
"Tuan, ampun tuan," mohonnya lagi karena tubuhnya sangat-sangat sakit akibat pukulan tuannya yang begitu kuat.
Semua yang melihat menelan ludah, ia tahu tuannya marah saat ini. Mereka tidak ada yang berani berkata karena takut mereka malah terkena bogem tuannya.
Rerena yang melihat menghentikan. Ia tidak ingin berlama-lama di tempat itu, takut anak buah Nile lainnya datang.
.
.
"Pergi kalian!" usir Davin sambil menendang pria itu.
Dengan tergesa-gesa semuanya pergi dan kini tinggal mereka bertiga, Davin, Rerena dan supir.
"Kalian tidak apa-apa?" tanyanya menghampiri.
Rerena mengangguk, "Saya tidak apa-apa. Terimakasih telah membantu saya, tuan," jawab Rerena dengan sopan.
"Baguslah kalau begitu. Saya permisi,"
Davin melangkah pergi, Rerena menatap punggung lebar itu.
"Tunggu!" panggilnya menghentikan langkah Davin.
Davin langsung berhenti dan berbalik, menatap Rerena dengan kening berkerut, "Ada apa nona?" tanya Davin pura-pura bingung. Padahal dalam hati, ia berharap di hengikan dan di mintai bantuan.
"Minta aku menjadi pengawal mu," batinnya dalam hati, berharap Rerena meminta bantuannya lagi.
Rerena mendekat, dan berdiri saling berhadapan. "Em, siapa nama anda?"
"Daniel," jawab Davin dengan nama samaran.
"Daniel? Em, jika boleh tahu anda hendak kemana?"
"Em....saya mau pergi supermarket di depan, hendak belanja," jawab Daniel berbohong.
Rerena menatap sekeliling, berpikir apakah priantadi datang dengan berjalan kaki karena tidak di lihatnya sebuah kendaraan di tempat itu.
"Anda berjalan kaki?"
Davin yang di tanya langsung sadar jika dirinya tidak membawa kendaraan tadi karena dirinya datang bersama dengan Varo.
"Hehehe, ya saya berjalan kaki karena tidak memiliki kendaraan," jawab nya sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Saya hanya orang miskin, tidak bisa untuk membeli kendaraan. Apalagi saya hanya pengangguran,"
Rerena yang mendengar diam, menatap Davin dari atas hingga bawah, meneliti. Jika di lihat dari pakaiannya memang seperti pemuda tak mampu. Tapi saat melihat kulit dan postur tubuhnya, Davin lebih cocok menjadi seorang pengusaha. Di pole sedikit mungkin Davin terlihat tampan dan wibawa.
Rerena yang membayangkan, menggelengkan kepala, "Apa yang kau pikirkan?" gumamnya dalam hati pada dirinya sendiri, memikirkan yang tidak-tidak.
"Ehm... Apa kamu butuh pekerjaan?"
__ADS_1
"Pekerjaan? Tentu saja, saya butuh," jawab Davin cepat.
"Mau kah kamu bekerja dengan ku? Aku butuh seorang pelayan sekaligus pengawal," ucap Rerena entah kenapa ingin Davin menjadi pelayan dan pengawal yang selalu menemaninya setiap saat, melindunginya dari bahaya Nile Alvarendra.
Tahu Davin handal dalam berkelahi, membuat Rerena tertarik dan memutuskan untuk merekrut Davin. Yah, walaupun Haidar belum mengetahui, tapi ia yakin Haidar pasti akan setuju dengan nya.
Davin yang mendengar tentu saja senang dan dengan cepat menerima. "Ya, saya mau. Saya akan menjaga anda dengan kemampuan saya," jawab Davin jujur, ia akan menjaga Rerena sepenuh hati dan melindunginya dari orang-orang yang ingin menyakitinya.
Setelah menerima tawaran Rerena, Davin ikut bersama dengan Rerena, pergi ke supermarket untuk berbelanja. Dan setelah sampai, Davin mengikuti, menjaga Rerena dari jarak dekat.
"Biar saya yang membawa keranjangnya," kata Davin mengambil keranjang daringangan Rerena.
Rerena sempat terkejut, tapi setelah itu tersenyum, "Baiklah,"
Davin yang melihat senyum itu sungguh hatinya begitu senang, ia tidak menyangka hanya melihat senyumamnya saja jantungnya sudah berdetak tak karuan.
"Ah, jantung ku," sentuhnya pada dadanya yang berdetak cepat.
Davin mengikuti kemana Rerena berjalan, membawakan belanjaanya yang cukup banyak.
"Bawa ini ke mobil, setelah ini kita pulang,"
"Baik, nona," Jawab Davin menikmati pekerjaannya, menjadi pelayan wanita yang di cintainya.
Davin sama sekali tidak keberatan, ia malah begitu senang. Senang karena bisa dekat dengan wanita yang di inginkannya.
Semua yang di lakukan Davin di lihat oleh Varo dan anak buah lainnya yang tadi di pukuli oleh Davin.
"Tuan benar-benar melakukannya," gumam mereka tidak menyangka tuannya akan melakukan pekerjaan seperti itu, menjadi seorang pelayan dan penjaga untuk seorang wanita. Merendahkan martabatnya hanya karena wanita yang menggoyahkan hatinya.
.
.
Setelah sampai di mansion Haidar, Davin membawa belanjaan itu di bantu oleh pak sopir, membawanya ke dapur. Sedangkan Rerena duduk di ruang tamu menghubungi Haidar bahwa dirinya membawa seseorang untuk menjadi pelayan dan penjaganya.
Drttt....
Drttr....
"Ada apa?" tanya Haidar, tidak biasanya Rerena menghubungi jam segini.
"Apa aku menganggu mu?"
"Tidak. Tumben menghubungi ku ham segini, apa ada sesuatu?"
"Ya, aku ingin mengatakan jika aku membawa seseorang,"
"Seseorang? Siapa?" tanya Haidar mengerutkan kening. Bertanya-tanya siapa orang yang di bawa Rerena, wanita atau laki-laki?
__ADS_1
"Namanya Daniel, dia akan menjadi pelayan dan pengawal ku. Kamu tidak masalah kan? Setelah di rumah aku akan mengenalkannya pada mu,"
Haidar diam, penasaran akan siapa Daniel? Kenapa Rerena bisa kenal dengan pria bernama Daniel ini. Ia akan bertanya setelah nanti pulang kerumah.
"Baiklah, aku akan menemuinya setelah di rumah," jawab Haidar dan panggilan pun berakhir.
.
.
Davin yang telah selesai mengantar belanjaan di dapur kini menghadap Rerena.
"Nona,"
"Oh ya, mulai sekarang kamu bisa tinggal disini. Kamar mu ada di belakang, nanti pak Min akan mengantar mu," ucap Rerena namun Davin langsung menolak dengan halus.
"Maaf nona, untuk tinggal disini sepertinya saya tidak bisa, karena saya memiliki orang tua yang sudah renta. Saya bisa bekerja disini hanya untuk siang hingga sore hari, dan untuk malam harinya saya harus menjaga bapak saya," jelas Davin dan Rerena diam, berpikir. Mungkin pagi hingga sore tidak masalah karena malam hari ia tidak pernah keluar.
"Baiklah jika begitu,"
"Terimakasih nona," Rerena mengangguk.
"Oh ya, malam ini tunggulah disini dulu. Aku akan mengenalkan mu pada Haidar,"
Davin yang mendengar nama Haidar tangannya langsung mengepalkan tangan, tidak rela wanitanya menyebut nama pria lain di depannya.
"Haidar sialan! Awas saja kau jika berani merebut wanita ku," gumamnya dalam hati.
.
.
Malam hari, Haidar pulang dan langsung meminta bertemu dengan Davin. Haidar menatap Davin dari atas hingga bawah, namun Davin yang di tatap hanya diam, tanpa ada rasa takut sedikit pun saat tatapan haidar penuh selidik.
"Siapa nama mu?"
"Daniel tuan," jawab Davin dengan santai.
"Bagaimana kamu bisa bertemu dengan Rena?" Tanya Haidar waspada, takut pria di depannya anak buah Nile yang menyamar
Rerena yang melihat Haidar seolah mencurigai Davin langsung menceritakan semua apa yang di alaminya tadi pagi. Dan Haidar yang mendengar tentu saja terkejut, bagaimana bisa anak buah Nile mencoba menculik Rerena. Jika itu terjadi lagi, tidak bisa di biarkan. Mungkin dengan adanya pengawal akan membuat Rerena lebih aman.
.
.
.
Bersambung
__ADS_1