
Xiao Tan kontan panik memohon maaf, tidak seharusnya dia membuat lelucon tentangnya, tapi apa yang dia katakan benar-benar tulus dari hati. Rasa terima kasihnya kepada Lian Cheng sama sekali bukan kepalsuan. Sungguh!
Tapi Lian Cheng terus saja menatap tajam dan suasana yang begitu menegangkan. Untung saja Jing Xuan bertindak cepat meminta Xiao Tan membuatkannya dengan alasan dia haus.
"Kakak ke-8, berhentilah cemberut. Kau benar-benar akan menakuti mereka. Meski Nona Tan Er agak serampangan, tapi menurutku, dia sangat mengenalmu."
Senyum Lian Cheng kontan mengembang. Tapi kemudian terdengar suara Liu Shang yang memanggil Xiao Tan dan seketika itu pula wajah Lian Cheng berubah mengeras. Mau apa Liu Shang kemari?
Tepat saat itu, Xiao Tan kembali untuk menyajikan secangkir teh untuk Lian Cheng. Liu Shang meminta maaf, dia tidak bermaksud mengganggu Lian Cheng menikmati teh, dia hanya ingin mengajak Xiao Tan ke villa salju bersamanya.
"Kapan?"
"Sekarang."
Lian akhirnya menatap tajam tanpa kata, tapi dia menerima cangkir teh itu sebagai tanda persetujuan. Senang bisa keluar dari situasi canggung ini, Xiao Tan keluar mengikuti Liu Shang. Lian Cheng hanya diam, mencengkeram cangkir tehnya dengan penuh amarah.
__ADS_1
Sesampainya di vila salju, Liu Shang tiba-tiba membayangkan Xiao Tan yang dulu, ada di sana menyambut kedatangannya dengan hangat. Bayangan yang kontan membuat termangu, keluarga Xiao Tan yang dulu tinggal di kediaman ini.
"Tan Er," gumamnya.
.
"Saya di sini." Sahut Xiao Tan, mengira Liu Shang memanggilnya dan kontan membuat Liu Shang tersadar dari lamunannya.
Dia lalu menyuruh Xiao Tan untuk mengenal tempat ini mungkin, nantinya hanya mereka berdua yang akan tinggal di sini.
"Aku juga berpikir kalau tempat ini sangat cocok untuk Istri Pangeran ke-8." kata Liu Shang.
"Betul, betul. Lebih bagus lagi kalau menanam beberapa mawar di sini."
Dan Liu Shang langsung menjawabnya dengan menunjukkan kebun mawar di hadapan mereka. Apa yang disukai Xiao Tan?
__ADS_1
"Bukan cuma suka, aku merasa ini sangat familier."
"Apa kau mengingat sesuatu?" Tanya Liu Shang penuh harap.
Sayangnya tidak. Maksudnya, ini pertama kali Xiao Tan melihat pemandangan seperti ini, jadi yang dia maksud bukan mengingat. Tapi dia sering bermimpi memiliki halaman seindah ini yang ditumbuhi mawar-mawar yang indah.
"Takdir tak dapat diprediksi, mungkin tempat ini memang sudah menunggumu."
Tapi Xiao Tan mengira kalau ucapan Liu Shang itu karena Liu Shang takut dia kabur dari sini. Jangan khawatir, dia akan betah tinggal di vila secantik ini.
Dia lalu membuat teh sambil berpikir keheranan tentang Liu Shang dan tempat ini. Soalnya tempat ini biarpun indah, tapi terlalu feminim. Ditambah lagi, sejak Liu Shang bertemu dengan Pangeran ke-8, dia selalu menyelamatkan Pangeran.
Dia bahkan minta pindah ke vila yang lebih cocok untuk istri pangeran ini. Jangan-jangan... Liu Shang itu jeruk makan jeruk? (Pfft!) Mungkin dia tidak ingin menjadi seperti pangeran, tapi juga ingin menjadi pasangan Lian Cheng?
Tapi, Pangeran ke-8 juga menarik. Waktu itu kan Lian Cheng diam-diam melukis Liu Shang di ruang belajarnya. Ckckck! Dua orang ini benar-benar bikin ngeri.
__ADS_1