
Di dalam kantor, pak Budi menyuruh kedua anak itu untuk duduk dan mulai menanyakan mereka satu persatu.
"Ada apa ini?"Tanya pak Budi sembari menatap ke arah Lexa.
"Dia menjegal kaki saya pak padahal saya gak ada ganggu mereka, saya kan cuma jalan pengen nyari ruang guru."Jelas Lexa seraya meledek ke arah bocah lelaki itu yang hanya diam saja.
"Emang kamu ngapain ke ruang guru?" Tanya balik pak Budi.
"Waktu MOS, saya gak masuk pak. Jadi saya mau nanyak kalau saya di kelas mana pak." Jelas Lexa lagi.
"Oh oke, jadi kamu Axel. Kamu tahu kalau salah kan?"Tanya pak Budi kepada Axel.
"Ya pak."Jawab anak lelaki itu singkat.
"Ya sudah kali ini kamu saya maafin, dan Lexa kamu berada di kelas 7B ya, kalian boleh pergi dari sini."Jelas pak Budi, lantas kedua bocah itu mengucapkan terima kasih dan pergi meninggalkan sang guru seraya membuang muka satu sama lain.
Saat di luar ruangan, seketika Axel menarik tangan Lexa menjauhi kantor guru.
__ADS_1
"Ada apa lagi sih?"Tanya Lexa judes.
"Ingat ya, kali ini aku belum kalah. Masih kelas 7, males ngelawan anak kecil." Jawabnya seperti menyepeleh.
"Banyak cakap kamu deh, dah ah. Aku mau ke kelas." Lexa segera berbalik badan dan perlahan meninggalkan bocah lelaki itu menuju kelasnya.
Ternyata kelasnya tak jauh dari ruang guru, segeralah ia masuk ke dalam kelasnya dan duduk di kursi pilihannya, seketika bel berbunyi pertanda upacara akan segera di mulai. Ia langsung melangkahkan kaki untuk keluar menuju lapangan dan berbaris rapi bersama teman-teman barunya. Upacara dimulai dengan biasanya, masih banyak diantara anak-anak tak segan bercerita satu sama lain bahkan tak segan beberapa lainnya jongkok karena tak terlihat oleh sang guru. Yup…itulah yang terjadi dari zaman ke zaman.
Sesaat setelah upacara berakhir, semua siswa di giring untuk memasuki Aula mereka yang tampak besar dan cukup menampung satu sama lain karena di dalam akan diadakan pelantikan siswa baru serta perkenalan pemilik sekolah beserta stafnya dan pembagian raport. Setelah semua murid duduk di bangku yang telah disediakan, segeralah acara dimulai, Lexa sengaja mengambil kursi di pertengahan karena itu merupakan kursi yang strategis. Acara pun dimulai dengan diawali doa dan di akhiri doa.
"Lah, kamu kok gak masuk?" Tanya Lexa sembari menghampiri Axel.
"Pengen tahu banget sih kamu, mending sana masuk aja ke dalam." Jawab nya tanpa melihat ke arah Lexa.
"Ya, gak enak kalau ada yang lihat. Lagian kan ini juga acara kamu sih. Bukannya ini juga ada pembagian raport ya?" Ujar Lexa dengan wajah bingung.
"Pengen sih masuk ke dalam, tapi aku malu soalnya Papa aku di dalam. Aku gak bisa dapat 3 besar." Jawabnya seakan mereka telah dekat padahal baru beberapa menit yang lalu mereka bertengkar.
__ADS_1
"Ya ampun, lagian kan kamu udah usaha. Gak mungkinlah Papa kamu marah sama kamu, ayok masuk."
"Udahlah, kamu gak paham. Sana pergi, aku males ngomong sama anak kecil." Usirnya, lantas membuat Lexa geram namun ia berusaha menahan diri sehingga langsung melangkahkan kakinya untuk meninggalkan Axel.
"Hei, kamu mau kemana?" Tanya Axel yang membuat langkah kaki Lexa berhenti dan berbalik badan.
"Ke kamar mandi. Kenapa?mau ikut?" Canda Lexa.
"Ya gak lah, temenin aku ke kantin yok. Laper nih." Ajak Axel seakan mereka telah akrab.
"Gimana ya?kenapa gak ajak teman kamu yang lain?" Tanya balik Lexa yang masih ragu-ragu.
"Males ah, mereka kalau makan tuh banyak banget. Padahal aku yang laper karena gak sempat sarapan, eh malah mereka banyak makannya." Jelas Axel diikuti tawa kecil dari kedua bocah itu.
"Gimana, aku traktir deh. Mau gak?" Tanya balik Axel dengan wajah kasihannya.
"Emmm…..oke deh tapi sebentar ya." Mereka langsung berjalan bersama-sama menuju ke kantin secara diam-diam.
__ADS_1