
Di perjalanan alexa dan viandi hanya diam alexa masih terus menangis
"aku tau aku kasar aku keras tapi tetap saja mereka keluarga ku papa dan kakak ku" ucap alexa dalam hatinya viandi hanya diam tak bereaksi apapun
"pak, kita kembali ke kantor atau ke apartemen"
"ke apartemen saja lexa harus istirahat"
"jangan gy kita ke kantor polisi ajah" ucap alexa
"buat apa??" tanya viandi dengan dingin
"mas, bagaimana pun bukan ini yang aku mau"
"lexa, aku ga mau debat yaa, mereka itu bikin masalah besar apa harus aku lupain?, aku maafin aku lepasin??" ucap viandi dengan kesal.
Alexa hanya diam tak melanjutkan ucapannya
"semuanya sudah di atur oleh pak Hermawan, please jangan begini" ucap viandi
"apa sherina akan di penjara??" tanya alexa
"kita tunggu pak Hermawan saja" ucap viandi
"maaas..!" alexa merajuk
"haaadeh, gy kamu lihat kan dia ini keras, kayak jagoan tapi cengeng ga tegaan " ucap viandi
"heehehe iyaa pak"
"kamu mau nya gimana??" tanya viandi sembari membelai rambut alexa
"aku mau dia speak up jujur di media tentang semuanya,nama aku tercemar mas" ucap alexa
"aku sebenernya ga mau" ucap Viandi
"aku di jelekin di semua media, di kampus semua membicarakan rumah tangga kita"
"tapi efeknya perusahaan tama hancur gimana??" ucap viandi kembali
"mas, ini permintaan aku terakhir bila itu semua terjadi tolong bantu perusahaan papa dulu" ucap alexa
"kenapa??"
"karena papa merintis semunya dari nol, aku tahu papa pasti jatuh bangun dalam merintis perusahaan nya" ucap alex degan suara bergetar
viandi memeluk alexa ia menyadari bahwa wanita yang saat ini ia cintai sebenernya mempunyai hati yang tulus ia tak menyimpan benci atau dendam.
"nanti aku bicarakan pada pak Hermawan yaa"
"yaa" ucap alexa perlahan
"tapi,. aku penasaran kamu bisa bikin Petrus begitu kamu kasih apa?" ucap viandi
"iyaa bu saya juga penasaran" ucap egy ikut menimpali
__ADS_1
"haha rahasia dong," ucap alexa sembari tertawa
"hei, kamu ga kasih dia obat terlarang kan??"
"haha mas..mas .aku ini kan terkenal anak nakal anak liar, aku berteman dengan siapa pun, aku cuma minta sedikit tembakau yang bikin mabuk ke teman aku kok hahahah" ucap alexa
"kamu perokok???" tanya viandi dengan dingin
"dulu waktu sekolah, kalo lagi stress lihat mama papa bertengkar hebat aku pergi ke rumah bayu yaa di situ ngerokok sama bayu sama marwan dan jono eitss tapu ga pake minum minuman kerasa yaa mas. aku ga begitu" ucap alexA, viandi hanya menggelengkan kepalanya
sesampainya di apartemen viandi berjalan melewati lobby bersama alexa
"pak viandi...pak...tunggu pak.." suara seseorang berlari memanggil vindi
ia adalah amel ia menunggu viandi dan alexa sedari pagi tadi matanya sembab
"ngapain kamu ke sini??" ucap viandi dengan kesal
"pak, saya minta maaf pak, saya salah tapi tolong jangan pecat saya pak, saya masih butuh pekerjaan saya mohon" ucap amel sembari menangis terisak semua mata tertuju pada merek bertiga. dengan tatapan yang aneh
"mas, sebaiknya kita bawa dia ke rumah dulu, aku juga bingung kenapa dia ada disini dan dia siapa?" ucap alexa
"dia amel karyawan di perusahaan aku yang udah bantu petrus, kamu juga ketemu dia di divisi design kan tempo hari" ucap viandi alex mencoba mengingat kembali
"ohh iyaa aku ingat,. udahlah mas kita bawa ke rumah dulu ga enak di sini" ucap alexa
akhirnya Alexa dan viandi membawa amel untuk masuk ke dalam kediaman mereka amel duduk sendiri sembari menangis terlihat penyesalan dalam dirinya.
"mbak amel sudah lama bekerja di perusahaan suami saya?"
"sudah 10 tahun bu"
"maaf bu, saya terpaksa"
"lex udah jangan banyak tanya percuma aku udah suruh HRD pecat dia hari ini!" ucap viandi yang duduk di samping alexa memandangi wajah amel dengan tatapan memburu
Amel hanya menangis tertunduk
"maafkan saya pak, bu, saya terpaksa lakukan ini karena saya sedang butuh uang banyak"
"kamu bisa pengajuan pinjaman ke kantor kan?? saya sudah beri fasilitas untuk kalian apa belum cukup?" ucap viandi dengan nada kesal
"iya pak saya sudah pengajuan dan. sudah cair 20 juta tapi masih kurang untuk biaya pengobatan anak saya" ucap amel sembari terisak
"sakit apa mbak anaknya?" tanya Alexa
"hiks..hiks... leukimia bu..,anak saya masih umur 7 tahun saat ini masih terus pengobatan, banyak yang bilang hidupnya ga lama tapi naluri seorang ibu pasti akan melakukan apapun untuk kesembuhan anak walaupun itu mustahil bisa sembuh dari leukimia tapi saya terus berjuang bu untuk membuat anak saya bertahan" ucap amel sembari menangis menahan sesak
"saya mohon pak,. bu saya masih butuh kerja"
viandi dan alexa menarik nafasnya dalam-dalam
"kamu sekarang pulang saja saya masih belum punya keputusan apaun karena ini fatal" ucap viandi
"tapi pak ."
__ADS_1
"mbak Amel tolong ikuti instruksi dari pak viandi dulu ya, tolong sekarang pulang dulu, dan tunggu kabar dari perusahaan hari ini mbak amel masih dalam proses phk-an kan??"
"iyaa bu"
"sebiknya mbak amel pulang dulu yaa karena suami saya juga ga mudah untuk ambil keputusan ini karena masalah ini sangat fatal mbak" ucap alexa
"baik bu, pak saya pamit saya harap bapak dan ibu bisa terima saya kembali di perusahaan dan saya janji tak akan mengulangi nya lagi pak, bu" ucap amel sembari menangis, alex dan viandi hanya diam, viandi tak bisa menyembunyikan perasaan kesalnya ia tak peduli apapun alasan amel saat ini
setelah kepergian amel alexa duduk bersama viandi
"mas, apa gak sebaiknya..."
"apa.. terima amel lagi dan maafin dia, lexa di perusahaan itu ada aturan dan sangsi yang harus di jalankan oleh semua karyawan kalo aku maafin dia yang udah bikin rugi dan rusak nama perusahaan nanti semua karyawan akan seenak mereka bakal mikir oh, iyaa akilu baik kok aku nerima lagi seorang penghianat dan memaafkan nanti mereka bisa ajah melakukan yang lebih dari ini" ucap viandi
"yasudah aku ga bisa maksa kalaupun mas mau pecat dia gak apa-apa tapi aku cuma minta tetap kasih dia pesangon yang sesuai?"
"pecat karena masalah tidak ada pesangon alexa" ucap viandi sembari gemas memegang kedua pipi alexa
"yaa aku tau, setidaknya beri bantuan untuk anaknya dia hanya korban kan mas, aku cuma mikir kalo di posisi aku gimana" ucap alexa sembari terdiam
"ehemmm, punya anak maksudnya dari aku?? " tanya viandi alexa mengangguk
"ehh.. maksdnya gini kalau aku...." alexa tak melanjutkan ucapannya
"kalau aku ...aku apa lexa" goda viandi
"aahh udah ah... mas mah ga ngerti perasaan seorang ibu" alexa merajuk dan beranjak dari duduknya viandi pun ikut dan menarik lengan alex dan memeluknya
" kalu kita punya anak, aku janji akan selalu sejahtera kan kalian tanpa kurang satu apapun, keuangan, kesehatan, pendidikan semuanya aku jamin itu" ucap viandi memeluk alexa dengan erat
"sekarang kamu percaya kan aku ga ngapa-ngapain Sama sherina?? masih mau ninggalin gak..?" tanya viandi
"enggak.. kan aku komitmen kemarin kalau mas terbukti ngehamilin dia aku tinggalin mas walaupun aku cinta"
"cinta?? beneran nih.udah cinta??, Masaa sih??" goda viandi kembali Alexa kesal ia memukul bahu viandi sembari tersenyum malu malu.
viandi dengan cepat mencium lembut bibir alexa hingga Alexa merasa sesak karean ciuman viandi
"ahh...ha..ha..mas iih apaan sih" alexa mendorong tubuh viandi
"haah aku bahagia. ajah akhirnya kesalahan pahaman ini berakhir"
"belom, aku masih nunggu klarifikasi Sherina dan permintaan maaf dia di media kan dia duluan yang buat masalah mas".
"yaaa aku tau kita tunggu saja yaa perkembangan kasus nya pak hermawan akan urus semuanya, yang terpenting bagi aku kamu tetap ada di samping ake hingga tua nanti"
"eleeeh... lebay.. hahahah aku bisa nemenin mas, mas bisa ga tetap setia sama istri dan anak, uang mas banyak mas ganteng mustahil ga banyak cewek di luar sana tertarik kan"
"insyaallah aku bisa"
"okee aku pegang janjinya mas kalo mas ingkar aku pergi bawa anak anak..dan mas ga aku izinkan ketemu"
"waduhh kejam amat, tapi masalah anak.. heumm hap.." viandi menggendong alexA
"ihh mas apaan nih"
__ADS_1
"bikin anak lah.. dari kemarin kamu cuma nangis nangis terus nangis ngurung diri, padahal aku kangen" ucap viandi sembari berjalan menuju kamar tidur mereka
akhirnya kesalahan pahaman itupun berakhir dan alex hanya menunggu apa yang akan di lakukan sherina untuk memperbaiki namna baik alexa dan viandi yang sudah terlanjur buruk di mata masyarakat.