
Rerena yang melihat Haidar seolah mencurigai Davin langsung menceritakan semua apa yang di alaminya tadi pagi. Dan Haidar yang mendengar tentu saja terkejut, bagaimana bisa anak buah Nile mencoba menculik Rerena. Jika itu terjadi lagi, tidak bisa di biarkan. Mungkin dengan adanya pengawal akan membuat Rerena lebih aman.
.
.
"Aku bisa mencarikan mu pengawal yang lebih berpengalaman. Kenapa tidak bertanya dulu pada ku?"
"Aku rasa dia bisa di percaya untuk menjaga ku. Apalagi aku sudah melihat bagaimana dia menghadapi anak buah Nile," jelas Rerena.
Haidar menatap Davin, entah kenapa ia seperti tidak percaya dengan pemuda itu. Dari postur tubuh dan aura yang memancar di wajahnya, Haidar seolah tidak melihat Davin seorang pelayan. Melainkan seperti seorang pemimpin.
"Hah, baiklah. Karena Rena menginginkan mu, aku hanya bisa menyetujuinya,"
"Terimakasih tuan," jawab Davin.
Davin merasa senang akhirnya bisa lebih dekat dengan Rerena. Ia akan menggunakan kesempatan ini untuk dekat dan membuat nyaman serta membuat Rerena bergantung padanya.
"Akan ku buat kamu menginginkan ku," gumamnya dalam hati.
.
.
Keesokan hari, Davin bersiap untuk berangkat bekerja. Saat ini ia sedang sarapan dengan di temani beberapa pelayan dan Varo yang setia berdiri di samping nya.
"Siapkan tempat tinggal yang kecil tak jauh dari tempat nya. Dan juga cari seorang pria tua yang bisa di ajak kerjasama untuk memuluskan rencana ku,"
"Rumah kecil? Pria tua?" Varo berpikir keras, buat apa semua itu. Tapi ia tidak berani bertanya dan hanya mengangguk saja, menuruti perintah tuannya.
"Baik tuan," jawab Varo dan akan melakukan tugas yang di berikan.
"Apa kamu sudah mencarikan motor untuk ku?"
"Sudah tuan, ada di garasi,"
"Baiklah," Davin menyeka bibirnya dengan tisu dan setelah itu beranjak untuk berangkat ke rumah Haidar.
Varo dan kepala pelayan mengikuti, saat Davin hendak mengambil motornya Varo dengan cepat menahan, "Saya akan mengantarkan anda tuan. Untuk motornya biarkan anak buah kita yang membawanya,"
Davin mengangguk dan masuk mobil. Sedangkan seorang anak buahnya mengikuti dari belakang dengan mengendari motor yang akan di gunakan Davin.
.
.
Setelah sampai tak jauh dari kediaman Haidar, Davin turun dan naik motor. Dengan santai dia mengendari motor yang menurut Varo sangat buruk, karena baginya tuannya tidak pantas mengendarai jenis motor seperti itu, tidak sesuai dengan identitasnya.
"Hah, demi Nona Rerena tuan sampai melakukan hal gila seperti ini. Jika sampai nona tidak menyukai Tuan, aku tidak tahu apa yang akan terjadi setelahnya,"
__ADS_1
Varo menghela nafas, pusing memikirkan apa yang dilakukan tuannya. Ia pergi setelah tuannya menghilang dari pandangannya. Sedangkan Davin kini telah sampai di halaman Mansion Haidar.
"Baru sampai Niel?" Sapa Pak Min.
"Iya, pak," jawab Davin ramah.
Baru saja Davin sampai, Haidar keluar dari rumah hendak berangkat bekerja. Ia berhenti, menatap Davin cukup lama, dan setelah itu masuk kedalam mobil, mengabaikan.
"Ada apa dengan pria aneh ini?" gumam Davin menatap mobil yang mulai berjalan, pergi.
Davin berbalik, dan terkejut melihat Rerena yang sudah berada di depannya.
"Anda membuat saya kaget, nona," Rerena tersenyum manis, tertawa melihat Davin yang terkejut, merasa lucu.
"Baru sampai? Udah sarapan?"
"Sudah nona," jawab Davin.
Hari ini Davin menemani Rerena mengobrol dan berkebun bunga. Davin tidak keberatan, ia malah merasa senang. Walaupun lelah ia tidak terlalu merasakan, asalkan bersama dengan Rerena, apapun akan ia lakukan.
Tapi waktu damai itu tidak bertahan lama, seorang yang tidak di harapkan datang untuk menjemput Rerena, karena menurutnya Rerena masihlah istrinya.
Keributan di halaman depan terdengar di telinga Rerena dan Davin. Merasa penasaran mereka berdua pergi ke tempat asal suara itu. Dan Ternyata Nile dan beberapa anak buahnya datang.
"Panggil Rerena kemari!" seru Nile pada penjaga.
Anak buah Nile yang mendengar kata lancang itu tentu saja marah. Mereka langsung menyerang, menendang penjaga itu hingga terpental cukup jauh.
Bugh,
"Apa yang kalian lakukan?" seru penjaga satu nya lagi, tidak terima rekannya di perlakukan sepertinya.
"Tentu saja membuat kalian menyesal karena berani lancang dengan Tuan kami,"
Pria yang menendang tadi menginjak dada penjaga itu membuat penjaga kesakitan dan susah bernafas. Menekannya dengan kuat.
"Le...lepaskan aku," pintanya mencoba menyingkirkan kaki pria besar tersebut dari dadanya.
Penjaga satunya yang melihat tentu saja tidak akan membiarkan rekannya mati di tangan pria yang tidak di kenal. Ia maju dan menyerang, tapi belum juga dia menyentuh tubuh itu, anak buah Nile lainnya sebuah peluru melesat dan membunuh penjaga tersebut, membuatnya mati seketika.
Rerena yang melihat menutup mulutnya dengan kedua tangan, terkejut. Ia tidak menyangka anak buah Nile akan melakukan pembunuhan di mansion Haidar.
Sedangkan Davin yang melihat hanya menatap dengan dingin. Nile sungguh berani sekali, pikirnya.
"Apa yang harus kita lakukan?"
"Tetaplah disini nona, biar saya yang mengurus mereka,"
Davin tidak ingin Rerena di bawa oleh Nile. Jadi apa boleh buat dirinya harus bertindak dan mengalahkan mereka semua.
__ADS_1
"Tapi__"
"Anda hubungi Tuan Haidar, saya akan menahan mereka sampai tuan datang,"
Davin melangkah pergi dan Rerena langsung menghubungi Haidar.
"Ada apa?"
"Nile, dia datang ke mansion. Dan saat ini Daniel sedang menghadapinya," jawab Rerena membuat Haidar yang ada di perusahaan langsung bergegas untuk pulang.
Haidar mengendarai mobilnya dengan cepat, takut Nile membawa Rerena pergi. Ia berharap Daniel bisa menahan Nile dam anak buahnya sampai dia datang. Jika dirinya bertemu dengan Nile, ia akan menunjukan bahwa Rerena tidak memiliki ikatan lagi dengan Nile, karena mereka berdua telah bercerai.
"Jangan harap kau mengambil wanita ku,"
Haidar menambah kecepatannya. Sedangkan Davin kini bersedekah dada menatap anak buah Nile yang berdiri di depannya.
"Siapa kau?" tanya anak buah Nile menunjuk wajah Davin.
Davin menatap dingin, beraninya pria itu menunjuk wajahnya.
"Aku malaikat yang akan mencabut nyawa mu,"
Sing...
Cras...
Telunjuk itu langsung terputus saat pisau tajam dengan cepat memotong jari tersebut.
Argh....!
Teriak nya saat merasakan sakit. Darah mengalir dengan deras.
Aksi cepat yang di lakukan Davin membuat terkejut semua yang melihatnya, begitupun dengan Rerena yang melihat hal tersebut. Ia tidak menyangka jika Daniel dengan mudah memotong jari pria yang menunjuknya.
"Sejak kapan dia memiliki pisau di tangannya?" gumam Rerena tidak menyangka jika Davij menyimpan pisau di tubuhnya.
Anak buah Nile tentu saja tidak terima temannya di perlakukan seperti itu. Mereka marah dan akan membunuh Daniel serta mencincangnya.
"Beraninya kau!"
Geram mereka dan langsung maju menyerang Davin menggunakan senjata mereka. Sedangkan Davin melawan dengan begitu santai. Menendang, menusuk, menggores dan meninju.
Aksi yang di lakukan Davin benar-benar tidak meraka sangka, bahwa pria yang mereka hadapi begitu lihai dalam hal bertarung. Dan semua itu di saksikan oleh Nile yang terus menatapnya.
.
.
Bersambung
__ADS_1