CEO Magang Dan Mama Perawan

CEO Magang Dan Mama Perawan
Bab 50 Benarkah Dia yang Ada di Mimpiku


__ADS_3

Subu tubuh Aura terasa panas dingin ketika menginjakkan kaki di ruang CEO. Apalagi saat menatap siluet pria yang duduk di kursi kebesarannya. Pria itu tengah duduk dengan posisi miring sambil memegang ponsel. Nampaknya ia masih sibuk berbicara dengan seseorang sehingga tidak menyadari kedatangan Aura.


"Apa aku harus memanggilnya atau langsung duduk saja?"


pikir Aura bingung.


"Permisi, Pak," ucap Aura.


"Ya, silakan duduk," jawab Almero tanpa memandang Aura. Ia masih melanjutkan percakapan dengan rekan bisnisnya.


"Baik, Tuan Albert, saya akan mengirimkan emailnya segera. Terima kasih."


Mendengar Almero sudah menyelesaikan percakapannya, Aura yakin pria ini akan memandang wajahnya. Aura pun sengaja menunduk. Ia pura-pura mengambil alat perekam dan buku catatan dari dalam tas.


Almero meletakkan ponselnya lalu mengubah posisi duduknya menghadap Aura. Ia mengernyitkan dahi ketika melihat reporter yang akan mewawancarainya menundukkan kepala.


"Maaf, saya sedang menerima telpon penting tadi. Apa Anda Nona Aura Melivia?" tanya Almero.


"Iya, bisa kita mulai wawancara sekarang?" tanya Aura tanpa mengangkat kepala. Dahi Almero semakin berkerut karena suara ini terdengar tidak asing di telinganya.


"Bisa. Tapi kita belum berkenalan. Saya Almero Adhiyaksa."


Almero mencoba bersikap ramah dengan mengulurkan tangan. Namun wanita muda di depannya ini masih saja menunduk. Alhasil Almero terpaksa menarik kembali tangannya karena tidak mendapat respon.


"Ehemmm, Nona Aura, setahu saya orang tidak bisa melakukan wawancara tanpa saling memandang. Waktu saya juga tidak banyak. Jadi tolong kita mulai segera," ucap Almero tidak sabar. Ia heran mengapa Simena mengirimkan seorang asisten yang kikuk untuk melakukan wawancara penting.


Aura menghitung dalam hati dari satu sampai lima sebelum menaikkan dagunya. Sungguh ia tidak mungkin menghindar kali ini.


"Tenang, Aura, senyum saja yang lebar dan pura-pura tidak mengenalnya."


Sesaat Almero terpaku kala netranya bersitatap dengan bola mata kecoklatan milik Aura. Apalagi memori pertemuan mereka masih melekat kuat di ingatannya.


"Kamu, gadis yang di toilet pria itu kan?"


"Toilet? Saya tidak mengerti maksud Anda, Om."


Aura langsung menutup mulutnya karena kelepasan bicara. Entah mengapa dia selalu bertindak bodoh di depan pria dewasa ini. Terlebih jantungnya juga tidak bisa diajak kompromi. Bila berdekatan terus dengan pria ini, bisa jadi penyakit lamanya akan kambuh.


"Om?" tanya Almero menaikkan alisnya.

__ADS_1


"Maaf, maksud saya Pak Almero. Mari kita mulai dari pertanyaan pertama. Berapa lama Bapak...."


"Tunggu, kamu belum menjawab pertanyaanku," sergah Almero. Ia mencodongkan badannya ke depan untuk mendekat pada Aura. Jarak mereka hanya terpisah oleh meja kerja yang berbentuk persegi panjang.


Dari dekat, Almero bisa melihat pipi Aura yang merona laksana buah apel. Entah mengapa reaksi lugu gadis ini tampak lucu di matanya. Almero justru tergerak untuk mengerjai gadis ini agar semakin salah tingkah. Hitung-hitung sebagai pembalasan karena pernah menyuruhnya menjadi penjaga pintu toilet sekaligus menganggapnya om-om.


"Pertanyaan yang mana? Disini saya yang bertugas menanyai Bapak," kilah Aura.


"Kenapa berlagak tidak mengenalku?"


"Mungkin Om salah orang."


Lagi-lagi Aura ingin mengunci lidahnya sendiri karena salah bicara.


"Dengar, Nona Aura, usiaku baru akan menginjak tiga puluh tahun. Kamu pasti sudah mengetahui profil dan tanggal lahirku. Jadi aku keberatan jika kamu memanggilku Om. Memangnya berapa usiamu?" tukas Almero menekankan suaranya.


"Sembilan belas tahun. Saya minta maaf, Pak. Saya tidak akan mengulanginya," jawab Aura merasa bersalah.


Almero baru tahu bila usianya dengan Aura terpaut sekitar sebelas tahun. Pantas saja Aura terlihat begitu naif layaknya gadis yang baru saja duduk di bangku kuliah.


"Aku juga tidak mau dipanggil Pak. Aku bukan atasanmu dan bukan dosenmu di kampus."


Aura mengerjapkan matanya karena bingung. Ternyata pria ini memiliki karakter yang sukar ditebak. Soal panggilan saja ia sangat rewel apalagi urusan yang lain. Bisa jadi wawancaranya hari ini akan gagal total.


"Coba berikan beberapa pilihan untukku. Nanti aku yang akan memutuskan," jawab Almero sambil bersandar pada kursinya. Ia menahan senyum melihat ekspresi Aura yang nampak kebingungan.


"Tuan, Abang, Mas, Kakak, Mr, Sir." Aura mengucapkan hampir semua sebutan untuk pria yang terlintas di kepalanya. Yang diinginkan Aura hanyalah agar wawancara ini cepat selesai sehingga dia bisa meninggalkan ruangan Almero.


"Tidak ada yang enak didengar. Kalau begitu panggil saja Al sesuai nama panggilanku," jawab Almero enteng.


"Tapi itu tidak sopan untuk wawancara yang formal," sanggah Aura.


Almero mengambil pena silvernya yang terletak di samping laptop. Kemudian ia mengetukkan pena itu dengan keras di atas meja hingga Aura terkejut.


"Aku narasumbernya disini. Keinginan narasumber harus dihormati atau wawancara dibatalkan. Kamu ingin pulang dengan tangan hampa?"


Aura langsung bergidik ngeri. Lebih baik ia menurut pada pria ini daripada dimarahi habis-habisan oleh Simena dan Pak Dika.


"Kamu harus menyertakan namaku di setiap pertanyaan. Bila tidak, maka aku tidak akan menjawab," tegas Almero.

__ADS_1


Aura meneguk salivanya sendiri. Oh mengapa ia harus terjebak dalam situasi yang serba sulit. Maju salah mundur malah lebih salah lagi.


"Sudah berapa lama Anda menjabat sebagai CEO Adhiyaksa Group, Al?" Aura memaksakan lidahnya yang sangat kaku ketika menyebutkan nama Almero di akhir pertanyaan.


"Lima tahun. Saya diangkat sebagai CEO setelah ayah saya pensiun dari jabatannya," jawab Almero dengan bahasa formal.


"Lalu apa tantangan terberat selama menjabat sebagai CEO, Al?"


Krisna yang baru masuk ke dalam ruangan, terkejut mendengar Aura menyebutkan nama sang CEO. Krisna melirik kepada Aura untuk memberikan isyarat, tapi gadis itu malah menggeleng pelan.


"Saya Krisna, fotografer majalah Daily Inspiration, Tuan. Nanti saya akan mengambil beberapa foto Anda selama proses wawancara," ucap Krisna memperkenalkan diri.


"Silakan," jawab Almero singkat.


Aura kembali mengajukan sejumlah pertanyaan mengenai latar belakang pendidikan, hobi, dan pencapaian Almero. Semuanya berlangsung lancar hingga tiba pada pertanyaan mengenai pasangan hidup.


Aura sempat membaca pertanyaan itu ketika membantu Simena di kantor. Namun ia merasa sangat canggung untuk menanyakannya secara langsung kepada Almero.


"Permisi, Tuan, ini saya bawakan minuman," ucap Noval meletakkan tiga cangkir teh di meja untuk tamu bosnya.


"Terima kasih, Val. Lanjut ke pertanyaan berikutnya Nona Aura," ucap Almero.


Aura menghela napas sebentar sebelum membuka suara.


"Dengan segala kesuksesan yang Anda raih di usia muda, mengapa Anda belum membina rumah tangga?" tanya Aura tidak enak hati.


"Saya sudah merencakan pernikahan tahun ini dengan tunangan saya. Tapi saya harus ikhlas menerima kenyataan. Tunangan saya...pergi untuk selamanya dalam kecelakaan mobil."


Aura bisa menangkap perubahan di raut wajah Almero saat mengungkapkan hal itu. Terlebih suaranya pun bergetar pertanda ia sedang menahan kesedihan.


"Maaf, saya tidak tahu kalau tunangan Anda sudah tiada."


"Tidak apa-apa. Bagi saya dia adalah segalanya. Marion yang mendampingi dan menyemangati saya hingga saya berhasil menjalankan tugas sebagai CEO."


"Deg!"


Aura terkejut bukan main saat mendengar nama Marion. Meskipun berada di ruangan ber-AC, keringat dingin mulai membasahi tangan dan kakinya.


"Marion? Apa yang dimaksudnya adalah Marion, pendonor jantungku? Jika benar berarti dia adalah...kekasih Marion yang ada di mimpiku,"

__ADS_1


batin Aura panik.


Bersambung


__ADS_2