
Di kantor DG group.
Seorang pemuda tampan sedang duduk di kursi kebesarannya dengan wajah dinginnya.
Suasana hati yang buruk membuat semua karyawan bergidik ngeri melihat wajah sang Presdir yang sudah seperti singa kelaparan.
"Sda apa sih dengan Presdir kita? Sejak datang kekantor wajahnya sudah serem begitu." ucap salah satu karyawan.
"Entahlah, sepertinya suasana hati Presdir sedang tidak baik. Jadi lebih baik kita jangan sampai membuat kesalahan sedikit pun. Jika sampai itu terjadi sudah di pastikan kita semua akan kena amukan nya." ucap karyawan lain menimpali.
"Ayo kita bekerja kembali. Jangan sampai wakil Presdir melihat kita sedang mengobrol, bisa bisa kena pecat kita." ucap karyawan lainnya lagi.
Di ruangan Presdir DG group
Aditya duduk di kursi dengan wajah seram dan kusut nya. Ia bertambah kesal saat mengingat hal tadi malam.
Cklek.....
Pintu di buka
Albert masuk keruangan Aditya. Dilihat nya Aditya sedang serius mengerjakan pekerjaan nya sambil menampilkan wajah murung nya.
"Apakah kau sibuk?" tanya Albert.
Aditya yang mendengar pun menjawab tanpa melihat Albert.
"Ya." jawabnya singkat
"Sudahlah tak usah kau pikirkan, jalani saja apa yang di katakan Mama dan Papa, aku tahu kau murung seperti itu pasti soal tadi malam." ucap Albert enteng.
Aditya yang mendengar ucapan Albert langsung menatap Albert dengan tajam.
"Apa kau bilang? Kau ingin aku menerima perjodohan itu?" ucap Aditya emosi.
"Ya, mau gimana lagi. Bukan kah kau juga tidak memiliki kekasih? Lebih baik terima saja." ucap Albert. Sedangkan Aditya yang mendengar
mendengus kesal.
"Bukan kah kau tahu aku sedang dekat dengan siapa?" ucap Aditya sambil menyandarkan kepalanya di kursi.
"Ya aku tahu. Tapi apakah kau mencintai nya?" ucap Albert.
"Entahlah, aku juga bingung." ucap Aditya
Mendengar jawaban Aditya yang tak pasti membuat Albert hanya bisa menggeleng kan kepalanya.
__ADS_1
"Aku akan keluar sebentar." ucap Aditya meninggalkan Albert di ruangan nya.
"Hei kau mau kemana? Nanti kau ada pertemuan dengan klien." ucap Albert teriak
"Kau batal kan saja." ucap Aditya berlalu pergi. Albert yang mendengar mendengus sebal karena Aditya seenaknya nya sendiri membuat keputusan.
πππππ
Di lain tempat.
Anita sedang bermain bersama Vino. saat bermain hp nya bergetar, Anita pun melihat dan mengangkat nya setelah tahu siapa yang menelepon.
"Ya ada apa?" tanya Anita di telepon.
"Kamu dimana?" tanya Aditya.
"Aku di rumah." ucap Anita belum selesai ngomong tetapi telepon sudah di putus.
Anita hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat itu.
Tak lama setelah itu. Suara deru mobil berhenti di halaman rumah sederhana Anita. Aditya turun dari mobil mewah nya dan melangkahkan kakinya masuk kerumah Anita.
Melihat Anita duduk di kursi sendirian, Aditya langsung duduk di samping Anita dan memeluknya dari belakang
"Diam lah. Aku hanya ingin memeluk mu sebentar." ucap Aditya meletakkan dagunya di bahu Anita.
Sedangkan Anita bingung, apakah dia akan membiarkan Aditya tetap memeluknya seperti ini.
"Apakah Vino sudah lebih baik?" tanya Aditya masih dengan memeluk Anita.
"Ya, dia sudah lebih baik." jawab Anita
"Dimana Nenek dan vino sekarang?" ucap Aditya karena tidak melihat mereka.
"Mereka sedang istirahat." ucap Anita.
Mendengar ucapan Anita, entah kenapa membuat Aditya senang. Dan Aditya melepaskan pelukannya
Melihat Aditya melepas pelukannya, Anita menawarkan minuman.
"Apakah kau mau minum sesuatu?" tanya Anita
"Tentu saja, tapi aku ingin nya minum susu murni." ucap Aditya.
"Susu murni apa? Aku tidak punya." jawab Anita.
__ADS_1
"Kau punya." ucap Aditya.
"Tidak! Aku tidak punya." ucap Anita tetap ngotot.
"Punya, sini aku tunjukkin." ucap Aditya menarik tangan Anita untuk duduk di samping nya.
"Mana?" tanya Anita.
"Ini." tunjuk Aditya dengan nakal nya ke arah d*d* Anita.
Anita yang melihat langsung memukul bahu Aditya. " Dasar mesum. Kau mau minum atau tidak?" tanya nya.
Mau. Tapi punya mu." ucap Aditya masih nakal. Tapi hal itu malah mendapat pelototan Anita. " Baik lah baiklah, air dingin saja." lanjutnya menyandarkan kepala di kursi.
Anita bergegas ke dapur untuk mengambil kan apa yang diminta Aditya.
"Ini minumlah." ucap Anita sambil meletakkan gelas di meja.
Aditya pun meminumnya dalam sekali teguk. Dan meletakkan kan kembali di meja setelah air itu habis.
"Ada perlu apa kamu tiba-tiba datang kesini? Apakah pekerjaan mu di kantor sudah selesai?" ucap Anita memecah keheningan.
"Pekerjaan ku tidak akan pernah ada habisnya." ucap Aditya lesu.
"Apa kau ada masalah?" tanya Anita penasaran.
"Ya." ucap Aditya singkat. Dan menegakkan badannya menghadap Anita, menatap dengan dalam.
Sedangkan Anita jantungnya sudah berdetak tidak karuan, saat Aditya menatapnya dengan dalam.
"Apakah ucapan ku sebelumnya sudah kau putuskan kan?" tanya Aditya. "Aku ingin kau menjadi milikku." lanjitnya
Anita yang mendengar bingung mau menjawab apa. Dia sendiri bingung akan hatinya. Apalagi mengingat dia hanyalah seorang janda ber anak satu. Apakah mungkin Aditya bersungguh sungguh menginginkannya menjadi milik nya.
Kehidupannya pun berbeda. Apalagi mengingat dia adalah seorang CEO dari perusahaan besar dan juga sangat tampan pasti banyak wanita yang menginginkannya. Anita hanya takut tersakiti.
Walau pun Anita sendiri sebenarnya juga CEO, tapi entah kenapa ia rasanya minder jika harus bersanding dengan Aditya.
.
.
.
selamat membacaπ€
__ADS_1