
"Rick, apa yang kamu katakan pada Steven?" tanya Ravella cemas. Ia khawatir Alarick bertengkar dengan Steven karena membela dirinya.
"Saya hanya memberinya nasehat supaya tidak menyombongkan kekayaan. Harta bisa saja habis dalam semalam jika Yang Di Atas mengambilnya," ucap Alarick sembari memakai helm.
Ravella terkesiap mendengar ucapan Alarick yang sangat bijaksana. Tak disangka di balik sikapnya yang cuek, konyol, dan over percaya diri tenyata Alarick berpikiran dewasa. Semakin lama mengenal Alarick, Ravella merasa banyak sisi lain dari pria itu yang belum diketahuinya. Terkadang ia bahkan merasa sosok Alarick bukanlah seperti yang terlihat.
"Bengong lagi. Kalau mau mengagumi saya jangan disini. Kita pulang dulu ke rumah, setelah itu Ibu bebas mengekspresikan rasa kagum kepada saya. Saya tidak akan menolak."
"Isshhh, kamu benar-benar...." ucap Ravella mencubit lengan Alarick. Bisa-bisanya lelaki ini bercanda di saat yang tidak tepat.
"Benar-benar ganteng dan baik hati. Saya tahu itu. Tapi boleh tidak saya minta dicubit lagi?" seloroh Alarick.
Ravella pura-pura melotot tapi sebenarnya ia tersenyum dalam hati. Berada di dekat Alarick selalu bisa membuatnya tenang dan terhibur. Pria ini telah memberikan warna tersendiri dalam hidupnya yang sepi dan monoton. Sudah saatnya dia harus menarik anggapan miring yang selama ini dia sematkan kepada para lelaki.
Alarick mengantarkan Ravella sampai ke depan rumahnya tapi tidak ikut masuk.
"Bu, saya akan langsung pulang ke kos. Besok saya akan mengurus beberapa hal di Jakarta. Hari Minggu saya akan kembali dan kita akan melangsungkan pernikahan."
Ravella menatap wajah Alarick. Entah mengapa dia merasa keberatan bila Alarick pergi meninggalkannya. Mungkinkah dia sudah mulai ketergantungan dengan pria ini?
"Apa kamu sudah berpikir ulang, Rick? Kamu tidak menyesal menikah kontrak denganku? Jika kamu berubah pikiran, aku tidak akan memaksa," tanya Ravella merasa bersalah.
"Saya selalu memegang janji, Bu. Sekali mengambil keputusan, pantang bagi saya untuk menariknya kembali."
Mata Ravella berkaca-kaca. Baru sekali ini dia mendapatkan pertolongan yang tulus dari seseorang. Padahal dia tak memiliki apa-apa untuk bisa membalasnya.
"Rick, aku minta maaf karena selalu merepotkanmu. Seharusnya aku tidak melibatkanmu dalam persoalanku ini," ucap Ravella tersedu. Ia tidak kuat lagi menahan kesedihannya di hadapan Alarick.
Melihat Ravella menangis, Alarick turun dari motornya. Ia mengusap air mata wanita itu dengan lembut.
"Sudah, Bu, calon pengantin tidak boleh menangis. Kalau mata Ibu bengkak, nanti tidak kelihatan cantik saat difoto," ucap Alarick tersenyum.
Ravella tidak mampu berkata-kata. Ia hanya mengangguk lemah sambil berusaha menghentikan tangisnya.
"Saya pasti kembali untuk menjemput Ibu. Tunggu saya di rumah dan jangan kemana-mana."
"Cup!"
Ravella terkejut karena Alarick mendadak mengecup dahinya. Alarick menyunggingkan senyum lalu naik ke atas motor. Kemudian lelaki itu melesatkan motornya ke jalan, meninggalkan Ravella yang masih berdiri mematung di tempatnya.
"Kenapa aku berdebar-debar seperti ini? Aku tidak boleh terbawa perasaan karena cepat atau lambat Alarick akan pergi dari hidupku,"
batin Ravella.
...****************...
Setibanya di kos, Alarick mandi lalu menelpon Pak Sam, supir keluarga Adhiyaksa.
"Pak Sam, besok jemput saya di kos jam tujuh pagi."
"Baik, Tuan Muda," jawab Pak Sam dari balik telpon.
"Apa kakakku sudah pulang dari kantor?"
"Tuan Almero belum pulang. Yang ada di rumah hanya Nyonya dan Tuan Besar."
"Oke, terima kasih. Oh, ya, Pak, jangan beritahukan kepada orang tuaku kalau aku pulang pagi-pagi. Aku akan memberikan kejutan untuk mereka."
__ADS_1
Alarick menutup telponnya. Sekarang sudah jam delapan lewat tapi Almero belum juga pulang. Padahal ia ingin meminta tolong pada kakaknya itu.
"Lebih baik aku tunggu satu atau dua jam lagi, baru aku menelpon Kak Almero,"
gumam Alarick sembari berbaring di tempat tidurnya.
...****************...
Mobil Almero sudah memasuki gerbang Perumahan Belezia, tempat tinggal Aura.
"Berapa nomer rumahmu?" tanya Almero.
"Blok C4 nomer 30," jawab Aura.
Sambil menggenggam telapak tangannya, Aura terus memanjatkan doa. Ia berharap tante dan ayahnya akan menerima keputusannya untuk menikah dengan Almero. Ia sadar pernikahan dadakan ini terkesan tidak masuk akal. Terlebih usianya dan Almero terpaut cukup jauh. Namun hanya ini jalan terbaik baginya untuk membalas budi Marion, yaitu dengan menemani dan menjaga Almero.
"Betul ini rumahmu?" tanya Almero menunjuk rumah paling besar di posisi hoek.
Aura mengangguk. Ia turun lebih dulu disusul oleh Almero di belakangnya. Mereka terkejut karena Diva dan Tuan Dewa sudah menanti di ambang pintu.
"Aura, akhirnya kamu pulang juga," ucap Diva langsung memeluk erat keponakannya. Sementara Tuan Dewa memandang pria yang berdiri di samping putrinya. Dahinya berkerut dalam ketika memperhatikan wajah Almero.
"Selamat malam, Tuan, Nyonya, saya Almero," ucap Almero memperkenalkan diri.
"Tunggu, kamu kekasih Marion kan?" tanya Tuan Dewa. Ia teringat akan peristiwa menghebohkan yang terjadi di rumah sakit.
Spontan Diva melepaskan pelukannya dan ikut menatap Almero.
"Iya, Kak, dia adalah pria yang berteriak-teriak di depan ruang operasi Aura. Untuk apa kamu kesini? Apa kamu berniat mencelakai Aura dengan mengajaknya pergi sampai malam?" tanya Diva dengan nada tinggi.
Aura yang mendengar percakapan itu sangat terkejut. Dia tidak menyangka bahwa pernah terjadi insiden selama dirinya menjalani operasi. Dan insiden tersebut melibatkan Almero Adhiyaksa.
"Pa, Tante, sebaiknya kita masuk ke dalam. Tidak baik bila kita bicara di luar," ucap Aura.
"Aura, tapi pria ini membencimu. Tante tidak akan mengizinkannya masuk rumah kita," potong Diva.
"Tidak, Tante, Tuan Almero sangat baik padaku. Tolong biarkan dia masuk karena ada yang ingin kami bicarakan," ucap Aura dengan tatapan memohon.
"Diva, Aura benar. Kita bicara di dalam saja," ucap Tuan Dewa.
Melihat ekspresi Aura yang memohon padanya, Diva akhirnya melunak. Ia membiarkan Almero masuk dan duduk di ruang tamu.
"Maafkan saya, Tuan, Nyonya. Saat itu saya sangat terpukul dengan kepergian Marion yang tiba-tiba. Karenanya saya lepas kontrol dan membuat keributan di rumah sakit. Tapi sekarang saya sadar bahwa perbuatan saya keliru. Seharusnya saya bersyukur karena Marion telah berbuat kebaikan dengan mendonorkan jantungnya," jelas Almero.
"Dari mana kamu tahu kalau Aura yang menerima jantung Marion?" tanya Diva sinis.
"Dari Aura, Nyonya. Dia yang membantu saya mencari data di Yayasan Peduli Jantung."
Tuan Dewa dan Diva saling berpandangan. Mereka keheranan karena Aura membuka identitasnya sendiri kepada orang asing.
"Aura, apa itu benar?" tanya Tuan Dewa memastikan.
"I...iya, Pa."
"Kenapa kamu membawa Aura ke hotel? Apa saja yang kalian lakukan?" tanya Tuan Dewa menatap tajam Almero.
"Saya hanya makan malam bersama Aura, Tuan."
__ADS_1
"Lalu kenapa kamu berkata akan bertanggung-jawab dengan menikahi Aura?" timpal Diva.
"Sebenarnya saya sudah lama mencari Aura. Saya pernah berjanji akan menjaga wanita yang memiliki jantung Marion seumur hidup saya. Dan sekarang saya akan mewujudkan janji itu."
"Apa maksudmu?" tanya Diva.
"Seperti yang saya ucapkan di telpon, Nyonya. Saya akan menikahi Aura. Karena itu kedatangan saya kesini untuk memohon restu dari Anda berdua. Jika Anda setuju, besok saya akan datang bersama kedua orang tua saya untuk melamar Aura."
Tuan Dewa dan Diva tercengang seketika mendengar perkataan Almero. Mereka tidak menyangka lelaki ini nekat melamar Aura di pertemuan pertama mereka.
Tuan Dewa beralih memandang Aura yang tertunduk diam di kursinya.
"Aura, apa kamu tahu kalau Almero akan melamarmu?"
"Iya, Pa, aku tahu dan aku sudah menyetujuinya," jawab Aura gugup.
...****************...
Karena jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, Alarick mencoba menghubungi Almero. Namun kakaknya itu tidak kunjung menerima panggilannya.
"Apa Kak Almero masih sibuk?"
pikir Alarick keheranan.
Alarick memutuskan untuk mengemasi barang-barangnya sambil menunggu Almero menelpon balik. Beberapa menit kemudian ponselnya pun bergetar-getar.
"Halo, Kak. Apa Kakak masih di jalan?" tanya Alarick mendengar suara deru mobil Almero.
"Iya, Rick, aku baru dalam perjalanan pulang. Tadi aku tidak bisa menerima telponmu karena sedang terlibat pembicaraan penting. Apa besok kamu jadi pulang ke rumah?" tanya Almero.
"Jadi, Kak. Aku menelponmu malam ini karena ada kepentingan mendesak."
"Kepentingan apa? Kamu baik-baik saja kan di Bogor?"
"Aku ingin minta tolong kepada Kakak untuk menghubungi Tuan Rinto, pengacara kita. Minta dia menemuiku besok di kafe Pensy jam sepuluh."
"Kenapa kalian tidak bertemu di rumah saja?"
"Karena aku tidak mau Daddy dan Mommy mengetahui pertemuan kami."
"Memangnya apa yang akan kamu bahas dengan Tuan Rinto, Rick?"
"Surat perjanjian pranikah. Aku akan menikah kontrak dengan atasanku yang bernama Ravella hari Minggu nanti," jawab Alarick jujur.
"Hah?! Kamu serius, Rick? Kamu akan menikah kontrak dengan seorang wanita?" tanya Almero terperanjat.
"Aku serius, Kak. Besok akan kuceritakan detailnya saat kita bertemu."
"Tapi bagaimana mungkin ini terjadi secara bersamaan?"
"Bersamaan? Apa maksud Kakak?"
"Aku...juga berencana menikah di hari yang sama denganmu," balas Almero.
**Bersambung
Like, komen, vote**
__ADS_1