
Petrus terus menghisap rokonya terkadang ia tertawa lalu menangis menyakai air matanya
"gue sebenernya capek lakuin semuanya, gue emang cinta sama sherina tapi dia malah jadiin gue kayak kacung, awalnya gue fikir dia juga punya rasa sama gue,. tapi ternyata nol besar dia manfaatin gue dalam segala hal" ucap petrus dengan nada lirih
"dia bohoong aku ga seperti itu!!" sherina mulai terpancing emosi
"ssst... " alex memberikan kode diam pada sherina dengan lirikan tajam pratama pun mulai terlihat kesal
"dia suruh gue curi hak cipta orang lain, dia suruh gue buat atur penerbangan dia ke Melbourne cuma karena dia kejar si viandi, orang kaya yang katanya ganteng banyak di sukai cewek padahal dia juga ga bisa ngehargain orang" ucap petrus dengan santai. sesekali terdiam ia mulai melantur, alexa segera mematikan rokok yang di hisap oleh petrus
"lo di bayar?" tanya alexa
"hahaha iyaalah.. tapi sebenernya sherina itu baik,. dia mau bantu gue selagi gue SMU bokap gue kena kasus korupsi dan ekonomi gue down.. sherina yang bantu gue dalam hal finansial sampe dia kasih uang buat dapur ke nyokap gue, dia itu baik cuma ambisiusnya tinggi dia ingin dapetin apa ajah yang dia mau dengan berbagai macam cara"
"kenapa lo mau bantu dia pasti cuma bukan karena dia baik atau lo cinta kan?" tanya alexa
"gue cinta sama dia, gue lakuin ini karena gue cinta sama sherina, gue mau melakukan apapun untuk orang yang gue cintai asal dia bahagia walaupun gue tau dia cuma manfaatin gue, hati gue sakit, pas dia minta satu kamar hotel sama vi, tapi gue ga bisa nolak"
"mereka tidur bareng?? ,apa bener sherina hamil?"
"LEXAAA CUKUP.... DIA MABUK .!!!" sherina mulai memarahi alexa ia yakin petrus di berikan sesuatu oleh alexa hingga ia meracau
"hahah dia ga hamil, dia ga hamil hahah" petrus terus tertawa
viandi bangun dari duduknya ia menghampiri sherina
"sher,.kenapa lo kayak gini" ucap viandi
sherina seperti orang kebingungan ia tak bisa menjawab
"sher.. jawab papa, apa semua ini benar?" ucap tama seraya berkata menengaskan pada sherina
namun sherina hanya diam sementara petrus terus saja meracau
"pak viandi sebaiknya kita amankan saja petrus ke kepolisian" ucap hermawan
"ya lebih baik seperti itu dan selanjutnya saya akan seret dia juga" ucap viandi menunjuk sherina
sherina terkejut ia memandang tak percaya pada viandi
"vi.. apa kamu serius kamu cinta kan sama aku, gak mungkin kamu lakuin ini kan" sherina mencengkeram lengan viandi kuat kuat ia seperti menggila alexa hanya diam dan masih terduduk di hadapan Petrus
"ini semua ga ada yang namanya perasaan ini semua tindak pidana, pencemaran nama baik, penipuan, pencurian hak cipta kamu bisa kena pasal berlapis sherina, tugas kamu hanya mengakuinya bahwa ini semua bohong demi apa sih kamu kayak gini" ucap viandi sherina masih terus menangis
"sher, jangan buat semuanya makin sulit kamu sendiri yang buat kamu sendiri yang bakal malu" ucap alexa
__ADS_1
"anak liar!! anak tiri!! ga usah lo ikut campur" teriak sherina pada alexa
"sherina...!!! PLAAAAK!!" tama menampar sherina
"paaa..." sherina menangis memegangi pipinya alexa terkejut baru kali ini melihat tama menampar sherina seumur hidupnya tama tak pernah memperlakukan sherina dengan kasar.
"CUKUUP!!" ucap Pratama membentak sherina, sherina pun terdiam ia menahan air matanya.
"sher,kenapa kamu lakukan ini," ucap tama dengan lirih
alexa menghampiri viandi dan berdiri di samping viandi, viandi menggenggam erat tangan alexa
"mas, sudah cukup, bisa di bicarakan baik baik lagi kan" ucap shanum
"baik baik dia sudah buat malu, dia sudah buat berita yag sangat buruk kamu tau kan karena ulah dia perusahaan kita bakal kena dampaknya nanti, sekarang memang aku akui semua klien dari abraham pindah ke perusahaan aku tapi bila semua ini terbongkar dan bocor ke media apa dia mikir perusahaan yang aku rintis dari awal akan hacur karena ulah anak ini anak yang aku banggakan yang aku manjakan " ucap tama sembari terus menoyor kepala sherina, ia terus menangis
"paa!! aku begini juga karena tekananpapa kan...!!! papa yang selalu nuntut aku untuk jadi yang terbaik terbaik terbaik!!! papa selalu bilang aku harapan papa jangan seperti alexa aku yang bakal jalanin semua perusahaan papa, jujur sherina ga sanggup pa.. sherina capek..!!" teriak sherina
alexa hanya diam mendengarkan sherina di hati kecilnya ia tetap merasa kasihan pada sherina alexa tahu sedari kecil tama selalu mengatakan jangan seperti dirinya hanya sherina harapan pratama dan selalu memantau nilai nilai Sherina, alexa menyeka air matanya tanpa terasa dadanya terasa sesak, ia menyadari di balik sikap buruk sherina ia menyimpan semuanya kesakitan nya sendirian ia selalu ingin menjadi yang terbaik walaupun nya sebenarnya ia sendiri lelah bahkan tak mampu ia tak bisa mengungkapkan semua pada siapapun.
"Sherina iri pa, iri kenapa alexa bisa bebas jadi apa yang dia mau dapetin apa yang dia pingin, teman pergaulan, dia bisa punya banyak teman bisa pergi kemanapun dia bebas dengan siapapun tapi sherina selalu di tuntut sama papa dalam segala hal, papa ga mikirin mental sherina dan perasaan sherina pa" ucap sherina dengan lirih
alexa melepaskan genggaman viandi ia mendekati sherina
"lexa...!" ucap viandi ia sedikit khawatir alexa mendekati sherina
"ka...cukup..ka. ,ini semua pasti sakit kan?? kenapa kaka pendam semuanya sendiri" ucap alexa sherina menangis meraung menahan sesak emosi nya ia tumpahkan semua dalam tangisan
"ma..maaaf aku salah aku salah...ini bukan ingin ku lex, aku hanya ingin buat papa bangga dalam segala hal maafin aku lexa" ucap sherina ia terus menangis memeluk alexa dengan erat.
alexa membelai lembut rambut sherina dan menghapus air matanya.
"ka... ini semua sudah terlanjur membesar di luar sana aku ga bisa apa-apa selain kaka speak up ke media tentang ini semua" ucap alexa sherina hanya diam menangis terisak
"satu pertanyaan aku,kaka hamil??" tanya alexa Sherina menggelengkan kepalanya
"kaka tidur dengan suami aku di Melbourne??"
sherina menggelengkan kepalanya kembali
"aaa..aku .cuma masuk di saat dia sedang terlelap aku cuma tidur di samping dia tanpa busana dan di bantu petrus, untuk perasaan petrus demi tuhan aku ga menyadari nya karena dia ga cerita" ucap sherina perlahan
viandi menarik nafasnya dalam-dalam ia merasa lega
"kenapa kaka lakukan sampai sejauh ini" tanya alexa
__ADS_1
"aku cuma ingin perusahaan papa ga redup karana aku yakin menikah dengn viandi akan memberikan keuntungan besar, karena perusahaan kembali di lilit hutang aku bingung" ucap sherina lirih
"sher, maafin papa nak, ini bisa papa selesaikan,papa memang pernah meminta alex untuk lepaskan viandi tapi itu bukan soal hutang atau perusahaan karena kamu bilang sama papa menyukai viandi kan" ucap tama
"enggak, itu hanya alasan pa, untuk rencana aku"
"astaghfirullah sherina" ucap tama ia terduduk terkulai
"tespack itu??!" tanya tama kembali dengan nada tinggi
"punya aku mas,. aku telat, aku sempat bilang jangan sejauh ini tapi Sherina memaksa dan aku gak bisa apa apa, aku memikirkan Alexa setiap hari bagaiman bila sampai mereka bercerai aku sangat berdosa" ucap shanum tama hanya diam memijat kepalanya
"apapun alasannya kamu harus tetap bertanggung jawab sher," ucap viandi
"mas.." ucap Alexa ia menatap viandi
"aku harap kamu ngerti lexa ini semua tindak pidana itu ajah"
"mas, tapi..."
"lexa...aku ga mau debat" ucap viandi sherina makin menangis di pelukan alexa ia terlihat sangat menyesal
Hermawan telah memanggil pihak yang berwajib dan telah mengamankan petrus.
"maaf pak pratama nona sherina harus kami amankan" ucap salah satu pihak yang berwajib
"apa harus sherina di bawa vi" ucap Pratama
"maaf, saya sudah melaporkan semuanya ke pihak yang berwajib, dan proses hukum harus tetap berjalan" ucap viandi dengan wajah dinginnya
"lexa..ayoo" ucap viandi dengan lembut meraih lengan alexa
"lexa aku mohon cabut semua laporan ini aku ga mau dibawa aku mohon lexa" Sherina menarik lengan alexa alexapun hanya menangis sekeras-kerasnya alexa pad Sherina namun ia merasa tak tega pada sherina kaka nya sendiri
"semuanya harus di proses dulu oke..." ucap viandi pada alexa
sherina tetapi berontak ia meminta tolong pada semuanya Pratama hanya menangis sembari di tenangkan oleh shanum
"aku harus keluarkan Sherina berapapun aku bayar" ucap Pratama
"mas.. jangan begitu,. bairkan saja dulu ini semua memang kejahatan mas"
"KAMU GA MGERTI PERASAAN AKU SHANUM!!" tama memarahi shanum
"aku malu....aku malu bagaimanbila semua klien tahu,dan orang tua mana yang mau anaknya masuk bui" ucap tama sembari menangis menahan sesak
__ADS_1
"mas aku tahu aku faham tapi sherina bagaimanpun ia bersalah mas," ucap shanum
"pak tama, saya ga mau banyak bicara jadi urusan ini semua saya serahkan pad pak Hermawan lawyer saya,ayo lexa, kita pulang" viandi menarik lengan alexa alexa masih enggan pergi air matanya mengalir deras dalam hati nya ia merasa tak tega dan kasihan pada keluarga nya sendiri, baru kali ini ia melihat Pratama menangis menahan sesak melihat sherina pergi dibawa oleh pihak yang berwajib.