
Sambil berkendara menuju rumahnya, pikiran Ravella masih mengelana pada pertemuannya di kafe. Kata-kata Steven terngiang di benaknya bagaikan mantra. Bagaimana bila Steven berhasil merebut Marco dan Mirel? Langkah apa yang harus dia ambil?
Ketika tiba di rumah, Ravella langsung memeluk erat kedua bocah kembar itu. Tak terasa lelehan air mata turun membasahi pipinya.
"Mama kenapa nangis?" tanya Mirel mendengar suara sesenggukan Ravella.
"Mama takut kami diculik sama Om itu?" timpal Marco seolah memahami kegundahan ibunya.
"Iya, Sayang, Mama tidak mau kehilangan kalian."
Marco dan Mirel mengusap pelan air mata Ravella.
"Mama tenang saja kami sudah besar. Kami bisa menjaga diri sendiri," jawab Marco.
Ravella menatap dalam-dalam kedua anak kembarnya dengan perasaan campur aduk.
"Marco, Mirel, jika suatu hari Om Steven datang lagi lalu menawarkan kalian rumah yang bagus, mainan yang banyak, apa kalian mau tinggal bersamanya?" tanya Ravella sedih.
Marco dan Mirel menggeleng serentak.
"Kami hanya mau tinggal dengan Mama. Kami sangat menyayangi Mama."
"Terima kasih, Marco, Mirel," ucap Ravella terharu seraya mengecup pipi kedua anaknya.
"Tapi, kenapa Om itu terus mengatakan kalau dia papa kami? Apa dia sudah menikah dengan Mama?" tanya Mirel tiba-tiba.
Suara Ravella tertahan di tenggorokan. Dia tidak tahu bagaimana harus menjawab pertanyaan Mirel. Haruskah dia mengaku bahwa Steven memang ayah kandung mereka? Tapi bagaimana caranya ia menjelaskan semua itu?
"Mama belum pernah menikah dengan siapapun, Mirel."
Marco menggaruk dagunya sambil berpikir keras.
"Jadi Om itu pembohong. Lalu bagaimana kalau Om itu datang lagi ke sekolah dan mengganggu kami? Ma, kami harus punya papa yang kuat, yang bisa melindungi kami dari Om itu."
"Betul, kami ingin papa yang bisa melawan penjahat seperti Om Alarick. Bagaimana kalau Mama menikah dengan Om Alarick?" seloroh Mirel.
Ravella tersentak mendengar usul yang disampaikan Mirel. Namun Ravella memilih untuk mengalihkan pembicaraan.
"Kita bicarakan nanti saja ya. Sekarang Mama mau mandi. Setelah itu, Mama akan ke kamar untuk memeriksa PR kalian."
Ravella pun masuk ke dalam kamar mandi untuk menyegarkan diri. Anehnya ia terus mengingat perkataan Mirel tentang Alarick. Ravella sampai menyiramkan air ke wajahnya untuk menyadarkan diri sendiri.
"Apa aku tidak waras? Kenapa aku berpikir untuk menikah dengan Alarick demi memenangkan hak asuh Marco dan Mirel?"
gumam Ravella menggeleng-gelengkan kepalanya.
...****************...
Ketika Alarick baru tiba kos, ia langsung disambut oleh senyuman genit Tante Lina. Tanpa sungkan, wanita pemilik kos itu menggandeng mesra tangan Alarick.
"Rick, akhirnya pulang juga dari kantor. Tante sudah menunggumu dari tadi."
__ADS_1
"Menunggu saya? Untuk apa, Tante?" kata Alarick merasa jengah.
"Itu tuh, motor pesanan kamu sudah datang tadi siang. Tante yang nerima lho. Motormu keren banget," puji Tante Lina dengan mata berbinar.
"Oh, motor saya sudah datang."
Alarick bergegas menuju ke garasi kos dan melihat motor besar pesanannya sudah terparkir disana. Warnanya hitam mengkilat dan modelnya mencerminkan kegarangan seorang pria. Alarick pun tersenyum senang. Mulai besok dia tidak akan bersusah payah lagi untuk berangkat dan pulang dari kantor. Dan yang terpenting dia bisa membantu mengantar Ravella kala wanita itu menghadapi masalah.
"Kenapa aku malah mengingat Ravella? Motor ini aku beli untuk keperluan bekerja, bukan untuk dia,"
batin Alarick menepis pikirannya.
"Kenapa melamun, Rick?" seru Tante Lina menjetikkan jarinya.
"Eh, tidak Tante, aku cuma lagi mengagumi motor baruku," jawab Alarick seadanya.
"Rick, kalau kamu libur kerja antar Tante belanja donk pakai motormu. Pasti menyenangkan deh naik motor, apalagi diboncengin sama kamu," pinta Tante Lina manja.
Alarick semakin ngeri mendengar permintaan ibu kosnya ini.
"Saya tidak bisa janji, Tante. Karena setiap libur saya akan pulang ke rumah saya di Jakarta."
Tante Lina nampak kecewa mendengar penolakan Alarick. Ia memanyunkan bibirnya ke depan.
"Ya sudah, kapan-kapan saja kalau gitu. Tante istirahat dulu ya."
Alarick menghela napas gela karena wanita gemuk ini akhirnya pergi. Namun tak disangka sebelum pergi, ia malah berbalik lalu melepaskan kaca mata yang dipakai Alarick.
Jantung Alarick nyaris copot. Buru-buru ia masuk ke kamar daripada diganggu lagi oleh tante-tante agresif itu.
"*A*ku butuh pacar supaya Tante Lina tidak mengganggu lagi. Tapi aku belum bertemu wanita yang sesuai tipeku, kecuali...."
Alarick terkejut karena yang melintas di benaknya adalah wajah Ravella. Mana mungkin ia membayangkan atasannya yang sudah memiliki anak sebagai calon kekasih. Barangkali ini adalah efek halusinasi karena ia sedang jengah dengan kegenitan ibu kosnya.
...****************...
Tepat pukul lima, Almero buru-buru meninggalkan kantor. Tujuan utamanya adalah untuk pergi ke yayasan peduli jantung. Namun karena terjebak kemacetan, yayasan itu sudah tutup. Almero hanya sempat bertemu dengan salah satu pengurus yang bersiap akan pulang.
"Maaf, Mbak, yayasan ini buka sampai jam berapa?"
"Sampai jam lima, Tuan. Ada keperluan apa ya?"
"Saya Almero, calon suami mendiang Marion."
Wanita itu langsung melebarkan kelopak matanya.
"Anda calon suaminya Nona Marion?"
"Iya, Mbak. Saya ingin bertanya tentang data pasien yang meminta donor jantung dari yayasan ini."
"Kalau begitu Tuan bisa kembali lagi besok. Yayasan ini mulai buka jam sembilan. Tapi untuk meminta data harus izin dulu kepada kepala yayasan, Ibu Feni. Beliau sedang ada acara di luar kota, Tuan."
__ADS_1
Almero berdesah kecewa karena usahanya lagi-lagi mengalami kendala.
"Lalu kapan Ibu Feni pulang?"
"Sekitar Selasa depan, Tuan."
"Baik, Mbak, terima kasih informasinya."
Dengan tubuh yang lesu, Almero kembali mengemudikan mobilnya untuk pulang ke kediaman Adhiyaksa.
Tatkala tiba di depan gerbang, ia melihat ada mobil lain terparkir di halaman rumahnya.
"Itu dia, Al, sudah pulang," terdengar suara Cleantha berbicara pada seseorang.
Ketika Almero melewati pintu masuk, ia terkesiap karena mendapat pelukan dari seorang wanita.
"Al, aku turut berduka cita. Maaf, aku tidak bisa hadir saat upacara pemakaman Marion. Aku baru saja menyelesaikan tugas liputanku di Virginia dan New York."
Almero mendongakkan kepalanya dan mengenali siapa wanita yang tengah memeluknya ini. Dia adalah Simena, putri angkat Keyla. Selama pernikahannya Keyla tidak bisa memberikan keturunan untuk Dimas. Karena itu, mereka memutuskan untuk mengadopsi seorang anak perempuan dan memberinya nama Simena.
Simena tumbuh menjadi gadis yang lincah dan cerdas. Sejak remaja diam-diam ia menyukai Almero. Tapi karena Almero hanya menganggapnya sebagai saudara, Simena pun memendam perasaannya itu.
"Terima kasih, Mena. Aku tahu pekerjaanmu sebagai wartawan membuatmu harus berkeliling dunia."
"Aku punya kabar gembira, Al. Mulai sekarang aku akan lebih sering menetap di Jakarta. Karena aku sudah berpindah pekerjaan ke majalah Daily Inspiration."
"Selamat kalau begitu," ucap Almero turut senang.
"Mena, jangan peluk Almero terus. Dia baru saja pulang, pasti ingin mandi dan makan malam," potong Keyla menggoda anaknya.
Dengan malu-malu, Simena melepaskan pelukannya. Cleantha ikut tersenyum melihat wajah Simena yang memerah.
"Mom, aku ke atas dulu untuk mandi. Nanti aku menyusul kalian ke meja makan," ucap Almero.
Setelah Almero pergi, Cleantha mengajak Keyla dan Simena makan malam bersama. Keyla pun menanyakan kondisi Almero kepada Cleantha.
"Clea, sepertinya Almero masih terpukul atas meninggalnya Marion. Aku kasihan pada Al, dulu ayah kandungnya meninggal dalam kecelakaan sekarang calon istrinya juga mengalami musibah yang sama."
"Iya, Kak. Aku ingin sekali membuat Almero bahagia," jawab Cleantha lirih.
"Clea, aku rasa lebih baik kamu mencarikan jodoh untuk Almero. Mungkin dengan memiliki pasangan baru dia akan melupakan kesedihannya," usul Keyla.
"Aku tidak pernah memaksakan apapun kepada anak-anakku, Kak, terutama dalam hal pasangan. Lebih baik mereka memilih sendiri."
Mendengar perkataan Cleantha, Simena menyunggingkan senyum. Ia merasa inilah kesempatan terbaik baginya untuk mengisi kekosongan hati Almero. Dia akan mencari ide untuk bisa membuat Almero selalu dekat dengan dirinya.
**Bersambung
Like Comment Vote
Double Update Nanti Malam**
__ADS_1