Cinta Dalam Diam Sang Pelayan

Cinta Dalam Diam Sang Pelayan
Penjagaan Ketat


__ADS_3

Bawahan itu pun menceritakan semua yang di ketahui, termasuk tuannya yang sering menyiksa Rerena. Nadira yang mendengar mencerna isi dari cerita itu. Ia memegang dagunya, berpikir


Jika Nile sering menyiksa Rerena, kenapa saat ini dia begitu khawatir. Bahkan sampai rela datang kesini hanya demi wanita itu. Atau jangan-jangan dia menyukai Rerena? Jika itu benar, Nadira tidak bisa tinggal diam. Ia harus melakukan apapun, termasuk menyingkirkan Rerena bahkan membunuhnya.


"Baiklah, permainan akan di mulai. Berani mengambil milik ku, maka rasakan akibatnya," seringai jahat muncul di bibir Nadira. Entah apa yang akan di lakukan wanita itu, hingga membuatnya berniat untuk membuat Rerena menderita bahkan mati. Tapi Nadira tidak berpikir bahwa Rerena tidak berniat mengambil Nile darinya, malah sebaliknya Nile ingin menjerat Rerena kembali.


.


.


Di tempat Davin berada, Varo mendapatkan informasi yang mengejutkan dari anak buahnya, tentang Rerena. Varo yang mendengar marah besar terhadap anak buahnya yang teledor memantau keamanan wanitanya tuannya dan berakhir fatal.


"Dasar bodoh, tidak becus. Mati saja kalian!" Marah Varo dengan nafas memburu. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi jika tuannya tahu apa yang sebenarnya terjadi. Dirinya harus memberi tahu, tapi jika memberi tahu bahwa Rerena kecelakaan, Tuannya sudah di pastikan akan pergi dan meninggalkan pekerjaan yang belum selesai ini. Dan lagi mereka harus kembali kesegaran N, karena ada hal yang harus di diskusikan dan di selesaikan di kerajaan.


Varo mondar-mandir di depan pintu ruangan tuannya. Bingung bagaimana caranya untuk menyampaikan kabar ini.


"Apa yang harus saya katakan?"


Varo sungguh bingung, tapi ini tidak bisa ia rahasiakan. Ia harus menceritakan semuanya. Dan dengan terpaksa Varo pun mengetuk pintu.


Tok


Tok


Tok


"Masuk," perintah Davin yang saat ini memeriksa berkas-berkas penting.


Davin mendongak ternyata Varo. "Ada apa?" tanya Davin masih dengan kesibukannya.


Varo tidak langsung menjawab, dia diam, membuat Davin menghentikan pekerjaannya dan menatap Varo.


"Ada apa?" tanya nya lagi menatap Varo yang wajahnya terlihat gelisah.


"Ada yang perlu saya katakan tuan, ini penting,"


Davin mengetutkan kening, ada masalah apa? sepertinya sangat penting membuat Varo yang gelisah. "Katakan, ada apa?"


Hah, Varo menggelar nafas dengan panjang sebelum menceritakan semuanya.


"Ini tentang Nona Rerena, tuan,"


Davin langsung menatap tajam Varo, bertanya-tanya ada apa dengan Rerena. Mungkinkah ada hal yang terjadi dengannya.


"Katakan ada apa dengan Rerena."


"No...Nona Rerena kecelakaan, tuan," jawab Varo langsung membuatnya terkejut karena Davin mengebrak meja dengan kuat.


Brak...

__ADS_1


"Katakan sekali lagi!"


Davin meminta Varo mengulang apa yang baru saja di katakannya, takut pendengaran nya salah.


"Nona Rerena kecelakaan tuan. Dan saat ini pelaku berada di tangan anak buah kita,"


"Kecelakaan?" tubuh Davin langsung lemas. Bagaimana bisa Rerena kecelakaan, sedangkan anak buahnya sudah di perintah untuk selalu melindunginya dari jarak jauh.


"Dimana anak buah mu saat itu, kenapa dia tidak menolongnya?"


"Kejadiannya begitu cepat tuan. Saat nona turun dari motor, mereka langsung menabrak tubuh Nona, membuat mereka tidak bisa menolongnya, apalagi saat itu warga langsung mengerumuni,"


"Dasar anak buah bodoh, tidak pantas mereka hidup. Aku akan membunuh mereka semua." marah Davin karena ketidakbecusan anak buahnya menjaga wanitanya.


"Apa mereka sudah menangkap pelakunya?"


"Sudah tuan,"


"Tanyakan siapa yang memberi perintah pada mereka. Dan jika mereka tidak mau mengakui, bunuh saja. Mereka tidak berguna."


"Baik Tuan,"


"Oh ya, siapkan penerbangan ku. Aku ingin bertemu dengan Rerena."


"Tidak bisa tuan, pekerjaan ini harus anda yang menyelesaikan, dan setelah ini anda harus kembali ke istana karena semuanya sedang menunggu kedatangan anda. Apalagi kita juga harus mengurus masalah yang ada di markas karena adanya penyusup dari musuh."


"Tidak tuan,"


"Kalau begitu siapkan penerbangan ku,".


"Maaf tidak bisa."


"Kau gila. Aku ingin bertemu wanita ku. Aku takut dia kenapa-napa,"


"Maaf tuan. Untuk urusan itu serahkan saja pada anak buah kita dan dokter. Saya sudah memberi perintah pada mereka menjaga dan merawat nona dengan baik,"


"Aku tidak percaya. Dia hanya baik-baik saja jika bersama ku. Anak buah mu yang bodoh itu saja tidak mampu melindunginya saat kecelakaan, bagaimana bisa aku percaya mereka menjaga Rerena," kesal Davin ingin segera terbang kenegara asal untuk menemui Rerena.


"Anda tenang saja. Akan saya ganti mereka dengan yang lainnya. Untuk mereka yang tolol ini ada bisa memberikan pelajaran kepada mereka nanti setelah urusan anda semuanya selesai."


Davin bukan tidak tahu sesibuk apa urusan yang harus dia selesaikan. Apalagi masalah di kerajaan, benar-benar membuat nya pusing. Dan masih ada lagi, seorang penyusup yang di kirim musuhnya.


"Argh...Sial!" Davin benar-benar pusing memikirkannya. Urusan yang begitu menumpuk, kini datang lagi dengan Rerena yang mengalami kecelakaan.


"Perintahkan anak buah mu untuk menjaga tempat dimana Rerena di rawat. Jangan sampai ada yang menyakitinya."


"Baik tuan,"


Di rumah sakit, beberapa orang dengan pakaian serba hitam dengan tubuh kekar kini berjalan menuju ruangan dimana Rerena di rawat. Beberapa anak buah Nile yang melihat beberapa orang itu langsung waspada saat mereka menghampiri.

__ADS_1


Dan


Kliikkk


Kliiikkk


Kliiikkk


Semua langsung menodongkan senjata ke arah anak buah Nile.


"Siapa kalian?" tanya seorang anak buah Nile yang di perintah untuk menjaga Rerena.


"Pergi dari sini, atau kuledakkan kepala kalian," jawab dari seorang pria berpakaian hitam dengan wajah dingin dan sangar.


"Berani sekali kalian. Belum tahu siapa kita," Remeh anak buah Nile seolah beberapa pria di depannya bukanlah siapa-siapa. "Hajar mereka dan lempar keluar dari tempat ini,"


Tapi belum juga mereka bergerak, semua pria berpakaian itu maju dan meninju, menendang dan memukul membuat mereka dalam sedetik kalah dengan tubuh penuh lebam.


"Seret mereka semua dari tempat ini,"


"Baik," Jawab mereka kompak dan menyeret kaki mereka dengan paksa hingga keluar dari rumah sakit.


Bugh


Bugh


Bugh


"Pergi dan jangan muncul di hadapan kami. Jika sekali kami melihat, kepala kalian akan ku lubangi dengan senjata kami,"


Mereka tidak peduli dengan banyak orang yang melihat. Mereka hanya melakukan tugas untuk menjaga nona mereka sesuai perintah dari bos mereka.


Malam hari Bella sedang bersiap untuk melancarkan aksinya. Dia memasukkan sesuatu kedalam tak kecilnya. Dan senyum seringai muncul di bibirnya.


"Kau akan mati setelah ini," Gumamnya dan pergi.


Haidar yang saat itu duduk di ruang tamu sedang membaca koran, melihat Bella hendak pergi, menghentikan.


"Mau kemana?"


"Aku ingin pergi sebenar. Ada seuatu yang ingin ku beli,"


Bella pergi tanpa membuat Haidar curiga sedikitpun. Bella menunggu taksi di depan. Dan setelah taksi itu datang, ia pun pergi menuju rumah sakit di mana Rerena berada.


.


.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2