
Ravella menghadap layar monitor sambil terus menggerakkan jemarinya di atas keyboard. Ia sedang berkonsentrasi penuh pada laporan penjualan bulanan yang dibuatnya. Ravella baru berhenti ketika salah satu staf menghampiri mejanya.
"Mbak, dipanggil Pak Tian sekarang ke ruangannya."
"Oh, iya Indri, terima kasih."
Ravella beranjak dari duduknya lalu berjalan menuju ke ruangan atasannya.
"Permisi, Pak."
"Silakan duduk, Vel. Ada hal penting yang mau saya sampaikan."
Pak Tian mencodongkan bahunya ke depan sambil menatap Ravella.
"Besok Senin akan ada staf baru yang bergabung dengan divisi kita."
Sontak Ravella menaikkan kedua alisnya.
"Staf baru, Pak? Kenapa mendadak sekali? Lagipula jumlah staf kita yang sekarang sudah lebih dari cukup," tanya Ravella terkejut.
"Staf ini adalah rekomendasi dari manajer HRD. Rencananya dia akan menggantikan Iksan. Bulan depan Iksan akan dipindahkan ke cabang Bandung."
Ravella kembali dibuat keheranan dengan keputusan ini. Biasanya sang manajer akan memberitahunya jauh-jauh hari sebelum kedatangan staf baru. Tapi kali ini semuanya terkesan mendadak.
"Besok saat dia datang, berikan job description dan katalog produk. Dia harus menghafal dan menguasai produk dulu sebelum terjun ke lapangan. Setelah itu ajak dia berkeliling ke semua outlet kita. Saya percayakan staf baru ini kepadamu, Ravella," ucap Pak Tian.
"Baik, Pak, saya akan mengajarinya. Boleh saya tahu profilnya, Pak? Berapa usianya, lulusan universitas mana dan apakah dia sudah punya pengalaman kerja atau belum," jawab Ravella menyanggupi. Sudah menjadi kebiasaan Ravella untuk mengenali latar belakang stafnya agar kerja sama mereka kelak berjalan dengan lancar.
Pak Tian langsung menggaruk dagunya yang tidak gatal. Mana mungkin ia mengatakan bahwa staf baru itu adalah lulusan luar negeri dengan dua gelar sarjana sekaligus.
"Namanya Alarick. Usianya satu tahun di bawahmu. Dia lulusan baru, belum ada pengalaman kerja."
Ravella mengernyitkan dahi. Jika usia staf baru ini hampir sama dengannya kenapa dia baru lulus dari universitas? Mungkinkah dia pemalas sehingga terlalu lama menjalani pendidikannya? Entahlah, yang jelas itu bukanlah urusannya. Tugasnya kini hanyalah mendidik dan mengawasi staf itu sampai dia bisa bekerja dengan baik.
...****************...
Alarick membawa serta dua koper besar untuk dibawanya ke Bogor. Sebelum masuk ke mobil, ia berpelukan lagi dengan orang tuanya dan kedua kakaknya.
"Rick, kamu baru saja pulang dan sekarang akan meninggalkan Mommy lagi," ucap Cleantha sambil memeluk putra bungsunya erat-erat seolah enggan untuk berpisah.
Alarick mengecup kedua pipi Cleantha.
"Mom, Bogor dekat sekali dengan Jakarta. Aku bisa pulang setiap akhir pekan. Jangan sedih, nanti timbul kerutan di wajah cantik Mommy."
"Kamu masih saja pintar merayu," jawab Cleantha tersenyum.
__ADS_1
"Rick, bekerjalah dengan sungguh-sungguh. Jangan sia-siakan kesempatan yang diberikan Devano," pesan Raja kepada putranya.
"Pasti, Dad. Jaga kesehatan Daddy."
Alarick beralih memeluk Almero. Sebenarnya ia tidak tega meninggalkan kakaknya yang masih dalam kondisi berduka. Namun Almero justru mendorongnya untuk segera berangkat mengejar cita-cita.
"Kak, jika butuh bantuanku jangan segan menelponku. Aku pasti akan pulang untuk membantumu," ucap Alarick memeluk Almero.
"Jangan khawatirkan aku, Rick. Konsentrasi saja pada pekerjaan barumu."
Cukup lama Alarick memeluk Almero. Ia bisa merasakan bahwa sang kakak masih menderita karena kehilangan cintanya. Tapi sebagai putra sulung di keluarga Adhiyaksa, Almero berusaha menunjukkan ketegarannya di hadapan semua orang.
Sementara Ivyna yang berdiri di sebelah Almero berpura-pura cemberut karena Alarick tidak kunjung memeluknya.
"Kamu lupa padaku?"
"Tentu saja tidak, Cantik. Nanti saat aku tidak ada, jangan terlalu merindukan aku," rayu Alarick.
Ivyna mendekat ke telinga Alarick dan membisikkan sesuatu.
"Semoga sukses dalam penyamaranmu. Ingatlah untuk memakai kacamata dan menyisir rambutmu sesuai yang kuajarkan."
Alarick mengedipkan matanya sambil tersenyum kepada Ivyna. Berat rasanya untuk meninggalkan keluarga yang sangat disayanginya. Namun ia harus melakukan ini demi perkembangan dirinya di masa depan.
Sebelum pergi, Alarick melambaikan tangannya sekali lagi lewat jendela mobil. Menatap satu per satu anggota keluarganya sebelum akhirnya mobilnya melewati gerbang kediaman Adhiyaksa.
"Kamu yakin malam nanti akan menginap sendirian di salon, Ivy? Apa tidak berbahaya?" tanya Cleantha.
"Tidak, Mom. Aku akan mengunci semua pintu. Doakan acaraku berjalan lancar."
"Pasti, Sayang," jawab Cleantha membelai rambut Ivyna.
Ivyna beralih memegang kedua tangan Almero.
"Al, kamu benar-benar tidak mau datang untuk melihat wedding expo?
"Maafkan aku, Ivy. Aku belum bisa."
Bagi Almero melihat gaun pengantin dan segala pernak-perniknya hanya akan membuat dirinya kembali terpuruk dalam keputusasaan.
"Tidak apa-apa, aku mengerti perasaanmu. Setelah acaraku selesai, aku akan mengajakmu berlibur ke Bali."
Usai memeluk Almero, Ivyna masuk ke dalam mobilnya. Kini yang masih tersisa bersama Cleantha dan Raja hanyalah Almero.
"Mom, Dad, aku ingin mengunjungi orang tua Marion sebentar."
__ADS_1
"Perlu Mommy temani?" tanya Cleantha.
"Tidak usah, Mom. Aku tidak akan lama."
"Baiklah, hati-hati."
Almero pun berlalu dengan mobilnya, meninggalkan Cleantha dan Raja. Cleantha hanya bisa memandangi kepergian anak-anaknya dengan tatapan nanar. Walaupun mereka sudah dewasa, tetap saja ia belum rela berpisah dari mereka. Bagi Cleantha, ketiga anaknya ibarat permata berharga yang harus selalu dijaga.
"Mereka semua pergi," gumam Cleantha sedih.
"Suatu hari kita memang harus melepaskan mereka, Sayang. Biarkan mereka menjalani kehidupan mereka sendiri. Meraih impiannya dan mendapatkan pasangan hidup. Tugas kita sebagai orang tua adalah mendoakan mereka," ucap Raja memeluk pinggang istrinya.
...****************...
Keano membuka setengah pintu kamar Eleanor. Putri kecilnya itu duduk menghadap cermin, sedangkan rambutnya sedang dikepang oleh pengasuhnya. Eleanor tampak begitu bahagia menjelang hari ulang tahunnya.
Keano berjalan mendekat lalu berjongkok di samping kursi Eleanor. Pengasuh Eleanor pun memasangkan alat bantu dengar ke telinga gadis kecil itu. Sejak lahir indera pendengaran Eleanor tidak berfungsi dengan baik. Ia juga mengalami kesulitan bicara, sehingga sedikit lamban dalam merespon ucapan ayahnya.
"El, you are so pretty today," puji Keano.
Eleanor menoleh lalu memeluk leher ayahnya.
"Dad...." ucapnya terbata. Ia membentuk simbol hati sebagai lambang kasih kepada ayahnya.
"Birth...day...Mom," lanjutnya dengan mata berbinar.
Keano mengangguk sambil mengecup lembut pucuk kepala putrinya.
"Hari ini Daddy akan membawa Mommy untukmu. Sekarang kita pergi ke Mall dulu untuk membeli baju princess."
Eleanor mengangguk senang sembari membentuk huruf "Yes" dengan bahasa isyarat.
"Dina, kalau El sudah selesai, antarkan dia ke mobil," titah Keano kepada pengasuh Eleanor.
"Iya, Tuan."
Keano buru-buru berjalan keluar dari kamar Eleanor karena mendapat panggilan dari anak buahnya.
"Tuan, kami sudah menemukan jejak Nadine dan suaminya. Apa kami harus menangkap mereka sekarang?"
"Tidak usah. Aku menerima Nadine sebagai calon istriku untuk penebusan hutang ayahnya. Setelah ini aku akan mengambil alih perusahaan keluarga mereka supaya mereka jatuh miskin."
"Lalu bagaimana dengan pernikahan Anda, Tuan?"
"Pernikahanku tetap akan terlaksana besok. Sekarang tugas kalian adalah mengikuti calon istriku, Ivyna Adhiyaksa. Aku akan menjemputnya malam ini," tukas Keano penuh keyakinan.
__ADS_1
**Bersambung
Jangan lupa tinggalkan like, komen, dan vote**