Cinta Dalam Diam Sang Pelayan

Cinta Dalam Diam Sang Pelayan
Bermanja


__ADS_3

Saat mereka sibuk berpikir, pintu di buka oleh seseorang. 


Semuanya menoleh ke arah pintu. Mereka semua terkejut saat seorang security membopong Nadira yang tak sadarkan diri dengan tubuh tanpa sehelai pakaian. 


"Nadira….!"


Teriak Paleo dan berlari ke arah anaknya. Mengambil alih tubuh Nadira yang polos. Nile yang melihat langsung melepas kemejanya dan menutupinya.


"Sayang, bangun nak. Bangun, ini papa," panggil Paleo menepuk-nepuk pipi Nadira agar sadar dari pingsannya. 


Namun Nadira tidak bergeming, ia tetap tak sadarkan diri.


"Lebih baik bawa Nadira ke rumah sakit. Tubuhnya terdapat banyak luka, kita harus memberikan perawatan untuknya." Ucap Taksa dan Paleo mengangguk. Benar, Nadira harus mendapatkan perawatan.


"Nile, ambil mobil. Kita pergi kerumah sakit." Perintah Taksa dan Nile pun pergi. Walaupun Nile tidak suka, tapi saat melihat Nadira ia juga tidak tega. Apalagi saat melihat luka di tubuh Nadira yang cukup parah.


Tak lama akhirnya mereka sampai di rumah sakit. Dan Nadira langsung mendapatkan penanganan beberapa Dokter.


Paleo yang melihat keadaan putrinya mengepalkan tangan, meninju dingin dengan marah. 


"Akan ku buat kalian menyesal karena membuat putri ku seperti ini," geramnya begitu dendam dengan Davin.


"Kita akan bersama-sama menghancurkan Davin badjingan itu." Taksa juga tidak akan membiarkan Davin menang. Apapun akan dia lakukan asalkan bisa membunuh Davin, pemuda yang menghancurkan segala miliknya. 


Setelah mendapatkan penanganan, Nadira kini di pindahkan ke tempat ruang perawatan. Nadira masih tak sadarkan diri dan itu membuat hati Paleo sakit.


"Sayang, papa janji. Papa akan membalas semua perbuatan nya. Dan untuk pria itu papa akan membunuhnya sendiri dengan tangan papa. Kamu tidak perlu khawatir,  papa akan membalasnya semua dendam mu," bisik Paleo sambil tangannya mengelus lembut kepala Nadira. 


Di lain tempat, anak buah Coky melaporkan informasi yang mereka dapatkan, tentang Davin yang membuat keluarga Smith dan Alvarendra hancur. 


Coky mendengar dengan serius saat anak buahnya menjelaskan.


"Jadi, Davin menghancurkan dua keluarga  itu karena seorang wanita yang di racuni Bella?"


"Benar Tuan. Dan kemaren Pria itu membuat anak gadis Tuan Smith menderita. Mereka memperkosa wanita itu bergilir dan menyiksanya,"


"Sungguh kejam sekali. Aku baru tahu kalau Davin semenjijikkan itu,"


"Bukan Davin yang melakukan nya tuan. Tapi anak buahnya,"


"Ah, aku kira Davin. Tapi entah kenapa aku berharap Davin yang melakukannya. Tapi sepertinya itu hanya angan ku saja. Tidak mungkin pria itu mau menyentuh sembarangan wanita,"


"Lalu selanjutnya apa yang terjadi?"


"Sepertinya Tuan Alvarendra dan Tuan Smith berencana untuk membalas semua perbuatan Davin pada mereka. Hanya saja entah kenapa mereka tidak langsung bergerak."


"Selidiki, kenapa mereka tidak langsung bergerak?" 


"Baik tuan," 


"Dan jika perlu tawarkan kerja sama dengan kita. Semakin banyak anggota semakin bagus untuk menghancurkan THE GOLD HOLD,"


"Akan saya lakukan tuan,"


Setelah mengatakan hal itu pada tuannya, pria itu tidak menunda lagi mereka langsung menyelidiki kenapa Tuan Alvarendra dan Tuan Smith tidak melakukan penyerangan terhadap Davin.

__ADS_1


Sedangkan di Villa, Davin memutar pena di tangannya, berpikir tentang rencana selanjutnya. 


Tapi pikiran itu langsung berhenti saat pintu di buka oleh seseorang. Siapa lagi jika bukan Rerena yang membuat hatinya selalu berdebar dan perasaannya berbunga serta kacau.


"Sayang,"


"Apa aku mengganggu mu?"


"Sama sekali tidak." 


Davin beranjak dan menghampiri mendorong kursi roda Rerena dan masuk ke ruangannya.


Davin berjongkok di depan Rerena, menggenggam tangan itu dengan lembut. 


"Apa yang membuatmu datang kemari? Apa kamu merindukan ku yang tampan ini?"


Entah kenapa Rerena merasa mulut Davin semakin lihai berbicara manis dengannya. Tidak seperti dulu saat Davin menyamar menjadi pelayannya. 


"Aku ingin keluar. Aku bosan didalam Villa terus."


"Kamu ingin kemana?" Tanya Davin dengan lembut sambil mengelus pipi lembut Rerena. 


"Aku ingin pergi ketaman dan melihat keramaian di kota. Sudah lama aku tidak keluar, aku jenuh,"


Davin diam. Saat ini keadaan mereka tidak baik jika keluar. Banyak musuh yang mengincarnya. Jika Davin keluar bersama dengan Rerena, takut terjadi sesuatu dengan wanita yang di cintai nya. Apalagi keadaan Rerena yang belum pulih, sudah di pastikan musuh akan menjadikan Rerena target kelemahannya.


"Sayang," panggil Davin dengan lembut. "Aku akan mengajakmu keluar bahkan keliling dunia sekalipun. Tapi untuk saat ini jangan dulu, banyak musuh yang mengincar ku. Aku tidak ingin terjadi sesuatu denganmu. Bukan karena aku tidak mampu, tapi jika diri mu yang menjadi target, aku tidak sanggup harus kehilangan mu,"


"Mungkin beberapa akhir ini aku akan sibuk. Dan mungkin saja musuh ku akan melakukan penyerangan. Untuk sementara aku akan mengirimmu ke suatu tempat agar kamu aman disana. Mau kah kamu menuruti permintaan ku?"


"Baiklah," jawab Rerena dan Davin mengecup lembut tangan putih Rerena. 


"I love you,"


Rerena tersenyum dan hanya mengangguk saja. Membuat Davin cemberut karena kata cintanya tidak di jawab.


"Sayang,"


"Apa?"


"Kenapa tidak menjawab ku,"


"Memang aku harus menjawab apa?" Jawab Rerena pura-pura bodoh.


"Tentu saja I love you to. Aku ingin mendengarnya dari bibir mu yang manis ini,"


"Tidak,"


Cemberut, Davin cemberut. Dia pun tanpa meminta izin langsung menyerobot bibir Rerena dan melu-matnya.


Namun belum juga puas, terdengar pintu di buka oleh seseorang yang tak lain adalah Queen.


Ehem….


Davin langsung melepas ciumannya dan cemberut ke arah Mommy nya karena mengganggu kesenangannya.

__ADS_1


"Kenapa Mommy datang?"


"Kau tidak ingin Mommy datang? Apa karena Mommy mengganggu mu?"


"Tentu saja," jawab Davin kesal. 


Sedangkan Rerena menunduk malu, karena ketahuan sedang berciuman dengan Davin.


"Ini salahnya. Mommy pasti berpikir yang tidak-tidak." Gumam Rerena dalam hati.


Tanpa Rerena berfikir seperti itu, Queen telah tahu apa yang mereka lakukan selama ini. Berdua di dalam kamar tidak mungkin putranya tidak melakukan sesuatu, pastinya putranya sudah mencicipi rasa-rasa di tubuh Rerena.


Queen yang melihat Rerena menunduk berbicara lembut. "Sayang, mommy ingin berbicara dengan Davin. Bisakah kamu keluar sebentar,"


"Kenapa harus keluar? Biarkan dia tetap disini," Davin tidak terima Mommynya mengusir wanitanya. Dia tidak ingin Rerena pergi.


"Mommy ingin bicara penting dengan mu,"


"Aku akan keluar. Kalian bicaralah." Rerena tidak enak dan pilih pergi dari ruangan itu. Mungkin Mommy nya memang ingin bicara hal penting dengan Davin.


"Tapi…."


Rerena mendorong kursi rodanya dan keluar dari ruangan Davin.


Setelah Rerena pergi, Queen duduk di sofa, meminta Davin duduk di sampingnya. 


"Apa yang ingin Mommy bicarakan?"


"Duduklah, Mommy sudah lama tidak mengobrol dengan mu," jawab Queen dan Davin pun mendekat. Bagaimana pun Davin putranya dan tidak baik jika menolak permintaan Mommynya.


Queen menepuk pahanya, meminta Davin untuk rebahan.  Dan Davin pun menuruti, bermanja dengan wanita yang memberikan cinta pertama untuknya. 


"Sudah lama Mommy merindukan saat seperti ini. Kamu selalu sibuk sampai tidak pernah menemui Mommy. Apa kamu tidak sayang lagi dengan Mommy?" 


"Apanya yang tidak sayang. Davin sangat menyayangi Mommy, " 


"Tapi Mommy merasa kamu melupakan Mommy," jawab Queen dengan kesedihannya, pura-pura. 


Davin yang mendengar dan melihat memutar bola matanya malas. "Jangan lebay deh Mom,"


"Kau pikir Mommy lebay?"


Hmmm….


"Dasar nakal," cubit Queen di pinggang Davin, membuat Davin merintis kesakitan. Ikut pura-pura lebay.


.


.


.


.


Bersambung 

__ADS_1


__ADS_2