CEO Magang Dan Mama Perawan

CEO Magang Dan Mama Perawan
Bab 56 Membuatmu Menginginkan Aku


__ADS_3

"Halo, Cantik dan Ganteng, selamat pagi," ucap Alarick mengejutkan Marco dan Mirel. Mata sepasang anak kembar itu membulat melihat Alarick yang tiba-tiba muncul di ambang pintu kamar mereka.


"Om kok pagi-pagi ada disini?" tanya Marco penuh selidik.


"Om semalam tidur di rumah kalian karena kehujanan. Dimana Mama kalian?"


"Mama sedang mandi, Om. Kalau semalam Om menginap lalu tidur dimana?" Mirel ganti bertanya kepada Alarick.


"Tidur di kamar Mama Ravella. Om belum mandi nih, masih bau."


Marco dan Mirel saling berpandangan. Pantas saja saat bangun tadi Ravella tidur bersama mereka. Ternyata kamar mamanya dipakai oleh Alarick.


"Sampai kapan Om menginap di rumah kami?" tambah Marco.


"Sampai kapan ya? Mungkin untuk selama-lamanya," jawab Alarick menyunggingkan senyum.


Marco dan Mirel semakin dibuat penasaran. Sebenarnya mereka tidak keberatan dengan keberadaan Alarick. Toh mereka merindukan sosok seorang ayah. Namun Marco dan Mirel teringat perkataan Ravella bahwa pria dan wanita dewasa harus menikah dulu sebelum tinggal bersama.


"Tapi kalau Om mau tinggal bersama kami, Om harus menikah dengan Mama. Itu peraturannya," tukas Marco.


Alarick tertawa geli melihat tingkah Marco yang mirip calon ayah mertua. Ravella sungguh beruntung karena memiliki anak lelaki yang bisa diandalkan.


"Tentu saja Om akan mematuhi peraturan itu. Kalian keberatan tidak kalau Om menikah dengan Mama Ravella? Om akan menjadi ayah kalian dan bermain bersama kalian setiap hari."


Mirel langsung menganggukkan kepala. Kapan lagi dia bisa memiliki ayah yang ganteng dan tangguh seperti Alarick. Teman-teman sekolahnya nanti pasti akan terkagum-kagum.


"Mau Om, mau," jawabnya dengan mata berbinar. Marco langsung menepuk tangan kembarannya itu.


"Hush, tunggu dulu. Kita harus bertanya kepada Om Alarick."


"Mau tanya apa, Marco?" tanya Alarick mencodongkan bahunya.


"Om galak tidak?"


"Tidak, Om ini sangat penyabar, baik hati, tidak sombong, dan rajin menabung."


"Apa Om bisa mengalahkan penjahat?" timpal Mirel.


"Bisa dong. Om memegang sabuk hitam taekwondo, jago berenang, dan bisa balap motor. Kalian mau Om ajari taekwondo dan berenang?"

__ADS_1


"Iya, mau, hebat sekali, Om," puji Mirel semakin jatuh hati.


"Kapan Om akan menikah dengan Mama? Kami harus mempersiapkan diri," tanya Marco penasaran.


"Mungkin hari Minggu. Oh ya, apa kalian punya pertanyaan terakhir? Om harus segera mandi supaya tidak terlambat masuk kantor, karena atasan Om galaknya seperti macan."


"Siapa yang kamu maksud macan itu?"


Tiba-tiba Ravella menginterupsi dari belakang. Alarick menoleh dan bersitatap dengan manik hitam Ravella. Wanita itu belum menggunakan make up dan masih memakai setelan rumahan. Rambutnya juga nampak setengah basah sehabis mandi, tapi pemandangan itu justru nampak menarik bagi Alarick.


"Seharusnya Ibu sudah tahu jawabannya tanpa saya harus menyebutkan," jawab Alarick menyeringai. Ia menghadap kembali kepada bocah kembar di depannya.


"Karena Mama kalian sudah selesai, Om mandi dulu ya."


"Om, jawab dulu pertanyaan terakhirku. Om Alarick akan menjadi papa kami, artinya Om cinta Mama kan?" tanya Mirel sambil bertopang dagu.


Wajah Ravella memerah seketika. Ia tidak menyangka Mirel yang masih kecil bisa melemparkan pertanyaan seperti itu kepada Alarick.


"Mirel, pertanyaanmu itu tidak sopan," tegur Ravella. Kemudian ia beralih memelototi Alarick. Ravella kesal karena Alarick memberitahukan rencana pernikahan mereka kepada anak-anaknya tanpa seizinnya terlebih dulu.


"Om belum bisa menjawab sebelum Mama kalian yang mengatakan duluan. Jangan lupa habiskan sarapan kalian sebelum berangkat sekolah," ujar Alarick melenggang pergi.


"Ma, aku senang Om Alarick akan jadi papaku. Belikan aku gaun princess warna pink untuk pesta pernikahan Mama."


"Aku juga mau dibelikan jas yang warnanya putih sebelum Mama menikah hari Minggu," tambah Marco.


"Marco, Mirel, Mama belum tahu kapan akan menikah dengan Om Alarick. Tanggalnya belum ditentukan. Lebih baik kalian habiskan roti dan susunya. Mobil jemputan kalian sebentar lagi datang."


"Bu Ravella mau menikah dengan Tuan Alarick? Wah, saya ikut bahagia," tanya Mbak Sari ikut-ikutan nimbrung. Ia baru saja selesai mencuci piring dan tanpa sengaja mendengar percakapan Ravella dengan si kembar.


"Kalian jangan percaya begitu saja pada Om Alarick. Nanti Mama akan pastikan tanggalnya."


Dari depan rumah terdengar suara deru mobil berhenti, pertanda jemputan Marco dan Mirel sudah datang. Ravella bermaksud mengantarkan kedua anaknya. Namun mendadak Alarick muncul dan mengambil alih.


"Ayo, Om yang akan mengantar kalian ke mobil."


"Oke, Om!" seru Marco dan Mirel bersamaan. Alarick menggandeng tangan Marco dan Mirel seolah-olah ia telah siap mengambil peran sebagai ayah. Ravella berdecih kesal karena kedua anaknya tidak lagi menghiraukan dirinya. Mereka malah terlihat akrab dengan Alarick.


Sesudah Marco dan Mirel berangkat, Alarick masuk kembali ke rumah. Kegiatannya pagi ini begitu menyenangkan. Ternyata berlatih menjadi suami sekaligus ayah tidaklah terlalu buruk seperti yang ada di pikirannya selama ini.

__ADS_1


"Kenapa wajah Ibu cemberut? Tidak suka saya dekat dengan kedua anak Ibu? Ibu cemburu?" tanya Alarick memperhatikan ekspresi Ravella.


"Siapa yang cemburu? Marco dan Mirel tidak mungkin lebih dekat dengan orang lain daripada aku."


"Lalu kenapa bibir Ibu maju ke depan?"


"Rick, seharusnya kamu tidak perlu memberitahu Marco dan Mirel tentang pernikahan kita."


"Kenapa tidak boleh? Bukankah Ibu yang ingin supaya kita menikah secepat mungkin? Kalau Ibu mau menunda juga tidak apa-apa. Tapi jangan menangis bila anak Ibu diambil oleh ayahnya. Firasat saya mengatakan pria itu akan datang lagi untuk menemui Ibu."


Ravella terdiam. Apa yang dikatakan Alarick memang benar. Ia harus melaksanakan pernikahan dalam waktu dekat sebelum pihak pengadilan memanggilnya.


"Rick, apa bisa kita menikah besok?"


"Saya rasa tidak bisa. Besok pagi-pagi sekali saya akan pulang ke rumah orang tua saya untuk mengurus surat dan perjanjian kontrak pernikahan. Jadi kita baru bisa menikah di hari Minggu. Untuk lokasi, penghulu, dan saksi, saya yang akan menentukan. Tugas Ibu adalah menyiapkan diri sendiri lalu mengajak Marco dan Mirel."


"Kamu yang akan mengurus segalanya?"


"Betul, Ibu terima beres saja."


Ravella menundukkan wajahnya karena merasa tidak enak hati. Alarick sangat totalitas dalam memberikan pertolongan. Padahal tadi ia sempat marah dan merutuki lelaki itu. Sekarang ia akan menebus kesalahannya dengan bersikap lembut dan menuruti perkataan Alarick.


"Jangan terlalu mengagumi saya, Bu. Saya memang dilahirkan sebagai laki-laki baik hati sejak lahir. Tapi kali ini saya mau minta sesuatu pada Ibu sebagai balasan."


Melihat Alarick maju mendekat, Ravella mundur ke belakang. Ia terpaksa merapat pada dinding karena tidak ada ruang lagi untuk menghindar dari Alarick. Alarick pun merentangkan kedua tangannya untuk mengurung Ravella. Ia mengulum senyum melihat atasannya yang cantik kini terlihat pasrah di dalam kuasanya.


"Kamu...mau apa, Rick? Masih ada Mbak Sari di rumah, nanti dia lihat," ucap Ravella gugup.


"Lihat juga tidak masalah. Dia pasti maklum karena kita akan menikah."


Ravella memejamkan mata saat Alarick mendekatkan bibirnya. Jantungnya seraya melompat-lompat di dalam sana. Ini akan menjadi ciuman pertamanya dengan seorang pria. Namun setelah beberapa detik, Alarick ternyata tidak melakukan apapun. Ia justru merasakan tangan pria itu menyingkirkan anak rambutnya yang menutupi dahi.


"Saya cuma ingin merapikan rambut Ibu yang berantakan. Lebih baik Ibu berdandan dan ganti baju. Sebelum kita ke kantor, Ibu harus menemani saya dulu pulang ke kos untuk berganti baju kerja."


Alarick pun menjauh lalu berjalan dengan santai ke ruang tengah. Ia puas karena berhasil mempermainkan perasaan Ravella. Sekarang ia bertambah yakin bila Ravella belum berpengalaman dalam hal bercinta.


"Jangan sebut aku Alarick kalau aku tidak bisa menaklukkan wanita. Tunggu saja sampai kita menikah. Aku akan membuatmu menginginkan aku lebih dulu, Ravella,"


gumam Alarick tersenyum simpul.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2