CINTA ATAU TAKDIR 2

CINTA ATAU TAKDIR 2
36


__ADS_3

Tapi yang tidak disangkanya, Lian Cheng kemudian kembali... dengan membawa satu keranjang penuh pangsit dan menyodorkan semuanya Anda. Duh, duh, duh, Lian Cheng Perhatian banget... Yah, walaupun dengan muka dinginnya dia Xiao Tan tidak menyia-nyiakan semuanya lalu berbalik sambil tersenyum miring.


"Dia benar-benar skizofrenia," gumam Xiao Tan.


keesokan harinya, Xiao Tan mengendap-endap keluar rumah. Tapi baru keluar dari gerbang, Lian Cheng malah sudah ada di sana seolah sudah menunggunya. (Err, entah dia Lian Cheng modern atau kuno)


Lagi-lagi dia mengomeli Xiao Tan karena mau keluar rumah tanpa izin setelah kemarin malam dia ketangkap basah mencuri pangsit. semoga Xiao Tan cepat lupa dengan pelajarannya.


"Pangeran satu ini, mengurusi negara, malah cari masalah denganku terus." Kesal Xiao Tan dalam hatinya.


Dia mengklaim kalau dia bukan mau menonton diam-diam, dia mau belanja ke pasar. Dan dia membuktikannya dengan berbelanja daftar belanjaan.


Tapi Lian Cheng tak percaya. Bukan Xiao Tan yang bertanggung jawab mengurus belanjaan hari ini. Xiao Tan pasti mengubah jadwal itu sendiri.

__ADS_1


Canggung, Xiao Tan beralasan kalau dia sangat mengubah tampilan, makanya dia mengambil risiko jadwal agar bisa keluar rumah. Dengan mempertimbangkan fakta kalau dia adalah anak yang berbakti, jadi tolong ampuni dia yah?


"Mengampunimu? Bisa, tapi ada satu syarat. Syaratku adalah kau harus meminjam 3 hal."


Syarat pertama, Xiao Tan tidak boleh melakukan kontak mata dengannya. Xiao Tan sontak menurunkan pandangannya sambil membatin sebal. "Aku akan memperlakukannya seolah-olah dia ular besar di Harry Potter yang akan berubah menjadi batu saat melihatnya."


Syarat kedua, Xiao Tan tidak boleh berinisiatif sendiri untuk mendekatinya... tapi Lian Cheng sendiri boleh mendekati Xiao Tan. Dia bahkan langsung maju mendekati Xiao Tan lalu menarik Xiao Tan ke dalam pelukannya. (Oke, sepertinya dia Lian Cheng modern)


Dan syarat yang ketiga, Xiao Tan tidak boleh memasuki kamar tidurnya. Xiao Tan setuju-setuju saja, tapi jika dia bisa melakukan semua itu, apakah Lian Cheng akan menyembunyikan masalah ini dari Kepala Pelayan? Lian Cheng setuju.


"Tapi kau tidak boleh pergi tanpa izin lagi."


"Baik! Terima kasih, Pangeran!" Seru Xiao Tan lalu masuk kembali ke rumah.

__ADS_1


Senyum Lian Cheng memudar begitu dia sendiri, dia terkepal semakin erat... meremas topeng kulit yang disembunyikannya di belakang punggungnya.


Dia berpikir bagaimana dulu dia mulai jatuh cinta pada Xiao Tan karena kecurigaannya. Jika kali ini dia tidak ikut campur, maka sejarah mungkin akan terulang dan dia harus menjadi saingan cinta dengan sosok dirinya yang lain.


Tak lama kemudian, Xiao Tan masuk ke ruang kerjanya Lian Cheng kuno untuk menyajikan teh dan langsung bingung melihat Lian Cheng memakai pakaian yang berbeda. Kapan ganti bajunya?


"Setiap kali dia ganti baju, dia seolah berubah menjadi tiran yang kejam dan aku satu-satunya yang mendapat masalah." Batin Xiao Tan.


Saking konsennya baca buku, Lian Cheng mencari tehnya dengan meraba-raba meja. Alih-alh memberikan langsung ke tangan, Xiao Tan malah hanya menggeser cangkirnya ke arah tangan Lian Cheng dan tak sengaja membuat Lian Cheng menyenggol cangkir itu sampai tumpah.


Lian Cheng sontak membentaknya dengan kejam, dan membuat Xiao Tan jadi mengira kalau kepribadiannya berubah lagi. Sambil menundukkan kepalanya, Xiao Tan memberitahu Lian Cheng kalau dia hanya menuruti aturan.


"Angkat kepalamu!"

__ADS_1


"Saya tidak berani."


__ADS_2