
Setelah mengetahui bahwa Aditya tidak berbohong, akhirnya ibu An menceritakan semua yang di alami Anita tanpa di tutup tutupi sedikit pun.
Aditya yang mendengar cerita ibu An marah, kesal, sedih menjadi satu.
Aditya akan membalas perbuatan Dion, karena telah berani menyiksa dan memperlakukan Anita begitu keji.
"Terimakasih bi karena telah ada untuk Anita dan Kayla selama ini." ucap Aditya bersungguh sungguh.
"Itu sudah tugas saya Tuan." ucap ibu An.
"Bisakah saya minta tolong sekali lagi?" ucap Aditya.
Jika saya bisa membantu saya akan membantu tuan." ucap ibu An
"Tolong bibi jaga Anita, saya ada urusan di luar jadi saya harus pergi." ucap Aditya.
"Baik Tuan, Saya akan menjaga Nyonya Anita." ucap ibu An.
"Terimakasih, kalau begitu saya pergi dulu. Titip kayla juga ya bi." ucap Aditya.
"Iya Tian." ucap ibu An.
Aditya keluar meninggalkan ruangan itu. Aditya sudah mengetahui bahwa Albert dan anak buah nya telah berhasil menangkap Dion.
Beberapa menit yang lalu Aditya mendapat kan pesan dari Albert bahwa dia berhasil menangkap Dion.
"Kau dimana?" tanya Aditya mengirim pesan ke albert.
"Aku di depan, aku tunggu kau di sini." ucap Albert.
"Baiklah." ucap Aditya.
Aditya pergi di mana Albert menunggunya.
Setelah sampai
"Lama sekali." ucap Albert.
__ADS_1
"Seperti tidak tahu saja." ucap Aditya.
"Baiklah ayo kita berangkat." ucap Albert.
Kini mereka berdua memasuki mobil dan pergi menuju dimana anak buah Albert membawa Dion.
Beberapa menit kemudian.
Mereka berdua sampai di sebuah bangunan tua yang jauh dari keramaian.
"Kita sudah sampai, ayo turun." ucap Albert.
"Em..." Aditya mengangguk.
Aditya dan Albert keluar dari mobil, berjalan masuk kedalam bangunan tua yang sangat kotor itu.
Mereka berdua di sambut oleh anak buah Albert.
"Mari bos." ucap anak buah.
"Apakah aman?" tanya Albert.
"Bagus, tunjukkan jalan." ucap Albert.
Aditya dan Albert masuk kedalam bersama anak buah Albert. Cukup jauh mereka berjalan kini mereka sampai pada lorong bawah tanah dan mereka bertiga masuk kedalam tempat itu.
"Bos." sapa anak buah Albert.
"Ya...kerja bagus kalian. Dimana dia?" ucap Albert.
"Di sana bos." ucap anak buah menunjuk dimana Dion sekarang berada.
Albert dan Aditya mengarahkan pandangan nya ke arah yang di tunjuk. Seketika mata mereka berdua melihat Dion sedang di rantai di kedua tangannya.
Mereka berdua menghampiri Dion yang seperti nya sedang pingsan.
"Ambilkan air." ucap Albert.
__ADS_1
Salah satu anak buah Albert mengambil kan air.
"Ini bos." ucap anak buah.
Albert mengambil air itu dan menyiramkan ke wajah Dion, seketika Dion langsung tersadar.
Dion membuka matanya melihat sekeliling.
"Aku kira kau sudah mati." ucap Aditya dengan nada sinis.
"Aditya." ucap Dion pelan namun masih bisa di dengar oleh Aditya mau pun yang lainnya.
"Apakah kau kaget karena aku ada disini?" ucap Aditya.
"Jadi kalian yang membawa ku kesini." ucap Dion.
"Tentu saja siapa lagi kalau bukan kami." ucap Aditya.
"Apa mau mu? Aku tidak ada urusan dengan mu." ucap Dion.
"Ha... Ha..hya..Kau bilang tidak ada urusan dengan ku begitu? Kau salah, kau membuat banyak masalah dengan ku dan dengan berani nya kau membawa istri dan anak ku selama ini." ucap Aditya emosi.
"Ha.. Ha... Ha.. ya aku memang membawa istri mu pergi dari mu untuk memuaskan hasrat ku. Apa kau tahu aku telah menyentuhnya berulang kali. Tubuhnya sungguh nikmat walaupun pada saat itu ia sedang hamil. Dan apa kau tahu dia selalu mendes*h di bawah kukungan ku saat menikmati sentuhan ku." ucap Dion berbohong
"Diam.. Jangan berani bicara lagi atau ku merobek mulut mu itu." ucap Aditya.
"Apa kah kau berani? Aku yakin kau tidak akan berani. Karena aku tahu kau itu sangat lembut." ucap Dion.
Dion tidak mengetahui kalau Aditya bisa sangat kejam kepada orang yang berani mengganggunya.
"Apakah kau meremehkan ku? Kamu kira aku tidak berani dengan mu. Kau belum tahu sisi jahat ku." ucap Aditya memyeringai.
"Ambil kan pisau." ucap Aditya memerintah.
Dion yang mendengar kata pisau menelan ludah nya dengan susah payah. fikirnya apakah benar Aditya akan melakukan sesuatu kepada nya.
Selamat membaca
__ADS_1
Jangan lupa like and komen