Cinta CEO Untuk Sang Janda

Cinta CEO Untuk Sang Janda
BAB 30.


__ADS_3

POV Anita.


Di sebuah ruangan, duduk seorang laki paruh baya dan wanita yang terbilang masih muda. Dia adalah Papa Aditya, Antoni dan Anita.


"Apa ada yang bisa saya bantu om?" tanya Anita sopan.


Antoni menatap wajah wanita di depannya, sebelum memperkenalkan diri. "Sebelumnya perkenalkan, nama ku Antoni, papa nya Aditya. Dan ku yakin kau pasti tidak asing dengan nama putra ku itu," seru Antoni dan di angguki oleh Anita, bahwa ia memang mengenal Aditya, putra pria yang ada di depan nya ini. Pria yang begitu santai berbicara dengan nya.


"Saya disini tidak akan basa-basi lagi. Namun sebelum itu aku ingin bertanya pada mu. Apakah kau mencintai putra ku?" Tanya Antoni sambil menatap wajah Anita yang ayu. Ia diam, menyelidik dan menunggu jawaban yang akan di berikan oleh Anita.


Anita yang mendengar diam, tidak menjawab pertanyaan Antoni. Cukup lama Antoni menunggu jawaban Anita, Antoni pun berfikir bahwa wanita di depan nya ini tidak mencintai putranya.


Hah," Ia menghela napas sebelum mengatakan sesuatu, "Jauhi Aditya," pinta Antoni, dan langsung membuat Anita mendongak menatap pria yang mengaku ayah dari Aditya. Ia berpikir apa yang di katakan pria itu salah, dan berpikir bahwa pendengarannya memang salah tentang pria itu yang menginginkannya menjauhi Aditya.


"Kenapa?" tanya Anita dengan satu pertanyaan yang meminta penjelasan.


"Aku tidak akan mengatakan alasannya, dan permintaan ku ini, aku hanya ingin yang terbaik buat Aditya," jawab Antoni dan berdiri dari tempatnya, setelah itu pergi meninggalkan Anita seorang diri di tempat itu.


POV and


"O, iya Anita. Perkenalkan, ini Aditya dan ini Albert," tunjuk nya pada mereka berdua. "Mereka adalah Putra Om Antoni," Mama Hanna memperkenal dua pemuda tampan itu.


Mereka saling berjabat tangan. Namun saat tangan Anita dan Aditya bersentuhan, Aditya tidak melepas tangan itu, ia menggenggam nya dengan erat, seolah tidak ingin melepas.


Anita melihat Aditya tidak melepas tangan nya melihat ke arah yang lain, ia merasa tidak enak. Apalagi saat melihat Aditya terus menatapnya. Ia merasa risih, dan ia pun berusaha melepaskan tangan Aditya dengan paksa.


"Maaf, bisakah anda lepas tangan saya?" pinta Anita dengan wajah sedikit kesal, seolah tidak mengenal Aditya sama sekali.

__ADS_1


Mendengar itu Aditya tersadar dari lamunan nya, "Ah, maafkan saya," Aditya salah tingkah dan menggaruk kepalnya yang tak gatal.


Antoni yang sedari tadi melihat itu, mencoba mencairkan suasana, "Apakah kalian saling kenal?"


Tidak?" jawab Anita


Iya," jawab Aditya. Anita yang mendengar mendelik, kesal dengan Aditya karena jawaban tidak sama dengan nya. Aditya yang melihat, hanya tersenyum kecil.


Semua nya diam, mendengar jawaban mereka berdua yang berbeda. "Apa kau sahabat Hanna?" tanya nya lagi.


"Benar om, saya sahabatnya Hanna," jelas Anita.


Antoni menganggukkan kepala, mengerti, "Jika boleh tahu, apakah kamu sudah tahu Hanna sudah di jodohkan dengan putra om, Aditya?"


Anita yang mendengar langsung menatap Antoni dan berganti melihat Hanna dan Aditya seolah meminta jawaban dari mereka, tentang benar atau tidaknya ucapan itu.


Hanna yang di pandang Anita tak menjawab. Sedangkan Anita yang tidak mendapatkan jawaban itu, berpikir bahwa apa yang di katakan Antoni benar adanya.


"Terimakasih Nit," Hanna membalas pelukan itu. Entah kenapa ia seakan tahu kesedihan di hati temannya itu. Tapi apa? Ia sungguh tidak tahu.


.


.


Setelah obrolan itu, Anita yang mengetahui bahwa sahabatnya di jodohkan dengan Aditya, hati nya seakan hancur. Ia menatap langit, menangis di kursi taman sendirian dengan di temani segelas minuman di tangan nya.


"Sungguh, dunia ini sangat sempit sekali," Anita tertawa kecil mengingat itu. Pikir ya sungguh bodoh dirinya karena tidak mengetahui jika pria itu adalah tunangan sahabatnya.

__ADS_1


Sedangkan tak jauh dari sana, Aditya yang sedari tadi mencari keberadaan Anita, kini melihat keberadaan wanita yang di cintai nya itu sedang duduk sendirian di kursi taman. Aditya menghela napas dengan kasar, dan setelah itu berjalan mendekati Anita, dan duduk di sampingnya.


Anita yang melihat seseorang duduk di kursi yang sama, melihat ke arah samping, di lihatnya wajah pria yang selalu mengganggu hati dan pikirannya.


"Kenapa anda ada disini? Bukankah seharusnya anda menemani Hanna? Kasian kan dia sendirian didalam," ucap Anita lirih, seolah dia begitu rapuh.


"Aku hanya ingin menikmati udara segar saja, sambil melihat bintang bintang di langit," jawab Aditya mendongak, menatap langit yang banyak bintang berkedip. "Bagaimana kabarmu? Lama kita tidak bertemu. Apa kamu baik-baik saja?" tanya Aditya memecah keheningan.


"Ya, aku baik baik saja," jawab Anita mencoba menjaga hati dan perasaan nya, agar Aditya tidak mengetahui jika ia begitu terluka. "Kau sendiri bagaimana?" tanya Anita balik.


"Aku sedang tidak baik," jawab Aditya tanpa mengalihkan pandangan nya ke langit. Anita yang mendengar menoleh, menatap wajah Aditya yang mendongak keatas.


"Mana nya yang tidak baik? Aku lihat kamu nampak sehat dan baik-baik saja," Anita tidak percaya dengan apa yang di katakan Aditya, karena yang di lihatnya saat ini Aditya begitu sangat baik-baik saja.


Aditya menoleh, mata mereka saling bertemu, "Yang kamu lihat mungkin memang aku baik-baik saja. Tapi tidak dengan hati ku. Hati ku sama sekali tidak baik," jawab Aditya menatap wajah ayu di depan nya.


Tiba-tiba Aditya menghadap Aditya, meraih tangan itu dan menggenggamnya. Anita sungguh bingung dengan tindakan yang di lakukan Aditya.


"Kau seharusnya tau. Sejak saat itu hati ku selalu tidak baik baik saja Nita. Hati ku sangat sakit, saat mendengar penolakan mu waktu itu," ucap Aditya menatap mata cantik itu, ingin sekali ia mengecup mata yang sedikit berair itu.


"Aku tidak bisa melupakan mu Nita. Hati ku sungguh sakit. Aku tersiksa setiap hari harus mencoba menjauhi mu. Aku sungguh tidak sanggup Nita," gumam nya lirih, menyandarkan kepalanya di bahu Anita, air matanya luruh saat ia tidak bisa jauh dari wanita yang di cintai nya itu.


Anita hanya diam, mendengar keluhan Aditya. Sebenarnya ia tahu bagaimana perasaan sakit itu, karena dirinya sendiri juga merasakan sakit yang teramat saat jauh dari pria yang di cintai nya.


Namun saat mengingat perjodohan itu, hatinya semakin sakit, seperti di remat dan di hancurkan. Ia juga tidak mungkin egois merebut milik orang lain, yang tak lain adalah sahabat nya sendiri.


Bersambung.

__ADS_1


Selamat membaca 🤗


Semoga suka


__ADS_2