
"Cantik sekali, aku menginginkannya,"
Davin hanya bisa berseru dalam hati, ia tidak berani berkata atau mengungkapkannya, takut Rerena terkejut dan membencinya, menganggapnya orang gila.
"Aku hanya bisa mencintaimu dalam diam untuk saat ini."
.
.
Rerena adalah tipe wanita yang baik, ia selalu tidak tegaan, apalagi melihat Davin yang selalu bertindak untuk melindunginya. Walaupun Davin seorang pelayan serta pengawal yang di mintanya, ia sudah menganggap Davin sebagai temannya sejak mereka bertemu.
"Nona tidak perlu melakukan ini,"
Davin mengambil kapas serta perban di tangan Rerena. Ia tidak ingin ada yang salah paham dengannya. Yah, walaupun memang keinginannya seperti itu, berharap ada yang mengatakan hubungan mereka dekat.
"Kenapa? Aku hanya ingin membantu mu. Lagian kamu terluka juga karena melindungi ku,"
"Itu sudah tugas saya nona, biarkan Buk Su yang mengobati saya,"
Rerena menatap Davin. Davin yang di tatap salah tingkah, wajahnya bertemu merah, bahkan telinganya memerah, entah kenapa ia gerogi dan malu.
"Ada apa dengan mu? Kenapa hanya di tatap kamu sudah seperti ini," gumamnya pada diri sendiri, karena salah tingkah.
Sedangkan Rerena yang menatap Davin, seolah pernah melihat mata itu. "Dimana aku pernah melihat mata itu,"
"Kamu diam saja. Atau aku akan memukul luka mu ini," kesalnya karena Davin sejak tadi mengoceh terus, menolak niat baiknya.
Melihat wajah kesal Rerena, Davin langsung diam. Tapi dalam hati ia semakin jatuh cinta saat melihat Rerena mengamelinya.
"Saat dia marah, dia semakin cantik. Aku semakin mencintainya,"
Rerena terus memaksa dan akhirnya Davin hanya bisa pasrah tanpa bisa menolak. Sedangkan Buk Su yang mengintip senyum-senyum tidak jelas.
"Kenapa mereka seperti sepasang kekasih, terlihat romantis," gumamnya di dengar oleh Pak Min yang melihat Buk Su mengintip dari balik pintu.
"Ehm....Tuan lebih cocok dengan Nona," jawab Pak Min membuat Buk Su terkejut.
Plak...
Pukulnya dengan keras di lengan Pak Min.
"Kamu membuat ku kaget tahu," kesalnya karena tiba-tiba Pak Min muncul.
Pak Min mengintip Rerena yang sedang memberi perban pada luka Davin. Entah kenapa ia memiliki pemikiran yang buruk, berharap Daniel tidak menyukai Nonanya karena kebaikan tersebut.
"Semoga saja mereka hanya pelayan dan majikan," gumamnya dan mengajak Buk Su pergi dari sana.
__ADS_1
Sedangkan Rerena yang telah selesai mengobati luka Davin kini membereskan obat yang baru saja di gunakannya dan pergi. Tapi sebelum Rerena pergi dari hadapannya, Davin mengucapkan terimakasih karena telah membantunya.
"Terimakasih Nona," Rerena mengangguk dan pergi.
Melihat wanita yang di cintainya pergi dari hadapannya, Davin menghela napas dengan berat.
.
.
Di rumah sakit dimana Nile kini di rawat, Fin yang mengetahui begitu marah. Ia menyesal karena tidak mendampingi tuannya.
"Badjingan sialan itu harus segera di singkirkan!" Marahnya tidak akan melepaskan Davin karena telah membuat tuannya berbaring di rumah sakit.
Fin, menghubungi Tuan Taksa, menceritakan apa yang di alami tuannya.
"Bunuh badjingan itu! Aku akan mengirim anak buah ku untuk datang kesana," marah Taksa tidak terima anaknya di perlakukan seperti itu oleh seorang pelayan.
Fin senang karena Tuan besarnya akan membantu tuannya, bahkan akan mengirim langsung anak buahnya yang ada di markas RED BLOOD.
Beberapa hari setelah menyelesaikan masalahnya tentang perusahaan yang di bobol oleh seseorang yang tidak bertanggung jawab, kini perusahan Taksa kembali normal. Yah walaupun tetap tidak menemukan pelakunya, dan membuatnya memiliki waktu untuk memikirkan putranya yang tetap mengejar Rerena walaupun Taksa tahu, Nike tidak menyukai wanita itu.
Taksa mengehela nafas, setelah panggilan dengan Fin selesai, Taksa kini menghubungi seseorang.
"Hallo, om," jawab seorang wanita muda. "Ada apa om, apa ada yang bisa saya bantu?"
"Sudah om."
"Kalau begitu datanglah kemari. Om yakin kamu merindukan Nile bukan?"
Andira tertawa kecil, memang ia merindukan Nile selama ini. "Aku memang merindukannya om."
"Om tunggu kedatangan mu,"
Andira mengangguk, ia tidak sabar bertemu dengan pujaan hatinya. Andira menatap langit-langit kamar, membayangkan wajah Nile yang tampan. "Aku akan datang, tunggu aku."
.
.
Setelah kejadian Davin menghajar Nile saat itu, Rerena semakin dekat. Bahkan sering kali mereka mengobrol bersama, membuat seseorang cemburu akan kedekatan merek. Siapa lagi jika bukan Haidar.
"Kenapa kamu dekat sekali dengan nya? Aku tidak suka,"
Haidar mengungkapkan perasaannya akan tidak sukanya Rerena yang dekat dengan Davin, karena penututnya itu tidak pantas, sebab Davin hanya seorang pelayan.
Rerena terkekeh kecil, sungguh lucu sekali pikirnya. "Aku hanya menganggapnya teman. Apa kamu cemburu?"
__ADS_1
"Tentu saja aku cemburu. Aku ini kekasih mu, melihat nu dekat dengan pria lain tentu saja membuat ku cemburu dan tidak tenang. Aku takut kebaikan mu membuatnya salah paham dan membuatnya mencintai mu. Bahkan aku takut kamu juga akan jatuh cinta dengan nya,"
Rerena tertawa kecil, sungguh lucu sekali kekasihnya ini jika sedang cemburu.
"Mana mungkin aku akan jatuh cinta dengannya. Cinta ku hanya untuk mu, tidak akan berubah."
Mendengar itu Haidar begitu bahagia. Ia menarik tubuh Rerena dalam pelukannya. "Aku tidak ingin kehilangan mu lagi, aku mencintai mu Re,"
Rerena mengangguk, membalas pelukan itu. Tapi semua apa yang di lakukan Rerena dan Haidar membuat seorang di bakar amarah dan cemburu. Dia sungguh kesal, dan mengambil ponselnya menghubungi seseorang.
"Datang ke sini, dan buat Haidar menjadi milik mu. Jika kamu tidak berhasil, aku akan menghancurkan keluarga mu, dan membunuh mu," ancam Davin pada seseorang.
Seseorang yang di hubungi itu mengangguk dan akan melakukan apa yang di perintahkan oleh Davin. Lagian walaupun Davin mengancamnya, dia tetap akan menjadikan Haidar miliknya.
"Tunggu aku, akan ku buat kau menjadi milik ku Haidar,"
Davin melihat Rerena kembali, dan setelah itu pergi, tidak tahan dengan kemesraaan mereka berdua.
"Tak akan ku biarkan kamu menjadi miliknya,"
.
.
Di rumah sakit tempat Nile di rawat, Nile sudah siuman. Saat pertama kali ia membuka mata, di lihatnya wajah Tuan Taksa yang menatapnya tajam.
"Dad,"
"Memalukan," kesalnya karena Nile dengan mudah di kalahkan oleh seorang pelayan.
Nile hanya diam, ia tahu membuat Daddy nya kecewa. Tapi ia memang mengakui kekuatan pelayan itu kuat, ia sungguh bukan lawan nya.
"Mulai hari ini lupakan wanita itu, Nadira akan datang kemari. Cintai dia dan jangan buat masalah lagi."
Nile terkejut, Nadira, wanita yang selalu mengejar-ngejarnya. Tidak, ia tidak mau. Walaupun ia tidak mencintai Rerena, tapi ia tidak ingin dengan Nadira yang selalu menempel padanya.
"Aku tidak menginginkannya,"
"Menginginkannya atau tidak, ini sudah keputusan Daddy. Kamu harus menurut dan terima dia."
"Aku masih tetap menginginkan Rerena, Dad,"
"Jika hanya untuk balas dendam kau bisa menyiksa kedua orang tuanya, tidak untuk membuatnya bersama mu. Lagian kau tidak ada hubungannya lagi dengannya. Dia bukan lagi istri mu,"
.
.
__ADS_1
Bersambung