CINTA ATAU TAKDIR 2

CINTA ATAU TAKDIR 2
35


__ADS_3

Dia pergi menemui Liu Shang di kamarnya dan memberitahu Liu Shang bagaimana tadi para pejabat di istana memuji-muji pengetahuan dan memujinya, padahal semua ini adalah berkat Liu Shang.


Sesuai prediksinya, Sungai Kuning meluap dan menyebabkan banjir dua hari yang lalu. Para pejabat berpikir jika dia telah melakukan langkah-langkah pencegahan karena telah meramalkan banjir itu.


"Pangeran sungguh bijaksana. Bahkan tanpa saran saya, Pangeran sudah mengambil tindakan pencegahan."


"Tidak banyak orang di dunia ini yang bisa memprediksi banjir, bagaimana kau bisa meramalkannya?" Tanya Lian Cheng.


"Saya miskin sejak masih kanak-kanak dan pernah menjadi pengemis. Demi bertahan hidup, saya belajar meramal dari seorang biksu Taoisme. Jika saya tidak mampu melakukan hal sebesar ini, bagaimana saja bisa membantu Pangeran."


Dia juga sudah mendengar kabar yang mengatakan sudah ada Kaisar Yi Huai dari tahanan rumah. Yi Huai pasti sudah menyiapkan persiapan untuk beraksi kembali.

__ADS_1


"Para pejabat saat ini mendukungku. Apakah aku mengambil kesempatan untuk menciptakan konflik antara kakakku dan Selir Dugu?"


Liu Shang kurang setuju. "Perebutan keamanan berbahaya. Jika memungkinkan, Pangeran harus melakukan yang terbaik untuk menghormati persaudaraan. Jangan sampai Pangeran menyesali keputusan Pangeran sendiri."


Lian Cheng heran, apakah Liu Shang juga sudah meramalkan kalau dia akan menyesal? Secara ambigu, Liu Shang memberi tahu Lian Cheng bagaimana dulu dia menyaksikan kakaknya meninggal dunia dalam dekapan ayahnya.


"Saat itulah saya menyadari bahwa apa yang sebelumnya saya anggap penting, sebenarnya tidak penting sama sekali. Penderitaan akan kehilangan keluarga akan membuat Pangeran tak tenang dan menyesal selama-lamanya. Saya harap Pangeran bisa mengerti."


"Kau terlalu mengkhawatirkan banyak hal," komentar Lian Cheng lalu pergi.


Tengah malam, Xiao Tan mengendap-endap ke dapur untuk mencari makanan. Baru saja dia menemukan pangsit kukus dan ingin menggigitnya, tapi tiba-tiba Lian Cheng muncul dan menegurnya. Panik, Xiao Tan cepat menyembunyikan pangsit di belakang punggungnya.

__ADS_1


Lian Cheng, errr... dilihat dari sifat dinginnya sepertinya dia Lian Cheng kuno, mengomeli Xiao Tan karena dia lagi-lagi melanggar jam malam. Apa Xiao Tan baru akan kapok kalau dia dihukum cambuk?


"Saya... berjalan dalam tidur!" Alasan Xiao Tan. "Pikiran bawah sadar saya pasti terlalu putus asa karena makanan. Jadi tubuh saya bergerak dengan sendirinya dan membawa saya ke dapur."


Lian Cheng jelas tidak percaya. "Saat kau dihukum cambuk, kau bisa mengatakan hal yang sama pada tubuhmu untuk menerima hukuman. Serahkan benda yang kau sembunyikan itu."


Xiao Tan nggak mau. Lian Cheng lagi-lagi langsung mengancam akan menghukumnya jika Xiao Tan mematuhinya. Aish! Terpaksalah Xiao Tan akhirnya menunjukkan makanan yang disembunyikannya itu.


Gara-gara kemarin malam dia keluar tanpa izin, Kepala Pelayan menghukumnya tidak boleh makan siang hari. Dia mungkin akan gagal ginjal kalau dia tidak makan sekarang.


"Pangeran. Kalau kali ini Pangeran membiarkanku, aku pasti akan berubah dan menjadi pelayan yang baik."

__ADS_1


Alih-alih marah, Lian Cheng malah tersenyum tipis. Dia kemudiaan mengambil pangsit itu dari tangan Xiao Tan yang jelas saja membuat Xiao Tan langsung manyun.


__ADS_2