
Setelah selesai mandi dan berganti pakaian, Aditya turun ke lantai bawah menghampiri mereka semua.
"Papi." sapa Vino.
"Apakah Papi sudah tampan?" ucap Aditya.
"Tidak, Papi jelek masih tampanan vino." ucap Vino.
Mereka semua yang mendengar tertawa.
"Lebih baik kamu ke salon dulu dit, potong rambut mu itu. Mama rasanya enek melihat rambut mu yang gondrong seperti itu." ucap Mama Laras.
"Oh iya Dit, hari ini kita harus berangkat ke China." ucap Albert.
"Ngapain ke China?" tanya Aditya.
"Kita akan melakukan pertemuan dengan seseorang." ucap Albert.
"Siapa?" tanya Aditya.
"Sudah, tidak usah banyak tanya. Ayo kita berangkat, aku sudah memesankan tiket untuk kita pergi sekarang. Tapi sebelum itu kamu harus memotong rambut mu dulu agar kamu terlihat tampan." ucap Albert.
"Walaupun aku tidak memotong rambut, aku akan tetap tampan seperti biasanya." ucap Aditya.
"Percaya diri sekali dirimu." ucap Mama Laras.
"Sudah sekarang kalian berangkatlah, Papa sama Mama akan menunggu kalian dirumah." ucap Papa Antoni.
"Baiklah Pa, kami berangkat dulu." ucap Albert.
"Ya pergilah." ucap Papa Antoni.
"Boy papi pergi dulu ya, Vino sama Oma dan Opa di rumah." ucap Aditya.
"Ya Pi." ucap Vino.
Setelah berpamitan, Aditya dan Albert pergi menunju bandara untuk berangkat ke China. Namun sebelum itu Albert membawa Aditya ke salon untuk memotong rambut, agar saat nanti bertemu dengan Anita, Aditya terlihat tampan. Berbeda dengan Aditya yang tidak tahu maksud kepergiaan nya ke China, karena Albert tidak menceritakan maksud kepergian mereka.
Setelah selesai Aditya memotong rambut. Mereka berdua melanjutkan perjalanan nya menuju bandara. Satu jam perjalanan akhirnya mereka sampai ke bandara dan kini siap untuk menaiki pesawat yang akan mereka tumpangi.
Setelah beberapa jam perjalanan, pesawat pun sampai dibandara China.
Anak buah Albert telah menunggunya.
"Mari Tuan." ucap anak buah.
Kini mereka bertiga menaiki mobil menuju ke suatu tempat.
__ADS_1
"Dimana dia?" tanya Albert.
"Ada di rumah sakit Tuan. sejak sadar, sepertinya Nyonya mengalami depresi." ucap anak buah.
"Baiklah kita langsung pergi ke sana." ucap Albert.
"Kita mau kemana?" tanya Aditya.
"Nanti kamu juga akan tahu." ucap Albert.
Beberapa menit perjalanan mereka akhirnya sampai di rumah sakit. Mereka bertiga berjalanan masuk menuju sebuah kamar.
Sesampainya di depan kamar.
"Apakah ini kamar nya?" ucap Albert.
"Benar Tuan." ucap anak buah Albert.
"Baiklah kamu tunggu disini, kita berdua akan masuk." ucap Albert.
"Al, kenapa kita kerumah sakit? Apakah pertemuannya di adakan di sini?" tanya Aditya bingung.
"Sudahlah kau diam saja. Ayo masuk, nanti kau juga akan tahu." ucap Albert.
Albert membuka pintu kamar rawat itu.
Suara pintu di buka.
Nampak lah seorang wanita cantik sedang duduk menatap ke depan dengan sorot mata kosong. Aditya yang melihat siapa yang ada di depan nya, mematung. Seakan dirinya tidak percaya bahwa yang ia lihat saat ini adalah benar dan nyata.
"Mendekatkan. Bukan kah kau sangat merindukannya?" ucap Albert menepuk bahu Aditya.
Aditya menatap Albert sejenak dan beralih kembali menatap Anita. Ia berjalan mendekat dengan tubuh bergetar, matanya terus menatap wajah cantik itu. la tidak berani mengedipkan matanya, takut kalau ini hanyalah mimpi.
"Sa..sayang." ucap Aditya
Anita sama sekali tak menyahut panggilan Aditya. fikiran nya masih mengingat kejadian, bagaimana dia di lecehkan oleh pria gendut nan buntal.
"Lepaskan aku." ucap Anita ketakutan.
"Sa..yang ini aku Suami mu." ucap Aditya.
"Pergi...pergi jangan sentuh aku." ucap Anita.
Aditya yang melihat istrinya ketakutan merasa bingung.
"Al...." ucap Aditya.
__ADS_1
"Akan aku panggilkan Dokter sebentar." ucap Albert pergi meninggalkan Aditya.
"Sayang tenang lah ini aku Suami mu Aditya." ucap aditya mencoba mendekati anita.
Mendengar kata suamiku dan nama Aditya dari mulut laki laki yang ada di dekatnya, Anita menoleh dan menatap Aditya dengan pandangan yang tidak bisa di artikan.
"Sayang." ucap Aditya membelai rambut Anita.
"Jangan sentuh aku...., aku sudah kotor." ucap Anita menangis.
Aditya merasa bingung. Tanpa memperdulikan penolakan Anita, ia langsung memeluk tubuh Anita yang bergetar. Merasakan pelukan hangat, Anita perlahan menjadi tenang.
"Tenanglah sayang, ada aku disini." ucap Aditya.
Albert dan seorang Dokter masuknke kamar rawat Anita. Di lihatnya Aditya sedang memeluk Anita, seperti sedang menenangkan.
"Siapa kah Tuan itu?" tanya Dokter.
"Dia suaminya Dok." ucap Albert.
Namun tiba tiba Anita menangis dan berteriak.
"Lepas...Jangan sentuh aku." ucap Anita mendorong tubuh Aditya.
"Sayang ini aku sayang, suami mu." ucap Aditya.
"Dok...." ucap aditya.
"Saya akan memberikan obat penenang untuknya." ucap Dokter dan setelah itu menyuntikkan obat penenang ke tubuh Anita.
Perlahan Anita menjadi tenang dan tak lama memejamkan matanya. Aditya menangis menatap istrinya, ia berfikir dirinya sangat tidak berguna dan tidak bisa menjaga anak dan istrinya.
Di belainya wajah yang selama ini di rindukannya, mengecupnya perlahan dan setelah itu Aditya keluar untuk menemui Albert.
.
.
.
.
.
Maaf autor tidak update beberapa hari. Autor sedang sakit karena mengalami kecelakaan hingga mengalami retak tulang dan harus di rawat.
Dan kini autor sudah mulai sembuh, doakan autor semoga autor cepat bisa berjalan.
__ADS_1
Salam sayang semuanya.