
Alexa sudah bersiap ia berangkat menuju salah satu kantor ia datang lebih pagi dengan santai ia melipat kedua kakinya dan meminum teh hangat di ruangan itu
"wow wow, gede juga ya nyalii lu ke sini" ucap Sherina dia terkejut adanya Alexa sedang duduk di dalam ruangannya
"iyalah, gak perlu punya nyali gede juga gue bisa kok datengin lo, apalagi yang gue datangi cuma pelakor murahan" ucap Alexa dengan santainya,wajah sherina terlihat sedikit kesal namun ia tahan
"mau sampai kapan lo berkoar terus!!"
"hahahahah sampe viandi mikir gue yang pantas jadi istrinya" ucap sherina dengan percaya diri
"dan lo yakin dia milih lu, bukannya semua juga bilang kalo gue lebih cantik dari lu, lupaa yaa, oohh iyaa gue inget kayaknya bukan soal viandi doang yaa lu begini pasti soal sering di bandingkan kecantikan gue sama lu" ucap alexa dengan tenang dan tersenyum
"tapi gue lebih smart dari lu" ucap sherina yang mulai terpancing emosi
"Hahaha iya iyaa gue lupa lo lebih pinter dari gue saking pinter nya, sampe ga bisa mikir jernih atas semua kekonyolan lo ini, lo bikin berita kayak gini ga mikir yaa reputasi perusahaan bokap lo juga bakal jelek, lihat yaa gue juga gak bakal diam, dan asal lo tahu,seburuk apapun viandi pernah melakukan apapun sama lo dia tetap suami gue karena apa? dia yang milih gue buat nikah sama dia bukan gue yang mau lebih dulu, dan lo suatu saat orang akan tau lo yang licik dan pelakor sesungguhnya" ucap alexa dengan tatapan memburu.
"yaudah gini lo tanya suami lo itu dia lebih lo apa gue"
"hahahahaahah sher..sher.. konyol... pertanyaan bodoh"
"GUE SUKA VI, GUE MASIH CINTA SMA DIA"
"KALO MEMANG LO CINTA SAMA DIA KENAPA DULU LO NOLAK DIA!!!"
"GUE BINGUNG GUE MASIH BUTUH NILAI BAGUS SAAT ITU"
"ALAH BULSHIT BANGET LO SHER!!, jangan pernah ganggu rumah tangga gue dengan cara kotor lo itu" ucap alexa seraya menunjuk dada sherina ingin rasanya ia menampar kedua pipi sherina
"GUE HAMIL ANAK DIA!!!" Sherina berteriak pada Alexa, Alexa terdiam ia terkejut akan ucapan sherina
"hamil??"
"iyaa gue hamil makanya gue bikin kekacauan ini semua karena gue udah muak nutupin semua, viandi nyuruh gue buat diam, tapi gue ga bisa alexa" ucap sherina dengan berderai air mata
"bohong..."
"gue ga bohong lexa, gue hamil anak viandi" ucap sherina
Alexa bangun dari duduknya tubuhnya bergetar hebat bila benar apa yang dikatakan sherina berarti hubungan mereka sangat intim dan dekat bukan seperti apa yang di ucapkan viandi beberpa hari yang lalu.
"tolong alexa aku mohon kamu lepaskan dia demi anak ini aku ga mau dia lahir tanpa ayah" ucap sherina menangis tersedu sedu.
"berapa usia kandungan lo itu"
"dua bulan"
"dua bulan?? sedangkan dia di Melbourne.."
"enam bulan dia di sana kan, apa kamu yakin bebebrpa bukan setelahnya dia gak menemui aku" ucap sherina
alexa terdiam ia tak ingin gegabah dalam berfikir ia beranjak pergi
__ADS_1
"lexa, kamu mau kan lepasin dia demi anak ini aku mohon setelah ini aku janji gaka akan pernah ganggu kamu dan mama aku berikan 2 persen dari saham papa untuk kalian berdua aku mohon lexa" ucap sherina memegangi tangan alexa yang hendak pergi
"gue ga butuh saham atau harta, lo salah nilai gue, dan cara lo ini sama ajah lo murahan" ucap alexa meninggalkan ruangan sherina
air matanya mulai terjatuh ia tak ingin mendengar kabar buruk ini namun ternyata ia harus menelan pil pahit bahwa sherina tengah mengandung
"gue harus ngomong sama papi dan mami kalo kayak gini terus" ucap alexa
"duuukkk"
"aaaw..." pekik alexa
"maaf bu. maf" alexa menabrak seorang pria tinggi mengenakan kacamata minus dan berjaket biru
"iyaa gak apa-apa " ucap alexa ia pun pergi tergesa gesa
alexa menatap aneh pada pria itu
"mukanya familiar tapi dimana yaa" ucap alexa
"ahh bodo amat gue ga mikirin itu, gue harus nemuin mami"
Alexa melajukam kendaraan nya ia menangis terisak di dalam kendaraan nya ia tak menyangka semua ini semakin memburuk.
sementara itu di kantor viandi sudah ramai membicarakan hal yang sedang menimpa keluarganya
viandi memijat kepalanya yang sangat sakit
"makasih ya gy"
"saham kita bagaimana kabarnya"
"saham mengalami penurunan akibat kabar ini pak,banyak yang lebih berpihak pada pratama"
"heumm dia mau hancurin perusahaan aku dan hubungan ku dengan alexa, gy apa bener langkah aku ini salah memilih alexa atas jaminan hutang" ucap viandi, namun egy hanya diam
"padahal aku memilih alexa karena benar aku mencintai dia walaupun tak sebesar sekarang, dan kamu tahu awal aku menerima alexa karena aku ingin sherina merasa sakit hati dan membalas perbuatannya dahulu sama aku" ucap vindi
"itu letak kesalahannya pak, maaf"
"yaa saya tau seharusnya saya jangan buat Alexa jadi jaminan hanya karena dendam saya,dan akhirnya saya yang tejebak dalam keadaan yang saya buat sendiri" ucap viandi
tiba tiba ponsel viandi berdering
📞...
"halo pi..."
"KERUMAH KAMU SEKARANG!!"
abraham berbicara membentak dan menutup teleponnya
__ADS_1
"gy.. aku pulang tolong urus semuanya papi marah besar ga tau kenapa" viandi segera meninggalkan kantor siang itu
viandi mengambil langkah seribu bergegas menuju kediaman orang tuanya sesampainya di sana viandi melihat alexa tengah duduk dnegan berlinang air mata dan allia memeluk menantunya itu begitu juga velove adik viandi
"ANAK TIDAK TAHU DIRI..!! PLAAAK!!" ABbraham menampar pipi viandi dengan keras
"piiih..apa apaan sih tanya dulu dong Pi jangan main pukul" ucap alia ia mencoba melerai alexa pun terkejut melihat abraham begitu marah pada viandi
"salah vi apa sih pi, vi ga ngerti!,dan kenapa istri vi nangis begitu"
"masih nanya kamu hah..!" ucap abraham mencengkeram baju viandi
"piii lepassin ah" aliia masih mencoba melerai
"Ya vi beneran ga tau pi!!" ucap viandi yang mulai emosi
"vi, jawab pertanyaan mami,apa benar kamu menghamili sherina??" ucap alia dengan hati hati
"aa..aaappaaa . hamil?, mi...aku ga .." viandi terbata-bata ia terkejut akan hal itu
"enggak apa vi?? papi ga habis fikir sama kamu berati rumor itu semua benar yaa,kamu ke Melbourne sama dia ninggalin alexa di sini tanpa kabar!!" ucap abraham ia tak percaya akan putranya itu
"vi, lihat mami jawab kalo itu semua ga bener nak, kasihan istri kamu" ucap allia
"vi bener udah tidur bareng sherina mi"
"astaghfirullah " ucap allia ia terkejut akan ucapan viandi
"anak kurang AJAAAR!!!" abraham kembali memukul bahkan menampar, viandi jatuh tersungkur, alexa berlari mencoba menghalau pukulan abraham
"jangan pi... jangan..." alexa menangis ia teringat akan dirinya yang dahulu di perlakukan sama oleh pratama ia bahkan tahu rasa pukulan itu sangat sakit viandi berlindung di belakang tubuh alexa ujung bibirnya mengeluarkan darah segar
"papi ga mau tahu kamu selesai kan semuanya,"
"vi.. ga ngehamilin dia pi"
"tapi kamu pernah tiduri dia viandii...!!" ucap abraham
alexa hanya menangis viandi menatap wajah alexa dalam dalam yang sedang menangis tubuhnya bergetar
"vi akan selesai kan ini, vi gak akan lari dari tanggung jawab, tapi vi juga harus tau dulu pi, apa benar sherina hamil sedangkan vi ga pernah ketemu dia lagi setelah kembali dari Melbourne"
"papi ga butuh alasan papi ga mau tau, lihat kekacauan ini atas ulah kamu, saham merosot rumah tangga kamu berantakan, semuanya kena malu"
"maafin vi pi, vi akan selesaikan ini sendiri,ayo lexa kita pulang" ucap viandi ia menarik lengan alexa dengan agak kasar allia yang melihat sedikit merasa khawatir ia takut viandi akan melampiaskan kemarahannya pada alexa
viandi masih mencengkeram erat lengan alexa
"MASUKKK!!!" Viandi membuka pintu dan dengan kasar mendorong tubuh alexa agar ceept masuk dan duduk ia pun membanting pintu mobil dengan keras. Alexa hanya menangis di perjalanan viandi hanya diam ia tak berkata apapun.
"kenapa bisa jadi gini sih, ada yang ga beress nih"ucap viandi dalam hatinya ia masih melirik pada alexa yang sudah mulai tenang, ia pun hanya diam tak berkata apapun.
__ADS_1