


"Al, aku dengar dari Tante Clea kalau Marion mendonorkan jantungnya sebelum dia meninggal," ucap Simena membuka pembicaraan.


"Iya, Marion selalu memikirkan kebaikan orang lain sampai rela mengorbankan diri sendiri," jawab Almero dengan tatapan menerawang jauh.


Simena memegang bahu Almero untuk memberikan dukungannya.


"Sabar ya, Al. Segala sesuatu terjadi pasti ada hikmahnya. Apa kamu sudah tahu siapa orang yang menerima jantung Marion?"


"Aku sudah mencarinya tapi belum berhasil. Tadi sepulang kantor, aku sempat berkunjung ke Yayasan Peduli Jantung. Marion dulu menjadi salah satu pengurus disana. Ketua yayasan sedang pergi dan aku harus menunggunya untuk bisa mendapatkan data pasien."


Melihat kesedihan di mata Almero, Simena tiba-tiba mendapatkan sebuah gagasan cemerlang.


"Al, aku punya ide. Aku harap ini bisa membantumu untuk menemukan orang yang kamu cari."


"Ide apa?" tanya Almero mengerutkan dahi.


"Majalah Daily Inspiration tempatku bekerja sering mewawancarai para pebisnis yang sukses di usia muda. Mereka akan ditanya seputar kisah hidupnya, termasuk keluarga dan pasangan hidup. Nah, aku akan mengusulkanmu sebagai narasumber untuk edisi bulan depan."


"Aku?" tanya Almero terkejut.


"Iya, kamu adalah CEO yang sukses memimpin perusahaan sebesar Adhiyaksa Group sebelum mencapai usia tiga puluh. Prestasimu luar biasa," puji Simena.


"Aku bisa melakukan ini karena bimbingan dan dukungan penuh dari Daddy Raja."


"Tapi tidak semua anak yang didukung orang tuanya bisa berhasil. Kamu memang memiliki bakat dan skill sebagai pemimpin yang hebat."


"Lalu apa hubungannya dengan Marion?" tanya Almero masih tidak mengerti.


"Saat wawancara kamu bisa bercerita bahwa calon istrimu meninggal lalu mendonorkan jantungnya. Dan saat ini kamu sedang mencari tahu siapa penerima donor itu. Aku yakin setelah beritanya muncul di situs majalah kami, banyak netizen yang akan memberikan komentar. Siapa tahu si penerima jantung Marion tergerak untuk memberitahukan identitasnya."


Almero diam sejenak untuk mempertimbangkan tawaran dari Simena. Nampaknya media massa bisa menjadi alternatif untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkannya.


"Bagaimana, Al, kamu setuju?" tanya Simena.


"Aku setuju."


"Bagus, kalau begitu aku akan menyusun jadwalnya. Kira-kira kapan kamu bisa meluangkan waktu?"


"Hari Jumat ini."


"Baik, Al, aku akan menelponmu besok untuk memastikan jadwal wawancara."


Simena merasa senang karena Almero menerima usulannya. Lewat wawancara nanti, ia berharap dapat lebih menjalin keakraban dengan Almero.

__ADS_1


...****************...


Begitu tiba di rumah, Aura langsung menghambur ke pelukan ayahnya dan tantenya.


"Aura, dari mana saja kamu? Kenapa pulang malam begini? Bagaimana kalau kamu kelelahan dan...."


"Sudah, Diva, tidak usah khawatir. Aura sehat-sehat saja. Lihat wajahnya sangat ceria," potong Tuan Dewa.


Aura tersenyum lalu duduk di tengah, di antara kedua orang yang sangat disayanginya.


"Pa, Tante, aku punya dua kabar bahagia sekaligus. Pertama aku sudah selesai mendaftar di universitas. Kedua aku diterima bekerja paruh waktu di majalah Daily Inspiration. Viona yang merekomendasikan aku kepada papanya."


"Selamat, Sayang, Papa ikut senang."


"Tapi bagaimana kamu bisa membagi waktu, Aura?" tanya Diva cemas.


"Kuliahku baru mulai bulan depan, Tante. Jadi sementara ini aku punya waktu untuk belajar dulu menjadi jurnalis."


"Papa mendukung semua kegiatanmu, Aura. Asalkan kamu tidak lupa menjaga kesehatan. Kapan kamu akan mulai bekerja?" sambung Tuan Dewa.


"Besok, Pa. Aku hanya bekerja dari jam sepuluh sampai jam tiga sore. Setelah itu aku akan istirahat di rumah."


"Benar ya, Aura, jam tiga sudah selesai. Tante akan mengawasimu."


...****************...


"Nyonya, ini ada kiriman buah-buahan dari Nyonya Cleantha," ucap Bi Nur, asisten rumah tangga Keano.


Ketika memandangi beragam jenis buah yang dikirimkan Cleantha, Ivyna menjadi sedih. Cleantha pasti sudah berharap akan segera mendapatkan cucu pertama darinya. Namun sayangnya hal itu tidak akan terjadi karena kehamilannya hanyalah rekayasa Keano.


"Mom, ba...nyak bu...ah," ujar Eleanor dengan mata membulat.


"El, mau? Kalau mau Mommy akan potong buahnya."


Eleanor menggelengkan kepala lalu memberitahu dengan bahasa isyarat kalau dia sudah mengantuk.


"Ya sudah, El, tidur dulu ditemani Mbak Dina ya."


Ivyna menyerahkan gaun yang dipilih Eleanor kepada Dina kemudian menyuruhnya untuk naik ke lantai dua. Sementara Ivyna mengatur buah-buahan itu di kulkas dengan dibantu Bi Nur.


"Bi, sebenarnya ada berapa kamar di lantai atas?"


Ivyna sengaja menanyakan hal ini karena sempat melihat satu kamar kosong di dekat kamar Keano.


"Ada tiga, Nyonya. Kamar Nona Eleanor, kamar Tuan, dan satu lagi kamar yang paling besar dulu dipakai oleh Tuan Keano dan Nyonya Alexa."

__ADS_1


Bi Nur langsung menutup mulutnya. Nampak ekspresi ketakutan di raut wajah Bi Nur karena kelepasan bicara.


"Oh, jadi nama istri pertama Keano itu Alexa," gumam Ivyna.


"Nyonya, tolong jangan bilang ke Tuan yang saya katakan tadi."


"Memangnya kenapa, Bi?"


"Tuan melarang siapapun membicarakan Nyonya Alexa," ucap Bi Nur melirihkan suara.


"Bi Nur tidak perlu takut, Keano tidak ada di rumah. Dia bilang hari ini akan pulang larut malam."


Ivyna hendak melangkah menaiki tangga namun ia berbalik lagi ke dapur.


"Bi, boleh aku pinjam kunci kamar yang kosong itu?"


"Untuk apa, Nyonya? Tuan hanya mengizinkan kamar itu dibuka kalau sedang dibersihkan. Setelahnya harus ditutup lagi."


"Aku mau menumpang mandi disitu, Bi. Kamar mandi di kamar Eleanor kecil, tidak cocok untukku. Lagipula aku tidak mau mengganggu Eleanor yang sudah tidur."


"Nyonya bisa mandi di kamar Tuan."


"Aku maunya di kamar itu. Ayo, Bi, berikan kuncinya," paksa Ivyna.


Bi Nur akhirnya menyerahkan kunci itu ke tangan Ivyna.


"Nyonya, setelah selesai mandi tolong kembalikan kuncinya ke saya."


"Iya, Bi, tenang saja. Terima kasih."


Tidak ingin menyia-nyiakan waktu, Ivyna buru-buru naik ke atas. Dia mengambil bajunya di kamar Eleanor lalu bergegas keluar.


Decak kekaguman terpancar dari mata Ivyna ketika membuka kamar milik Alexa. Luasnya hampir sama dengan kamar pribadinya, tapi terdapat balkon besar yang langsung menghadap ke taman.


"Kamar sebagus ini kenapa dikosongkan? Seharusnya aku bisa tidur disini,"


gumam Ivyna.


Dengan langkah cepat, Ivyna masuk ke kamar mandi. Ivyna pun berendam cukup lama di dalam bathtub besar yang berbentuk oval. Cukup lama ia melepas penat sambil memejamkan mata. Setelah merasa segar, Ivyna memakai bathrobenya lalu berjalan ke kamar. Ia mencoba mencari foto Alexa di kamar itu tetapi tidak ada.


Didorong rasa penasaran, Ivyna pun membuka laci dan lemari hingga menemukan sebuah majalah wanita. Kelopak matanya membesar tatkala melihat model yang menjadi cover majalah tersebut.


"Alexa Juanetta? Apa model terkenal ini adalah mantan istrinya Keano?"


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2