
Fin memiliki pemikiran bahwa Haidar adalah Teo. Dari bukti yang di miliki Haidar sudah jelas bahwa Haidar berada di sekitarnya dan dugaan nya bahwa Haidar adalah pelayan yang membawa Rerena pergi.
"Aku juga memiliki pemikiran seperti itu," jawab Nile yang juga memiliki pemikiran yang sama dengan Fin, bahwa Haidar ada Teo, kepala pelayan di kediamannya.
"Jika memang dugaan kita benar, kita tidak boleh melepaskan nya tuan,"
"Untuk saat ini kau urus masalah ini, dan setelah itu aku akan memberikannya pelajaran,"
"Baik, tuan. Saya akan mengurus masalah anda, dan secepatnya akan membebaskan anda."
Fin pun pamit meninggalkan tuan nya di dalam penjara. Tapi sebelum itu ia menemui seorang polisi, dan memintanya untuk menempatkan tuannya di tempat yang lebih nyaman, karena ia tidak ingin melihat tuannya di tempatkan di tempat yang sama dengan tahanan lainnya.
Fin menghubungi pengacaranya untuk mengurus masalah tuannya. Ia tidak ingin melihat tuannya terlalu lama tinggal di tahanan, karena menurutnya tuannya tidak pantas berada di sana.
Pengacara Nile yang bernama Arkana mencari bahan untuk pembelaan untuk klien nya. Namun saat dirinya berada di sebuah restoran, seorang tiba-tiba menghampirnya dan memintanya untuk menemuinya.
"Tuan, tuan saya ingin bertemu dengan anda," ucap seorang pria bertubuh tegap besar.
Arkana yang melihat seorang tidak di kenalnya, menatapnya dengan selidik.
"Siapa pria ini?" tanya nya dalam hati, tidak mengenal.
"Tuan, anda sudah di tunggu oleh tuannya saya. Silahkan ikuti saya," ucapnya lagi seolah tidak mengizinkan Arkana untuk menolak. "Silahkan," sambungnya lagi dan akhirnya dengan terpaksa Arkana pergi, mengikuti pria tersebut ke sebuah ruangan.
Cklek...
Pintu di bukakan oleh pria tersebut, dan mempersilahkan pengacara itu untuk masuk.
Arkana masuk, sedangkan pria tersebut tidak, berdiri di luar untuk berjaga.
Arkana masuk dan di lihatnya dua orang berada disana, satu duduk membelakinya dan satu lagi berdiri tepat di samping pria yang berdiri itu.
__ADS_1
Pria yang yang tak lain adalah Varo langsung menghampiri Arkana saat melihat Arkana masuk.
"Mari tuan," ucapnya mempersilahkan.
Arkana mengangguk, menatap Varo seolah pernah melihatnya dan beralih melihat ke arah pria yang tetap duduk santai tanpa menyambut dan menyapanya. Dalam hati Arkana bertanya-tanya sebenarnya siapa pria ini?
Arkana berjalan menuju ke tempat pria itu dan duduk saling berhadapan dengan pria yang tak lain adalah Davin, yang masih santai menyesap kopinya.
Arkana menatap Davin, berpikir lama, mengingat siapa pria di depannya. Dan cukup lama mengingat, Arkana langsung teringat dengan seorang pengusaha sukses di Negara J, Devan. Ya, pria ini pastilah Devan Menzies.
"Tuan Devan, senang bertemu dengan anda," sapa Arkana mengulurkan tangan.
Davin yang mendengar menaikkan sebelah alisnya. Devan? Jadi pengacara di depannya ini menganggap dirinya Devan? Apakah wajahnya memang sama persis dengan Devan? Memikirkan itu Davin tersenyum menyeringai.
"Jadi anda mengenal saya," jawab Davin tanpa menyambut uluran tangan.
Arkana yang melihat tangannya di abaikan menarik kembali dan tersenyum penuh rumah. Ia tidak boleh membuat masalah dengan pria di depannya karena menurutnya, keluarga Menzies, Tesla adalah keluarga yang tidak boleh di singgungnya. Apalagi keluarga Dominic dan Morenes yang sangat mengerikan.
Davin diam, masih tetap menikmati secangkir kopinya. Arkana menatapnya, ingin mendengar jawaban. Varo yang melihat tuannya diam, langsung menjawab. Ia menyodorkan sebuah ampol coklat tepat di depan Arkana.
"Silahkan anda membukanya,"
Arkana menatap Varo, bingung. Apa maksudnya dengan amplop coklat itu. Varo mengangguk, meminta Arkana untuk membuka. Dan dengan rasa penasaran, Arkana mengambilnya dan membukanya.
Deg,
Arkana terkejut dengan apa yang di lihatnya. Matanya melotot tidak percaya. Bagaimana ini bisa terjadi.
"Tuan, apa maksud nya ini?" tanya Arkana bingung. Bagaimana ia tidak bingung, di lihatnya beberapa foto yang menunjukkan gambar putrinya sedang bermesraan dengan beberapa pria tanpa busana, dan di dalam foto itu terlihat pria tang berbeda-beda.
Arkana tidak menyangka jika putrinya melakukan hal yang menjijikkan seperti itu. Ia sungguh malu. Sebagai seorang ayah ia benar-benar tidak bisa mendidik anaknya dengan baik.
__ADS_1
"Anda sudah melihatnya tuan. Dan saya disini mewakili tuan saya membuat kesepakatan dengan anda. Jika anda menolak, maka foto-foto itu akan tersebar dalam sedetik." ucap Varo memberi ancaman. Ia tidak ingin basa-basi dalam urusan untuk mempermulus rencana tuannya. Dan hanya ini untuk bisa membuat Nile lama di penjara agar Nile semakin dendam dengan Haidar.
Arkana diam, ia tahu pasti ada sesuatu yang diinginkan oleh pria muda di depannya.
"Apa mau anda?"
Davin meletakkan kopi di meja dengan pelan, dan memintanya Varo memberikan kertas lainnya.
"Saya ingin anda membuat tuan anda menandatangani ini," ucap Davin menunjukkan surat perceraian kepada Arkana.
Arkana mengambilnya dan membaca. "Surat perceraian?" Gumamnya bingung. Sebenarnya apa yang terjadi. Kenapa tuan di depannya ini meminta nya untuk tuannya menandatangani surat perceraian dengan Nyonya Rerena? Arkana sungguh bingung.
"Apa yang saya minta saya harap anda melakukannya. Bagaimana pun caranya anda harus membuat mereka berdua bercerai. Jika anda tidak melakukannya, bukan putri anda saja yang akan hancur, tapi istri dan anak anda lainnya juga akan hancur,"
Arkana sungguh tidak mengerti kenapa pengusaha sukses di depannya harus melakukan itu dan mengancamnya. Sebenarnya apa motifnya?
"Oh ya, anda harus tahu siapa saya. Saya bukanlah Devan Menzies. Tapi saya Davin Menzies," jelas Davin membuat Arkana semakin terkejut.
Davin menzies? Bukankah berarti pria di depannya adalah Raja dari Kerajaan NAVOLEON dan Penerus perusahaan King Golden Group? Dan penerus keluarga Morenes? Arkana benar-benar tidak menyangka akan bertemu dan berurusan dengan pria yang memiliki kedudukan tinggi. Ia dilema, bingung menyetujui atau tidak. Jika tidak ia akan habis di tangan orang berkuasa ini. Dan jika iya, ia akan habis di tangan Nile Alvarendra yang juga mengerikan.
Arkana bingung, ia memiliki pilihan yang rumit yang berakhir dengan kehancuran. Walaupun dirinya pengacara, tapi ia tidak bisa melindungi nyawa nya jika peluru menembus tubuh dan kepala nya, karena orang-orang ini suka memegang senjata api ditangannya yang siap membunuh orang yang tidak patuh dengan nya.
.
.
.
Bersambung.
Hai, author hanya mengingatkan, tolong Like dan komentarnya ya, agar author lebih semangat. Karena hanya ini yang author harapkan agar semangat nulisnya.
__ADS_1
Walaupun ceritanya tidak semenarik novel lainnya, tapi author akan berusaha sebaik mungkin untuk menyalurkan semua ide di kepala author yang kecil ini.