Cinta Dalam Diam Sang Pelayan

Cinta Dalam Diam Sang Pelayan
Menyerang Markas RED BLOOD


__ADS_3

Beberapa jam perjalanan,  mereka pun tiba pada malam hari di bandara. Di sana mereka sambut oleh beberapa anak buahnya yang sejak tadi menunggu kedatangan mereka berdua.


"Mari tuan," 


Davin dan Varo masuk kedalam mobil mewah berwarna hitam menuju mansion besar milik Davin, tempat dimana markas anak buah nya saat ini berada. 


Setengah jam perjalanan mereka sampai di mansion.  Disana semuanya telah siap untuk keberangkatan mereka menuju markas Taksa.


Senjata yang mereka bawa juga senjata terbaik yang mereka miliki, senjata yang di buat langsung oleh perusahaan TYREND CROP'S. 


Davin yang melihat anak buahnya sudah siap semua, tanpa beristirahat terlebih dahulu, mereka langsung berangkat menuju Markas RED BLOOD. 


"Apa mereka tahu kita akan menyerang mereka?"


"Tidak tuan. Dari pantauan anak buah kita mereka terlihat santai. Sepertinya memang tidak mengetahui jika kita akan menyerang dan menghancurkan tempat mereka hingga rata.


"Jangan tunda, langsung serang dari depan," 


"Baik,"


Beberapa Mobil hitam beriringan membelah malam yang sunyi. Saat sampai di tempat yang di tuju, mobil paling depan langsung menabrak pagar besi hingga pagar itu roboh, membuat rombongan Davin dengan mudah masuk.


Mereka membuka kaca mobil dan langsung menyerang tanpa menunggu perlawanan dari mereka. Menembak anak buah Taksa yang terlihat.


Door…


Door…


Door…


Anak buah Taksa yang mendapatkan serangan dadakan panik, mereka langsung membalas tembakan itu sehingga tempat itu menjadi riuh karena adu tembak antar dua kubu.


Anak buah Davin turun dari mobil dan terus membidikkan senjatanya, menembak Anak buah Taksa yang kini semuanya keluar dari dalam karena mendengar keributan di halaman depan.


Anak buah Davin tidak hanya menembak, mereka juga melempar bom dan granat hingga meledak dan membuat anak buah Taksa mati banyak dalam sekejap.


Boom….


Boom….


Boom….


Duaar….


Duaar….


Ledakan itu membuat tempat itu hancur dan api menyala hingga membuat asap mengepul di udara.


Banyak nyawa tergeletak mati dengan keadaan tubuh gosong dan ada juga yang hancur akibat ledakan itu.


Anak buah Taksa tentu saja terkejut melihat persiapan musuh menghancurkan mereka. Dan akhirnya hanya bisa melawan hingga titik darah menghabiskan.


Davin tidak ikut dalam pertarungan itu. Dia duduk santai, menonton pertunjukan sambil menyesap rokok bersama dengan Varo. Biarlah anak buahnya yang mengurus mereka. Karena Davin yakin anak buahnya mampu melawan dan mengalahkan semuanya.


Door….

__ADS_1


Door….


Door….


Suara tembakan terus saja saling bersahutan, melesat ke tubuh lawan masing-masing. Tak hanya pertarungan antar senjata api saja. Ada juga yang bertarung menggunakan senjata tajam.


Craas….


Craas….


Craas….


Darah tercecer di tanah akibat luka yang mereka dapatkan.


Pertarungan sengit terus terjadi membuat markas RED BLOOD sangat kacau. Taksa yang berada di rumah kini mendapatkan panggilan dari anak buahnya bahwa markas mereka di sereng oleh kelompok tak di kenal. 


Taksa tentu saja terkejut dan marah. Dia memberi perintah apapun yang terjadi harus mengalahkan mereka. 


"Lawan mereka dan jangan biarkan mereka menginjak-injak kelompok mafia kita,"


"Tapi tuan, kelompok ini sungguh sangat kuat. Apalagi senjata mereka juga lengkap. Seperti nya akan susah untuk mengalahkan mereka."


"Dari kelompok mana mereka?"


"Saya tidak tahu tuan, bahkan ketua dari kelompok itu pun saya tidak tahu dari mana asalnya?"


"Suruh anak buah mu menghalangi, gunakan apapun cara agar mereka mundur,"


"Sepertinya akan susah. Bahkan mereka sepertinya ingin meledakkan dan meratakan markas kita,"


"Mereka juga mempunyai Bom dan granat. Oleh sebab itu mereka mudah membunuh dan menghabisi pasukan kita."


"Sialan! Kelompok mana sebenarnya mereka? Oh, ya aku akan menghubungi Smith meminta bantuannya. Jangan biarkan mereka menemukan dua tahanan kita."


"Baik tuan," 


Jika di markas RED BLOOD sedang kacau balas, di tempat Nile juga tak kalau kacaunya. Nile membanting gelas dan melempar berkas-berkas yang ada di meja karena marah saat mendapatkan kiriman foto dari nomor tak di kenal.


Nile yakin nomor pengirim foto adalah Davin. Karena belum lama ini yang terus terang ingin mengambil Rerena hanya dia. 


Davin dengan jahilnya mengirim sebuah foto dirinya mengecup kening Rerena yang sedang tertidur saat sebelum dia berangkat menyerang markas RED BLOOD.  Amarah Nile berapi-api saat melihat kemesraan itu.


Nile tahu Rerena hilang dari rumah sakit. Tapi ternyata pelakunya adalah Davin. Pantas saja Davin berani bicara seperti itu padanya, ternyata Rerena bersama dengannya. 


"Dasar badjingan! Beraninya dia menyentuh wanita ku!"


Marahnya dengan nafas naik turun tak beraturan.


Nadira yang tak sengaja mendengar mengepalkan tangan. Jadi kemarahan pria yang di sukainya karena wanita sialan itu. Nadira tak akan membiarkan. Dia langsung menghubungi anak buah papanya yang bersamanya untuk mencari keberadaan Rerena.


"Cari keberadaan wanita itu sampai ketemu. Apapun yang terjadi temukan dan kabarkan pada ku,"


"Baik nona," 


Anak buah Nadira langsung melakukan tugas, melacak keberadaan Rerena keseluruhan tempat. Sedangkan Nile yang geram dan marah terhadap Nile kini menghubungi ayahnya. Namun sialnya ponselnya sedang sibuk, mungkin karena Taksa sedang menghubungi Tuan Smith.

__ADS_1


Di markas RED BLOOD, anak buah Taksa tidak bisa menahan pasukan Davin lagi. Mereka kalah telak karena pasukan lawan lebih unggul dalam segala hal. Ya, walaupun ada sebagian anak buah Davin yang mati, tapi tidak sebanyak anak buha Taksa. Dan itu sudah merugikan kekuatan mereka. 


"Menyerah saja kalian semua," seru seorang anak buah Davin dengan lantang di depan anak buah Taksa.


"Kami tidak akan menyerah, apapun yang terjadi kami akan tetap melawan," saut anak buah Taksa. Menyerah bukan lah pilihan bagus untuk mereka. Seorang magia harus pantang menyerah. Daripada menyerah di depan musuh lebih baik mati di tangan mereka.


"Dasar bodoh! Bunuh dan hancurkan!"  


Tanpa menunggu lama lagi mereka kembali bertarung. Anak buah Davin melawan anak buah Taksa yang jumlah kini lebih sedikit. 


Door….


Door….


Door….


Tembakan kembali terdengar, melesat menembus tubuh mereka.


Craas….


Craas….


Sraak….


Sraak….


Sayatan dan hunusan pisau juga dengan cepat membunuh musuh yang sudah kelelahan. Bahkan pukulan dan tendangan tak luput di rasakan oleh anak buah Taksa. Membuat hampir semuanya mati. Dan kini tinggal beberapa yang masih bertahan berdiri, itupun dengan tubuh ketakutan dan gemetar.


Anak buah Davin berjalan dengan seringai mengerikannya, membawa senjata yang di letakkan di bahu dan ada pula yang membawa dua senjata di kedua tangan mereka masing-masing dan itu berhasil membuat mereka ketakutan setengah mati melihat kengerian anak buah Davin.


"Jangan bunuh kami, jangan bunuh kami. Kami akan menyerah. Tapi mohon jangan bunuh kami,"


Terlambat."


Senjata api laras panjang di pegangnya dan di arahnya ke arah tubuh mereka.


Door….


Door….


Door….


Darah mencuat dari tubuh mereka membuat tubuh itu berlubang karena banyak peluru yang menembus tubuh mereka. 


Bugh


Semuanya tergeletak tak bernyawa.Alias mati.


.


.


.


Bersambung 

__ADS_1


__ADS_2