
Sadar dirinya bertatapan dengan pria asing, Aura menundukkan kepalanya. Ia pun duduk di meja dan segera membuka buku menu. Setelah ini dia tidak akan menoleh sedikitpun ke meja yang dihuni para lelaki dewasa tersebut. Aura juga bingung kenapa dia bisa berdebar-debar seperti ini.
"Saya pesan ravioli dan panini," kata Aura dengan cepat.
"Saya pesan risotto," sambung Diva.
Sambil menunggu makanannya datang, Aura membuka bagian notes di ponselnya. Ia ingin menuliskan beberapa kalimat untuk menetralisir perasaannya yang tidak menentu.
"Cinta pada pandangan pertama? Apa itu mungkin ataukah hanya ilusi yang terjadi di kisah novel?"
tulis Aura singkat.
"Aura, kenapa diam saja? Apa kamu sakit?" tanya Diva khawatir.
Aura menggeleng pelan.
"Aku sedang menulis, Tante. Di meja sebelah sangat berisik," ucap Aura memelankan suaranya.
"Iya, sepertinya mereka sedang meeting."
Tak lama pelayan datang untuk menyajikan makanan yang mereka pesan. Melihat ravioli, mata Aura berbinar. Dia segera mencicipi makanan itu dengan penuh semangat.
Diva terharu melihat Aura makan dengan lahap setelah sekian lama gadis itu enggan menyentuh makanan. Memang selama masa pengobatan, Aura harus menjalani diet sehat dan memiliki sejumlah pantangan makanan.
Di seberang meja, Almero dan para rekan bisnisnya sedang menikmati hidangan. Namun Almero malah terpikir tentang gadis muda yang ada di sebelahnya. Entah mengapa ia tertarik untuk menatap gadis itu. Dan saat mereka bertukar pandang tadi, ia merasa sudah mengenal gadis itu sejak lama.
Di sela perbincangan ringannya, Almero mencuri pandang ke arah gadis itu. Jika dilihat dari usianya, gadis itu seperti anak kuliahan semester awal atau baru lulus dari bangku SMU. Mustahil mereka pernah bertemu sebelumnya.
Almero melihat gadis itu begitu bersemangat menyantap ravioli di piringnya, seperti orang yang belum makan selama beberapa hari.
"*R*avioli? Kenapa makanan yang dipesannya sama dengan kesukaan Marion?"
pikir Almero mengerutkan dahi. Ia ingat betul bahwa Marion selalu memesan ravioli tiap kali mereka ke restoran Italia.
Tapi Almero segera menepis pikirannya. Dia pasti terlalu merindukan Marion sehingga berkhayal yang tidak-tidak.
"Tuan Wilman, saya permisi ke toilet sebentar," ujar Almero. Ia merasa perlu mencuci wajahnya agar segar kembali.
"Silakan Tuan Almero."
__ADS_1
Di sisi lain, Aura sudah selesai makan. Ia terlihat puas dengan semua hidangan yang dipesannya.
"Raviolinya enak sekali, Tante."
"Kalau kamu suka, hari Minggu kita makan kesini lagi bersama papamu."
"Iya, aku mau. Tante, aku ke toilet dulu ya," kata Aura beranjak dari mejanya.
Aura berbelok ke toilet bagian wanita. Namun kedua toilet yang tersedia disana sedang dipakai. Lebih parahnya di depan setiap pintu sudah ada orang yang mengantri.
"Duh, bagaimana ini? Apa aku ke toilet pria saja?"
Karena sudah tidak tahan untuk buang air kecil, Aura nekat menuju ke toilet pria. Ia merasa lega tatkala melihat salah satu pintu masih terbuka. Dengan langkah cepat, Aura hendak memasuki toilet itu sebelum ada yang melihatnya. Namun seorang pria mendadak keluar dari toilet di sebelahnya. Aura dan pria itu sama-sama terperanjat.
"Nona salah masuk toilet. Ini toilet pria. Untuk wanita letaknya di sebelah kanan," ujar Almero menunjukkan arah dengan jemarinya.
Pipi Aura merona karena malu. Ia sudah kepergok memasuki area yang terlarang untuk wanita. Terlebih pria di hadapannya ini adalah pria yang bersitatap dengannya di meja tadi.
"Ma...af, saya tidak membaca petunjuknya, Om," jawab Aura gugup.
Almero menaikkan kedua alisnya ketika mendengar gadis itu memanggilnya "Om". Jelas-jelas usianya belum terlalu tua untuk mendapat panggilan semacam itu. Ulang tahunnya yang ketiga puluh bahkan baru berlangsung lima bulan lagi.
"Om, boleh saya masuk ke dalam? Saya tidak tahan lagi." Aura memutuskan untuk membuang rasa malu demi bisa masuk ke toilet.
"Terserah kamu kalau ingin melanggar peraturan," jawab Almero berlalu. Namun ia merasakan genggaman tangan Aura pada lengannya.
"Om, bisa tunggu saya di depan? Saya takut ada pria lain yang melihat saya."
Aura menatap Almero dengan memelas seolah sangat membutuhkan perlindungan pria itu. Dan entah mengapa Almero merasa tidak tega untuk menolak permintaannya.
"Ya sudah, masuk saja tapi jangan terlalu lama. Aku ditunggu oleh kolega bisnisku," jawab Almero sedikit kesal.
Sambil berdiri di depan pintu, Almero tidak habis pikir dengan dirinya sendiri. Mengapa ia mau disuruh oleh gadis ingusan bahkan rela disamakan dengan om-om. Mungkinkah mentalnya mulai terganggu sehingga ia mudah dimanfaatkan oleh orang lain?
Sementara di dalam Aura menyandarkan kepalanya di dinding. Sebenarnya ia sudah selesai tapi belum berani keluar dari toilet. Aura masih menetralisir degup jantungnya yang tak beraturan ketika berdekatan dengan Almero. Baru pertama kali dia segugup ini di depan seorang pria dewasa.
"*B*odoh, bodoh! Kenapa aku malah menyuruhnya menunggui aku di depan pintu? Lagipula kenapa aku jadi salah tingkah sendiri? Pria itu usianya jauh di atasku,"
gumam Aura menyesali sikapnya.
__ADS_1
"Sedang apa kamu di dalam? Cepat, aku harus kembali!" teriak Almero.
"Iya, Om," jawab Aura bergegas membuka pintu.
"Terima kasih sudah membantu saya," lanjut Aura seraya menundukkan kepala. Ia ingin buru-buru menghindar dari Almero tapi pria itu menghadang langkahnya.
"Tunggu, siapa namamu? Dan apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Almero menaikkan dagu Aura supaya mata mereka sejajar. Dalam beberapa detik, mereka sama-sama merasakan sebuah keterikatan yang sulit untuk dijelaskan.
"Eh, nama saya Aura. Kita belum pernah bertemu, Om. Maaf, saya harus pulang karena sudah ditunggu Tante saya."
Almero pun melepaskan gadis polos itu dan membiarkannya pergi. Tanpa berpaling lagi, Aura mengambil langkah seribu untuk kembali ke mejanya.
"Aura, lama sekali kamu di toilet. Tante hampir saja menyusulmu karena khawatir."
"Antriannya panjang, Tante. Ayo kita pulang, aku ingin istirahat," jawab Aura terpaksa berbohong. Mustahil ia mengatakan kepada Diva bahwa ia baru saja berduaan dengan seorang pria di toilet.
"Iya, ayo," ucap Diva menggandeng tangan Aura.
...****************...
Alarick sampai lebih dulu daripada Ravella. Rumah Ravella bukan terletak di dalam cluster sehingga Alarick bisa masuk dengan mudah. Sebelum menghentikan motornya, Alarick meneliti lebih dulu nomor rumah itu. Setelah memastikan semuanya cocok dengan yang dituliskan Ravella, ia pun menekan bel di dekat pagar.
Tidak butuh waktu lama, pintu rumah Ravella dibuka dari dalam. Alarick terkejut karena yang keluar dari rumah itu adalah dua orang anak kecil yang berwajah mirip. Satu anak laki-laki dan satu lagi anak perempuan. Mereka memandang Alarick penuh selidik, seolah ingin memastikan apakah Alarick orang baik atau orang jahat.
"Om, siapa? Kenapa bisa pakai motor Mama kami?" tanya si anak laki-laki. Ia bicara dengan tegas kepada Alarick dari balik pagar.
Dari pertanyaan anak lelaki ini, Alarick baru paham jika mereka adalah anak kembar Ravella. Bila benar begitu, artinya Ravella melahirkan kedua anak ini di awal masa kuliahnya.
"Nama Om Alarick. Om adalah teman kerja Mama kalian. Tolong bukakan pagarnya ya, Om mau mengembalikan motor," pinta Alarick selembut mungkin.
"Teman kerja? Mama kami tidak pernah membawa teman kerjanya ke rumah. Jangan-jangan Om mau menculik kami," balas Marco tidak percaya.
"Om bukan orang jahat. Kalau tidak percaya telpon saja Mama kalian"
Mirel maju ke depan dan berbisik ke telinga Marco.
"Kak, coba suruh Om itu buka masker. Kita lihat seperti apa wajahnya. Siapa tahu dia pacar Mama."
Marco mengangguk lalu melakukan perintah adiknya.
__ADS_1
"Om boleh masuk asalkan buka dulu maskernya. Kami mau lihat apakah Om penjahat atau bukan," tandas Marco berkacak pinggang
Bersambung