
"Sekali lagi saya minta maaf, Tuan. Saya sedang menerima telpon dari atasan saya," ucap Ravella tidak enak hati. Karena panggilan dari Pak Tian masih tersambung, manajernya itu bisa mendengar percakapan Ravella.
"Vel, ada apa disitu? Kamu bicara dengan siapa?" tanya Pak Tian penasaran.
"Saya menabrak seseorang, Pak."
"Kalau begitu kita bicara lagi kalau saya sudah tiba di kantor."
Ravella menutup telponnya lalu masuk ke dalam lift. Sedangkan pria berkaca mata itu berjalan ke arah yang berlawanan. Ketika sudah sampai di lobi, Ravella bergegas menuju ke pos security.
"Pak Danang, belum ada staf bernama Alarick yang mencari saya?"
"Loh dia sudah naik ke lantai tiga, Mbak. Saya baru akan menelpon Mbak Ravella."
"Hah, seperti apa ciri-cirinya, Pak? Kok saya tidak bertemu dengannya?" tanya Ravella keheranan.
"Orangnya tinggi, pakai kemeja warna biru dan kaca mata."
Ravella terkejut mendengar ciri-ciri yang disebutkan Pak Danang. Ternyata pria yang ditabraknya di lift tadi adalah Alarick, staf baru yang dia tunggu-tunggu. Oh, betapa malunya dia karena telah bertindak ceroboh di depan bawahan sendiri.
"Terima kasih, Pak, saya akan kembali ke atas."
Setengah berlari, Ravella menuju lift untuk kembali ke lantai tiga. Ia tidak menemukan keberadaan Alarick. Ravella yakin pria itu sudah berada di ruangan divisi marketing.
Ravella mempercepat langkahnya memasuki ruang kerjanya. Begitu masuk, Erin, staf administrasi penjualan segera menghampiri Ravella.
"Mbak, staf baru sudah datang. Dia duduk di meja belakang yang kosong."
"Iya, terima kasih, Rin."
Dari jarak pandangnya, Ravella melihat Alarick sedang duduk sambil memainkan ponsel. Ravella menaikkan dagunya sebelum mendekati lelaki itu. Inilah cara yang biasa dilakukannya untuk menaikkan tingkat kepercayaan diri. Terlebih ia harus bisa mengatasi rasa malu akibat insiden yang tidak disengaja tadi.
Ravella berdehem sebentar sebelum bicara dengan Alarick.
"Ehemm, selamat pagi."
"Selamat pagi," balas Alarick beralih dari layar ponselnya. Saat mengangkat kepala, ia terkejut karena wanita yang menabraknya kini ada di hadapannya. Ternyata wanita ini juga bekerja di divisi marketing.
"Perkenalkan aku Ravella, supervisor marketing. Aku yang akan membimbingmu selama masa percobaan," ucap Ravella mengulurkan tangannya.
Alarick meletakkan ponselnya di meja lalu berdiri dari kursi. Ia menaikkan kedua alis saat Ravella memperkenalkan diri. Jadi wanita inilah yang akan menjadi atasannya di kantor. Sungguh tidak dapat dipercaya. Kelakuannya saja ceroboh, bagaimana ia mampu memimpin anak buahnya.
__ADS_1
Dilihat dari wajahnya, wanita ini memang terbilang cantik. Tapi kecantikan saja tidak cukup dijadikan modal untuk bekerja apalagi menjadi seorang pemimpin. Karena itu, Alarick memutuskan untuk mengetes kemampuan atasannya ini.
"Saya Alarick, panggil saja Rick," ucap Alarick menerima uluran tangan Ravella.
"Sudah jam delapan lewat. Kita ke depan sekarang untuk mengikuti briefing. Lain kali datanglah lebih pagi supaya kita tidak terlambat memulai briefing. Team marketing harus rajin dan tepat waktu."
"Iya, Bu," jawab Alarick singkat. Wanita ini sudah menceramahi dirinya di hari pertama ia menginjakkan kaki di kantor. Padahal ia kesiangan gara-gara mengubah gaya rambut sekaligus berlatih bagaimana bicara dengan logat daerah.
"*A*kan kulihat sejauh mana kemampuan wanita ini. Kalau dia gagal dalam membimbingku, aku akan menggesernya dari jabatan supervisor,"
pikir Alarick mengikuti Ravella dari belakang.
Ravella berdiri di depan semua staf. Ia memimpin briefing pagi dengan membangkitkan semangat anak buahnya. Mereka pun meneriakkan yel-yel motivasi sambil menyebutkan target yang harus dicapai divisi marketing.
Dari tempatnya berdiri, Alarick memperhatikan bagaimana Ravella memberikan pengarahan kepada stafnya. Harus diakui gaya bicara Ravella cukup lugas dan terarah. Namun belum tentu cara kerjanya sebagus ucapannya.
Ravella menutup briefing itu dengan doa bersama. Lalu mereka semua maju untuk menempelkan tangan satu sama lain.
"Tetap semangat team marketing Cemerlang!" seru Ravella.
"Yes!!!" jawab mereka menaikkan tangan ke udara.
Usai briefing, masing-masing staf berpencar sesuai tugas mereka. Ada yang kembali ke meja kerjanya, ada pula yang langsung pergi ke lapangan. Sementara Ravella menghampiri Alarick dengan membawa setumpuk dokumen di tangannya.
"Iya, Bu, saya mengerti."
"Aku akan menunjukkan website perusahaan kita. Pertama, perhatikan dulu password komputer yang akan kamu pakai. Nanti kamu bisa menggantinya sendiri."
Ravella membuka komputer itu dengan memunggungi Alarick, sehingga lelaki itu tidak bisa melihat apa-apa.
"Maaf, Bu, bisa geser sedikit. Saya tidak bisa membaca passwordnya."
"Oh, iya, sebentar." Ravella menggeser tubuhnya sementara Alarick mencodongkan badan ke depan. Tanpa sengaja rambut Ravella yang panjang berkibar mengenai wajah Alarick.
"Untung saja rambutnya harum lavender," gumam Alarick sedikit kesal.
"Kenapa, Rick?" tanya Ravella menoleh sebentar.
"Saya ingat tanaman lavender di rumah saya. Saya menanamnya supaya tidak digigit nyamuk," jawab Alarick mengalihkan pembicaraan. Ia tersenyum lebar agar wajahnya terlihat polos.
"Ini website perusahaan kita. Kamu bisa buka dan pelajari dulu. Kalau ada yang belum jelas jangan sungkan untuk bertanya. Setelah makan siang, aku akan mengajakmu ke outlet kita di Supermarket Breeze."
__ADS_1
"Tapi saya tidak membawa kendaraan," kata Alarick berterus terang. Motor yang dia pesan belum datang, sehingga ia terpaksa naik ojek untuk berangkat ke kantor.
"Nanti kamu naik motorku saja."
"Kita berboncengan, Bu?"
"Iya. Aku pergi dulu," ucap Ravella meninggalkan Alarick sendirian di mejanya.
Alarick memulai pekerjaannya dengan membaca visi dan misi perusahaan. Namun mendadak ia memikirkan perkataan Ravella.
"Alarick Adhiyaksa akan menumpang motor seorang wanita? Benar-benar memalukan,"
pikir Alarick mengasihani diri sendiri.
...****************...
Hampir semalaman, Ivyna sulit sekali memejamkan mata. Namun Keano malah membangunkannya pada pukul enam pagi. Pria itu juga memaksanya untuk berdandan menjadi pengantin.
"Cepat pakai ini dan persiapkan dirimu. Pukul delapan kita ke rumah keluargamu." Keano menunjuk ke gaun pengantin yang terpajang di ruang kerja Ivyna.
"Aku harus pulang ke rumahku dengan memakai gaun pengantin? Kedua orang tuaku pasti akan terkejut," tolak Ivyna.
"Justru kalau kamu sudah siap menjadi pengantin, ayahmu akan langsung menyetujui pernikahan kita. Aku tunggu di luar," kata Keano berlalu dari kamar.
Ivyna melayangkan tinju ke udara. Ingin sekali dia memukul pria gila ini sampai pingsan. Sayangnya ia belum punya keberanian untuk melakukannya. Ia juga tidak bisa menghubungi siapapun karena ponselnya disita oleh Keano. Begitu pula sambungan telpon yang sudah diputus oleh pria itu.
Sambil berdesis, Ivyna menyambar gaunnya lalu pergi ke ruang make up. Ia sengaja mengunci pintu agar Keano tidak bisa masuk. Ivyna pun duduk menghadap ke cermin sambil memandangi semua peralatan make upnya. Dia yang terbiasa merias calon pengantin kini harus merias dirinya sendiri. Dan lebih parahnya dia akan menikahi seorang pria abnormal.
"Mungkin sekarang kamu menang, tapi setelah kita menikah aku akan membalas perbuatanmu. Aku pastikan kamu akan segera menceraikan aku,"
gumam Ivyna.
Sambil menahan emosi, Ivyna merias diri dengan polesan make up natural. Kemudian dia menyanggul sebagian rambutnya ke atas dan menyematkan tiara kecil. Terakhir ia mengenakan gaun panjang berwarna putih yang dirancangnya khusus untuk acara wedding expo.
"Ivy, cepat keluar. Kita berangkat sekarang!" teriak Keano dari balik pintu.
"Tukang perintah dan pemarah! Pria ini tidak punya sifat baik sama sekali,"
geram Ivyna melangkah ke pintu. Ia hampir saja tersandung bagian bawah gaunnya karena berjalan terlalu cepat.
"Apa saja yang kamu lakukan sampai...."
__ADS_1
Keano menghentikan ucapannya saat melihat penampilan Ivyna. Kemarahannya langsung mereda tatkala melihat betapa cantiknya wanita yang akan menjadi istrinya.
BERSAMBUNG