
Lian Cheng sontak panik melepaskan seatbelt-nya Xiao Tan dan mendorongnya dari mobil dan detik berikutnya, sebuah benda berat jatuh dari langit dan menimpakan mobil itu sampai hancur. OH TUHAN! Lian Cheng ottokke?
Entah bagaimana, keesokan paginya Xiao Tan menyampirkan selimut untuk Lian Cheng yang duduk mematung di sofa dalam keadaan sehat walafiat utuh sempurna tak kekurangan apapun. Xiao Tan benar-benar masih sulit mempercayai matanya. Bagaimana bisa Lian Cheng selamat dari insiden kemarin.
Dia mencoba mempraktekkan kejadian semalaman sambil mengira-ngira gaimana ceritanya Lian Cheng bisa selamat dan kelakuannya itu kontan menarik perhatian Lian Cheng.
"Apa kau masih berpikir kalau itu tipuan sulap?" Heran Lian Cheng. Masalah, mobilnya saja hancur lebur, tapi dokter bilang kalau Lian Cheng baik-baik saja.
"Sudahlah, aku menyelamatkannya karena keinginanku sendiri. Pulanglah."
Xiao Tan kontan panik tentang kontraknya. Gawat kalau Lian Cheng marah naik pembelian rumah itu gara-gara insiden kemarin.
__ADS_1
Maka demi menyenangkan Lian Cheng, Xiao Tan buru-buru mengubah sikapnya menjadi lebih manis dan mengubah akan merawat Lian Cheng hari ini. Katakan saja, Lian Cheng mau apa?
Kesempatan. Lian Cheng langsung meminta ini-itu pada Xiao Tan dan Xiao Tan menurut semuanya dengan lapang dada.
Saat Xiao Tan sibuk mengupas apel, Lian Cheng menghidupkan TV yang tengah menayangkan berita tentang cinta sepasang yang baru saja mengetahui jika mereka berdua berada dalam satu foto yang sama saat mereka masih kecil. Dan ternyata memang menuntun mereka menjadi pasangan kekasih.
Melihat itu, Lian Cheng langsung mencoba memancing Xiao Tan. Menurut Xiao Tan, doa hati yang saling mencintai dengan tulus bertemu kembali jika ruang dan waktu berubah?
Lian Cheng jelas kesal dan langsung melemparkan remote control-nya ke meja. Tapi itu kontan membuat Xiao Tan kaget dan memekik. Dia kena pisau kah?
Lian Cheng sontak panik dan dia memeriksa Xiao Tan, mengira tangan Xiao Tan terisis untuk gara-gara ulahnya, padahal tidak. Xiao Tan tidak terluka dan dia memekik karena membuat potongan kulit apelnya putus.
__ADS_1
Lian Cheng seketika berubah jaim dan tangan Xiao Tan. Yakin kalau Lian Cheng cuma menipunya, Xiao Tan mau pergi saja. Lian Cheng langsung lebai bergulingan di lantai sambil berakting memeganggi d*danya tapi mengeluh gegar otak. (Wkwkwk! Nggak nyambung)
"Kau sudah keterlaluan. Apa perlu melakukan ini?"
"Baiklah. Toh aku menyelamatkanmu karena keinginanku sendiri. Jika aku mengalami masalah kesehatan karena hal ini, kau tidak perlu merasa bersalah."
Taktiknya kali ini sukses membuat Xiao Tan batal pergi. Tapi dia mau ke dapur dan minum dulu ya? Lian Cheng langsung sumringah.
Saat Lian Cheng menemukan Xiao Tan di dapur setiap hari, dia mendapati Xiao Tan sudah tidur setelah selesai sebungkus mie instan.
Kepalanya hampir saja oleng, tapi Lian Cheng dengan cepat menangkapnya. Dengan lembut dia menidurkan Lian Cheng di sebelah ranjangnya dan terpesona memandangi wajah damai Xiao Tan dalam tidurnya sembari mengingat kejadian semalam.
__ADS_1
Terlepas dari ingatannya yang hilang, tapi perasaannya pada Lian Cheng masih sama. Tanpa menyadari cintanya pada Lian Cheng, Xiao Tan cemas dan ketakutan setengah mati saat melihat mobil itu hancur dan mungkin mengira Lian Cheng mati di dalamnya. Dia sontak berteriak-teriak histeris minta tolong.