
Jika di kamar itu penuh dengan suara-suara kenikmatan, berbeda di luar Villa. Anak buahnya kini sedang menghadang beberapa orang yang masuk dalam sarangnya.
Senyum seringai terbit di bibir setiap anak buah Davin. Sedangkan anak buah Nadira ketakutan karena ternyata prediksi mereka salah. Mereka yang mengira hanya ada beberapa penjaga dan mampu mengalahkan penjaga Villa, kini salah besar. Ternyata mereka masuk ke kandang singa yang sepertinya sangat kelaparan.
.
.
.
"Dari mana cecunguk-cecunguk ini datang?" Ucap seorang anak buah Davin meremehkan. Tangannya memegang senjata laras panjang dan di tenteng di atas pundaknya.
"Mungkin mereka baru keluar hutan sehingga tidak tahu siapa kita."
Hahahahaha……
Tawa anak buah Davin begitu keras. Hingga membuat Nyonya Queen langsung bangun.
Queen mendengus sebal saat mendengar keributan di luar. Dia membuka pintu jendela dan melihat apa yang terjadi di bawah.
Woaah…..
Queen menguap dan menyangga kepalanya dengan sebelah tangan.
"Hei kalian," seru Queen dan semuanya langsung mendongak melihat ke arah suara. "Apa kalian tidak tahu suara kalian menggangguku tidur ku?"
"Maafkan kami nyonya. Hanya saja ada cecunguk yang datang mengantarkan nyawa."
"Oh baiklah, selesaikan secepatnya. Aku kasih kalian waktu 15 menit. Jika kalian tidak bisa membunuh mereka semua, kalianlah yang akan menjadi mangsa ku,"
Gleek….
Anak buah Davin menelan ludah mendengar apa yang di katakan Nyonya nya. Mereka tahu, ucapan itu tidak lah main-main.
"Cepat selesaikan dalam waktu 15 menit jika kalian tidak ingin mati di tangan Nyonya," seru seseorang dan membuat semua anak buah Davin langsung menyeringai. Tidak sabar untuk menghabisi musuh yang mengantarkan nyawa.
"Baiklah, demi nyawa kita, kita harus membunuh mereka semua,"
Anak buah Nadira yang melihat semangat mereka berkobar karena ancaman seorang wanita yang tidak mereka kenal, menjadi takut. Mereka tidak yakin akan menang melawan mereka semua yang jumlah dan kekuatannya tidak sebanding dengannya. Namun mereka tidak akan menyerah. Walaupun nanti akan mati tapi mereka harus tetap memberi perlawanan agar tidak mempermalukan kelompok mereka.
"SERANG MEREKA DAN BUNUH!"
Seru anak buah Davin lantang dan langsung mengangkat senjata mereka, menembak Anak buah Nadira.
Anak buah Nadira tidak tinggal diam. Mereka juga berseru dengan keras untuk memberi perlawanan.
"SERANG!"
__ADS_1
Door….
Door….
Door….
Suara tembakan menggema di Villa tersebut.
Peluru melesat ke arah masing-masing lawan. Membuat peluru itu menembus tubuh mereka dan mati. Semakin banyaknya tembakan yang mereka lewatkan semakin pula korban yang berjatuhan.
Door…
Door…
Door…
Arh…..
Saat sebuah peluru melesat menembus dada dan langsung mati.
Teriakan dari setiap mulut mereka yang tertembak memekikkan telinga. Bahkan Varo yang tidur langsung bangun dan melihat apa yang terjadi. Ternyata ada kelompok anjing yang masuk dalam sarangnya.
Woaah….
Varo seolah tidak peduli, dia malah kembali masuk dan melanjutkan mimpi indahnya.
Sedangkan di kamar lainnya, juga sama. Mereka tidak peduli jika di luar sangat riuh, yang saat ini di utamakan nya adalah menikmati waktu malam indah bersama dengan kekasihnya.
"Mama sangat takut pa,"
"Papa pun sama. Tapi kenapa tidak ada yang keluar dari Villa saat ada penyerangan? Seolah mereka tidak sedikit pun terusik,"
"Mama juga heran. Padahal Mama sangat takut sekali. Takut mereka masuk dan membunuh kita semua,"
"Kita percaya saja dengan mereka. Anak buah Tuan Davin tidak mungkin membiarkan mereka masuk dan membunuh kita." Nyonya Marcell mengangguk. Dan setelah itu masuk dan tidur. Tidak perlu memikirkan hal yang mampu diselesaikan anak buah calon menantunya.
17 menit mereka mampu mengalahkan anak buah Nadira.
Seorang yang masih hidup namun terluka cukup parah, merogoh sakunya dan mengambil ponsel dengan tangan gemetar. Dengan gerakan tergesa-gesa dia mencari nomor ponsel nonanya dan menghubungi.
"Ha..halo no…na,"
Nadira yang melihat suara tersengal-sengal itu mengerutkan kening. Sebenarnya apa yang terjadi. Kenapa suara anak buahnya begitu lemah.
"Katakan, apa yang terjadi?"
"Ma…af ka..n sa…ya no….na," tangan itu langsung lemas dan meninggal.
__ADS_1
"Halo, Halo, jawab pertanyaan ku. Sebenarnya ada apa?" Nadia terus memanggil, berharap anak buahnya menyahut pertanyaan nya.
Namun saat dirinya terus memanggil, bukan suara anak buah nya lagi yang menjawab, tapi suara pria lainnya, suara yang tidak dia kenal.
"Hallo juga nona," jawab anak buah Davin dengan senyum seringainya.
Nasira terkejut dengan mata melotot. "Siapa kau? Dimana anak buah ku?"
"Anak buah anda?" Anak buah Davin menatap tubuh pria yang tergeletak mati. "Dia sudah mati," jawab nya dengan santai.
"Mati? Tidak, mana mungkin anak buah ku mati."
"Jika anda tidak percaya saya bisa mengirim sekuat mayatnya ke tempat anda berada."
"Se…semua?"
"Tentu saja. Anda buah anda itu hanyalah semut di mata kami. Jadi tidak perlu terkejut seperti itu. Oh, ya. Tunggulah kami menemukan anda. Kita akan bersenang-senang, hahahaha……"
Nadira yang mendengar langsung memutus panggilan. Tangannya gemetar mendengar tawa pria itu. Entah kenapa musuh yang dia singgung bukanlah orang biasa.
"Siapa mereka sebenarnya? Bagaimana bisa mereka dengan mudah membunuh anak buah papa. Ini tidak bisa di biarkan. Aku juga tidak ingin mati di tangan mereka,"
.
.
.
Keesokan paginya, di kediaman Nile begitu riuh saat para pelayan melihat beberapa mayat menumpuk di halaman depan rumah Nile. Bahkan satpam yang berjaga juga tergeletak pingsan di sebelah mayat-mayat mengerikan itu. Beberapa mayat dengan tubuh di penuhi noda darah.
"Apa yang terjadi?" Tanya Nile dan Nadira keluar dari rumah.
Saat melihat apa yang terjadi, Nile dan Nadira terkejut saat melihat banyaknya mayat di depan matanya. Sedangkan Nadira yang tahu itu adalah anak buahnya, ia langsung lemas. Kakinya seolah tidak bisa membawa berat tubuhnya.
"Ada apa?" Nile membantu Nadira yang akan jatuh.
"Tidak ada apa-apa. Aku hanya terkejut, bagaimana bisa banyak mayat berada disini,"
Nadira tidak mengatakan bahwa itu adalah anak buahnya. Jika Nile tahu dan bagaimana sebab mereka mati, Nile pasti akan marah. Oleh sebab itu Nadira hanya akan menceritakan semuanya pada ayahnya.
"Urus mayat mereka. Aku akan melaporkan semua ini pada posisi," Nile memberi perintah pada bawahannya dan akan melaporkan apa yang terjadi di kediaman nya. Nile yakin pelakunya tak lama lagi akan segera tertangkap.
Namun semua itu sudah dipikirkan dengan matang oleh anak buah Davin. Mereka meminta Recky untuk menghapus semua rekaman CCTV di sekitar kediaman Nile dan tak lupa Recky juga menghapus rekaman CCTV di kediaman Nile sendiri.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung