
"Kalau kau punya permintaan lain, katakan saja."
Xiao Tan langsung antusias menyebutkan berbagai keinginannya. Dia ingin baju baru, makanan enak, dia juga ingin kamar yang lebih luas dan menghadap ke selatan. Dia juga ingin mengajak Jing Xin tinggal di sana biar mereka bisa menikmati hal itu bersama.
Untuk tugas seberat ini, dia tidak meminta sebuah Benz atau BMW, loh. Jadi dia tidak bisa dianggap tamak. Pfft! Lian Cheng bingung, apa itu Benz atau BMW dan 3 pandangan yang dia katakan tadi?
Xiao Tan menjelaskan. 3 Pandangan itu adalah pandangan tentang dunia, pandangan hidup, dan pandangan terhadap nilai. Ketiga pandangan ini independen, nama saling melengkapi. Tapi Lian Cheng tetap bengong tidak paham.
Tentang BMW dan Benz, Lian Cheng pasti tertarik pada kedua benda itu. Keduanya jauh lebih unggul dari kuda Ferghana. Asalkan diisi bensin penuh, errr... bukan, maksudnya asalkan diberi makan dengan baik maka kedua 'kuda' itu bisa menempuh perjalanan sangat jauh tanpa perlu istirahat.
Hanya kedua 'kuda' itu sangat terkenal dan sulit diperoleh. Dia harus punya nomor 'kuda' itu jika ingin diinginkan.
__ADS_1
"Kalau memang ada kuda semacam itu, aku pasti akan mendapatkannya." Sini Lian Cheng.
"Kedua 'kuda' itu, sampai saat ini hanya sekedar legenda. Pangeran, jangan khawatir. Aku pasti akan menyelesaikan misi ini."
Selir Dugu memanggil tabib istana. Ternyata rencana mereka adalah bahwa si tabib dikonfirmasi kalau dia hamil, tapi tabib kalau seandainya Selir Dugu tidak hamil.
"Saya tidak akan melupakan jasa Yang Mulia. Tapi perkara yang berhubungan dengan seorang pangeran, itu bukan sesuatu yang bisa dibuat main-main."
Xiao Tan menggandeng tangan Jing Xin ke kamar baru mereka yang lebih luas dan menghadap ke selatan sesuai dengan yang dia minta. Bagaimana, apa yang disukai Jing Xin?
"Suka. Kalau kau suka, aku juga suka."
__ADS_1
Xiao Tan lalu menunjukkan baju-baju baru mereka. "Di Dong Yue ini, kau adalah satu-satunya keajaiban. Milikku adalah milikmu juga. Jangan sungkan-sungkan. Ayo, coba."
Senang, Jing Xin saja mengelus salah satu baju yang paling bagus. Tapi Xiao Tan malah bilang kalau baju itu adalah bajunya sendiri, bajunya Jing Xin yang sebelah tuh.
"Err, aku tahu. Aku cuma mencarimu. Yang ini juga bagus kok." Canggung Jingxin.
Mereka berlenggak-lenggok dengan baju-baju baru mereka ala model pakai sayap besar admin dan pernak-pernik lainnya. Jing Xin awalnya, tapi lama kelamaan dia bisa menikmati suasana.
Lian Cheng dan Jing Xuan lewat di depan kamar baru Xiao Tan saat tiba-tiba mereka mendengar suara lantang Jing Xin mengumumkan kedatangan Pangeran ke-8. Kedua pria itu jelas heran padahal mereka bahkan belum masuk.
Bingung, Lian Cheng langsung saja membuka pintu kamar itu dan mendapati Xiao Tan dan Jing Xin ternyata berakting menirukan dirinya saat lagi memarahi Xiao Tan.
__ADS_1
Jing Xin yang melihat duluan dan langsung panik dan menyapa Pangeran ke-8, tapi Xiao Tan nggak nyambung dan terus saja berakting menirukan gaya marahnya Lian Cheng, tapi dia juga mengakui kalau Lian Cheng itu sebenarnya baik walaupun mukanya sedingin es... sampai saat dia membalik dan menunjuk jarinya tepat ke muka Lian Cheng. Pfft!